Spill Banten

Media digital Banten yang SPILL berita terkini, informasi, kabar viral, warga, Tokoh, UMKM, dan seputar Banten.

Otto Djaya

Otto Djaya: Dari Prajurit PETA hingga Melukis Wajah Revolusi Indonesia 1942

SPILL Banten — Ada orang yang melawan kolonialisme dengan senjata. Ada yang menggunakan organisasi. Ada pula yang memilih jalan seni.

Otto Djaya pernah berada di ketiganya.

Lahir di Rangkasbitung, Banten, pada 6 Oktober 1916, Otto Djaya tumbuh sebagai bagian dari keluarga bangsawan Banten yang juga memberi anak-anaknya pendidikan modern pada masa kolonial. Bersama kakaknya, Agus Djaya, ia kemudian masuk ke dunia seni rupa.

Tetapi perjalanan Otto tidak berhenti sebagai pelukis.

Ia pernah menjadi anggota PETA pada masa pendudukan Jepang, kemudian bergabung dengan pasukan Republik setelah Indonesia merdeka. Pangkat terakhirnya tercatat sebagai mayor.

Dan yang membuat kisahnya menarik adalah satu hal:

pengalaman sebagai pejuang kemudian tidak hilang ketika ia kembali memegang kuas.

Perang masuk ke dalam lukisannya.

Anak Banten yang Tumbuh Bersama Seni

Otto Djaya merupakan putra Raden Wirasandi Natadiningrat dan Sarwanah Sunaeni. Ayahnya berasal dari keluarga bangsawan Banten dan bekerja dalam lingkungan pemerintahan kolonial. Otto bersama kakaknya memperoleh pendidikan kolonial Belanda sejak tingkat dasar hingga menengah.

Pendidikan itu kemudian membuka jalan menuju dunia seni.

Otto bergabung dengan Persagi, organisasi yang dibentuk oleh para pelukis Indonesia pada masa kolonial. Persagi menjadi ruang penting bagi seniman pribumi untuk membangun identitas seni yang tidak sepenuhnya bergantung pada selera seni kolonial. Otto tercatat sebagai salah satu anggotanya.

Di lingkungan inilah ia semakin dekat dengan gagasan bahwa melukis bukan hanya soal membuat gambar yang indah.

Seni juga bisa berbicara tentang kehidupan.

Tentang masyarakat.

Tentang identitas.

Dan pada akhirnya, tentang sebuah bangsa.

Persagi dan Ruang bagi Seniman Indonesia

Pada masa kolonial, dunia seni rupa di Hindia Belanda memiliki struktur yang kuat dipengaruhi seniman dan institusi Eropa.

Persagi mencoba menciptakan ruang yang berbeda.

Dalam sejarahnya, organisasi tersebut berusaha membangun generasi baru pelukis Indonesia. Pameran Persagi pada 1940 dan 1941 menjadi salah satu momen penting karena karya para seniman pribumi akhirnya mendapat ruang di lingkungan seni yang sebelumnya sangat didominasi kelompok Eropa.

Otto menjadi bagian dari proses tersebut.

Ia bukan pendiri utama Persagi seperti Agus Djaya dan S. Sudjojono.

Tetapi kehadirannya sebagai anggota menunjukkan bahwa sejak sebelum revolusi fisik, ia sudah berada dalam lingkungan seniman yang sedang mencari identitas seni Indonesia.

Perlawanan pada tahap ini belum berbentuk perang.

Ia berbentuk usaha untuk memiliki suara sendiri.

Ketika Seni Bertemu Dunia Militer

Kemudian situasi berubah.

Pada 1942, Jepang mengambil alih Indonesia.

Otto masuk ke dalam organisasi militer bentukan Jepang, PETA, dan tercatat berpangkat chudanco.

Pengalaman ini menjadi bagian penting dalam hidupnya.

Ia yang sebelumnya dikenal sebagai pelukis kini mendapatkan pengalaman militer secara langsung.

Disiplin.

Komando.

Latihan.

Dan kehidupan sebagai seorang prajurit.

Ketika Jepang menyerah pada 1945, situasi kembali berubah.

Indonesia memproklamasikan kemerdekaan.

Dan pengalaman militer yang diperoleh Otto kemudian digunakan untuk bergabung dalam perjuangan Republik.

Dari PETA ke Republik

Setelah Proklamasi, Otto dan Agus Djaya bergabung sebagai prajurit pada Resimen III Divisi III di Sukabumi dalam masa Revolusi Fisik.

Perubahan ini menarik.

Seragam yang sebelumnya dikenakan sebagai bagian dari tentara pendudukan Jepang kini berganti menjadi bagian dari perjuangan mempertahankan Republik Indonesia.

Otto bukan lagi sekadar orang yang mengamati revolusi.

Ia berada di dalamnya.

Sumber mengenai perjalanan hidupnya mencatat bahwa ia terlibat langsung dalam pertempuran bersama pasukan dan masyarakat sipil ketika menghadapi pasukan Sekutu yang datang bersama kepentingan Belanda.

Di titik ini, cerita Otto Djaya berubah dari seniman yang menggambar revolusi menjadi seniman yang mengalami revolusi.

Ketika Kanvas Menyimpan Pengalaman Perang

Salah satu karya yang memperlihatkan hubungan tersebut adalah Pembrontak (Revolutionaries), yang dibuat Otto sekitar 1946–1947.

Rijksmuseum mencatat lukisan itu menampilkan tiga pejuang kemerdekaan Indonesia yang siap mempertahankan kemerdekaan dengan kekuatan senjata.

Karya tersebut kemudian dipamerkan di Stedelijk Museum Amsterdam pada 1947.

Ada ironi yang menarik.

Lukisan tentang pejuang Indonesia yang sedang mempertahankan kemerdekaan justru berada di negeri yang saat itu sedang berusaha menguasai kembali Indonesia.

Seni Otto akhirnya tidak hanya menjadi dokumentasi.

Ia menjadi pernyataan visual tentang revolusi.

Rijksmuseum mencatat bahwa selama Revolusi Indonesia, para seniman menggunakan karya seni sebagai instrumen politik untuk menyebarkan gagasan kemerdekaan baik di dalam negeri maupun ke luar negeri.

Perang Tidak Berhenti di Medan Pertempuran

Bagi Otto, perjuangan tidak selesai hanya karena ia ikut bertempur.

Ia tetap melukis.

Dan pengalaman sebagai prajurit memberi bahan yang berbeda bagi karyanya.

Jika sebelumnya ia banyak melihat kehidupan masyarakat melalui mata seorang seniman, kini ia juga melihatnya dari pengalaman seorang pejuang.

Karena itu, sejumlah karyanya kemudian menghadirkan tema revolusi, pejuang, kehidupan rakyat, serta tokoh-tokoh dalam budaya Indonesia.

Kanvas menjadi ruang lain untuk menyimpan pengalaman yang tidak selalu bisa diceritakan lewat laporan militer.

Dari Banten ke Belanda

Pada 1947, Otto bersama Agus Djaya berangkat ke Belanda.

Mereka datang sebagai bagian dari misi yang memiliki dimensi kebudayaan sekaligus pendidikan. Keduanya kemudian belajar di Rijksacademie voor Beeldende Kunsten di Amsterdam dan berada di Belanda hingga sekitar 1950.

Kehadiran mereka di Belanda memiliki makna yang cukup unik.

Indonesia sedang berada dalam revolusi.

Belanda sedang berusaha mempertahankan kekuasaannya.

Namun di tengah situasi tersebut, karya dua bersaudara dari Banten justru dipamerkan di Amsterdam.

Karya Otto Pembrontak menjadi salah satu contohnya.

Masyarakat Belanda dapat melihat gambaran pejuang Indonesia bukan melalui propaganda kolonial, tetapi melalui karya seorang seniman Indonesia sendiri.

Bukan Sekadar Pelukis Perang

Menariknya, Otto tidak kemudian terjebak hanya sebagai pelukis bertema perjuangan.

Setelah masa revolusi, ia terus melukis kehidupan sehari-hari.

Pasar.

Pedagang.

Warung.

Pertunjukan kesenian.

Pernikahan.

Lingkungan masyarakat.

Bahkan tokoh-tokoh dari dunia pewayangan.

Kementerian Pendidikan mencatat bahwa dalam karya-karyanya Otto kerap menghadirkan unsur tradisi dan humor, termasuk karakter Petruk yang muncul dalam sejumlah lukisan.

Di sini terlihat sisi lain dirinya.

Seorang mantan mayor tidak harus terus menggambar perang.

Seorang pejuang juga bisa kembali memperhatikan kehidupan sederhana.

Mungkin justru di situlah seni Otto menjadi lebih manusiawi.

Ia tidak hanya merekam bagaimana orang berperang.

Ia juga merekam untuk apa kehidupan itu dipertahankan.

Petruk, Rakyat Kecil, dan Humor

Penggunaan tokoh Petruk dalam beberapa karya Otto cukup menarik.

Dalam tradisi pewayangan, Petruk adalah salah satu punakawan yang dekat dengan rakyat dan sering menyampaikan kritik melalui humor.

Ensiklopedi Tokoh Kebudayaan menyebut karakter Petruk menjadi salah satu cara Otto berbicara tentang rakyat kecil. Dalam lukisan tertentu, ia muncul mengamati atau bahkan berada di tengah aktivitas masyarakat.

Pilihan itu membuat karya Otto memiliki karakter berbeda.

Ia bisa melukis pejuang bersenjata.

Tetapi ia juga bisa menempatkan tokoh wayang di tengah kehidupan sehari-hari.

Ada keberanian.

Ada kritik.

Ada humor.

Dan ada kehidupan rakyat yang berjalan setelah perang.

Dari Prajurit Menjadi Seniman Sepenuhnya

Karier militer Otto tidak berlangsung sepanjang hidupnya.

Setelah masa tugasnya, ia kembali lebih serius menekuni seni rupa.

Ia tetap aktif berkarya selama beberapa dekade, melewati berbagai periode politik Indonesia: masa Revolusi, Demokrasi Terpimpin, Orde Baru, hingga Reformasi.

Karyanya kemudian dikenal luas dan sebagian dikoleksi, termasuk oleh Presiden Soekarno.

Ia juga mendapatkan penghargaan sebagai pejuang kemerdekaan dan tercatat sebagai veteran Republik Indonesia.

Dengan demikian, dua sisi hidupnya berjalan beriringan:

Otto Djaya sang pejuang.

Dan Otto Djaya sang pelukis.

Keduanya tidak bisa dipisahkan begitu saja.

Perlawanan dengan Dua Senjata

Jika melihat perjalanan Otto dari awal hingga akhir, ada dua alat yang paling menonjol dalam hidupnya.

Senjata dan kuas.

Senjata digunakan ketika ia menjadi bagian dari perjuangan fisik mempertahankan Republik.

Kuas digunakan untuk merekam, menggambarkan, dan menyebarkan cerita tentang masyarakat serta perjuangan tersebut.

Yang satu menghadapi musuh secara langsung.

Yang satu menghadapi bagaimana sebuah bangsa dilihat dan diingat.

Karena itu, memasukkan Otto Djaya ke dalam kategori Tokoh Perlawanan dan Pemimpin bukan berarti mengatakan bahwa ia adalah komandan besar perang.

Kekuatan kisahnya justru ada pada pertemuan dua dunia tersebut.

Ia seorang seniman yang pernah menjadi prajurit.

Dan seorang prajurit yang kemudian meninggalkan jejak panjang melalui seni.

Apa yang Bisa Dipelajari dari Otto Djaya?

Ada satu hal yang menarik dari perjalanan Otto.

Seseorang tidak harus memilih hanya satu identitas untuk berkontribusi.

Otto bisa menjadi seniman.

Kemudian menjadi prajurit.

Lalu kembali menjadi seniman.

Pengalaman-pengalaman itu justru saling memengaruhi.

Perang memberikan pengalaman yang kemudian muncul dalam karya.

Sementara seni menjadi cara lain untuk menceritakan apa yang diperjuangkan.

Dan mungkin itu sebabnya karya Pembrontak terasa penting ketika dilihat dalam konteks sejarahnya.

Tiga pejuang di atas kanvas bukan hanya objek lukisan.

Mereka adalah bagian dari sebuah masa ketika Indonesia sedang berusaha mempertahankan kemerdekaan yang baru diproklamasikan. Rijksmuseum sendiri menempatkan karya Otto dalam konteks seni yang digunakan para seniman Indonesia untuk mendukung perjuangan revolusi.

Putra Banten yang Melukis Revolusi

Otto Djaya lahir di Rangkasbitung.

Ia tumbuh dalam keluarga Banten yang mendapatkan pendidikan pada masa kolonial.

Ia kemudian mengenal seni.

Masuk Persagi.

Menjadi prajurit PETA.

Bergabung dengan Republik.

Mengalami revolusi.

Pergi ke Belanda.

Dan terus melukis hingga melewati berbagai zaman Indonesia.

Perjalanan itu membuat namanya lebih dari sekadar nama dalam sejarah seni rupa.

Ia menjadi contoh bahwa perlawanan terhadap kolonialisme memiliki banyak bentuk.

Ada yang bertempur di medan perang.

Ada yang membangun organisasi.

Dan ada yang kemudian mengambil pengalaman perang itu lalu mengubahnya menjadi karya yang dapat dilihat generasi setelahnya.

Otto Djaya pernah mengangkat senjata untuk mempertahankan Republik. Setelah itu, ia mengangkat kuas untuk memastikan pengalaman manusia dan revolusi tidak hilang begitu saja dari ingatan.

Dari Rangkasbitung hingga Amsterdam, kisah Otto menunjukkan bahwa sebuah perjuangan tidak selalu berakhir ketika perang selesai.

Kadang, perjuangan berikutnya adalah memastikan cerita tentang perang itu tetap hidup.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *