Spill Banten

Media digital Banten yang SPILL berita terkini, informasi, kabar viral, warga, Tokoh, UMKM, dan seputar Banten.

Torismayanti KOHATI

Torismayanti: KOHATI Harus Melahirkan Kader Perempuan yang Berani Memimpin dan Mengabdi

SPILL BantenBagi sebuah organisasi kader, ukuran keberhasilan tidak berhenti pada berapa banyak kegiatan yang diselenggarakan.

Lebih jauh dari itu, keberhasilan organisasi dapat dilihat dari manusia seperti apa yang dilahirkannya.

Apakah kader hanya mampu menjadi pelaksana kegiatan?

Atau mampu tumbuh menjadi pemimpin?

Apakah kader hanya aktif selama berada di kampus?

Atau tetap membawa nilai perjuangan ketika memasuki dunia profesi dan masyarakat?

Pertanyaan semacam itulah yang menjadi penting ketika membicarakan masa depan Korps HMI-Wati (KOHATI) menjelang Musyawarah Nasional (Munas) KOHATI XXVI di Bandar Lampung.

Salah satu figur dari Banten yang memiliki pengalaman panjang dalam ruang tersebut adalah Torismayanti, mantan Ketua Umum KOHATI Badko Jabodetabeka-Banten periode 2021–2023.

Jejak organisasinya menunjukkan bahwa kaderisasi, pendidikan, isu perempuan, dan kepemimpinan bukanlah tema yang datang tiba-tiba.

Jauh sebelum berada di tingkat Badko, Torismayanti telah terlibat dalam aktivitas KOHATI di Kabupaten Lebak.

Pada 2018, ketika menjabat Ketua KOHATI Cabang Lebak, ia mendorong tema “KOHATI pelopor literasi, perempuan cerdas, generasi berkualitas” dalam rangkaian Milad KOHATI ke-52. Saat itu ia menekankan pentingnya perempuan menjadi sumber literasi dan berperan dalam melahirkan generasi berkualitas.

Jejak tersebut memberikan satu gambaran penting:

bagi Torismayanti, KOHATI bukan sekadar ruang berhimpun, tetapi ruang untuk membentuk kualitas perempuan.

Dari KOHATI Lebak ke Tingkat Badko

Perjalanan Torismayanti kemudian berlanjut ke tingkat yang lebih luas.

Pada periode 2021–2023, ia dipercaya menjadi Ketua Umum KOHATI Badko Jabodetabeka-Banten.

Posisi tersebut membuat ruang pengabdiannya tidak lagi hanya berhadapan dengan persoalan satu cabang.

Ia berhadapan dengan dinamika kader KOHATI di wilayah yang jauh lebih luas.

Jabodetabeka dan Banten memiliki karakter sosial yang sangat beragam.

Ada kawasan metropolitan.

Ada pusat pendidikan.

Ada kawasan industri.

Ada masyarakat pesisir.

Ada wilayah pedesaan.

Ada persoalan ekonomi.

Dan ada persoalan perempuan yang berbeda antara satu daerah dengan daerah lainnya.

Pengalaman tersebut menjadi modal penting untuk melihat persoalan KOHATI secara lebih luas.

KOHATI
KOHATI

Kaderisasi Tidak Boleh Sekadar Formalitas

Salah satu jejak yang memperkuat perhatian Torismayanti pada kaderisasi terlihat pada keterlibatannya dalam Training Raya HMI Cabang Bogor 2023.

Dalam agenda tersebut, ia tercatat sebagai pemateri untuk materi Pedoman Dasar Kekohatian.

Ini bukan sekadar posisi sebagai narasumber.

Pedoman Dasar Kekohatian merupakan bagian penting dari proses pengenalan identitas, arah, dan nilai organisasi kepada kader.

Karena itu, kaderisasi menjadi titik penting.

KOHATI membutuhkan kader yang memahami alasan mengapa organisasi itu ada.

Bukan sekadar mengetahui struktur.

Bukan sekadar mengetahui nama bidang.

Bukan sekadar mengikuti agenda.

Tetapi memahami nilai dan tujuan gerakan.

Kader yang baik bukan hanya tahu bagaimana organisasi berjalan, tetapi memahami untuk apa organisasi itu diperjuangkan.

Perempuan yang Berani Memimpin

Kepemimpinan perempuan tidak lahir secara otomatis.

Ia harus dilatih.

Diberi ruang.

Diuji.

Dan dipercaya.

Di sinilah organisasi mahasiswa memiliki peran penting.

KOHATI menjadi salah satu ruang bagi perempuan HMI untuk belajar berbicara, berdiskusi, mengelola organisasi, mengambil keputusan, membangun jaringan, dan mempertanggungjawabkan sebuah amanah.

Namun proses tersebut tidak boleh berhenti pada ruang internal organisasi.

Kader harus berani membawa kemampuan tersebut ke ruang yang lebih luas.

Ke kampus.

Ke masyarakat.

Ke dunia profesi.

Ke pemerintahan.

Ke dunia usaha.

Ke media.

Bahkan ke ruang politik dan pengambilan kebijakan.

Karena jika kader perempuan hanya berani memimpin di dalam organisasi, maka proses kaderisasi belum sepenuhnya selesai.

Dari Perempuan Cerdas Menuju Perempuan Pemimpin

Gagasan mengenai “perempuan cerdas” sudah terlihat dalam kiprah Torismayanti ketika memimpin KOHATI Lebak.

Dalam kegiatan Milad KOHATI ke-52 pada 2018, ia mengangkat gagasan agar KOHATI menjadi pelopor literasi dan mendorong lahirnya perempuan cerdas serta generasi berkualitas.

Delapan tahun kemudian, gagasan tersebut masih memiliki relevansi.

Tetapi tantangannya semakin besar.

Perempuan hari ini tidak hanya membutuhkan kemampuan membaca buku.

Literasi telah berkembang menjadi literasi digital, literasi media, literasi hukum, literasi keuangan, literasi politik, hingga literasi kesehatan.

Maka kader perempuan yang cerdas adalah kader yang mampu memahami perubahan.

Dan lebih dari itu:

mampu mengambil posisi di tengah perubahan tersebut.

Kepemimpinan Dimulai dari Keberanian

Tidak semua orang yang memiliki pengetahuan berani mengambil keputusan.

Tidak semua orang yang memiliki kemampuan mau menerima tanggung jawab.

Tidak semua orang yang memiliki gagasan berani mempertahankannya ketika menghadapi tekanan.

Karena itu, kepemimpinan membutuhkan keberanian.

KOHATI perlu membentuk perempuan yang berani:

berbicara ketika melihat ketidakadilan,

menyampaikan kritik,

mengajukan gagasan,

mengambil keputusan,

memimpin organisasi,

dan bertanggung jawab terhadap keputusan tersebut.

Keberanian seperti inilah yang dibutuhkan di ruang publik.

Isu Perempuan Harus Berangkat dari Persoalan Nyata

Torismayanti juga memiliki rekam jejak dalam isu perlindungan perempuan.

Pada Desember 2021, ia menjadi salah satu narasumber dalam diskusi mengenai darurat pelecehan seksual di lingkungan pendidikan yang diselenggarakan HMI Komisariat Pakuan.

Dalam forum tersebut, Torismayanti menekankan pentingnya edukasi seksual sejak bangku sekolah dan lingkungan keluarga.

Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa isu perempuan baginya tidak berhenti pada slogan.

Ia menyentuh persoalan yang nyata.

Pendidikan.

Keluarga.

Lingkungan kampus.

Dan perlindungan terhadap perempuan.

Hal tersebut penting karena gerakan perempuan yang kuat harus berangkat dari persoalan yang benar-benar dihadapi masyarakat.

KOHATI dan Tantangan Kekerasan terhadap Perempuan

Kekerasan terhadap perempuan masih menjadi persoalan yang membutuhkan perhatian serius.

Bentuknya pun terus berubah.

Ada kekerasan fisik.

Kekerasan seksual.

Kekerasan psikologis.

Kekerasan ekonomi.

Hingga kekerasan berbasis teknologi.

Perempuan muda yang hidup di ruang digital menghadapi tantangan baru yang tidak selalu ditemukan generasi sebelumnya.

Pelecehan dapat terjadi melalui pesan pribadi.

Perundungan dapat berlangsung melalui media sosial.

Informasi pribadi dapat disebarluaskan tanpa persetujuan.

Dan reputasi seseorang dapat dihancurkan hanya dalam hitungan jam.

KOHATI harus mampu membekali kadernya menghadapi situasi seperti ini.

Dari Aktivisme Reaktif ke Pendidikan Preventif

Salah satu pelajaran dari keterlibatan Torismayanti dalam diskusi kekerasan seksual adalah pentingnya pendidikan.

Persoalan tidak cukup diselesaikan setelah kasus terjadi.

Pencegahan harus dimulai jauh sebelumnya.

Keluarga harus memiliki pengetahuan.

Sekolah harus memiliki sistem perlindungan.

Kampus harus memiliki mekanisme penanganan.

Organisasi mahasiswa harus memahami batas-batas perilaku dan etika.

Dan korban harus memiliki akses terhadap dukungan.

KOHATI dapat memainkan peran di dalam seluruh ruang tersebut.

Bukan menggantikan lembaga yang berwenang.

Tetapi menjadi bagian dari ekosistem edukasi dan advokasi.

Kader Perempuan Harus Menguasai Pengetahuan

Pemimpin tanpa pengetahuan mudah kehilangan arah.

Karena itu, kualitas intelektual harus menjadi bagian penting dari kaderisasi.

