Spill Banten

Media digital Banten yang SPILL berita terkini, informasi, kabar viral, warga, Tokoh, UMKM, dan seputar Banten.

Para Ulama

Warisan Para Pahlawan Banten: Sinergi Ulama dan Masyarakat yang Terus Hidup Setelah Kemerdekaan 1945

SPILL Banten Sejarah Banten memiliki satu pola yang terus muncul dari masa ke masa: ketika masyarakat menghadapi persoalan besar, ulama tidak berdiri jauh dari kehidupan rakyat.

Mereka berada di tengah masyarakat.

Mengajar di pesantren, memimpin pengajian, menjadi rujukan dalam persoalan sosial, membangun pendidikan, bahkan ikut mengambil bagian ketika tanah kelahirannya menghadapi ancaman.

Hubungan tersebut tidak berhenti setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945.

Justru pada masa awal republik, hubungan antara ulama dan masyarakat kembali memainkan peran penting.

Jika pada masa kolonial sinergi itu banyak terlihat dalam gerakan perlawanan, setelah kemerdekaan bentuknya berubah menjadi perjuangan mempertahankan kemerdekaan, menjalankan pemerintahan, membangun pendidikan, menguatkan kehidupan sosial dan membentuk masa depan masyarakat Banten.

Inilah salah satu warisan penting para pejuang Banten:

semangat bahwa masyarakat dan ulama tidak berjalan sendiri-sendiri.

Ulama Bukan Hanya Pemimpin Keagamaan

Dalam sejarah sosial Banten, posisi ulama memang memiliki akar yang panjang.

Kajian UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten mengenai hubungan kiai dan masyarakat menunjukkan bahwa kedudukan serta jaringan sosial kiai terbentuk melalui perjalanan sejarah yang panjang, sejak Kesultanan Banten, masa kolonial, hingga periode setelah kemerdekaan. Kiai tidak hanya menjalankan fungsi sebagai guru agama, tetapi juga berperan dalam transformasi sosial dan politik masyarakat.

Gambaran yang sama terlihat dalam kajian tentang masyarakat Banten yang diterbitkan LP2M UIN Banten.

Setelah jatuhnya Kesultanan Banten ke tangan Belanda, muncul beberapa bentuk kepemimpinan informal. Di antara yang bertahan hingga masa setelah kemerdekaan adalah ulama dan jawara. Keduanya tetap menjadi elemen penting dalam kehidupan masyarakat Banten hingga masa kini.

Karena itu, ketika Indonesia memasuki masa kemerdekaan, masyarakat Banten telah memiliki jaringan sosial yang kuat.

Pesantren.

Majelis keagamaan.

Kampung-kampung santri.

Hubungan guru dan murid.

Serta hubungan antara ulama dengan masyarakat di sekitarnya.

Jaringan tersebut kemudian menjadi salah satu modal sosial ketika republik menghadapi masa-masa sulit.

Ketika Kemerdekaan Harus Dipertahankan

Proklamasi tidak serta-merta membuat keadaan menjadi aman.

Belanda berusaha kembali menguasai Indonesia.

Banten pun menghadapi ancaman baru.

Dalam situasi tersebut, sejumlah ulama mengambil peran langsung.

Salah satu tokoh yang paling jelas menggambarkan sinergi tersebut adalah K.H. Tubagus Ahmad Chatib.

Penelitian Wahyudin Arief dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta mencatat bahwa pada periode 1945–1949, Ahmad Chatib mampu menggerakkan berbagai lapisan masyarakat Banten, mulai dari ulama, pemuda, jawara hingga TNI, untuk mempertahankan kemerdekaan melalui perang gerilya.

Ini penting.

Sebab, perlawanan tidak hanya bertumpu pada satu kelompok.

Ulama memberikan kepemimpinan dan legitimasi sosial.

Pemuda menjadi kekuatan mobilisasi.

Jawara memiliki posisi penting dalam jaringan masyarakat lokal.

Sementara TNI menjadi kekuatan militer republik.

Mereka memiliki latar belakang yang berbeda, tetapi bertemu dalam satu kepentingan:

mempertahankan Republik Indonesia.

Ahmad Chatib dan Masyarakat Banten

Setelah Indonesia merdeka, Ahmad Chatib tidak hanya menjadi tokoh agama.

Ia dipercaya menjadi Residen Banten.

Artinya, peran ulama memasuki ruang pemerintahan formal.

Catatan sejarah mengenai Ahmad Chatib menunjukkan bahwa setelah Proklamasi, pemerintahan daerah Banten dijalankan dengan dirinya sebagai residen.

Perubahan ini memperlihatkan bahwa dalam kondisi negara yang masih sangat muda, batas antara kepemimpinan keagamaan, kepemimpinan sosial dan kepemimpinan pemerintahan belum selalu terpisah secara tegas.

Masyarakat membutuhkan figur yang dipercaya.

Dan dalam konteks Banten saat itu, ulama memiliki modal kepercayaan tersebut.

Namun kepercayaan itu juga membawa tanggung jawab.

Seorang ulama yang masuk ke dalam pemerintahan tidak lagi hanya berbicara mengenai persoalan keagamaan.

Ia harus menghadapi persoalan pangan, keamanan, ekonomi, pendidikan dan politik.

Ketika Masyarakat Menghadapi Blokade

Peran tersebut semakin terlihat ketika Banten menghadapi Agresi Militer Belanda.

Penelitian mengenai Ahmad Chatib mencatat bahwa ketika Agresi Militer Belanda I berlangsung pada 1947, ia berusaha mempertahankan perekonomian Banten meskipun wilayah tersebut menghadapi blokade yang ketat. Pada Agresi Militer Belanda II, ketika pasukan Belanda memasuki Banten pada Desember 1948, Ahmad Chatib kembali menggerakkan ulama, pemuda, jawara dan TNI dalam perjuangan gerilya.

Di sini, makna sinergi menjadi lebih jelas.

Perjuangan bukan hanya soal pertempuran.

Ada masyarakat yang harus tetap hidup.

Ada kebutuhan pangan yang harus dipenuhi.

Ada pemerintahan yang harus tetap berjalan.

Ada keamanan yang harus dijaga.

Dan ada harapan masyarakat yang harus dipertahankan.

Dengan demikian, ulama yang memimpin masyarakat tidak hanya berada di mimbar.

Mereka ikut menghadapi persoalan nyata yang dialami rakyat.

Pesantren sebagai Ruang Pembentukan Masyarakat

Warisan sinergi ulama dan masyarakat juga diteruskan melalui pendidikan.

Pesantren telah lama menjadi salah satu institusi penting dalam masyarakat Banten.

Hubungan antara kiai dan santri tidak berhenti pada kegiatan belajar-mengajar agama. Dalam perjalanan sejarah Banten, hubungan tersebut juga membentuk jaringan sosial yang lebih luas.

Setelah kemerdekaan, jaringan tersebut tetap hidup.

Masyarakat datang kepada ulama bukan hanya untuk belajar mengaji, tetapi juga untuk meminta nasihat, menyelesaikan persoalan sosial dan membangun kehidupan bersama.

Salah satu contoh terlihat dari perjalanan Abuya Tb. Abdul Halim Kadu Peusing.

Kajian UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten mencatat bahwa pengaruh Abuya Abdul Halim di Pandeglang dibangun melalui pesantren, kegiatan keagamaan, organisasi serta keterlibatannya dalam perjuangan. Pada 1945, ia ikut dalam perjuangan melawan kolonial dan kemudian dipercaya menjadi Bupati Pandeglang pada 1945–1947.

Sekali lagi, terlihat pola yang sama.

Ulama tidak hanya berbicara kepada masyarakat. Mereka hidup bersama masyarakat.

Dari Perjuangan Fisik ke Perjuangan Membangun

Setelah perang kemerdekaan berakhir, bentuk perjuangan berubah.

Tidak ada lagi pasukan kolonial yang harus dihadapi di medan perang.

Tetapi masyarakat menghadapi persoalan lain.

Pendidikan masih harus dibangun.

Ekonomi harus dipulihkan.

Lembaga pemerintahan harus diperkuat.

Masyarakat harus belajar hidup sebagai warga negara dalam sebuah republik yang baru berdiri.

Di sinilah warisan perjuangan menemukan bentuk baru.

Ulama yang dahulu menggerakkan masyarakat untuk mempertahankan kemerdekaan kemudian memiliki tanggung jawab ikut membangun kehidupan masyarakat setelah kemerdekaan.

Penelitian tentang keberlanjutan pranata keagamaan di Banten juga menunjukkan bahwa lembaga dan struktur keagamaan mengalami perubahan dari masa kolonial menuju masa setelah kemerdekaan, mengikuti perubahan sistem pemerintahan Indonesia.

Artinya, tradisi keagamaan tidak hilang.

Ia beradaptasi.

Sinergi Bukan Berarti Tanpa Perbedaan

Namun, sejarah Banten juga menunjukkan bahwa hubungan ulama dan masyarakat tidak selalu berjalan tanpa konflik.

Masyarakat adalah kelompok yang beragam.

Ulama pun memiliki pandangan yang berbeda.

Dalam politik, organisasi, maupun pemerintahan, perbedaan kepentingan dapat muncul.

Penelitian tentang perjalanan Banten pada masa setelah kemerdekaan menunjukkan bahwa kelompok-kelompok sosial dan politik mengalami perubahan seiring perkembangan zaman. Hubungan antara ulama, jawara dan negara juga mengalami dinamika, terutama pada masa Orde Baru.

Karena itu, sinergi tidak boleh dimaknai sebagai semua orang harus memiliki pandangan yang sama.

Sinergi justru berarti perbedaan dapat dipertemukan untuk kepentingan masyarakat.

Ulama memberikan panduan moral dan keagamaan.

Masyarakat memberikan pengalaman serta kebutuhan nyata.

Pemerintah menjalankan kebijakan.

Organisasi sosial menjalankan program.

Semua memiliki fungsi yang berbeda.

Yang penting adalah tujuan bersama.

Ketika Ulama Menjadi Jembatan

Salah satu kekuatan ulama di tengah masyarakat adalah kepercayaan.

Seorang ulama yang dipercaya masyarakat dapat menjadi jembatan antara kepentingan masyarakat dengan pemerintah.

Hal tersebut bukan sesuatu yang sepenuhnya baru.

Dalam sejarah Banten, ulama memang telah memainkan peran sosial dan politik yang besar. Penelitian UIN Banten menyebut kedudukan kiai sebagai tokoh agama berkembang menjadi peran dalam transformasi sosial-politik masyarakat.

Tetapi kepercayaan juga berarti tanggung jawab.

Ketika masyarakat mempercayai seorang ulama, maka keteladanan menjadi penting.

Bukan hanya apa yang disampaikan.

Tetapi bagaimana ia bersikap.

Bagaimana ia memperlakukan masyarakat.

Bagaimana ia menggunakan pengaruh.

Dan bagaimana ia mengambil keputusan ketika kepentingan pribadi bertemu dengan kepentingan publik.

Di sinilah warisan para ulama pejuang menjadi relevan untuk generasi sekarang.

Warisan yang Tidak Harus Berupa Perang

Generasi Banten hari ini tidak harus mengulang perjuangan para pendahulunya dengan cara yang sama.

Tidak ada kolonialisme seperti pada abad ke-19.

Tidak ada perang kemerdekaan seperti 1945–1949.

Tetapi masyarakat tetap menghadapi persoalan.

