Spill Banten

Media digital Banten yang SPILL berita terkini, informasi, kabar viral, warga, Tokoh, UMKM, dan seputar Banten.

Nawawi al-Bantani

Syekh Nawawi al-Bantani: Ulama Banten yang Melawan Kolonialisme Lewat Ilmu dan Jaringan Pesantren

SPILL Banten — Ada bentuk perlawanan yang tidak terdengar seperti suara senapan.

Tidak ada pasukan.

Tidak ada medan perang.

Tidak ada benteng yang direbut.

Tetapi pengaruhnya bisa bertahan jauh lebih lama.

Itulah yang dapat dilihat dari perjalanan Syekh Muhammad Nawawi al-Bantani.

Lahir di Tanara, Banten, pada 1813, Syekh Nawawi kemudian meninggalkan tanah kelahirannya dan menetap di Makkah. Di sana ia berkembang menjadi salah satu ulama Nusantara yang sangat berpengaruh, mengajar di Masjidilharam dan menghasilkan puluhan karya dalam berbagai bidang keislaman.

Ia kemudian dikenal dengan gelar Sayyid Ulama al-Hijaz.

Namun bagi Banten, yang menarik bukan hanya gelarnya.

Yang jauh lebih penting adalah bagaimana seorang anak dari Tanara kemudian membangun jaringan keilmuan yang melahirkan generasi ulama di Nusantara.

Dan dalam konteks kolonialisme, pendidikan seperti itu memiliki makna politik dan sosial yang besar.

Anak Tanara di Tengah Banten yang Berubah

Syekh Nawawi lahir dengan nama Muhammad Nawawi bin Umar al-Jawi al-Bantani.

Ia lahir pada 1813 di Tanara, wilayah yang kini berada di Kabupaten Serang, Banten. Ayahnya, Syekh Umar, merupakan penghulu di Tanara, sedangkan ibunya bernama Zubaidah.

Ia tumbuh ketika struktur kekuasaan Banten sedang mengalami perubahan besar.

Kesultanan Banten telah kehilangan kekuatan politiknya.

Pemerintah kolonial Belanda semakin memperluas kendali administratif.

Dan masyarakat Banten hidup dalam situasi sosial-politik yang tidak lagi seperti masa kesultanan.

Dalam suasana tersebut, Nawawi mendapatkan pendidikan agama sejak kecil.

Ayahnya menjadi guru pertama.

Ia belajar Al-Qur’an, bahasa Arab, fikih, tauhid, dan tafsir.

Ketika usianya sekitar delapan tahun, ia bersama saudaranya melanjutkan belajar kepada KH Sahal, salah satu ulama Banten. Setelah itu ia juga belajar kepada Raden H. Yusuf di Purwakarta.

Jalan hidupnya sejak awal sudah mengarah kepada satu hal:

ilmu.

Serang, Banten
Serang, Banten

Dari Banten Menuju Tanah Suci

Pada usia muda, Nawawi kemudian pergi ke Makkah untuk memperdalam ilmu agama.

Perjalanan ke Tanah Suci bukan perjalanan sederhana bagi seorang pemuda Nusantara pada abad ke-19.

Makkah pada masa itu menjadi tempat bertemunya para pelajar Muslim dari berbagai wilayah.

Di sana, Nawawi tidak hanya belajar.

Ia masuk ke dalam jaringan intelektual Islam yang jauh lebih luas daripada Banten.

Pengalaman tersebut kemudian mengubah arah hidupnya.

Ia tidak lagi hanya menjadi seorang ulama lokal.

Ia berkembang menjadi seorang guru yang muridnya datang dari berbagai wilayah.

Sempat Pulang, Kemudian Kembali ke Makkah

Perjalanan Nawawi dengan Banten ternyata tidak langsung terputus.

Ia sempat kembali ke tanah kelahirannya.

Namun keadaan Banten yang berada di bawah tekanan pemerintahan kolonial membuatnya kemudian kembali ke Makkah. Sejumlah sumber menyebut ia kembali ke Tanah Suci pada 1850-an dan kemudian menetap di sana.

Pilihan tersebut penting untuk memahami kisahnya.

Nawawi tidak membangun perlawanan dalam bentuk pemberontakan bersenjata.

Ia mengambil jalan yang berbeda.

Ia memperkuat ilmu.

Dan dari Makkah, pengaruhnya justru semakin luas.

Guru di Masjidilharam

Di Makkah, Syekh Nawawi akhirnya mendapatkan kesempatan mengajar di Masjidilharam.

Rumahnya juga menjadi tempat pengajian.

