SPILL Banten – Jika zikir, ratib, hizib, ilmu kanuragan, dan debus menjadi bagian dari perjalanan spiritual dan budaya masyarakat Banten, ada satu unsur yang tidak kalah penting dalam sejarahnya: tarekat dan tasawuf.
Di Banten, tarekat tidak hanya berkembang sebagai jalan spiritual untuk mendekatkan diri kepada Allah. Dalam perjalanan sejarahnya, tarekat juga membentuk jaringan guru dan murid yang sangat luas.
Jaringan itu masuk ke pesantren, masjid, keluarga, lingkungan petani, hingga kalangan pejabat pribumi.
Dalam kondisi masyarakat Banten berada di bawah tekanan kolonial, jaringan tersebut kemudian memiliki fungsi sosial yang lebih luas.
Ia menjadi tempat belajar agama.
Tempat membangun kedisiplinan batin.
Tempat mempererat hubungan guru dan murid.
Dan dalam situasi tertentu, menjadi ruang komunikasi serta konsolidasi masyarakat yang menentang kekuasaan kolonial.
Salah satu episode paling jelas dapat dilihat dalam Pemberontakan Petani Banten 1888 atau Geger Cilegon.
Namun, untuk memahami peran tarekat dalam peristiwa tersebut, kita perlu melihat perjalanan tasawuf di Banten jauh sebelum 1888.
Banten dan Tradisi Tasawuf
Islam di Banten berkembang bukan hanya melalui pengajaran fikih dan hukum Islam.
Tradisi tasawuf juga memiliki peran besar.
Penelitian Endad Musaddad mengenai dakwah sufistik Islam di Banten menyebutkan bahwa penyebaran Islam di wilayah ini tidak terlepas dari peran para dai tasawuf melalui jaringan tarekat yang mereka pimpin. Di antara tokoh yang disebut dalam perkembangan tersebut adalah Syekh Yusuf al-Makassari, Syekh Abdul Karim al-Tanara, dan Syekh Asnawi Caringin.
Artinya, sejak awal perkembangan Islam di Banten, tasawuf sudah menjadi salah satu pendekatan penting dalam membentuk kehidupan keagamaan masyarakat.
Tasawuf tidak hanya berbicara tentang teori.
Ia mengajarkan pembentukan batin:
zuhud, kesabaran, pengendalian diri, keikhlasan, zikir, dan kedekatan kepada Allah.
Sementara tarekat memberikan jalan yang lebih terstruktur melalui hubungan antara mursyid dan murid.
Dari hubungan inilah terbentuk jaringan keagamaan yang kemudian mampu bertahan lintas wilayah dan generasi.
Syekh Yusuf Al-Makassari dan Tradisi Sufi Banten
Salah satu nama paling penting ketika membicarakan tasawuf dan perjuangan di Banten adalah Syekh Yusuf al-Makassari.
Meskipun berasal dari Sulawesi Selatan, perjalanan hidupnya kemudian sangat terkait dengan Banten.
Syekh Yusuf dikenal sebagai ulama dan sufi yang memiliki jaringan keilmuan luas. Dalam perkembangan sejarahnya, ia kemudian berada di lingkungan Kesultanan Banten dan menjadi salah satu tokoh yang terkait dengan perjuangan Sultan Ageng Tirtayasa menghadapi VOC.
Di sini terlihat satu hal menarik.
Syekh Yusuf bukan hanya seorang ahli spiritual yang hidup jauh dari persoalan sosial.
Tasawuf yang ia jalani tidak membuatnya terlepas dari realitas politik.
Ketika kekuasaan kolonial berkembang, seorang ulama sufi dapat berada dalam posisi yang berhadapan dengan kekuasaan tersebut.
Hal ini memberikan gambaran bahwa dalam konteks sejarah Nusantara, tasawuf tidak selalu berarti menarik diri dari dunia.