Kemiskinan.

Pendidikan.

Kesenjangan.

Kerusakan lingkungan.

Hoaks dan disinformasi.

Konflik sosial.

Korupsi.

Dan berbagai persoalan lain yang membutuhkan kerja bersama.

Dalam kondisi seperti itu, semangat sinergi ulama dan masyarakat justru dapat menemukan bentuk baru.

Ulama dapat berperan dalam membangun literasi keagamaan dan moral.

Pesantren dapat menjadi pusat pendidikan.

Masyarakat dapat menjadi penggerak kegiatan sosial.

Pemuda dapat membawa gagasan dan teknologi baru.

Pemerintah dapat menjalankan kebijakan.

Dan media dapat membantu memastikan suara masyarakat terdengar dengan tetap menjaga verifikasi.

Semangatnya tetap sama:

masyarakat tidak dibiarkan berjalan sendirian.

Dari Kiai dan Santri, untuk Masyarakat

Warisan terbesar para ulama pejuang mungkin bukan sekadar keberanian mereka menghadapi penjajah.

Warisan itu adalah kemampuan membangun kepercayaan dan kebersamaan.

Masyarakat percaya kepada ulama.

Ulama hidup bersama masyarakat.

Pesantren menjadi ruang pendidikan.

Dan ketika keadaan membutuhkan, jaringan tersebut dapat digerakkan untuk kepentingan bersama.

Pola itu telah terlihat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Banten. Ahmad Chatib, misalnya, mampu menghimpun ulama, pemuda, jawara dan TNI dalam menghadapi Belanda.

Hari ini, tentu saja bentuknya berbeda.

Tetapi nilai dasarnya masih relevan.

Ketika masyarakat menghadapi masalah, jangan biarkan mereka merasa sendirian.

Ketika masyarakat membutuhkan pendidikan, bangun ruang belajar.

Ketika terjadi persoalan sosial, hadirkan dialog.

Ketika terjadi konflik, cari jalan penyelesaian.

Ketika ada ketidakadilan, gunakan pengaruh untuk memperjuangkan kebenaran.

Itulah sinergi dalam bentuk yang lebih modern.

Banten dan Tradisi Gotong Royong

Pada akhirnya, sinergi ulama dan masyarakat merupakan bagian dari tradisi gotong royong yang lebih luas.

Ulama bukan pengganti masyarakat.

Masyarakat bukan sekadar pengikut ulama.

Keduanya memiliki peran masing-masing.

Hubungan yang sehat justru dibangun melalui saling menguatkan.

Sejarah menunjukkan bahwa ulama menjadi salah satu elemen penting masyarakat Banten bahkan setelah Indonesia merdeka.

Karena itu, warisan para pejuang tidak harus selalu dicari dalam kisah pertempuran.

Ia dapat ditemukan di pesantren yang tetap mengajar.

Di guru yang mendidik murid.

Di masyarakat yang menjaga tetangganya.

Di pemuda yang membantu lingkungannya.

Di tokoh agama yang menggunakan pengaruhnya untuk kepentingan orang banyak.

Dan di masyarakat yang mau bekerja bersama meski berbeda latar belakang.

Itulah semangat yang membuat perjuangan para pendahulu tetap relevan.

Dulu ulama dan masyarakat bersatu mempertahankan tanah kelahiran dan Republik Indonesia.

Setelah kemerdekaan, mereka menghadapi tugas yang berbeda: membangun masyarakat yang berpendidikan, bermartabat dan mampu berdiri di atas kakinya sendiri.

Dan hari ini, warisan itu kembali berada di tangan generasi baru Banten.

Bukan untuk mengulang masa lalu.

Tetapi untuk meneruskan semangatnya.

Ulama hadir bersama masyarakat. Masyarakat tumbuh bersama ulama. Dan keduanya bekerja untuk kepentingan yang lebih besar: Banten dan Indonesia.

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x