SPILL Banten — Pada abad ke-17, Banten bukan sekadar wilayah di ujung barat Pulau Jawa. Kesultanan Banten berkembang menjadi salah satu pusat perdagangan penting di Nusantara, terutama karena perdagangan lada. Pada masa Sultan Ageng Tirtayasa, Banten bahkan mencapai salah satu periode kejayaannya sebagai bandar perdagangan dan pusat kekuasaan.
Di tengah situasi itu, ada satu persoalan yang terus membesar: VOC ingin mengendalikan perdagangan.
Sultan Ageng Tirtayasa memilih jalan yang tidak mudah. Ia menolak ketika kepentingan dagang VOC mulai mengarah pada monopoli yang merugikan Banten. Dari sinilah kisah panjang perlawanan antara seorang penguasa Banten dan kongsi dagang Belanda itu semakin terbuka.
Dari Pangeran Surya Menjadi Sultan Banten
Sultan Ageng Tirtayasa lahir pada 1631 dengan nama kecil Pangeran Surya. Ia merupakan putra Sultan Abu al-Ma’ali Ahmad dan Ratu Martakusuma.
Dalam perjalanan menuju takhta, ia sempat menyandang gelar Pangeran Dipati. Setelah ayah dan kakeknya wafat, ia kemudian naik sebagai penguasa Banten pada 1651 dengan gelar Sultan Abdul Fathi Abdul Fattah.
Nama Tirtayasa sendiri kemudian melekat setelah ia membangun pusat pemerintahan baru di kawasan Tirtayasa, yang kini berada di wilayah Kabupaten Serang.
Namun, yang membuat namanya bertahan dalam sejarah bukan hanya soal gelar atau takhta.
Yang menarik adalah bagaimana ia menggunakan kekuasaannya ketika Banten berada di tengah persaingan dagang yang semakin keras.
Banten Sedang Berada di Masa Penting
Ketika Sultan Ageng memimpin, Banten memiliki posisi strategis dalam perdagangan internasional. Lada menjadi salah satu komoditas utama yang membuat pelabuhan Banten ramai didatangi pedagang dari berbagai wilayah.
Pemerintah Provinsi Banten mencatat bahwa pada masa Sultan Ageng Tirtayasa, Banten dikenal sebagai pelabuhan internasional sekaligus pusat perdagangan dan penyebaran Islam.
Bagi VOC yang telah membangun kekuatan di Batavia, kondisi tersebut menjadi persoalan.
VOC menginginkan kendali lebih besar terhadap perdagangan. Sementara Banten memiliki kepentingan untuk mempertahankan kebebasan berdagang.
Sultan Ageng memilih mempertahankan Banten sebagai pelabuhan terbuka dan menolak perjanjian monopoli yang dianggap merugikan Kesultanan Banten.
Di titik ini, konflik bukan lagi sekadar soal perdagangan.
Ia berubah menjadi persoalan tentang siapa yang berhak menentukan arah ekonomi dan politik Banten.

Perlawanan Tidak Selalu Berarti Perang Besar
Perlawanan Sultan Ageng terhadap VOC berlangsung dalam berbagai bentuk.
Pada 1655, VOC mengirim utusan ke Banten untuk mendesak pembaruan perjanjian perdamaian sebelumnya. Sultan Ageng menolaknya.
Setahun kemudian, pada 1656, pasukan Banten melakukan serangan terhadap kepentingan VOC, termasuk merusak kebun tebu dan pabrik penggilingan. Pasukan Banten juga menyerang sejumlah titik yang digunakan sebagai pertahanan Belanda.
Banten juga melakukan serangan terhadap kepentingan VOC melalui jalur darat dan laut. Dalam sejumlah catatan, kapal VOC dan pos-pos penting mereka turut menjadi sasaran.
Artinya, Sultan Ageng tidak hanya mempertahankan Banten lewat meja perundingan.
Ia membangun kekuatan politik, ekonomi, dan militer untuk menjaga posisi Banten.
Masalah Terbesar Justru Datang dari Dalam Istana
Ada bagian paling rumit dari kisah Sultan Ageng Tirtayasa yang sering tertutup oleh cerita tentang perang melawan VOC.