Bagi sebagian ulama, pembinaan spiritual justru menjadi dasar untuk membangun keteguhan ketika menghadapi persoalan kehidupan.
Dari Guru ke Murid
Kekuatan utama tarekat bukan hanya pada ajarannya, tetapi juga pada jaringan manusia yang dibangunnya.
Seorang mursyid memiliki murid.
Murid memiliki keluarga dan komunitas.
Sebagian murid kemudian menjadi guru baru dan membentuk jaringan di tempat lain.
Pola tersebut membuat ajaran tarekat dapat berkembang jauh melampaui tempat asal seorang guru.
Hal ini terlihat jelas pada perkembangan Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah (TQN) di Banten.
Syekh Abdul Karim al-Bantani merupakan salah satu tokoh paling penting dalam perkembangan tarekat tersebut. Ia merupakan murid dan khalifah Syekh Ahmad Khatib Sambas, tokoh yang dikenal sebagai penyusun Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah. Melalui Syekh Abdul Karim, jaringan tarekat tersebut berkembang luas dari Banten ke berbagai daerah di Nusantara.
Pengaruhnya tidak hanya terbatas pada masyarakat biasa.
Sumber akademik menyebutkan bahwa pengikut tarekatnya berasal dari berbagai lapisan, termasuk petani dan pejabat. Perkembangan jaringan tersebut membuat kehidupan keagamaan di Banten semakin aktif menjelang akhir abad ke-19.
Di sinilah letak pentingnya tarekat dalam sejarah sosial Banten.
Ia membangun jaringan sebelum jaringan itu dibutuhkan untuk sebuah gerakan.
Syekh Abdul Karim: Mursyid dan Tokoh Sentral
Nama Syekh Abdul Karim tidak dapat dipisahkan dari sejarah tarekat Banten pada abad ke-19.
Ia kembali ke Banten setelah belajar di Mekkah dan kemudian mendirikan pesantren serta mengembangkan Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah.
Menurut NU Online, pengaruh Syekh Abdul Karim berkembang sangat luas. Ia menjadi mursyid yang mampu menyatukan berbagai cabang TQN dan memiliki murid yang tersebar ke berbagai daerah. Sebagian murid terdekatnya kemudian dikaitkan dengan Pemberontakan Petani Banten 1888.
Di antara murid dan khalifah yang disebut dalam sumber akademik adalah Tubagus Muhammad Falak Pagentongan, Syekh Asnawi Caringin, Syekh Ibrahim al-Brumbungi, Tubagus Ismail, dan Haji Mardjuki.
Dua nama terakhir memiliki peran dalam peristiwa pemberontakan Banten 1888.
Namun, ada hal penting yang harus dibedakan.
Syekh Abdul Karim tidak berada di Banten ketika Geger Cilegon meletus.
Pada 1876, ia pergi ke Mekkah dan kemudian menjadi salah satu tokoh penting dalam kepemimpinan TQN di sana. Penelitian akademik mengenai perannya juga menegaskan bahwa ia tidak terlibat secara langsung dalam pemberontakan 1888.
Karena itu, lebih tepat membicarakan pengaruhnya melalui ajaran, jaringan murid, dan lingkungan tarekat yang telah ia bangun.
Tarekat dan Geger Cilegon
Pada 9 Juli 1888, perlawanan rakyat Banten yang dikenal sebagai Geger Cilegon pecah.
KH Wasyid menjadi salah satu pemimpin utamanya.
Penelitian mengenai perjuangan KH Wasyid menunjukkan bahwa ia membangun hubungan dengan berbagai pemimpin agama, termasuk kiai, ustaz, guru sufi, serta tokoh informal seperti jawara. Jaringan tersebut kemudian digunakan dalam proses perencanaan dan persiapan perlawanan.
Penelitian lain yang secara khusus membahas keterlibatan Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah menyebutkan bahwa menjelang pemberontakan terjadi peningkatan aktivitas keagamaan di Banten.
Pertemuan antara petani dan ulama berlangsung.