Catatan Snouck Hurgronje yang melakukan penelitian di Makkah pada 1884–1885 menggambarkan Syekh Nawawi sebagai salah satu ulama penting komunitas Jawi di Makkah. Sumber lain menyebut sekitar 200 pelajar menghadiri pengajiannya.

Murid-muridnya tidak hanya berasal dari Banten.

Mereka datang dari berbagai wilayah Nusantara.

Jawa.

Sunda.

Sumatra.

Dan berbagai kawasan lain di dunia Islam.

Dari sinilah pengaruh Nawawi berkembang.

Ia tidak harus kembali ke Banten untuk memberikan pengaruh kepada Banten.

Murid-muridnyalah yang kemudian membawa ilmu tersebut pulang.

Menulis Puluhan Kitab

Salah satu kekuatan terbesar Syekh Nawawi adalah produktivitasnya dalam menulis.

Ia menulis dalam berbagai bidang:

  • tafsir;
  • fikih;
  • tauhid;
  • tasawuf;
  • hadis;
  • akhlak;
  • dan ilmu-ilmu keislaman lainnya.

Di antara karya yang paling dikenal adalah Tafsir Marah Labid, Nihayat al-Zain, Kasyifatus Saja, Nashaihul Ibad, dan sejumlah karya lainnya.

Jumlah karya yang dinisbatkan kepadanya berbeda-beda menurut sumber.

Ada yang menyebut sekitar 99 karya.

Ada pula yang menyebut lebih dari 100 atau bahkan sekitar 115 kitab dan risalah.

Karena itu, lebih aman menyebutnya sebagai ulama yang menghasilkan puluhan hingga lebih dari seratus karya, tanpa memaksakan satu angka tunggal.

Yang jelas, produktivitasnya luar biasa untuk seorang ulama abad ke-19.

Ketika Kitab Menjadi Senjata Pengetahuan

Di sinilah cerita Syekh Nawawi mulai menarik jika ditempatkan dalam tema Tokoh Perlawanan dan Pemimpin.

Ia tidak mengangkat senjata.

Tetapi ia menghasilkan pengetahuan.

Kitab-kitabnya kemudian dipelajari di pesantren.

Murid-muridnya menjadi ulama.

Ulama-ulama itu mendirikan pesantren.

Pesantren melahirkan generasi baru.

Dan jaringan itu terus bergerak dari satu daerah ke daerah lain.

Dengan kata lain, pengaruh Nawawi tidak berhenti pada dirinya.

Ia membangun rantai transmisi ilmu.

Dalam konteks masyarakat yang hidup di bawah kolonialisme, keberadaan lembaga pendidikan Islam dan jaringan ulama memiliki arti penting dalam mempertahankan identitas keagamaan serta kemandirian intelektual masyarakat.

Bukan Pemimpin Pemberontakan Bersenjata

Bagian ini perlu ditegaskan.

Syekh Nawawi al-Bantani bukan tokoh yang tepat digambarkan sebagai pemimpin perang melawan Belanda.

Tidak ada dasar yang cukup untuk menjadikannya tokoh gerilya seperti Kiai Wasyid atau pemimpin pasukan seperti sejumlah tokoh Banten lainnya.

Perlawanan Nawawi lebih tepat ditempatkan dalam wilayah:

pendidikan, pemikiran, keilmuan, dan pembentukan jaringan ulama.

Justru dengan cara itu pengaruhnya menjadi lebih panjang.

Satu pertempuran mungkin berakhir dalam sehari.

Tetapi sebuah kitab dapat dipelajari selama puluhan bahkan ratusan tahun.

Hubungannya dengan Kolonial Belanda

Kehidupan Syekh Nawawi berlangsung di bawah bayang-bayang pemerintahan kolonial.

Ayahnya sendiri pernah menjadi penghulu yang diangkat pemerintah Belanda.

Namun posisi tersebut tidak berarti Nawawi menjadi bagian dari proyek kolonial.

Sebaliknya, sumber-sumber mengenai kehidupannya menunjukkan bahwa ia memiliki sikap kritis terhadap kondisi masyarakat di tanah air.

Keberangkatannya kembali ke Makkah juga sering dibaca dalam konteks situasi Banten yang tidak kondusif.

Yang perlu dihindari adalah menyederhanakan seluruh perjalanan Nawawi menjadi cerita bahwa ia “kabur dari Belanda”.

Bukti sejarah menunjukkan perjalanan yang lebih kompleks.

Ia memilih pusat keilmuan Makkah dan dari sana membangun pengaruh yang jauh lebih luas.

