Spill Banten

Media digital Banten yang SPILL berita terkini, informasi, kabar viral, warga, Tokoh, UMKM, dan seputar Banten.

Torismayanti KOHATI

Torismayanti dan Harapan untuk MUNAS KOHATI PB HMI XXVI (26) di Bandar Lampung: Momentum Memperkuat Arah Gerakan KOHATI

SPILL Banten — Musyawarah Nasional (Munas) KOHATI bukan sekadar forum pergantian kepemimpinan.

Di dalamnya ada evaluasi perjalanan organisasi.

Ada perdebatan tentang arah gerakan.

Ada pembacaan terhadap persoalan perempuan yang terus berubah.

Dan ada harapan agar KOHATI tetap relevan dengan kebutuhan zaman.

Menjelang pelaksanaan MUNAS KOHATI PB HMI XXVI di Bandar Lampung, perhatian kembali tertuju pada bagaimana KOHATI membaca tantangan ke depan.

Salah satu pandangan yang menarik datang dari Torismayanti, mantan Ketua Umum KOHATI Badko Jabodetabeka-Banten periode 2021–2023.

Bagi Torismayanti, perjalanan KOHATI tidak dapat dilepaskan dari persoalan kaderisasi, pendidikan, kepemimpinan perempuan, dan kemampuan organisasi merespons persoalan yang muncul di tengah masyarakat.

Jejak aktivitasnya menunjukkan bahwa isu perempuan dan pendidikan memang menjadi bagian dari perhatian Torismayanti.

Pada 2021, misalnya, ia menjadi salah satu pembicara dalam diskusi mengenai darurat pelecehan seksual di lingkungan pendidikan. Saat itu ia menekankan pentingnya edukasi seksual sejak usia sekolah dan lingkungan keluarga.

Di sisi lain, rekam akademiknya juga menunjukkan keterlibatannya dalam bidang pendidikan. Pada 2023, Torismayanti menjadi salah satu penulis penelitian mengenai manajemen sarana dan prasarana dalam peningkatan mutu pendidikan.

Dua hal tersebut memberikan gambaran mengenai perhatian yang dapat menjadi dasar membaca pandangannya terhadap masa depan KOHATI:

perempuan, pendidikan, kaderisasi, dan kualitas sumber daya manusia.

Torismayanti, Kader KOHATI dari Banten

Nama Torismayanti tidak asing dalam struktur KOHATI di kawasan Jabodetabeka-Banten.

Ia pernah dipercaya memimpin KOHATI Badko Jabodetabeka-Banten periode 2021–2023.

Dalam periode tersebut, ia terlibat dalam berbagai aktivitas organisasi dan kaderisasi.

Salah satu jejaknya terlihat dalam kegiatan KOHATI HMI Cabang Pandeglang pada 2022. Saat itu Torismayanti hadir dalam Musyawarah KOHATI Cabang Pandeglang dan disebut sebagai Ketua Umum KOHATI HMI Badko Jabodetabeka-Banten.

Pada 2023, namanya juga tercatat sebagai pemateri dalam Training Raya HMI Cabang Bogor untuk materi Pedoman Dasar Kekohatian.

Artinya, kiprahnya tidak hanya berada pada level struktural.

Ia juga bersentuhan dengan proses kaderisasi.

Dan dari sinilah pengalaman seorang mantan ketua umum dapat digunakan untuk membaca tantangan KOHATI pada level nasional.

KOHATI
KOHATI

Munas Bukan Sekadar Pergantian Ketua

Dalam struktur organisasi KOHATI, musyawarah merupakan bagian penting dari proses pengambilan keputusan.

Munas KOHATI menjadi ruang untuk mempertanggungjawabkan kepengurusan sebelumnya, mengevaluasi perjalanan organisasi, merumuskan program kerja, serta menentukan kepemimpinan berikutnya.

Karena itu, MUNAS KOHATI PB HMI XXVI di Bandar Lampung seharusnya tidak hanya dibaca sebagai kontestasi siapa yang akan memimpin.

Lebih jauh, forum tersebut merupakan kesempatan untuk menjawab pertanyaan yang lebih mendasar:

KOHATI mau dibawa ke mana?

