SPILL Banten — Sebelum Banten dikenal sebagai salah satu kekuatan besar di Nusantara, wilayah ini pernah menjadi bagian dari kekuasaan Sunda.
Kemudian datang sebuah perubahan besar.
Islam berkembang di pesisir Banten. Peta kekuasaan berubah. Jalur perdagangan semakin penting. Dan di tengah perubahan itu muncul seorang tokoh yang kelak dikenal sebagai pendiri sekaligus sultan pertama Kesultanan Banten: Maulana Hasanuddin.
Namanya sering ditempatkan dalam cerita panjang perjuangan Banten menghadapi kekuatan asing.
Tetapi ada satu hal yang perlu diluruskan.
Sultan Maulana Hasanuddin bukan tokoh yang melawan Belanda atau VOC.
Ia hidup lebih awal. Masa pemerintahannya berlangsung sekitar 1552–1570, sedangkan orang Belanda baru datang ke Pelabuhan Banten pada 1596.
Jadi, kalau ingin memahami Hasanuddin dalam konteks perlawanan, kita perlu kembali ke situasi Banten pada abad ke-16.
Dari Putra Sunan Gunung Jati Menjadi Pemimpin Banten
Maulana Hasanuddin merupakan putra Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati.
Ia kemudian dikaitkan erat dengan proses berkembangnya Islam di Banten. Setelah wilayah Banten dikuasai kekuatan Islam pada pertengahan abad ke-16, Hasanuddin dipercaya memegang pemerintahan di wilayah tersebut.
Pemerintah Kabupaten Serang mencatat bahwa Hasanuddin kemudian menjadi raja atau sultan pertama Banten dan berkuasa sekitar 18 tahun, dari 1552 sampai 1570.
Sementara Balai Pelestarian Cagar Budaya Banten menyebut Hasanuddin sebagai tokoh yang meletakkan dasar Kesultanan Banten. Dari wilayah yang sebelumnya berada dalam pengaruh Pajajaran, Banten kemudian berkembang menjadi kerajaan yang memiliki posisi penting dalam perdagangan.
Perubahan itu bukan perkara kecil.
Sebab Banten berada di lokasi yang sangat strategis.
Pelabuhannya berhadapan dengan jalur perdagangan Selat Sunda, sementara lada menjadi salah satu komoditas penting yang diperdagangkan.
Dengan posisi seperti itu, menguasai Banten berarti memiliki akses terhadap salah satu jalur perdagangan penting di kawasan.

Banten di Tengah Perebutan Pengaruh
Pada masa Hasanuddin, persoalannya bukan sekadar siapa yang menjadi penguasa.
Ada kekuatan-kekuatan besar yang saling berhadapan.
Di satu sisi terdapat kekuatan Islam dari Demak dan Cirebon yang sedang memperluas pengaruhnya.
Di sisi lain, kekuasaan Pajajaran masih memiliki pengaruh di wilayah Sunda.
Sementara Portugis sudah hadir di Asia Tenggara dan menguasai Malaka sejak 1511.
Pelabuhan-pelabuhan di Jawa kemudian menjadi bagian dari persaingan perdagangan yang semakin luas.
Dalam konteks tersebut, Banten menjadi wilayah yang strategis.
Kajian sejarah mengenai Maulana Hasanuddin menunjukkan bahwa proses penguasaan Banten berkaitan dengan perubahan politik di kawasan, sekaligus perkembangan Islam dan perdagangan.
Hasanuddin tidak sedang menghadapi sebuah negara kolonial Belanda seperti yang dialami Sultan Ageng Tirtayasa lebih dari satu abad kemudian.
Situasinya berbeda.
Dan justru perbedaan itulah yang membuat kisah Hasanuddin menarik.
Perlawanan yang Tidak Bisa Disederhanakan
Dalam sejumlah narasi sejarah, Hasanuddin sering digambarkan sebagai bagian dari perjuangan mengusir pengaruh Portugis.
