Spill Banten

Media digital Banten yang SPILL berita terkini, informasi, kabar viral, warga, Tokoh, UMKM, dan seputar Banten.

Geger Cilegon 1888

Geger Cilegon 1888: Ketika Ulama dan Rakyat Banten Bangkit Melawan Kolonial Belanda

SPILL Banten Pada pagi 9 Juli 1888, Cilegon yang berada di bawah pemerintahan kolonial Belanda berubah menjadi medan perlawanan.

Dari berbagai penjuru, kelompok-kelompok rakyat bergerak menuju pusat kota. Mereka bukan pasukan resmi dengan seragam dan persenjataan modern. Di antara mereka terdapat ulama, santri, petani, jawara, serta masyarakat biasa yang selama bertahun-tahun hidup dalam tekanan kolonial.

Di depan gerakan tersebut berdiri sejumlah ulama Banten. Salah satu tokoh terpentingnya adalah K.H. Wasyid.

Perlawanan yang kemudian dikenal sebagai Geger Cilegon 1888 itu bukan peristiwa spontan. Kajian sejarah menunjukkan bahwa gerakan tersebut merupakan puncak dari keresahan dan jaringan perlawanan yang telah terbentuk selama bertahun-tahun.

Bagi masyarakat Banten, Geger Cilegon kemudian dikenang sebagai salah satu episode heroik dalam sejarah perlawanan terhadap kolonialisme.

Banten yang Sedang Bergolak

Untuk memahami mengapa Geger Cilegon terjadi, kita tidak cukup hanya melihat peristiwa pada 9 Juli 1888.

Banten pada abad ke-19 mengalami perubahan sosial dan ekonomi yang berat.

Kebijakan kolonial, sistem perpajakan, tekanan terhadap masyarakat pedesaan, serta berbagai persoalan ekonomi membuat kehidupan rakyat semakin sulit. Kajian tentang Geger Cilegon mencatat bahwa pajak menjadi salah satu sumber keresahan masyarakat. Situasi tersebut diperburuk oleh berbagai bencana dan wabah yang terjadi pada tahun-tahun sebelumnya.

Letusan Krakatau pada 1883 menjadi salah satu pukulan terbesar.

Wilayah pesisir Banten mengalami dampak dahsyat. Permukiman rusak, lahan pertanian terdampak, dan kehidupan masyarakat terganggu.

Di tengah kondisi tersebut, pemerintah kolonial tetap menjalankan sistem administrasi dan ekonomi yang dirasakan membebani rakyat.

Keresahan sosial pun bertemu dengan keresahan keagamaan.

Para ulama yang memiliki pengaruh besar di tengah masyarakat kemudian menjadi salah satu kekuatan penting dalam mengorganisasi perlawanan.

Ulama Menjadi Penggerak

Dalam masyarakat Banten pada masa itu, ulama tidak hanya berfungsi sebagai guru agama.

Mereka juga merupakan pemimpin sosial yang memiliki hubungan kuat dengan pesantren, santri dan masyarakat pedesaan.

Perpustakaan Arsip Nasional Republik Indonesia mencatat bahwa Geger Cilegon dipelopori K.H. Wasyid bersama para pejuang Banten lainnya. Kajian tersebut juga menempatkan ulama sebagai counter elite, yakni kekuatan sosial yang berhadapan dengan elite dan struktur kekuasaan kolonial.

Salah satu tokoh paling penting adalah K.H. Wasyid.

Ia pernah belajar di Makkah dan kemudian mengajar di lingkungan pesantrennya di Beji, Cilegon. Jaringan keilmuan dan hubungan antarpemimpin agama menjadi salah satu modal penting dalam terbentuknya gerakan perlawanan.

Selain Wasyid, terdapat sejumlah tokoh lain seperti Haji Tubagus Ismail, K.H. Muhammad Ahya, Haji Abdul Ghani, Haji Nuriman, dan Syekh Mohammad Arsyad Thawil.

Masing-masing memiliki peran dalam jaringan perlawanan.

Karena itu, Geger Cilegon tidak tepat dipahami sebagai perjuangan satu orang saja.

Ia merupakan gerakan kolektif.

Perlawanan Tidak Muncul dalam Semalam

Salah satu hal penting dari Geger Cilegon adalah proses persiapannya.

Kajian sejarah mencatat adanya pertemuan dan komunikasi antara para pemimpin perlawanan sebelum serangan berlangsung. Bahkan, beberapa penelitian menyebut persiapan dilakukan selama berbulan-bulan melalui jaringan ulama, pesantren, dan masyarakat.