Pertanyaan tersebut menjadi penting karena persoalan perempuan hari ini semakin kompleks.

Perempuan tidak hanya menghadapi persoalan kekerasan.

Ada persoalan pendidikan.

Ekonomi.

Teknologi.

Kesehatan.

Kepemimpinan.

Politik.

Dunia kerja.

Literasi digital.

Hingga persoalan keamanan di ruang digital.

KOHATI harus mampu membaca perubahan tersebut.

Dari Kaderisasi Menuju Kualitas Kader

Salah satu pekerjaan rumah KOHATI adalah memastikan kader tidak hanya aktif secara administratif.

Kader harus memiliki kemampuan.

Memiliki pengetahuan.

Memiliki keberanian berbicara.

Memiliki kemampuan memimpin.

Dan mampu membawa nilai-nilai organisasi ke ruang publik.

Pengalaman Torismayanti dalam bidang pendidikan memberikan konteks yang menarik untuk melihat persoalan ini.

Dalam penelitian yang ditulisnya bersama Anis Zohriah dan Abdul Muin, pendidikan ditempatkan sebagai proses penting untuk mengembangkan potensi sumber daya manusia.

Perspektif tersebut relevan bagi KOHATI.

Karena organisasi mahasiswa pada akhirnya tidak cukup hanya menghasilkan banyak kader.

Yang lebih penting adalah menghasilkan kader yang berkualitas.

KOHATI Harus Mampu Membaca Zaman

Generasi perempuan hari ini hidup dalam kondisi yang berbeda dibanding generasi sebelumnya.

Ruang perjuangan sudah berubah.

Jika dahulu advokasi banyak dilakukan melalui pertemuan langsung, demonstrasi, diskusi dan jaringan organisasi, hari ini perjuangan juga berlangsung di ruang digital.

Media sosial menjadi ruang pembentukan opini.

Informasi bergerak dalam hitungan detik.

Namun pada saat yang sama, perempuan juga menghadapi berbagai persoalan baru di ruang digital.

Pelecehan.

Perundungan.

Eksploitasi.

Disinformasi.

Dan kekerasan berbasis gender.

Karena itu, KOHATI membutuhkan kader yang tidak hanya memahami teori keperempuanan.

Tetapi juga memiliki literasi digital dan kemampuan advokasi modern.

Isu Kekerasan terhadap Perempuan Tidak Boleh Hilang

Perhatian Torismayanti terhadap isu kekerasan seksual pernah terlihat dalam diskusi yang diselenggarakan HMI Komisariat Pakuan pada Desember 2021.

Dalam forum tersebut, ia berbicara mengenai pentingnya pendidikan seksual sejak dini, baik di sekolah maupun keluarga.

Persoalan tersebut masih relevan.

Bahkan ruang persoalannya semakin luas.

Kekerasan terhadap perempuan tidak hanya terjadi di lingkungan pendidikan.

Ia dapat terjadi di rumah.

Tempat kerja.

Organisasi.

Ruang publik.

Dan ruang digital.

Karena itu, KOHATI harus mampu menjadi organisasi yang tidak hanya berbicara tentang isu ketika kasus terjadi.

Tetapi juga membangun sistem edukasi dan pencegahan.

Dari Reaktif Menjadi Preventif

Salah satu harapan terhadap KOHATI ke depan adalah perubahan pendekatan.

Tidak hanya bergerak ketika persoalan sudah terjadi.

Tetapi ikut membangun sistem pencegahan.

Kader KOHATI perlu memiliki kemampuan untuk:

  • memahami persoalan perempuan;
  • mengenali bentuk-bentuk kekerasan;
  • melakukan edukasi;
  • membangun ruang aman;
  • melakukan advokasi;
  • memahami kebijakan publik;
  • serta menggunakan data dalam menyusun gerakan.

Dengan demikian, KOHATI tidak hanya hadir sebagai organisasi yang merespons isu.

Tetapi menjadi organisasi yang mampu membaca dan mencegah persoalan sebelum menjadi lebih besar.

Kemajuan KOHATI Harus Diukur dari Kadernya

Ukuran kemajuan organisasi tidak semata-mata dilihat dari banyaknya kegiatan.