Banten yang Dibawa ke Makkah

Meski tinggal jauh dari tanah kelahirannya, Nawawi tidak kehilangan identitas sebagai orang Banten.

Nama al-Bantani melekat pada dirinya.

Itu bukan sekadar nama.

Itu adalah identitas asal.

Di dunia Islam yang sangat luas, seorang ulama dari Tanara memperkenalkan dirinya sebagai orang Banten.

Snouck Hurgronje juga secara khusus mencatat komunitas ulama Banten di Makkah dan menempatkan Nawawi sebagai salah satu tokoh pentingnya.

Dengan demikian, perjalanan Nawawi juga menjadi bagian dari sejarah diaspora intelektual Banten.

Banten tidak hanya mengirim pedagang.

Banten juga mengirim ulama.

Dan salah satu yang paling berhasil membangun reputasi internasional adalah Nawawi.

Murid-Murid yang Mengubah Indonesia

Pengaruh seorang guru sering kali baru terlihat setelah murid-muridnya bergerak.

Hal itu juga terjadi pada Syekh Nawawi.

Di antara tokoh yang disebut memiliki hubungan keilmuan dengan Nawawi adalah KH Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama, serta KH Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah.

Selain itu, banyak ulama Nusantara lainnya berada dalam jaringan keilmuan yang terhubung dengan Makkah dan Syekh Nawawi.

Artinya, pengaruh Nawawi masuk ke Indonesia melalui manusia.

Bukan hanya melalui kitab.

Murid membawa ilmu.

Murid membawa metode belajar.

Murid membawa tradisi keulamaan.

Dan kemudian membangun lembaga pendidikan di daerah masing-masing.

Dari Tanara ke Jaringan Pesantren Nusantara

Jika kita tarik garis panjangnya, perjalanan itu terlihat seperti ini:

Tanara → Makkah → Masjidilharam → murid-murid Nusantara → pesantren → generasi ulama berikutnya.

Itulah mungkin warisan terbesar Syekh Nawawi.

Ia tidak membangun sebuah kerajaan.

Ia tidak memimpin pasukan.

Ia membangun jaringan ilmu.

Dan jaringan tersebut jauh lebih sulit dihancurkan.

Satu pesantren dapat ditutup.

Tetapi jika murid-muridnya sudah menyebar ke banyak daerah, ilmu itu tetap bergerak.

Snouck Hurgronje dan Nawawi

Menariknya, Syekh Nawawi juga tercatat dalam penelitian Christiaan Snouck Hurgronje, orientalis Belanda yang melakukan penelitian di Makkah pada 1884–1885.

Catatan Snouck memberikan gambaran tentang kehidupan Nawawi sebagai ulama di Makkah.

Ia menggambarkan Nawawi sebagai sosok yang hidup sederhana meskipun memiliki kedudukan keilmuan yang tinggi. Ia juga mencatat bahwa rumah Nawawi menjadi tempat berkumpulnya para pelajar.

Ada ironi sejarah di sini.

Seorang peneliti dari negeri kolonial justru mendokumentasikan pengaruh seorang ulama dari Banten yang telah membangun otoritas intelektual di luar kendali langsung pemerintahan kolonial Hindia Belanda.

Mengapa Belanda Perlu Memperhatikan Ulama?

Kolonialisme tidak hanya berhadapan dengan kerajaan dan tentara.

Ia juga harus berhadapan dengan otoritas sosial.

Di masyarakat Muslim Nusantara, ulama memiliki pengaruh besar.

Mereka mengajar.

Memberikan fatwa.

Membentuk pesantren.

Membimbing masyarakat.

Dan membangun jaringan sosial.

Karena itu, ulama yang memiliki jaringan luas tentu memiliki pengaruh yang tidak bisa dianggap kecil.

Syekh Nawawi memiliki posisi yang sangat kuat di dunia keilmuan Islam.

Murid-muridnya datang dari Nusantara.

Karya-karyanya dibaca di pesantren.

Dan reputasinya melampaui batas wilayah Hindia Belanda.

Di sinilah letak kekuatan perlawanan intelektualnya.

Perlawanan yang Tidak Berisik

Perlawanan Syekh Nawawi tidak selalu terlihat dramatis.

Tidak ada cerita tentang pasukan yang menyerbu benteng.

Tidak ada kisah peperangan besar yang dipimpinnya.

Tetapi ada sesuatu yang lebih sunyi:

belajar.

mengajar.

menulis.

mencetak murid.

membangun jaringan.

Dan semua itu berlangsung selama puluhan tahun.