Memang, penguasaan Sunda Kelapa pada 1527 oleh kekuatan gabungan Demak, Cirebon, dan Banten berkaitan dengan upaya membendung pengaruh Portugis. Sumber penelitian sejarah juga mencatat bahwa penaklukan Sunda Kelapa terjadi sebelum Portugis sempat mendirikan benteng di sana.
Namun, hubungan Banten dengan Portugis pada masa pemerintahan Hasanuddin ternyata tidak sesederhana hubungan antara “penjajah” dan “pejuang”.
Penelitian Mufti Ali dalam Jurnal Sejarah Citra Lekha menunjukkan bahwa hubungan Banten dan Portugis pada 1546–1570 justru cukup dekat, terutama dalam perdagangan. Kebijakan Hasanuddin terhadap Portugis dinilai lebih bersifat pragmatis-strategis.
Banten tetap melakukan perdagangan dengan Portugis, sementara Hasanuddin juga tidak bergabung dalam beberapa koalisi anti-Portugis yang dibangun kerajaan lain di Nusantara.
Artinya, Hasanuddin bukan pemimpin yang mengambil sikap hitam-putih terhadap semua kekuatan asing.
Ia melihat kepentingan Banten.
Dan perdagangan adalah salah satu kepentingan tersebut.
Politik, Agama, dan Perdagangan
Di sinilah sosok Hasanuddin menjadi menarik untuk dibaca sebagai seorang pemimpin.
Ia tidak hanya membangun kekuasaan melalui konflik.
Ia juga harus mengelola wilayah yang sedang berubah.
Islam berkembang.
Pelabuhan semakin ramai.
Pedagang dari berbagai wilayah datang.
Dan Banten mulai memiliki kepentingan yang lebih besar dalam jaringan perdagangan regional.
Balai Pelestarian Cagar Budaya Banten mencatat bahwa Banten kemudian berkembang menjadi penguasa jalur pelayaran dan perdagangan melalui Selat Sunda, dengan lada sebagai salah satu komoditas utamanya. Posisi itu membuat Kesultanan Banten berkembang menjadi kerajaan besar dan kelak menjadi salah satu pesaing VOC.
Fondasi perkembangan tersebut sudah dibangun sejak masa awal kesultanan.
Hasanuddin berada di titik awalnya.
Bukan Sekadar Meneruskan Kekuasaan Ayahnya
Ada kecenderungan untuk melihat Hasanuddin hanya sebagai putra Sunan Gunung Jati yang kemudian meneruskan kekuasaan.
Padahal, menjadi pemimpin Banten pada masa itu berarti menghadapi wilayah yang sedang mengalami perubahan besar.
Ia harus membangun legitimasi.
Ia harus mengembangkan pemerintahan.
Ia juga harus menjaga hubungan dengan kekuatan-kekuatan politik dan perdagangan di sekitarnya.
Dan yang tidak kalah penting, ia harus memastikan Banten memiliki posisi sendiri.
Dari sinilah Kesultanan Banten berkembang sebagai entitas politik yang semakin mandiri.
Pemerintah Kabupaten Serang mencatat bahwa setelah masa Hasanuddin, pemerintahan kemudian dilanjutkan oleh putranya, Maulana Yusuf, yang memerintah pada 1570–1580.
Jadi, warisan Hasanuddin tidak berhenti ketika ia meninggal.
Struktur kekuasaan yang ia bangun diteruskan oleh generasi berikutnya.
Jejaknya Masih Terlihat di Banten
Menariknya, warisan Hasanuddin tidak hanya berada dalam buku sejarah.
Pemerintah Provinsi Banten menyebut Sultan Hasanuddin sebagai raja pertama Banten dan mengaitkan masa pemerintahannya dengan perkembangan budaya seperti pencak silat serta debus yang kemudian menjadi bagian dari identitas budaya Banten.
Banten yang kita kenal hari ini tidak lahir dalam satu malam.
Ia terbentuk melalui proses panjang.
Dan salah satu titik awal pentingnya adalah masa Maulana Hasanuddin.
Dari sebuah wilayah yang sebelumnya berada dalam lingkungan kekuasaan Sunda, Banten kemudian berkembang menjadi kesultanan yang memiliki pengaruh politik, ekonomi, dan keagamaan.
Lalu, Apa Hubungannya dengan Perlawanan?
Jika kita menggunakan kategori “Tokoh Perlawanan dan Pemimpin”, Hasanuddin lebih tepat ditempatkan sebagai pemimpin pada masa perubahan kekuasaan, bukan sebagai pejuang anti-Belanda.
Ia hidup sebelum era VOC di Banten.
Ia juga tidak tepat disebut sebagai tokoh yang melakukan perlawanan langsung terhadap kolonialisme Belanda.
Namun, keputusan politik dan pembangunan kekuasaan pada masanya ikut menciptakan fondasi bagi lahirnya Banten sebagai kerajaan yang kuat.
Beberapa generasi setelahnya, kekuatan tersebut kemudian berhadapan langsung dengan VOC.
Di sinilah garis sejarahnya menjadi menarik.
Hasanuddin membangun fondasi.
Sultan Ageng Tirtayasa kemudian mempertahankan kemandirian Banten ketika VOC semakin kuat.
Dua tokoh itu hidup pada zaman yang berbeda dan menghadapi tantangan yang berbeda pula.
Tetapi keduanya berada dalam satu cerita besar: perjalanan Banten menjadi kekuatan politik dan perdagangan di Nusantara.
Belajar dari Cara Hasanuddin Memimpin
Ada satu hal yang menarik dari sosok Sultan Maulana Hasanuddin.
Seorang pemimpin tidak selalu harus memilih konfrontasi untuk menunjukkan keberanian.
Dalam situasi tertentu, kepentingan masyarakat dan kerajaan justru membutuhkan kemampuan membaca keadaan.
Hubungan dagang dengan Portugis, misalnya, menunjukkan bahwa politik Banten pada masa Hasanuddin tidak sesederhana narasi perang melawan kekuatan asing. Penelitian sejarah justru memperlihatkan adanya pendekatan pragmatis-strategis dalam menghadapi kepentingan perdagangan Portugis.
Itu memberi gambaran bahwa kepemimpinan Hasanuddin juga berkaitan dengan kemampuan membaca posisi Banten di tengah persaingan kekuatan regional.
Dan keputusan-keputusan pada masa itulah yang ikut membentuk masa depan Banten.
Dari Hasanuddin ke Banten yang Lebih Besar
Sultan Maulana Hasanuddin wafat pada 1570.
Ia kemudian digantikan putranya, Maulana Yusuf.
Tetapi ketika melihat sejarah Banten secara lebih panjang, masa Hasanuddin sebenarnya adalah permulaan dari sebuah perjalanan yang jauh lebih besar.
Banten kemudian tumbuh menjadi pusat perdagangan.
Pelabuhannya didatangi pedagang dari berbagai penjuru.
Kesultanannya semakin kuat.
Dan pada abad berikutnya, Banten menjadi kekuatan yang cukup besar hingga berhadapan dengan VOC.
Karena itu, mungkin cara paling tepat untuk mengenang Hasanuddin bukan dengan memaksanya masuk ke dalam cerita “pahlawan anti-kolonial”.
Melainkan dengan melihatnya sebagai pemimpin yang ikut meletakkan fondasi Banten sebagai sebuah kesultanan yang mandiri dan memiliki posisi penting di jalur perdagangan Nusantara.
Sultan Maulana Hasanuddin bukan cerita tentang bagaimana Banten melawan Belanda. Ia adalah cerita tentang bagaimana Banten mulai berdiri sebagai kekuatan sendiri—jauh sebelum Belanda datang.




Tinggalkan Balasan