SPILL Banten – Ada satu gambaran yang berulang dalam kisah perjuangan rakyat Banten melawan penjajahan: suara takbir, zikir, kasidah, dan seruan yang membawa nama Allah hadir di tengah gerakan perlawanan.
Bagi para ulama dan masyarakat Banten pada masa itu, perjuangan tidak hanya dipahami sebagai persoalan politik atau perlawanan terhadap kekuasaan kolonial.
Sebagian dari mereka memaknainya melalui keyakinan agama.
Nama Allah disebut.
Doa dipanjatkan.
Takbir dikumandangkan.
Dan perjuangan diberi makna sebagai upaya mempertahankan agama, kehormatan, serta kehidupan masyarakat dari kekuasaan yang dianggap menindas.
Fenomena tersebut paling jelas terlihat dalam Geger Cilegon 1888, ketika para ulama dan masyarakat Banten melakukan perlawanan terhadap pemerintahan kolonial Belanda.
Namun, penting untuk memahami satu hal sejak awal:
takbir dan doa bukanlah “senjata” dalam pengertian fisik.
Keduanya merupakan bagian dari kehidupan spiritual para pejuang yang memberikan keberanian, identitas, solidaritas, dan makna keagamaan terhadap perjuangan mereka.
Ketika Nama Allah Mengiringi Perjuangan
Sejumlah catatan sejarah mengenai Geger Cilegon menggambarkan bagaimana para pejuang Banten membawa simbol dan ekspresi keagamaan ketika bergerak menuju pusat perlawanan.
Sehari sebelum serangan 9 Juli 1888, terjadi arak-arakan masyarakat dengan pakaian serba putih. Dalam catatan yang dikutip dari kajian sejarah Geger Cilegon, arak-arakan tersebut diiringi takbir dan kasidah dengan rebana.
Keesokan harinya, ketika perlawanan pecah, seruan “sabil Allah” juga terdengar dari kelompok pejuang.
Catatan mengenai serangan pertama pada 9 Juli 1888 menyebut para pejuang meneriakkan “sabil Allah” ketika menyerang sasaran kolonial.
Dalam konteks sejarah tersebut, ungkapan tersebut memperlihatkan bahwa sebagian pelaku memandang perjuangan mereka melalui bahasa dan keyakinan agama.
Perlawanan bukan hanya dimaknai sebagai pertarungan melawan aparat kolonial.
Ia dipahami sebagai bagian dari perjuangan yang diyakini memiliki dimensi keagamaan.
Takbir Sebelum Pertempuran
Mengapa takbir menjadi bagian dari suasana perjuangan?
Dalam tradisi Islam, takbir merupakan pengagungan terhadap kebesaran Allah.
Allahu Akbar berarti Allah Mahabesar.
Ketika kalimat tersebut dikumandangkan dalam situasi penuh ketegangan, maknanya tidak harus dipahami sebagai sekadar teriakan perang.
Ia dapat menjadi pengingat bahwa manusia, seberapa kuat pun dirinya, tetap berada di bawah kekuasaan Allah.
Dalam konteks masyarakat Banten pada akhir abad ke-19, simbol tersebut juga menjadi bagian dari identitas keagamaan yang kuat.
Catatan mengenai arak-arakan menjelang Geger Cilegon memperlihatkan masyarakat berpakaian putih, membawa perlengkapan, dan mengiringi perjalanan dengan takbir serta kasidah.
Bayangkan suasana pada waktu itu.
Jalan-jalan Cilegon dipenuhi masyarakat.
Pakaian putih menjadi pemandangan dominan.
Suara rebana terdengar.
Kasidah dilantunkan.
Dan takbir dikumandangkan.
Di tengah suasana seperti itu, batas antara kegiatan keagamaan dan persiapan sosial menuju perlawanan menjadi sangat tipis.
Doa sebagai Penguat Batin
Perjuangan tentu tidak hanya membutuhkan strategi.
Ada ketakutan.
Ada kemungkinan kehilangan nyawa.
Ada ketidakpastian.
Dan ada kesadaran bahwa lawan memiliki persenjataan yang lebih modern.
Dalam situasi seperti itu, keyakinan menjadi sumber keteguhan.
Penelitian mengenai sejarah perlawanan Banten menunjukkan bahwa kehidupan keagamaan, pengajian, zikir, tarekat, dan jaringan ulama telah menjadi bagian penting dari lingkungan sosial sebelum pemberontakan terjadi. Dalam kajian Sartono Kartodirdjo, gerakan kebangkitan agama dan gagasan Perang Sabil menjadi salah satu unsur yang memberi makna keagamaan kepada perjuangan sebagian masyarakat Banten.
Artinya, doa tidak harus selalu terlihat dalam bentuk ritual yang tercatat secara rinci oleh sejarawan.
Ia dapat hidup dalam kehidupan sehari-hari masyarakat:
di masjid,
di pesantren,
di rumah para kiai,
di majelis zikir,
dan dalam hubungan antara guru dan murid.
Dari lingkungan spiritual itulah keyakinan terhadap Allah dibentuk.
Dari Pengajian ke Semangat Perjuangan
Sejumlah sumber mengenai Geger Cilegon menggambarkan peran para ulama dalam menanamkan semangat perjuangan melalui pengajian dan kegiatan keagamaan.
Kiai Wasid, misalnya, bersama sejumlah ulama Banten disebut menjalankan syiar Islam di langgar dan pesantren sekaligus menanamkan semangat perlawanan terhadap kolonial.
Hal tersebut menunjukkan bahwa pengajaran agama pada masa itu tidak berlangsung di ruang kosong.
Masyarakat sedang menghadapi persoalan kolonial.
Pajak meningkat.
Kekuasaan pemerintah kolonial semakin masuk ke kehidupan masyarakat.
Dan berbagai persoalan sosial menimbulkan ketegangan.
Dalam situasi tersebut, pesan-pesan keagamaan dapat menjadi cara masyarakat memahami apa yang sedang mereka alami.
Bagi sebagian ulama dan pengikutnya, mempertahankan kehormatan dan kehidupan masyarakat kemudian mendapatkan makna keagamaan.
Allah sebagai Sumber Kekuatan
Jika kita menghubungkan kisah takbir dengan tradisi spiritual Banten yang telah dibahas dalam artikel sebelumnya, terdapat sebuah benang merah.
Para ulama tidak hanya mengajarkan keberanian.
Mereka juga mengajarkan ketergantungan kepada Allah.
Dalam tradisi zikir, seseorang mengingat bahwa kekuatan manusia terbatas.
Dalam doa, seseorang mengakui bahwa hasil akhir berada di luar kendalinya.
Dalam takbir, manusia mengagungkan Allah di atas segala kekuatan duniawi.
Maka, ketika takbir dikumandangkan sebelum atau di tengah perjuangan, ia dapat dipahami sebagai bentuk penguatan batin:
Allah lebih besar daripada rasa takut.
Bukan berarti rasa takut hilang.
Tetapi manusia memiliki keyakinan yang membuatnya mampu menghadapi ketakutan tersebut.
Syekh Yusuf dan Semangat Berpegang kepada Allah
Jauh sebelum Geger Cilegon, tradisi ulama Banten telah mengenal tokoh yang menghubungkan kehidupan spiritual dengan perjuangan menghadapi kekuasaan kolonial.
Salah satunya adalah Syekh Yusuf al-Makassari.
Syekh Yusuf memiliki hubungan erat dengan Sultan Ageng Tirtayasa dan terlibat dalam perjuangan menghadapi VOC.
Ketika akhirnya ditangkap dan diasingkan, perjuangannya tidak berhenti begitu saja.
Arsip Nasional Republik Indonesia mencatat bahwa setelah pengasingan, strategi perjuangan Syekh Yusuf berubah dari perang fisik menjadi penyebaran semangat keagamaan dan perjuangan. Para jamaah haji dari Nusantara yang singgah di tempat pengasingannya mendapatkan pengajaran agama sekaligus pesan agar tetap berpegang pada jalan Allah dan mempertahankan semangat perlawanan terhadap Belanda.
Kisah tersebut memberikan gambaran penting.
Perjuangan tidak selalu harus berlangsung dengan senjata.
Ketika kekuatan fisik telah dikalahkan, keyakinan dan ilmu masih dapat diteruskan.
Dan di sinilah spiritualitas menjadi bentuk perlawanan yang berbeda.
Seruan “Sabil Allah”
Dalam Geger Cilegon, sumber sejarah mencatat adanya seruan “sabil Allah” yang diteriakkan para pejuang.
Istilah tersebut secara harfiah berkaitan dengan “jalan Allah” dan dalam konteks sejarah perlawanan Banten terhubung dengan gagasan Perang Sabil.
Sartono Kartodirdjo dalam kajiannya mengenai Pemberontakan Petani Banten 1888 menjelaskan bahwa sebagian masyarakat yang terlibat dalam gerakan tersebut memahami perjuangan dalam kerangka dar al-Islam dan Perang Sabil. Perjuangan tersebut diberi makna sebagai pengorbanan keagamaan untuk menghadapi kekuasaan asing.
Tetapi di sinilah pentingnya sikap jurnalistik.
Tidak semua masyarakat Banten pada waktu itu dapat disamakan pandangannya.
Bahkan terdapat ulama yang berbeda pendapat mengenai pemberontakan tersebut.
Kajian mengenai pemikiran Sayyid Utsman bin Yahya, misalnya, menunjukkan bahwa ia mengkritik klaim jihad dalam Pemberontakan Cilegon 1888 dan menganggap gerakan tersebut bukan jihad yang sah.
Fakta ini penting karena memperlihatkan bahwa masyarakat Muslim Banten pada masa itu juga memiliki perdebatan keagamaan mengenai makna perjuangan.
Dengan demikian, sejarahnya menjadi jauh lebih kaya daripada sekadar cerita bahwa “semua ulama sepakat melakukan perang atas nama agama”.
Perbedaan Pandangan Tidak Menghapus Dimensi Spiritual
Perbedaan pendapat tersebut justru memberikan pelajaran penting.
Agama menjadi sumber nilai bagi masyarakat, tetapi manusia tetap dapat berbeda dalam menafsirkan bagaimana nilai tersebut diterapkan dalam situasi politik dan sosial.
Sebagian ulama dan pengikutnya memandang perlawanan sebagai sabil Allah.
Sebagian lainnya mengkritik cara tersebut dan tidak menganggap pemberontakan sebagai jihad yang sah.
Karena itu, ketika kita membicarakan “mengagungkan Asma Allah dalam melawan penjajah”, kita tidak boleh mengubahnya menjadi klaim bahwa setiap umat Islam di Banten memiliki pandangan yang sama.
Yang dapat dikatakan dengan lebih aman berdasarkan sumber adalah:
ekspresi keagamaan seperti takbir, zikir, kasidah, dan seruan sabil Allah memang hadir dalam lingkungan perjuangan Banten, terutama dalam Geger Cilegon.
Takbir sebagai Identitas dan Solidaritas
Selain makna spiritual, takbir juga memiliki fungsi sosial.
Bayangkan ribuan orang berkumpul dengan pakaian yang sama, bergerak dalam kelompok, dan mengucapkan kalimat yang sama.
Hal tersebut menciptakan rasa kebersamaan.
Mereka merasa menjadi bagian dari satu kelompok.
Dalam konteks Geger Cilegon, sumber menyebut ribuan orang berpakaian putih berkumpul dan melakukan perlawanan. Salah satu catatan menyebut sekitar 1.700 orang berkumpul di Pasar Jombang Wetan sambil meneriakkan “sabil Allah”.
Suara yang sama menciptakan keberanian bersama.
Ketika seseorang takut, ia mendengar orang lain bertakbir.
Ketika seseorang ragu, ia melihat ribuan orang berdiri bersamanya.
Ketika seseorang merasa sendirian, ia melihat bahwa perjuangan tersebut dilakukan bersama.
Dalam pengertian ini, takbir bukan hanya ekspresi hubungan manusia dengan Allah.
Ia juga menjadi bahasa solidaritas masyarakat.
Pakaian Putih, Takbir, dan Kesadaran Bersama
Pakaian putih yang dikenakan para peserta arak-arakan juga memiliki simbolisme yang kuat.
Sumber mengenai persiapan Geger Cilegon mencatat para kiai dan murid mengenakan pakaian putih dengan kain putih yang diikat di kepala, sementara takbir dan kasidah mengiringi arak-arakan.
Kita tidak perlu memaksakan satu tafsir terhadap simbol tersebut.
Namun dalam lingkungan masyarakat Muslim, warna putih memiliki asosiasi kuat dengan kesederhanaan, kebersihan, dan kehidupan keagamaan.
Yang jelas, penggunaan pakaian yang seragam membuat rombongan tampak sebagai satu kesatuan.
Takbir membuat mereka memiliki suara yang sama.
Kasidah memberi suasana religius.
Dan pertemuan para kiai serta murid memperkuat jaringan sosial.
Semua unsur tersebut kemudian hadir menjelang meletusnya perlawanan.
Ketika Spiritualitas Menjadi Keteguhan
Pada titik ini, kita dapat memahami bahwa substansi doa dan amalan perjuangan tidak selalu harus dicari dalam bentuk ritual khusus untuk memenangkan peperangan.
Tidak ada dasar yang cukup untuk mengatakan bahwa para tokoh Banten memiliki satu doa rahasia tertentu yang otomatis membuat mereka menang.
Yang terlihat dari sumber justru adalah sesuatu yang lebih manusiawi.
Mereka berdoa.
Mereka berzikir.
Mereka mengagungkan Allah.
Mereka berkumpul.
Mereka membangun solidaritas.
Dan mereka menghadapi ketakutan dengan keyakinan.
Itulah yang membuat spiritualitas memiliki peran penting.
Bukan karena doa menggantikan usaha, tetapi karena doa memberi makna dan keteguhan dalam menjalankan usaha.
Dari Allahu Akbar ke Keberanian
Kalimat Allahu Akbar mengandung pesan yang sederhana tetapi dalam.
Allah Mahabesar.
Artinya, tidak ada kekuasaan manusia yang mutlak.
Bagi masyarakat yang hidup di bawah tekanan kolonial, keyakinan tersebut dapat menjadi sumber keberanian psikologis.
Penjajah mungkin memiliki senjata.
Memiliki tentara.
Memiliki pemerintahan.
Memiliki aturan.
Tetapi di dalam keyakinan seorang Muslim, kekuasaan tertinggi tetap milik Allah.
Dari sinilah keberanian dapat tumbuh.
Bukan keberanian karena merasa dirinya tidak bisa kalah.
Tetapi keberanian karena yakin bahwa ada sesuatu yang lebih besar daripada kekuasaan manusia.
Belajar dari Spiritualitas Para Pejuang Banten
Hari ini, tentu kita tidak berada dalam situasi seperti Banten pada abad ke-17 atau abad ke-19.
Tidak ada alasan untuk menerjemahkan sejarah tersebut secara mentah ke dalam bentuk konflik.
Justru nilai spiritualnya dapat kita ambil dalam kehidupan sehari-hari.
Mengagungkan Asma Allah berarti menyadari bahwa manusia tidak boleh merasa paling kuat.
Kekuasaan tidak boleh membuat seseorang sombong.
Ilmu tidak boleh membuat seseorang merendahkan orang lain.
Kekayaan tidak boleh membuat seseorang lupa kepada sesama.
Dan keberanian tidak boleh berubah menjadi kesewenang-wenangan.
Bagi generasi sekarang, “perjuangan” dapat mengambil bentuk yang berbeda.
Melawan kebodohan dengan pendidikan.
Melawan hoaks dengan informasi yang benar.
Melawan korupsi dengan kejujuran.
Melawan kemiskinan dengan kepedulian.
Melawan kebencian dengan akhlak.
Dan melawan kelemahan diri dengan disiplin.
Semua itu dapat dilakukan sambil tetap mengingat Allah.
Bukan Sekadar Teriakan
Pada akhirnya, kisah takbir para pejuang Banten mengajarkan satu hal penting:
mengagungkan nama Allah bukan sekadar mengucapkannya dengan suara keras.
Makna yang lebih dalam adalah menempatkan Allah sebagai pusat kesadaran.
Ketika kuat, ingat Allah.
Ketika takut, ingat Allah.
Ketika menang, ingat Allah.
Ketika kalah, tetap ingat Allah.
Ketika menghadapi ketidakadilan, jangan kehilangan akhlak.
Dan ketika memperjuangkan sesuatu yang diyakini benar, jangan merasa bahwa kekuatan manusia adalah segala-galanya.
Sejarah Banten menunjukkan bahwa spiritualitas pernah menjadi bagian penting dari cara masyarakat memahami perjuangan mereka.
Takbir menjadi suara.
Doa menjadi kekuatan batin.
Zikir menjadi pengingat.
Dan keyakinan kepada Allah menjadi sumber keteguhan.
Namun sejarah juga mengingatkan bahwa pemaknaan agama tidak selalu tunggal. Bahkan di antara para ulama sendiri terdapat perbedaan pandangan mengenai perjuangan bersenjata dan klaim jihad dalam Geger Cilegon.
Karena itu, warisan terpenting yang dapat kita ambil bukanlah romantisme perang.
Melainkan keteguhan iman, keberanian, solidaritas, dan kesadaran bahwa manusia harus mempertanggungjawabkan setiap perjuangannya di hadapan Allah.
Sebab pada akhirnya, suara takbir yang menggema dalam sejarah Banten bukan hanya tentang menghadapi penjajah.
Ia juga mengingatkan manusia pada satu kalimat sederhana:
Allah Mahabesar, sementara manusia tetaplah manusia.
Dan dari kesadaran itulah seharusnya lahir keberanian yang tidak kehilangan kerendahan hati.




Tinggalkan Balasan