Bagi masyarakat yang hidup dalam kolonialisme, mempertahankan identitas dan kemampuan untuk menentukan sendiri cara berpikir merupakan bentuk kemandirian yang penting.

Karena itu, ketika kita membicarakan Nawawi dalam konteks perlawanan, istilah yang paling tepat bukan “pejuang bersenjata”.

Melainkan:

pejuang intelektual.

Mengapa Karyanya Bertahan?

Salah satu alasan pengaruh Nawawi bertahan adalah karena karya-karyanya menjawab kebutuhan masyarakat Muslim Nusantara.

Bahasanya menggunakan bahasa Arab.

Tetapi isinya kemudian dipelajari oleh santri melalui tradisi pesantren.

Kitab-kitab tersebut menjelaskan persoalan fikih, tafsir, akidah, tasawuf, dan akhlak.

Karena itu, karya Nawawi tidak berhenti sebagai karya akademik.

Ia menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari pesantren.

Sampai sekarang sejumlah karyanya masih digunakan sebagai bahan pembelajaran.

Ulama Banten yang Menjadi Ulama Dunia

Ada perjalanan yang menarik dalam hidup Nawawi.

Ia lahir sebagai anak ulama di sebuah kampung di Banten.

Kemudian pergi ke Makkah.

Di sana ia belajar.

Kemudian menjadi guru.

Lalu menulis.

Dan akhirnya menjadi salah satu ulama yang dikenal luas di dunia Islam.

Gelar Sayyid Ulama al-Hijaz mencerminkan posisi intelektual yang dicapainya.

Namun identitas Banten tidak hilang.

Nama al-Bantani tetap melekat.

Tanara tetap menjadi tempat asalnya.

Dan jejak intelektualnya kemudian kembali ke Nusantara melalui para murid.

Wafat di Tanah Suci

Syekh Nawawi al-Bantani wafat di Makkah pada 1897.

Ia dimakamkan di kompleks pemakaman Ma’la, Makkah.

Ia tidak kembali untuk menetap di Tanara.

Tetapi warisannya kembali.

Melalui kitab.

Melalui murid.

Melalui pesantren.

Melalui tradisi intelektual Islam Nusantara.

Dan melalui nama al-Bantani yang terus dibawa dalam karya-karyanya.

Apa yang Bisa Dipelajari dari Syekh Nawawi?

Kisah Nawawi memberikan pelajaran yang berbeda dari tokoh-tokoh perlawanan Banten lainnya.

Tidak semua perjuangan harus dilakukan dengan kekuatan fisik.

Ada masa ketika perjuangan membutuhkan keberanian.

Tetapi ada pula masa ketika perjuangan membutuhkan kesabaran untuk belajar dan membangun manusia.

Nawawi memilih jalan tersebut.

Ia membangun dirinya melalui ilmu.

Kemudian membangun murid.

Murid membangun pesantren.

Pesantren melahirkan ulama.

Dan ulama-ulama itu ikut membentuk wajah masyarakat Muslim Indonesia.

Pengaruh seperti itu tidak selalu terlihat dalam satu generasi.

Tetapi bisa bertahan selama berabad-abad.

Dari Tanara, Ilmunya Menyeberangi Dunia

Syekh Nawawi al-Bantani adalah salah satu contoh bahwa ukuran pengaruh seorang tokoh tidak selalu dapat dilihat dari jabatan atau kekuasaan politik.

Ia tidak menjadi sultan.

Tidak menjadi panglima.

Tidak memimpin pemerintahan.

Tetapi ia memiliki sesuatu yang tidak kalah kuat:

otoritas ilmu.

Dari Tanara, ia pergi ke Makkah.

Dari Makkah, ia mengajar.

Dari pengajiannya lahir murid-murid.

Dari murid-murid itu tumbuh jaringan pesantren.

Dan dari pesantren tersebut lahir generasi ulama yang ikut membentuk perjalanan Indonesia.

Itulah sebabnya Syekh Nawawi al-Bantani layak ditempatkan dalam sejarah Banten bukan hanya sebagai seorang ulama besar.

Tetapi sebagai tokoh yang melawan keterbatasan zaman melalui ilmu.

Kolonialisme mungkin dapat menguasai wilayah.

Tetapi tidak mudah menguasai pikiran manusia yang telah memiliki ilmu, keyakinan, dan kemampuan untuk mendidik generasi berikutnya.

Syekh Nawawi tidak meninggalkan Banten dengan membawa pasukan. Ia membawa ilmu. Dan dari ilmu itulah pengaruhnya justru kembali ke Banten dan menyebar ke seluruh Nusantara.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *