Spill Banten

Media digital Banten yang SPILL berita terkini, informasi, kabar viral, warga, Tokoh, UMKM, dan seputar Banten.

Perlawanan Cikande Udik 1836

Nyimas Gamparan dan Perlawanan Cikande Udik 1836: Ketika Perempuan Banten Mengangkat Perlawanan

SPILL Banten Jauh sebelum nama-nama besar dalam sejarah perlawanan Banten dikenal luas, sejumlah tokoh lokal telah lebih dulu berhadapan dengan kekuasaan kolonial Belanda.

Salah satunya adalah Nyimas Gamparan, atau dalam sejumlah sumber ditulis Nyai Gumparo.

Namanya muncul dalam catatan mengenai pemberontakan Banten pada 1836, ketika keresahan masyarakat akibat tekanan ekonomi dan kebijakan kolonial berkembang menjadi perlawanan bersenjata. Gerakannya melewati Balaraja dan kemudian bergerak ke kawasan Cikande, termasuk Cikande Udik dan Cikande Hilir.

Kisah Nyimas Gamparan menarik bukan hanya karena ia memimpin perlawanan, tetapi juga karena gerakan tersebut mampu menghimpun masyarakat dari berbagai lapisan dan sempat membuat aparat kolonial kewalahan.

Lebih dari satu abad kemudian, namanya masih hidup dalam ingatan masyarakat Banten.

Ketika Cikande Berada di Bawah Tekanan Kolonial

Untuk memahami perlawanan Nyimas Gamparan, kondisi Cikande pada masa itu perlu dilihat lebih dulu.

Cikande merupakan wilayah strategis yang berada di perbatasan Karesidenan Banten dan Karesidenan Batavia. Kawasan ini juga dilalui jalan raya yang menghubungkan Serang, Tangerang dan Batavia.

Sejak perubahan penguasaan tanah pada masa kolonial, sebagian wilayah Cikande menjadi tanah partikelir. Hubungan lama antara masyarakat dengan kekuasaan tradisional Kesultanan Banten perlahan berubah menjadi hubungan dengan pemerintah kolonial dan pemilik tanah.

Tekanan ekonomi kemudian semakin berat ketika sistem cultuurstelsel atau tanam paksa diterapkan.

Penelitian mengenai Cikande mencatat bahwa masyarakat dibebani kewajiban produksi dan pajak. Bahkan, pada 1832 Karesidenan Banten dilaporkan harus menyetor 17 pikul kopi, sementara pada 1836 kewajiban tersebut melonjak menjadi 1.000 pikul.

Bagi masyarakat yang hidup dari pertanian, tekanan seperti ini bukan sekadar persoalan administrasi.

Ia menyentuh langsung kehidupan sehari-hari.

Petani harus menghasilkan tanaman yang ditentukan, menyerahkan sebagian hasil, dan dalam sejumlah kasus masih menghadapi kewajiban kepada tuan tanah.

Keresahan pun tumbuh.

Dan pada 1836, keresahan itu menemukan seorang pemimpin.

Munculnya Nyimas Gamparan

Menurut penelitian yang merujuk pada arsip kolonial, pada 16 Agustus 1836 seorang perempuan bernama Saliah tiba di Balaraja, Tangerang.

Ia kemudian dikenal sebagai Nyai Gamparan.

Sumber tersebut menyebut asal-usul Saliah belum dapat dipastikan. Nama Gamparan dikaitkan dengan sandal atau gampar yang digunakannya. Ia dikenal memiliki pengaruh dan mampu meyakinkan masyarakat mengenai kewibawaan serta kemampuan dirinya.

Di tengah masyarakat yang sedang mengalami tekanan, gagasan yang dibawanya mendapat sambutan.

Perlawanan bukan hanya diarahkan untuk menghadapi aparat kolonial. Di dalamnya juga terdapat gagasan untuk mengubah kembali tatanan pemerintahan dan mengembalikan kejayaan Kesultanan Banten.

Di sinilah unsur politik, sosial, ekonomi dan keagamaan bertemu.

Masyarakat yang merasa tertekan melihat perlawanan tersebut sebagai peluang untuk keluar dari keadaan yang mereka hadapi.

Kantor Polisi Balaraja Jadi Sasaran

Gerakan Nyimas Gamparan kemudian berubah menjadi aksi terbuka.

Ia bersama para pengikutnya bergerak menuju kantor polisi di Balaraja. Serangan dilakukan secara mendadak.

Menurut penelitian yang merujuk laporan kolonial Algemeen Verslag van het Residentie Bantam over het jaar 1836, serangan tersebut membuat aparat kepolisian melarikan diri. Letnan Latjor bersama seorang petugas partikelir berusaha menghadang, tetapi akhirnya Letnan Latjor tewas dalam serangan tersebut.

Peristiwa ini membuat pemerintah kolonial menyadari bahwa gerakan Nyimas Gamparan bukan sekadar kerumunan warga yang marah.

Ada organisasi, kepemimpinan dan kemampuan untuk menggerakkan massa.

Setelah Balaraja, gerakan itu bergerak menuju Cikande.

Cikande Udik Menjadi Bagian Penting Perlawanan

Nyimas Gamparan kemudian membawa sekitar 40 pengikut menuju tanah partikelir Cikande Udik dan Cikande Hilir.

Kawasan tersebut dipilih karena masyarakatnya juga mengalami tekanan dari sistem tanah partikelir dan eksploitasi para pemilik tanah.

Serangan kemudian diarahkan ke pos polisi Cikande Udik.

Pesanggrahan tuan tanah juga diserang dan dibakar karena dianggap berkaitan dengan pemerasan terhadap tenaga kerja dan petani.

Dari sini jumlah pengikut Nyimas Gamparan bertambah.

Sekitar 40 orang berkembang menjadi sekitar 200 orang setelah sebagian masyarakat Cikande ikut bergabung.

Perlawanan itu kemudian tidak lagi hanya menjadi gerakan sekelompok orang.

Ia berubah menjadi gerakan sosial yang mendapat dukungan masyarakat yang menginginkan kebebasan dan kehidupan yang lebih baik.

Pasukan Nyimas Gamparan bahkan berhasil menguasai kawasan Cikande Hilir.

Dari Cikande Menuju Serang

Keberhasilan di Cikande membuat pengaruh Nyimas Gamparan semakin besar.

Menurut penelitian tersebut, gerakannya kemudian berlanjut melewati sejumlah wilayah, antara lain Rangkasbitung, Sajira, Rawayan dan Balangungang.

Ia kemudian bergerak menuju Serang.

Tujuannya bukan hanya melakukan serangan, tetapi juga membentuk kembali struktur pemerintahan dan mengangkat seorang keturunan Sultan Banten bernama Pangeran Tambak sebagai pemimpin Kesultanan Banten yang baru. Pergerakan tersebut tercatat berlangsung pada 23 Agustus 1836.

Bila catatan ini dibaca dalam konteks sejarah Banten, terlihat bahwa gerakan Nyimas Gamparan bukan sekadar penolakan terhadap pajak atau kebijakan pertanian.

Ada cita-cita politik yang lebih besar: menggugat kekuasaan kolonial dan mengembalikan tatanan kekuasaan Banten.

Belanda Mulai Mengubah Strategi

Perlawanan yang berkembang membuat pemerintah kolonial mengambil langkah lebih serius.

Residen Banten H. Cornets de Groot memerintahkan pasukan Jayengsekar dari Serang untuk mengejar para pemberontak.

Pertempuran terjadi di Gemuru.

Pasukan kolonial yang memiliki senjata api berhasil memukul mundur pasukan Nyimas Gamparan. Sejumlah pengikutnya tewas, sementara sebagian lainnya melarikan diri ke hutan di wilayah Lebak menuju Tangerang.

Namun, Belanda belum berhenti.

Mereka kemudian menggunakan cara lain.

Raden Tumenggung Kartanata Negara, seorang Demang di Jasinga, diperintahkan untuk menangkap Nyimas Gamparan dan para pengikutnya. Dalam sumber penelitian tersebut disebutkan bahwa ia dijanjikan akan diangkat menjadi Bupati Lebak apabila berhasil menjalankan tugas tersebut.

Pasukan Kartanata Negara kemudian mengejar sisa pasukan Nyimas Gamparan di Tangerang.

Pada akhirnya, Nyimas Gamparan berhasil ditangkap bersama sejumlah pengikutnya.

Akhir Perlawanan

Setelah ditangkap, Nyimas Gamparan dan para pengikutnya ditahan di Serang.

Mereka kemudian dihadapkan ke pengadilan kolonial atau landraad. Nyimas Gamparan dijatuhi hukuman mati atas tuduhan melakukan perlawanan dan pembunuhan dalam rangkaian aksi di Cikande Udik dan Cikande Hilir.

Sementara itu, Kartanata Negara memperoleh penghargaan dari pemerintah kolonial. Ia kemudian diangkat menjadi Bupati Lebak dengan gelar Raden Adipati atas jasanya menangkap Nyimas Gamparan.

Tetapi penangkapan pemimpinnya tidak otomatis mengakhiri semangat perlawanan.

Penelitian sejarah mencatat bahwa pemberontakan Nyai Gumparo/Nyimas Gamparan pada 1836 memang berhasil dipadamkan, tetapi sejumlah pengikutnya meloloskan diri dan terus menjadi bagian dari jaringan perlawanan Banten pada tahun-tahun berikutnya.

Bukan Sekadar Kisah Perempuan Melawan Belanda

Hari ini, kisah Nyimas Gamparan sering dikenang sebagai cerita heroik seorang perempuan Banten yang berani melawan kolonialisme.

Di Kampung Kadukacapi, Desa Tanjungsari, Kecamatan Pabuaran, Kabupaten Serang, bahkan terdapat petilasan yang oleh masyarakat dikaitkan dengan Nyimas Gamparan. Radar Banten melaporkan bahwa lokasi tersebut telah diresmikan sebagai cagar budaya oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Serang.

Namun, kisah Nyimas Gamparan seharusnya tidak berhenti pada cerita tentang keberanian seorang pendekar perempuan.

Di baliknya terdapat persoalan yang lebih besar: perubahan kepemilikan tanah, tekanan ekonomi, kewajiban produksi, pajak, hilangnya hubungan masyarakat dengan kekuasaan tradisional, serta keinginan untuk mendapatkan kembali kehidupan yang dianggap lebih adil.

Itulah yang membuat gerakannya mampu menarik banyak orang.

Nyimas Gamparan bukan hanya nama seorang perempuan dalam cerita perlawanan Banten. Ia adalah bagian dari sejarah panjang masyarakat yang berusaha menghadapi kekuasaan kolonial dengan cara yang mereka miliki pada zamannya.

Dan Cikande menjadi salah satu panggung penting dalam perjalanan itu.

Catatan Redaksi

Sejumlah sumber populer menyebut “Perang Cikande Udik” terjadi pada 1836 dan dipimpin Nyimas Gamparan. Namun, penelitian akademik menunjukkan bahwa istilah tersebut perlu digunakan secara hati-hati. Pemberontakan Nyimas Gamparan memang tercatat pada 1836 dan pasukannya menyerang Cikande Udik serta Cikande Hilir. Sementara Peristiwa/Kerusuhan Cikande Udik 1845 merupakan peristiwa berbeda yang melibatkan kelompok keturunan Mas Jakaria.

Karena itu, dalam penulisan sejarah yang lebih presisi, peristiwa 1836 lebih tepat disebut Perlawanan Nyimas Gamparan di Balaraja–Cikande, sementara istilah Peristiwa Cikande Udik 1845 digunakan untuk peristiwa yang terjadi pada 1845.

Bagi SPILL BANTEN, pembedaan ini penting agar kisah heroik masyarakat Banten tetap menarik dibaca tanpa mengorbankan ketelitian sejarah.

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x