Musuhnya ternyata tidak hanya berada di luar.
Di dalam Kesultanan Banten muncul perselisihan antara Sultan Ageng dan putranya, Sultan Haji.
Konflik internal ini kemudian dimanfaatkan VOC.
VOC melihat perselisihan tersebut sebagai kesempatan untuk masuk lebih jauh ke dalam urusan Kesultanan Banten. Sultan Haji kemudian menjalin kerja sama dengan VOC untuk menghadapi ayahnya sendiri.
Di sinilah perjalanan Sultan Ageng berubah menjadi jauh lebih personal.
Ia tidak lagi hanya menghadapi kekuatan asing yang ingin menguasai perdagangan Banten.
Ia juga harus menghadapi konflik kekuasaan di dalam keluarganya sendiri.
Dari Surosowan ke Tirtayasa
Ketegangan semakin meningkat.
Pada 1681, Istana Surosowan berhasil dikuasai Sultan Haji bersama VOC. Sultan Ageng kemudian berada di Tirtayasa dan berusaha mengumpulkan kekuatan untuk menghadapi kembali pasukan lawannya.
Pada 1682, pasukan Sultan Ageng sempat mendesak pasukan Sultan Haji. Namun Sultan Haji kembali meminta bantuan VOC.
Kekuatan militer VOC akhirnya membuat posisi Sultan Ageng semakin terdesak.
Setahun kemudian, pada 1683, Sultan Ageng ditangkap VOC dan dibawa ke Batavia sebagai tahanan. Ia kemudian meninggal dalam masa penahanan dan dimakamkan di kompleks pemakaman raja-raja Banten.
Perlawanan yang selama puluhan tahun ia bangun akhirnya berhenti.
Tetapi persoalannya tidak selesai di sana.
Ketika Kekalahan Seorang Sultan Mengubah Arah Banten
Setelah Sultan Ageng ditangkap, posisi Sultan Haji semakin kuat dengan dukungan VOC.
Perjanjian yang kemudian dibuat antara Sultan Haji dan VOC memberikan keuntungan besar bagi pihak Belanda. Intervensi VOC terhadap urusan Kesultanan Banten pun semakin kuat.
Bagi Banten, persoalannya bukan hanya kehilangan seorang pemimpin.
Kemandirian politik dan ekonomi Kesultanan ikut melemah.
Itulah mengapa kisah Sultan Ageng Tirtayasa tidak cukup dibaca sebagai cerita tentang seorang raja yang kalah perang.
Ada cerita yang lebih besar di belakangnya: tentang perdagangan, kekuasaan, kepentingan asing, konflik keluarga, dan pilihan seorang pemimpin ketika kedaulatan wilayahnya mulai ditekan.
Mengapa Sultan Ageng Masih Relevan Dibicarakan?
Lebih dari tiga abad setelah masa pemerintahannya, nama Sultan Ageng Tirtayasa masih menjadi bagian penting dari identitas sejarah Banten.
Kawasan Banten Lama masih menyimpan jejak kejayaan Kesultanan Banten, termasuk Keraton Surosowan dan Masjid Agung Banten.
Namun warisan Sultan Ageng bukan hanya bangunan atau nama jalan.
Kisahnya memperlihatkan bahwa mempertahankan sebuah wilayah tidak selalu sesederhana menghadapi musuh dari luar.
Ada kepentingan ekonomi yang harus dijaga. Ada keputusan politik yang harus diambil. Ada konflik di dalam kekuasaan. Dan ada konsekuensi yang harus ditanggung ketika kepentingan-kepentingan tersebut bertabrakan.
Sultan Ageng Tirtayasa pada akhirnya kalah dan ditangkap.
Tetapi justru dari perjalanan itulah kita bisa melihat mengapa Banten pernah menjadi kekuatan penting di Nusantara dan mengapa VOC membutuhkan waktu serta strategi politik untuk memperbesar pengaruhnya di wilayah tersebut.
Sultan Ageng Tirtayasa bukan sekadar nama dalam buku sejarah. Ia adalah bagian dari cerita tentang bagaimana Banten pernah memilih untuk menentukan jalannya sendiri.





Tinggalkan Balasan