Latihan pencak silat dilakukan.
Dan kehidupan keagamaan masyarakat semakin aktif.
Dalam konteks itu, tarekat menjadi salah satu jaringan yang menghubungkan para ulama dengan masyarakat.
Jadi, hubungan antara tarekat dan Geger Cilegon bukan sekadar hubungan antara “ajaran spiritual” dan “perang”.
Lebih tepat jika dipahami sebagai:
ajaran spiritual → hubungan guru-murid → jaringan sosial → komunikasi → solidaritas → mobilisasi dalam konteks perlawanan.
Majelis Zikir yang Menjadi Ruang Pertemuan
Salah satu hal menarik dalam sejarah Geger Cilegon adalah bagaimana aktivitas keagamaan dapat menjadi ruang pertemuan masyarakat.
Catatan yang merujuk pada kajian Sartono Kartodirdjo menyebutkan bahwa pertemuan-pertemuan kecil para pelaku gerakan dilakukan dengan menggunakan bentuk pertemuan zikir. Aktivitas tersebut berlangsung di tengah meningkatnya kegiatan keagamaan masyarakat Banten.
Namun kita perlu berhati-hati dalam memaknainya.
Ini bukan berarti zikir adalah instrumen pemberontakan.
Zikir pada dasarnya merupakan amalan keagamaan.
Yang terjadi dalam konteks sejarah tersebut adalah adanya jaringan sosial yang sudah terbentuk melalui kehidupan keagamaan, dan jaringan itu kemudian dapat digunakan untuk berkomunikasi serta membangun hubungan antarpelaku perlawanan.
Perbedaannya sangat penting.
Karena kalau tidak, kita bisa jatuh pada kesimpulan yang terlalu sederhana:
“Tarekat mengajarkan pemberontakan.”
Padahal penelitian tentang hubungan tarekat dan pemberontakan justru menunjukkan bahwa tidak ada ajaran kekerasan yang otomatis melekat pada tarekat. Jaringan tarekat dalam konteks tertentu dapat dimanfaatkan sebagai sarana komunikasi dan pembinaan karena hubungan antara guru dan muridnya sangat kuat.
KH Muhammad Asyik: Guru Tarekat yang Terlibat dalam Perlawanan
Salah satu tokoh yang memperlihatkan hubungan tersebut adalah KH Muhammad Asyik dari Bendung, Serang.
Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Banten mencatat bahwa KH Muhammad Asyik merupakan guru tarekat dan salah satu tokoh yang ikut dalam Geger Cilegon bersama KH Wasyid. Ia merupakan putra Syekh Abdul Karim dan kemudian melanjutkan peran ayahnya sebagai guru tarekat.
Dalam konteks Geger Cilegon, perkumpulan tarekat menjadi salah satu wahana komunikasi dan pembinaan para pengikutnya.
Pertemuan-pertemuan tersebut kemudian menjadi ruang bagi para tokoh untuk membicarakan dan merencanakan perlawanan terhadap pemerintah kolonial.
Setelah pemberontakan dipadamkan, KH Muhammad Asyik ditangkap dan dibuang ke Ternate.
Menariknya, pengasingan tersebut tidak menghentikan aktivitas keagamaannya.
Di Ternate, ia disebut membuka pesantren dan tetap mengajarkan agama, tarekat, serta silat.
Kisah ini memperlihatkan sesuatu yang cukup kuat:
pengasingan fisik tidak otomatis memutus jaringan spiritual seorang ulama.
Ia dapat berpindah tempat, tetapi ilmu, murid, pesantren, dan dakwahnya dapat terus berjalan.
Tasawuf Bukan Berarti Menjauh dari Dunia
Ada anggapan bahwa tasawuf hanya berkaitan dengan kehidupan batin dan menjauhkan diri dari persoalan dunia.
Sejarah Banten menunjukkan gambaran yang lebih kompleks.
Para ulama sufi memang menekankan pengendalian hawa nafsu, zikir, ketakwaan, dan kedekatan kepada Allah.
Namun mereka tetap hidup di tengah masyarakat.
Mereka mendirikan pesantren.
Mengajar.
Membina murid.
Berinteraksi dengan petani.
Berhubungan dengan pejabat.
Dan dalam kondisi tertentu, mengambil sikap terhadap persoalan sosial-politik.
Karena itu, tasawuf tidak otomatis berarti pasif.
Seseorang dapat memperdalam kehidupan batinnya sekaligus memiliki kepedulian yang besar terhadap keadaan masyarakat.
Inilah salah satu sisi penting dari tradisi ulama sufi Banten.
Ketika Penjajahan Bersentuhan dengan Kehidupan Beragama
Mengapa kemudian muncul ketegangan antara sebagian kelompok tarekat dengan pemerintah kolonial?
Jawabannya tidak tunggal.
Penelitian tentang pemberontakan Banten 1888 menunjukkan adanya sejumlah persoalan yang menekan masyarakat, antara lain pajak, perubahan sistem pemerintahan, persoalan tanah, serta penetrasi kekuasaan kolonial ke dalam kehidupan masyarakat.
Di sisi lain, terdapat pula ketegangan ketika kebijakan pemerintah menyentuh aktivitas keagamaan.
Dalam kondisi seperti itu, masyarakat tidak melihat persoalan kolonial hanya sebagai masalah administrasi.
Bagi sebagian ulama dan masyarakat Muslim Banten, kekuasaan kolonial juga dipandang bertentangan dengan tata kehidupan keagamaan yang mereka yakini.
Maka muncul pertemuan antara:
persoalan ekonomi,
persoalan politik,
persoalan sosial,
dan
keyakinan keagamaan.
Dari pertemuan berbagai faktor tersebut kemudian lahir perlawanan.
Bukan Sekadar “Perang Sabil”
Dalam sejumlah sumber lokal, Geger Cilegon juga dikenal dengan istilah perang sabil.
Istilah tersebut menunjukkan bahwa sebagian tokoh dan pengikutnya memberikan makna keagamaan terhadap perjuangan mereka.
Namun secara jurnalistik, istilah tersebut perlu ditempatkan dalam konteks sejarah.
Ia merupakan cara para pelaku pada masa itu memaknai perjuangan, bukan berarti seluruh faktor penyebab pemberontakan dapat direduksi menjadi persoalan agama semata.
Kajian sejarah tentang Geger Cilegon menunjukkan bahwa terdapat berbagai latar belakang sosial, ekonomi, politik, dan keagamaan yang saling bertemu.
Karena itu, membaca sejarah Banten membutuhkan dua hal sekaligus:
menghormati keyakinan para pelakunya, tetapi tetap kritis terhadap kompleksitas sejarahnya.
Tarekat sebagai Sekolah Batin
Kalau ditarik ke makna yang lebih sederhana, tarekat dapat dipahami sebagai salah satu bentuk pendidikan batin.
Murid belajar disiplin.
Belajar mengendalikan diri.
Belajar berzikir.
Belajar menghormati guru.
Belajar menjaga hubungan dengan Allah.
Dan belajar menerapkan nilai agama dalam kehidupan.
Dalam masyarakat yang menghadapi tekanan kolonial, pendidikan semacam ini dapat menghasilkan manusia yang memiliki ketahanan mental dan solidaritas sosial.
Mereka mungkin tidak selalu memiliki senjata.
Tetapi mereka memiliki sesuatu yang tidak kalah penting:
keyakinan bahwa hidup memiliki nilai yang harus dipertahankan.
Dari Kekuatan Batin Menjadi Kekuatan Sosial
Di sinilah hubungan antara tasawuf, tarekat, dan perjuangan Banten menjadi menarik.
Kekuatan spiritual pada awalnya berada di dalam diri.
Tetapi ketika banyak orang memiliki guru, nilai, dan keyakinan yang sama, kekuatan tersebut berubah menjadi kekuatan sosial.
Seorang murid mengenal gurunya.
Murid lain mengenal murid lainnya.
Mereka bertemu dalam majelis.
Beribadah bersama.
Belajar bersama.
Membangun hubungan kepercayaan.
Jaringan seperti inilah yang pada situasi tertentu dapat menjadi modal sosial untuk menghadapi persoalan bersama.
Dengan kata lain:
Tasawuf membentuk manusia dari dalam, sementara tarekat membentuk jaringan manusia di luar dirinya.
Ketika keduanya bertemu dengan kondisi sosial yang penuh tekanan, lahirlah kekuatan masyarakat yang sulit dipisahkan dari kehidupan keagamaannya.
Warisan Spiritual Banten
Hari ini, kita tentu tidak hidup dalam situasi kolonial seperti masyarakat Banten abad ke-19.
Namun warisan tarekat dan tasawuf masih dapat ditemukan dalam kehidupan keagamaan Banten.
Pesantren tetap berkembang.
Majelis zikir tetap hidup.
Jaringan ulama dan murid terus berjalan.
Tradisi keilmuan tetap diwariskan.
Dan tasawuf masih menjadi bagian dari cara banyak umat Islam membangun hubungan batin dengan Allah.
Yang dapat kita pelajari dari sejarah para ulama Banten bukanlah ajakan untuk mengulang konflik masa lalu.
Justru ada pelajaran yang lebih dalam.
Kekuatan sebuah masyarakat tidak hanya ditentukan oleh kekuatan fisiknya.
Ada kekuatan ilmu.
Ada kekuatan iman.
Ada kekuatan hubungan antarmanusia.
Ada kekuatan moral.
Dan ada keteguhan batin.
Para ulama Banten menunjukkan bahwa pendidikan spiritual dapat membentuk manusia yang tidak mudah kehilangan arah ketika menghadapi tekanan.
Belajar dari Para Sufi Pejuang
Mungkin ini yang paling relevan untuk generasi sekarang.
Kita tidak sedang diminta menjadi pejuang seperti masyarakat Banten pada masa kolonial.
Tetapi kita bisa mengambil nilai yang mereka wariskan.
Belajar dengan sungguh-sungguh.
Menjaga hubungan dengan Allah.
Melatih kesabaran.
Mengendalikan hawa nafsu.
Tidak mudah menyerah.
Menjaga solidaritas.
Dan berani mengambil sikap ketika melihat ketidakadilan.
Perjuangan hari ini bentuknya mungkin berbeda.
Kita tidak harus mengangkat senjata.
Kita bisa melawan kebodohan dengan ilmu.
Melawan kemiskinan dengan kepedulian.
Melawan hoaks dengan informasi yang benar.
Melawan korupsi dengan integritas.
Melawan kebencian dengan akhlak.
Dan melawan kelemahan diri dengan disiplin.
Pada akhirnya, sejarah tarekat dan tasawuf di Banten mengingatkan kita bahwa perubahan besar sering kali dimulai dari pembentukan manusia di dalam dirinya sendiri.
Sebelum seseorang berani menghadapi dunia, ia harus belajar menghadapi dirinya sendiri.
Sebelum melawan kesewenang-wenangan di luar dirinya, ia harus belajar mengendalikan keserakahan, kemarahan, dan ketakutan di dalam dirinya.
Itulah salah satu warisan paling berharga dari tradisi tasawuf Banten:
menguatkan batin, membangun persaudaraan, lalu hadir untuk masyarakat.
Dan mungkin, dari sinilah kita dapat memahami mengapa sejarah Banten tidak hanya dipenuhi kisah tentang perang dan perlawanan.
Di baliknya terdapat sejarah panjang tentang guru, murid, pesantren, zikir, tarekat, tasawuf, dan perjuangan menjaga martabat manusia.




Tinggalkan Balasan