SPILL Banten – Jika zikir, wirid, dan tarekat menjadi salah satu cara para ulama Banten menguatkan batin, maka ada sisi lain dari tradisi masyarakat Banten yang juga menarik untuk melihat sejarah perjuangan mereka: ilmu kanuragan, pencak silat, dan debus.
Bagi masyarakat Banten masa lalu, kemampuan bela diri tidak sekadar berkaitan dengan kekuatan fisik. Di dalam tradisi tertentu, kemampuan tersebut juga berhubungan dengan disiplin diri, keberanian, doa, wirid, dan keyakinan spiritual.
Karena itu, ketika membicarakan para pejuang Banten melawan penjajahan, kisah tentang kiai, jawara, pencak silat, ilmu kanuragan, dan debus tidak dapat dilepaskan begitu saja dari konteks kehidupan masyarakat pada zamannya.
Namun ada satu hal yang perlu digarisbawahi.
Debus tidak semata-mata merupakan ilmu kekebalan, sementara ilmu kanuragan juga tidak dapat disederhanakan sebagai ilmu kesaktian.
Keduanya tumbuh dalam lingkungan budaya yang mempertemukan tradisi bela diri, keagamaan, tarekat, dan kebudayaan lokal Banten.
Dari Bela Diri hingga Kekuatan Batin
Dalam masyarakat Banten, sosok kiai dan jawara memiliki posisi yang khas.
Penelitian Mohamad Hudaeri tentang kiai dan jawara Banten menunjukkan bahwa keduanya memiliki pengaruh sosial yang telah terlihat sejak masa kolonial. Jawara dikenal bukan hanya sebagai guru persilatan atau orang yang memiliki ilmu kesaktian, tetapi juga dapat menjadi pemimpin gerakan sosial.
Sementara penelitian lain mengenai sejarah jawara menyebutkan bahwa jawara pada masa lalu memiliki hubungan dengan dunia pesantren. Mereka digambarkan sebagai santri atau murid kiai yang mempelajari ilmu agama sekaligus ilmu kesaktian dan kanuragan, kemudian ikut berjuang bersama kiai menghadapi kolonialisme di Banten.
Dari sini terlihat bahwa ilmu kanuragan berada dalam sebuah ekosistem sosial, bukan sekadar kemampuan untuk berkelahi.
Seorang murid bisa belajar agama dari kiai, sekaligus belajar pencak silat dan bela diri. Dalam kondisi tertentu, kemampuan tersebut kemudian dibutuhkan ketika masyarakat menghadapi ancaman.
Dengan kata lain:
ilmu agama membentuk keyakinan, sementara kemampuan bela diri membentuk kesiapan menghadapi ancaman.
Debus dan Kesultanan Banten
Salah satu warisan budaya Banten yang paling dikenal hingga sekarang adalah debus.
Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menjelaskan bahwa kata debus pada mulanya merujuk pada sebuah alat dari besi dengan ujung runcing. Dalam pertunjukannya, alat tersebut digunakan dalam atraksi yang menunjukkan ketahanan tubuh terhadap benda tajam.
Yang menarik, sumber kebudayaan tersebut mengaitkan perkembangan debus dengan masa pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa pada abad ke-17.
Pada sekitar 1651–1652, debus disebut digunakan sebagai bagian dari latihan bagi prajurit Banten. Latihan tersebut melibatkan berbagai alat seperti pedang, golok, keris, tombak, dan debus.
Artinya, dalam salah satu versi sejarah yang dicatat oleh lembaga kebudayaan pemerintah, debus pada awalnya memiliki hubungan dengan latihan perang dan ketahanan prajurit.
Ini menjadi menarik karena debus yang sekarang dikenal sebagai seni pertunjukan ternyata memiliki latar sejarah yang berkaitan dengan kehidupan militer Kesultanan Banten.
Debus Bukan Sekadar Atraksi Kekebalan
Saat ini orang mungkin mengenal debus terutama melalui atraksi menusukkan benda tajam ke tubuh, memukul bagian tubuh dengan benda keras, atau memperlihatkan ketahanan terhadap senjata.
Tetapi dalam konteks sejarah dan kebudayaan Banten, debus mempunyai dimensi yang jauh lebih luas.
Direktorat Jenderal Kebudayaan menjelaskan bahwa debus memiliki keterkaitan erat dengan unsur keagamaan Islam. Dalam perkembangannya, seni ini digunakan sebagai sarana penyiaran agama Islam dan kemudian, pada masa perlawanan terhadap Belanda, digiatkan untuk menegakkan disiplin dan memupuk keberanian rakyat.
Jadi, debus dapat dipahami bukan hanya sebagai pertunjukan “orang kebal”.
Ada unsur:
keagamaan + disiplin + bela diri + keberanian + identitas budaya.
Hal tersebut juga sejalan dengan penelitian Moh. Hudaeri mengenai debus di Banten. Ia menemukan adanya pertautan antara tradisi lokal Banten dengan Islam, khususnya tradisi tarekat. Di dalam debus ditemukan unsur seperti wirid, tawasul, dan baiat, sekaligus unsur lokal seperti jangjawokan dan seni pencak silat.
Inilah yang membuat debus begitu khas.
Ia berada di persimpangan antara tradisi lokal dan ekspresi keislaman masyarakat Banten.
Ada Zikir Sebelum Atraksi
Dimensi spiritual tersebut juga terlihat dalam tata cara pertunjukan debus.
Pemerintah Provinsi Banten mencatat bahwa pertunjukan debus biasanya melibatkan seorang syekh sebagai pemimpin, para pezikir, pemain, dan penabuh musik. Sebelum memasuki atraksi utama, terdapat pembacaan zikir dan macapat yang berisi puji-pujian kepada Allah dan Nabi Muhammad SAW.
Artinya, kekuatan dalam pertunjukan debus tidak semata-mata ditampilkan sebagai kekuatan fisik.
Ada proses persiapan batin.
Ada disiplin.
Ada doa.
Ada zikir.
Dan ada keyakinan bahwa manusia tidak memiliki kekuatan mutlak atas dirinya sendiri.
Dalam sumber kebudayaan pemerintah, filosofi yang dikaitkan dengan debus adalah:
la haula wa la quwwata illa billahil ‘aliyyil ‘azhim.
Maknanya secara umum adalah bahwa tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah.
Pesan tersebut sebenarnya cukup menarik.
Di balik atraksi yang terlihat ekstrem, terdapat gagasan bahwa kekuatan manusia tetap berada di bawah kehendak Tuhan.
Ilmu Kanuragan dan Dunia Jawara
Kalau debus memiliki bentuk pertunjukan yang mudah dilihat, ilmu kanuragan lebih banyak hidup dalam tradisi perguruan dan hubungan guru-murid.
Dalam penelitian mengenai kiai dan jawara, ilmu kanuragan ditempatkan sebagai salah satu unsur yang membentuk karakter jawara Banten. Kemampuan fisik dan pengetahuan tentang kesaktian turut menjadi sumber kharisma seorang jawara.
Karena itu, istilah jawara dalam sejarah Banten tidak selalu identik dengan orang yang sekadar kuat secara fisik.
Jawara dapat menjadi bagian dari jaringan sosial masyarakat.
Dalam situasi kolonial, kiai dan jawara bahkan memiliki posisi penting dalam gerakan perlawanan. Kajian tentang jawara Banten yang dihimpun Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Banten menyebut bahwa pada masa penjajahan, bersama kiai, jawara menjadi bagian dari elite revolusi yang mampu menggerakkan massa rakyat untuk melawan pemerintahan kolonial.
Di sinilah ilmu kanuragan mendapatkan konteksnya.
Kemampuan bela diri bukan tujuan akhir.
Ia dapat menjadi bekal untuk menjaga diri, melindungi masyarakat, dan dalam konteks sejarah tertentu digunakan dalam perjuangan.
Silat Terumbu dan Tradisi Bela Diri Banten
Tradisi bela diri Banten juga memiliki sejarah yang panjang.
Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Banten mencatat sejarah Silat Terumbu Banten yang dikaitkan dengan Syaikh Datu Khofi al-Khofiyah bin Yunus atau Syaikh Terumbu.
Menurut sumber tersebut, ketika datang ke Banten pada akhir abad ke-15 atau awal abad ke-16, ia berdakwah sekaligus berhadapan dengan masyarakat yang telah memiliki tradisi silat dan ilmu kanuragan. Ia kemudian mengembangkan aliran silat Terumbu. Salah seorang muridnya, Syaikh Beji atau Ki Buyut Beji, disebut kemudian menjadi panglima perang internal Kesultanan Banten pada masa Sultan Maulana Hasanuddin.
Kisah tersebut memperlihatkan satu pola yang menarik dalam sejarah Banten:
dakwah dan bela diri dapat berjalan berdampingan.
Seorang tokoh agama tidak hanya mengajarkan ilmu keislaman, tetapi juga dapat mengembangkan keterampilan bela diri yang kemudian menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.
Meski demikian, kisah genealogis seperti ini perlu dibaca sebagai sumber sejarah lokal dan tradisi yang berkembang di masyarakat, bukan otomatis dianggap sebagai fakta tunggal yang tidak membutuhkan pembandingan dengan sumber sejarah lainnya.
Dari Latihan Perang Menjadi Penjaga Semangat
Pada masa Kesultanan Banten, kemampuan fisik dan keberanian memiliki arti penting.
Banten merupakan salah satu kekuatan politik dan perdagangan penting di wilayah barat Jawa. Ketika berhadapan dengan VOC dan kemudian kekuasaan kolonial, masyarakat membutuhkan kemampuan untuk mempertahankan wilayahnya.
Dalam konteks itulah sumber kebudayaan pemerintah menempatkan debus sebagai bagian dari latihan prajurit pada masa Sultan Ageng Tirtayasa.
Namun, seiring berjalannya waktu, fungsi debus mengalami perubahan.
Dari lingkungan pertahanan dan perjuangan, ia berkembang menjadi kesenian rakyat dan identitas budaya Banten.
Pada masa kolonial, kesenian tersebut tetap dapat memainkan fungsi sosial dengan membangun keberanian dan disiplin masyarakat.
Dengan demikian, sejarah debus memperlihatkan bahwa sebuah tradisi dapat berubah fungsi tanpa kehilangan seluruh akar budayanya.
Apakah Debus Benar-Benar Dipakai Melawan Belanda?
Pertanyaan ini penting agar kita tidak terjebak dalam romantisme sejarah.
Jawabannya: sumber kebudayaan resmi memang menyebut debus digunakan untuk membangkitkan semangat pejuang dan rakyat Banten melawan Belanda.
Tetapi bentuk penggunaannya tidak selalu berarti para pejuang menjadikan atraksi debus sebagai “senjata utama” di medan perang.
Sumber yang lebih kuat justru menunjukkan fungsi debus sebagai latihan, pembentukan keberanian, disiplin, penyiaran agama, dan penguatan semangat perjuangan.
Karena itu, lebih tepat apabila kita mengatakan:
Debus menjadi bagian dari kebudayaan dan tradisi spiritual-bela diri yang membantu membentuk keberanian dan ketahanan masyarakat Banten dalam menghadapi tekanan kolonial.
Bukan:
“Para pejuang Banten kebal senjata karena melakukan debus.”
Perbedaan kalimat tersebut penting secara jurnalistik.
Yang pertama memiliki dasar historis dan kebudayaan.
Yang kedua merupakan klaim luar biasa yang membutuhkan pembuktian lebih jauh.
Kiai, Jawara, dan Perlawanan
Hubungan antara kekuatan spiritual dan kekuatan fisik juga terlihat dalam perlawanan Banten pada abad ke-19.
Dalam Geger Cilegon 1888, tokoh agama seperti KH Wasyid berada di tengah jaringan kiai, santri, dan masyarakat yang melakukan perlawanan terhadap pemerintahan kolonial.
Sumber Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Banten mengenai KH Muhammad Asyik mencatat bahwa jaringan tarekat memiliki fungsi sebagai sarana komunikasi dan pembinaan yang efektif bagi masyarakat yang melakukan pembangkangan terhadap pemerintah kolonial.
Sementara kajian tentang kiai dan jawara menunjukkan bahwa kemampuan fisik, ilmu kesaktian, dan jaringan sosial dapat membuat tokoh-tokoh tersebut memiliki pengaruh yang besar di masyarakat Banten.
Maka perjuangan tersebut dapat dilihat sebagai pertemuan beberapa kekuatan:
ulama memberikan arah dan legitimasi keagamaan,
jaringan tarekat membangun solidaritas,
jawara memiliki kemampuan bela diri dan pengaruh sosial,
sementara masyarakat menjadi kekuatan massa.
Tidak berarti semua tokoh menjalankan fungsi yang sama.
Tetapi jaringan tersebut saling berhubungan dalam kehidupan masyarakat Banten.
Kekuatan Batin dan Kekuatan Lahir
Kalau kita kembali pada pembahasan mengenai zikir, ratib, dan hizib, terdapat benang merah yang menarik.
Perjuangan para tokoh Banten tidak hanya berbicara tentang kekuatan fisik.
Ada kekuatan batin dan ada kekuatan lahir.
Zikir dan doa menjadi bagian dari upaya mendekatkan diri kepada Allah.
Tarekat membangun hubungan guru dan murid.
Ilmu kanuragan melatih keberanian dan kemampuan menjaga diri.
Pencak silat membentuk ketangkasan.
Sementara debus menjadi salah satu ekspresi budaya yang mempertemukan unsur spiritual, bela diri, dan keberanian.
Semua itu hidup dalam masyarakat yang menghadapi perubahan besar akibat kolonialisme.
Namun sekali lagi, tidak tepat jika seluruh unsur tersebut disatukan secara sederhana seolah-olah semua pejuang Banten menjalankan ritual yang sama.
Tradisi setiap guru, pesantren, tarekat, perguruan silat, dan kelompok masyarakat bisa berbeda.
Justru keberagaman itulah yang membuat sejarah spiritual Banten menarik untuk dipelajari.
Debus Hari Ini: Warisan, Bukan Sekadar Kesaktian
Hari ini debus lebih dikenal sebagai salah satu identitas budaya Banten.
Pertunjukan tersebut dapat ditemukan dalam berbagai kegiatan kebudayaan dan menjadi bagian dari warisan seni masyarakat Banten.
Perubahan fungsi tersebut menunjukkan bahwa tradisi tidak selalu berhenti pada bentuk awalnya.
Apa yang dahulu terkait dengan latihan, dakwah, dan keberanian dalam menghadapi penjajahan, kini dapat tampil sebagai seni pertunjukan dan warisan budaya.
Namun nilai yang berada di baliknya masih bisa dipelajari.
Tentang disiplin.
Tentang keberanian.
Tentang hubungan guru dan murid.
Tentang keyakinan.
Tentang kemampuan mengendalikan diri.
Dan tentang bagaimana masyarakat mempertahankan identitasnya ketika berhadapan dengan kekuatan yang jauh lebih besar.
Pelajaran untuk Generasi Sekarang
Kita tentu tidak sedang berada dalam situasi yang sama dengan masyarakat Banten pada masa kolonial.
Tidak perlu mengartikan ilmu kanuragan atau debus secara harfiah sebagai cara menghadapi persoalan zaman sekarang.
Justru nilai yang lebih relevan adalah ketangguhan diri.
Kalau dahulu seorang jawara dituntut memiliki keberanian menghadapi ancaman, generasi hari ini membutuhkan keberanian menghadapi tantangan yang berbeda.
Berani melawan kebodohan.
Berani melawan hoaks.
Berani menolak kekerasan.
Berani menjaga integritas.
Berani membela orang yang diperlakukan tidak adil.
Dan yang tidak kalah penting, memiliki kemampuan untuk mengendalikan diri.
Sebab kekuatan sejati bukan hanya tentang seberapa keras seseorang mampu memukul.
Tetapi tentang seberapa kuat ia mampu mengendalikan dirinya ketika memiliki kekuatan.
Mungkin itulah salah satu pesan yang bisa kita tarik dari perjalanan panjang tradisi kanuragan, jawara, pencak silat, dan debus di Banten.
Di balik golok ada disiplin.
Di balik silat ada latihan.
Di balik debus ada keberanian.
Dan di balik semua itu, terdapat keyakinan spiritual yang menjadi bagian dari cara masyarakat Banten memahami hubungan antara manusia, kekuatan, dan Tuhan.
Pada akhirnya, sejarah para pejuang Banten mengajarkan bahwa melawan penjajahan tidak hanya membutuhkan keberanian di luar diri, tetapi juga keteguhan di dalam diri.
Dan bagi generasi sekarang, bentuk perjuangannya mungkin berbeda.
Bukan lagi melawan penjajah dengan senjata.
Tetapi melawan segala sesuatu yang membuat manusia kehilangan ilmu, kehilangan keberanian, kehilangan akhlak, dan kehilangan arah.




Tinggalkan Balasan