Jaringan tersebut juga memanfaatkan hubungan keagamaan, termasuk jaringan tarekat.

Penelitian tentang K.H. Wasyid dan Geger Cilegon menyebut tarekat berperan sebagai salah satu sarana penyebaran informasi dan komunikasi antarpengikut.

Pada 8 Juli 1888, kelompok-kelompok pejuang mulai bergerak menuju titik yang telah ditentukan.

Salah satu titik penting adalah rumah Haji Ishak di Saneja.

Di sana para pemimpin berkumpul dan membahas strategi serangan.

Keesokan harinya, perlawanan dimulai.

9 Juli 1888: Cilegon Diserang

Pada Senin, 9 Juli 1888, serangan dilakukan secara terkoordinasi.

Kelompok-kelompok pejuang bergerak menuju sejumlah sasaran penting pemerintahan kolonial.

Dalam salah satu kajian, pasukan dibagi menjadi beberapa kelompok dengan tugas berbeda: ada yang diarahkan ke penjara, ada yang menuju kepatihan, dan kelompok lainnya menyerang rumah Asisten Residen.

Nama Haji Tubagus Ismail juga muncul dalam rangkaian serangan.

Sementara K.H. Wasyid menjadi salah satu pemimpin utama dalam serangan umum.

Para pejuang berhasil memasuki pusat Cilegon dan menguasai sejumlah titik penting.

Untuk sementara, pemerintahan kolonial di kota tersebut berada dalam keadaan lumpuh.

Kajian sejarah menyebut peristiwa 9 Juli sebagai perlawanan besar yang telah dipersiapkan sebelumnya dan cakupannya bahkan melampaui batas kota Cilegon.

Inilah alasan mengapa peristiwa tersebut kemudian dikenal sebagai Geger Cilegon.

Bukan Hanya Cilegon

Nama “Geger Cilegon” terkadang membuat peristiwa ini seolah hanya melibatkan masyarakat di pusat Cilegon.

Padahal, jaringan perlawanan jauh lebih luas.

Kajian mengenai Geger Cilegon menunjukkan keterlibatan masyarakat dan pemimpin dari sejumlah wilayah Banten. Rencana gerakan juga berkaitan dengan daerah-daerah di sekitar Cilegon, termasuk Bojonegara, Beji, Saneja dan wilayah lainnya.

Bahkan terdapat rencana untuk menyerang pusat pemerintahan di Serang.

Namun, rencana tersebut tidak berjalan sebagaimana yang diharapkan.

Peristiwa di Cilegon akhirnya menjadi pusat dari pemberontakan yang meletus.

Ketika Belanda Membalas

Keberhasilan awal tidak berlangsung lama.

Pemerintah kolonial segera mengerahkan pasukan untuk menghadapi para pejuang.

Pasukan yang lebih terlatih dan memiliki persenjataan lebih modern bergerak menuju Cilegon.

Pertempuran kemudian terjadi di sejumlah tempat.

Salah satu kajian mencatat bentrokan di kawasan Toyomerto. Pasukan kolonial yang datang dengan kekuatan bersenjata berhasil memukul mundur pasukan perlawanan. Sejumlah pejuang tewas dan lainnya terluka.

Setelah itu, kekuatan para pejuang mulai terpecah.

K.H. Wasyid dan sebagian pengikutnya bergerak meninggalkan Cilegon menuju arah Banten Selatan.

Mereka terus dikejar pasukan kolonial.

Pada akhirnya, gerakan tersebut berhasil dipatahkan.

Namun, perlawanan tidak berakhir hanya karena kekuatan militernya kalah.

Harga yang Harus Dibayar

Setelah pemberontakan dipadamkan, pemerintah kolonial melakukan pengejaran terhadap para pemimpin dan orang-orang yang dianggap terlibat.

Sebagian ditangkap dan diadili.

Sebagian lainnya dibuang jauh dari Banten.

Kisah Syekh Mohammad Arsyad Thawil menjadi salah satu contohnya. Ia kemudian menjalani masa pengasingan di Manado dan tetap melanjutkan aktivitas dakwahnya di tanah pengasingan. Kajian akademik mengenai dirinya mencatat keterlibatannya dalam jaringan ulama yang berhubungan dengan Geger Cilegon.

Sementara K.H. Muhammad Ahya, salah satu ulama dari Jombang Wetan yang dikaitkan dengan gerakan tersebut, ditangkap dan kemudian dihukum gantung pada 1889 menurut penelitian dari UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten.

Penindakan tersebut menunjukkan bahwa pemerintah kolonial memandang Geger Cilegon bukan sebagai kerusuhan biasa.