Banyak seminar belum tentu berarti kader semakin kuat.

Banyak program belum tentu menghasilkan perubahan.

Banyak struktur belum tentu menghasilkan kualitas.

Kemajuan KOHATI seharusnya dapat dilihat dari pertanyaan yang lebih sederhana:

Berapa banyak kader perempuan yang setelah keluar dari organisasi mampu menjadi pemimpin?

Berapa banyak yang menjadi akademisi?

Berapa banyak yang menjadi profesional?

Berapa banyak yang menjadi pengusaha?

Berapa banyak yang menjadi aktivis sosial?

Berapa banyak yang masuk ke ruang pengambilan kebijakan?

Dan yang paling penting:

berapa banyak yang tetap membawa nilai-nilai ke-KOHATI-an dalam kehidupan profesional dan sosialnya?

KOHATI Tidak Boleh Kehilangan Identitas

Di tengah perubahan zaman, KOHATI juga menghadapi tantangan lain.

Organisasi harus modern.

Tetapi jangan kehilangan identitas.

Harus terbuka.

Tetapi tetap memiliki nilai.

Harus kritis.

Tetapi tetap memiliki etika.

Harus progresif.

Tetapi tidak kehilangan akar perkaderan.

Karena KOHATI bukan sekadar organisasi perempuan.

Ia merupakan bagian dari HMI dengan sejarah, nilai, dan tujuan yang panjang.

Maka modernisasi organisasi tidak berarti meninggalkan identitas.

Modernisasi seharusnya berarti membuat nilai lama mampu menjawab persoalan baru.

Harapan terhadap MUNAS KOHATI PB HMI XXVI

Jika MUNAS KOHATI PB HMI XXVI di Bandar Lampung ingin menghasilkan perubahan yang berarti, forum tersebut perlu menghasilkan lebih dari sekadar nama ketua umum baru.

Ada setidaknya beberapa agenda yang penting diperhatikan.

Pertama, memperkuat sistem kaderisasi.

KOHATI membutuhkan kader yang memiliki kemampuan intelektual, kepemimpinan, advokasi, komunikasi, dan profesionalitas.

Kedua, memperluas isu keperempuanan.

Persoalan perempuan harus dibaca secara lebih luas.

Tidak hanya kekerasan.

Tetapi juga pendidikan, ekonomi, politik, teknologi, kesehatan, lingkungan, dan kepemimpinan.

Ketiga, memperkuat advokasi.

KOHATI harus mampu menerjemahkan hasil kajian menjadi kebijakan dan gerakan nyata.

Keempat, memperkuat literasi digital.

KOHATI harus mampu menjadi produsen pengetahuan, bukan hanya konsumen informasi.

Kelima, memperkuat jaringan.

KOHATI memiliki potensi besar karena berada dalam jaringan HMI dan alumni.

Jaringan tersebut dapat digunakan untuk memperluas akses pendidikan, profesionalitas, ekonomi, dan kepemimpinan perempuan.

Banten Punya Pengalaman yang Bisa Dibawa ke Nasional

Sebagai mantan Ketua Umum KOHATI Badko Jabodetabeka-Banten, Torismayanti memiliki pengalaman melihat dinamika organisasi dari tingkat daerah.

Wilayah Jabodetabeka-Banten sendiri memiliki karakter yang kompleks.

Ada kota besar.

Ada kawasan industri.

Ada kampus.

Ada masyarakat pedesaan.

Ada persoalan urban.

Dan ada persoalan perempuan yang berbeda-beda.

Karena itu, pengalaman daerah dapat menjadi bahan penting dalam merumuskan kebijakan nasional.

Munas tidak seharusnya hanya menghasilkan program yang seragam.

KOHATI juga perlu memberikan ruang bagi kekhasan persoalan setiap wilayah.

KOHATI dan Dunia Pendidikan

Pendidikan dapat menjadi salah satu pintu penting gerakan KOHATI.

Bukan hanya karena KOHATI lahir dari lingkungan mahasiswa.

Tetapi karena kualitas perempuan masa depan sangat ditentukan oleh kualitas pendidikan.

KOHATI dapat mengambil peran melalui:

literasi.

pendampingan.

kajian.

pengembangan kapasitas.

pendidikan politik.

pendidikan digital.

Dan penguatan keterampilan profesional.

Dengan demikian, kaderisasi tidak berhenti ketika seorang kader menyelesaikan proses organisasi.

KOHATI dapat menjadi jaringan pembelajaran sepanjang perjalanan kader.

KOHATI Harus Berani Masuk ke Ruang Publik

Tantangan berikutnya adalah keberanian kader KOHATI masuk ke ruang pengambilan keputusan.

KOHATI harus mendorong kadernya untuk hadir di berbagai sektor.

Pemerintahan.

Dunia pendidikan.

Media.

Bisnis.

Organisasi masyarakat.

Politik.

Teknologi.

Dan sektor profesional lainnya.

Kader KOHATI tidak cukup hanya menjadi peserta.

Kader KOHATI harus menjadi pengambil keputusan.

Karena kebijakan yang menyangkut perempuan juga membutuhkan perspektif perempuan.

Jangan Terjebak pada Seremonial

Organisasi mahasiswa sering menghadapi risiko kegiatan yang terlalu seremonial.

Seminar.

Diskusi.

Pelantikan.

Peringatan hari besar.

Semua penting.

Tetapi hasilnya harus dapat diukur.

Setelah kegiatan selesai, apa yang berubah?

Berapa kader yang bertambah kompetensinya?

Berapa masyarakat yang mendapatkan manfaat?

Apa rekomendasi yang diteruskan?

Apa kebijakan yang dikawal?

Apa masalah yang berhasil diadvokasi?

Pertanyaan seperti ini perlu menjadi budaya evaluasi.

Karena organisasi yang sehat bukan organisasi yang paling banyak membuat kegiatan.

Melainkan organisasi yang paling jelas dampaknya.

Harapan untuk Kepemimpinan Baru

MUNAS KOHATI PB HMI XXVI juga akan menentukan wajah baru kepemimpinan KOHATI.

Kepemimpinan yang dibutuhkan bukan sekadar populer.

Bukan hanya pandai berpidato.

Bukan hanya memiliki jaringan luas.

Tetapi memiliki kemampuan menyatukan.

Mendengar.

Membaca persoalan.

Mengambil keputusan.

Dan bekerja.

Ketua umum baru nantinya harus mampu menjembatani berbagai karakter kader dari seluruh Indonesia.

Perbedaan daerah tidak boleh menjadi sumber perpecahan.

Sebaliknya, perbedaan tersebut harus menjadi kekuatan.

Jangan Jadikan Perbedaan sebagai Jarak

KOHATI memiliki kader dari banyak daerah.

Masing-masing membawa pengalaman sosial dan budaya yang berbeda.

Persoalan perempuan di Jakarta tidak selalu sama dengan persoalan perempuan di Banten.

Persoalan perempuan di Jawa tidak selalu sama dengan persoalan perempuan di Papua.

Persoalan mahasiswa di kota besar tidak selalu sama dengan persoalan mahasiswa di daerah.

Maka kepemimpinan nasional harus memiliki kemampuan melihat Indonesia secara utuh.

Bukan hanya dari pusat.

Munas sebagai Ruang Rekonsiliasi

Musyawarah seharusnya bukan arena untuk memperpanjang konflik.

Kontestasi adalah hal biasa dalam organisasi.

Perbedaan pilihan juga merupakan bagian dari demokrasi.

Tetapi setelah keputusan diambil, organisasi harus kembali menjadi satu.

Karena tantangan perempuan Indonesia jauh lebih besar daripada persoalan siapa yang menang dalam sebuah forum.

KOHATI membutuhkan energi kader untuk bekerja.

Bukan menghabiskannya dalam konflik internal.

Harapan Terbesar: KOHATI Tetap Relevan

Pada akhirnya, pertanyaan terbesar bagi KOHATI bukan hanya:

siapa yang akan memimpin?

Tetapi:

apakah KOHATI masih relevan dengan kebutuhan perempuan Indonesia?

Jika jawabannya iya, maka organisasi harus terus berubah.

Berani mengevaluasi diri.

Berani meninggalkan pola yang tidak lagi efektif.

Berani mencoba pendekatan baru.

Tetapi tetap menjaga nilai dasar organisasi.

Di sinilah MUNAS KOHATI PB HMI XXVI memiliki arti penting.

Forum tersebut dapat menjadi momentum untuk melakukan reset, evaluasi, dan proyeksi.

Torismayanti dan Pesan dari Pengalaman Organisasi

Perjalanan Torismayanti memperlihatkan bahwa aktivitas KOHATI dapat bersinggungan dengan persoalan nyata di masyarakat.

Ia pernah berbicara mengenai kekerasan seksual dan pentingnya pendidikan.

Ia juga terlibat dalam kaderisasi KOHATI dan menjadi pemateri mengenai Pedoman Dasar Kekohatian.

Sementara di bidang akademik, ia menekuni persoalan manajemen pendidikan dan mutu pendidikan.

Tiga pengalaman tersebut memberikan satu garis yang menarik:

organisasi, perempuan, dan pendidikan.

Ketiganya dapat menjadi fondasi penting dalam membaca masa depan KOHATI.

Bandar Lampung dan Babak Baru KOHATI

MUNAS KOHATI PB HMI XXVI di Bandar Lampung pada akhirnya bukan hanya tentang satu forum.

Ia merupakan titik temu kader-kader KOHATI dari berbagai daerah.

Mereka datang membawa pengalaman masing-masing.

Membawa persoalan daerah.

Membawa gagasan.

Membawa kritik.

Dan membawa harapan.

Semua itu kemudian harus dirumuskan menjadi satu arah gerakan nasional.

Karena organisasi yang besar bukan organisasi yang tidak memiliki perbedaan.

Organisasi yang besar adalah organisasi yang mampu mengelola perbedaan menjadi kekuatan.

Dari Banten untuk KOHATI Indonesia

Bagi kader dan alumni KOHATI di Banten, MUNAS KOHATI PB HMI XXVI juga menjadi kesempatan untuk menyumbangkan gagasan kepada gerakan KOHATI secara nasional.

Pengalaman Banten memiliki sejarah panjang dalam gerakan masyarakat, pendidikan, pesantren, dan organisasi.

KOHATI Banten dapat membawa pengalaman tersebut ke ruang nasional.

Bukan untuk menunjukkan siapa yang paling baik.

Tetapi untuk memperkaya perspektif.

Karena gerakan nasional membutuhkan pengalaman lokal.

Penutup

MUNAS KOHATI PB HMI XXVI di Bandar Lampung diharapkan tidak berhenti sebagai agenda lima tahunan organisasi.

Ia harus menjadi momentum untuk bertanya kembali:

Apa yang sudah dicapai?

Apa yang belum selesai?

Apa yang berubah di tengah masyarakat?

Dan yang paling penting:

apa yang harus dilakukan KOHATI setelah Munas selesai?

Pengalaman Torismayanti sebagai mantan Ketua Umum KOHATI Badko Jabodetabeka-Banten memberi perspektif bahwa organisasi harus terus terhubung dengan persoalan nyata, terutama pendidikan, pemberdayaan perempuan, kaderisasi, dan perlindungan terhadap perempuan.

KOHATI tidak cukup hanya menghasilkan kader yang aktif di organisasi.

KOHATI harus menghasilkan kader yang mampu berpikir, mampu memimpin, mampu bekerja, mampu melakukan advokasi, dan mampu memberi manfaat setelah keluar dari ruang organisasi.

MUNAS KOHATI PB HMI XXVI di Bandar Lampung pada akhirnya bukan hanya momentum memilih pemimpin baru.

Ia adalah kesempatan untuk menentukan apakah KOHATI ingin sekadar melanjutkan tradisi, atau berani membangun babak baru gerakan KOHATI yang lebih relevan dengan zaman.

Dan harapan itu sederhana:

KOHATI tetap kritis tanpa kehilangan nilai, tetap progresif tanpa kehilangan identitas, serta tetap menjadi ruang tumbuh bagi KOHATI untuk mengambil peran lebih besar bagi masyarakat, bangsa, dan negara.

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Kader Kohati
Kader Kohati
20 hours ago

Ini artikel yang bagus yundaaa

0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x