Gerakan tersebut dianggap sebagai ancaman terhadap kekuasaan kolonial di Banten.

Mengapa Geger Cilegon Penting?

Ada alasan mengapa Geger Cilegon tetap menjadi bagian penting dari sejarah Banten.

Pertama, perlawanan ini menunjukkan kemampuan masyarakat lokal membangun jaringan sosial dan kepemimpinan kolektif.

Kedua, gerakan tersebut memperlihatkan kuatnya hubungan antara ulama, pesantren dan masyarakat dalam menghadapi kekuasaan kolonial.

Ketiga, perlawanan itu lahir dari persoalan yang nyata dalam kehidupan masyarakat: tekanan ekonomi, kebijakan kolonial, persoalan keagamaan dan perubahan sosial. Kajian antropologis tentang Geger Banten juga menyoroti kemiskinan, ketimpangan, pembatasan keagamaan serta marginalisasi sosial-politik sebagai bagian dari konteks yang membentuk perlawanan.

Dengan demikian, Geger Cilegon bukan sekadar cerita tentang peperangan.

Ia adalah cerita tentang masyarakat yang merasa kehidupannya semakin tertekan, kemudian menemukan keberanian untuk melawan.

K.H. Wasyid dan Ingatan Masyarakat Banten

Di antara banyak nama yang muncul dalam sejarah Geger Cilegon, K.H. Wasyid menjadi salah satu yang paling kuat dikenang.

Perannya bukan hanya sebagai pemimpin di medan perlawanan.

Ia menjadi simbol keberanian ulama Banten dalam menghadapi kekuasaan kolonial.

Perpustakaan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Banten bahkan memiliki monograf khusus berjudul Kiyai Haji Wasyid: Pahlawan Geger Cilegon 9 Juli 1888, yang menunjukkan kuatnya posisi tokoh tersebut dalam historiografi lokal Banten.

Namun, menyebut Geger Cilegon sebagai kisah K.H. Wasyid semata juga akan menghilangkan peran banyak orang lain.

Di belakang para pemimpin itu terdapat masyarakat.

Ada petani.

Ada santri.

Ada jawara.

Ada tokoh desa.

Ada orang-orang biasa yang bersedia mengambil risiko ketika mereka merasa keadaan tidak lagi dapat diterima.

Warisan Sebuah Perlawanan

Geger Cilegon memang berakhir dengan kekalahan militer di pihak rakyat.

Tetapi sejarah tidak selalu mengukur arti sebuah perlawanan dari siapa yang memenangkan pertempuran.

Geger Cilegon meninggalkan ingatan tentang keberanian masyarakat Banten menghadapi kekuasaan kolonial.

Penelitian pendidikan sejarah di Universitas Sultan Ageng Tirtayasa bahkan menjadikan Geger Cilegon sebagai materi living history untuk menanamkan nilai patriotisme kepada generasi muda.

Hari ini, Cilegon telah berubah menjadi kota industri dengan wajah yang jauh berbeda dari 1888.

Namun nama-nama para ulama dan masyarakat yang terlibat dalam perlawanan tersebut tetap menjadi bagian dari sejarah lokal.

Geger Cilegon mengajarkan bahwa keberanian tidak selalu lahir dari mereka yang memiliki kekuatan terbesar.

Kadang keberanian muncul dari masyarakat biasa yang merasa tanah, kehidupan, keyakinan dan martabatnya sedang dipertaruhkan.

Pada 9 Juli 1888, mereka bergerak.

Mereka tahu bahwa menghadapi pemerintah kolonial bukan perkara mudah.

Tetapi mereka tetap memilih melawan.

Dan lebih dari seabad kemudian, kisah itu masih menjadi bagian dari ingatan masyarakat Banten.

Catatan Redaksi

Dalam artikel ini, istilah “heroik” digunakan dalam konteks ingatan sejarah dan keberanian masyarakat Banten, bukan untuk menghapus kompleksitas peristiwa. Geger Cilegon juga merupakan pemberontakan yang melibatkan kekerasan dan korban jiwa. Karena itu, penulisan sejarahnya perlu membedakan antara penghormatan terhadap keberanian para pelaku dan penilaian historis terhadap tindakan kekerasan yang terjadi.

Kajian utama yang digunakan antara lain penelitian Sartono Kartodirdjo tentang pemberontakan petani Banten 1888, kajian akademik mengenai K.H. Wasyid, penelitian UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten mengenai K.H. Muhammad Ahya, kajian antropologis tentang Geger Banten, serta koleksi sejarah Geger Cilegon yang tercatat di Perpustakaan Arsip Nasional Republik Indonesia dan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Banten.

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x