Kader KOHATI perlu dibiasakan membaca.

Menulis.

Melakukan kajian.

Berargumentasi berdasarkan data.

Membaca kebijakan.

Dan memahami persoalan masyarakat.

KOHATI tidak boleh hanya menjadi organisasi yang ramai ketika ada momentum.

Ia harus menjadi rumah intelektual bagi kader perempuan.

Tempat gagasan dilahirkan.

Tempat kritik diuji.

Dan tempat solusi dirumuskan.

Pendidikan sebagai Jalan Pemberdayaan

Perhatian Torismayanti terhadap pendidikan juga terlihat dari keterlibatannya dalam penelitian akademik mengenai manajemen sarana dan prasarana dalam peningkatan mutu pendidikan.

Dalam karya tersebut, pendidikan dibahas dalam kaitannya dengan upaya meningkatkan mutu.

Konteks ini menarik jika dikaitkan dengan kaderisasi KOHATI.

Sebab organisasi juga pada dasarnya merupakan ruang pendidikan.

Bedanya, pendidikan organisasi tidak hanya berlangsung melalui ruang kelas.

Ia berlangsung melalui pengalaman.

Forum.

Konflik.

Kepemimpinan.

Pengambilan keputusan.

Dan pengabdian.

Dengan demikian, KOHATI dapat dipandang sebagai ruang pendidikan kepemimpinan perempuan.

Pemimpin Tidak Lahir dari Zona Nyaman

Seorang kader tidak akan tumbuh jika selalu berada dalam situasi nyaman.

Ia perlu diberi tanggung jawab.

Diberi ruang untuk salah.

Diberi kesempatan memperbaiki diri.

Dan diberi pengalaman menghadapi persoalan nyata.

Karena itu, kaderisasi tidak boleh terlalu protektif.

Kader perlu belajar mengambil keputusan.

Perlu belajar mengelola konflik.

Perlu belajar berkomunikasi.

Perlu belajar bernegosiasi.

Dan perlu belajar menerima kritik.

Dari proses itulah karakter pemimpin terbentuk.

KOHATI Harus Mendorong Kader Masuk ke Ruang Publik

Salah satu indikator keberhasilan kaderisasi adalah keberadaan kader di ruang publik.

Ketika kader KOHATI menjadi guru, dosen, pengusaha, birokrat, jurnalis, advokat, akademisi, aktivis sosial atau pemimpin organisasi, maka nilai-nilai yang diperoleh dari proses kaderisasi ikut bergerak ke masyarakat.

Karena itu, orientasi KOHATI tidak boleh hanya:

“bagaimana membuat organisasi tetap hidup?”

Tetapi:

“bagaimana membuat kader mampu menghidupkan nilai organisasi di tengah masyarakat?”

Pertanyaan tersebut jauh lebih penting.

Banten Membutuhkan Perempuan Pemimpin

Banten memiliki populasi besar, kawasan industri, pusat pendidikan, kawasan pesisir, dan wilayah pedesaan.

Persoalan perempuan di masing-masing wilayah tidak selalu sama.

Ada persoalan pendidikan.

Ada persoalan ekonomi.

Ada persoalan pekerjaan.

Ada persoalan keluarga.

Ada persoalan kekerasan.

Dan ada persoalan keterwakilan perempuan dalam pengambilan keputusan.

Kader perempuan dari Banten karena itu memiliki ruang pengabdian yang luas.

KOHATI dapat menjadi salah satu tempat untuk mempersiapkan mereka.

Dari Kader Menjadi Profesional

Organisasi mahasiswa hanya menjadi salah satu fase kehidupan.

Setelah lulus, kader memasuki dunia yang lebih kompleks.

Di sana tidak ada lagi struktur HMI yang selalu menyediakan ruang.

Kader harus mampu berdiri dengan kompetensinya sendiri.

Karena itu, KOHATI perlu memberikan bekal yang lebih luas.

Bukan hanya wawasan organisasi.

Tetapi juga:

komunikasi, kepemimpinan, teknologi, bahasa, kewirausahaan, profesionalitas, riset, dan kemampuan membangun jaringan.

Kaderisasi harus menghasilkan manusia yang siap menghadapi kehidupan setelah kampus.

KOHATI Harus Melahirkan Perempuan yang Mandiri

Kepemimpinan membutuhkan kemandirian.

Kemandirian intelektual.

Kemandirian ekonomi.

Kemandirian sikap.

Dan kemandirian dalam mengambil keputusan.

Perempuan yang mandiri bukan berarti berjalan sendiri.

Justru perempuan yang mandiri mampu bekerja sama tanpa kehilangan prinsip.

Mampu menerima masukan tanpa kehilangan keberanian.

Dan mampu membangun jaringan tanpa kehilangan identitas.

Jangan Hanya Mengejar Jabatan Organisasi

Ada risiko dalam organisasi mahasiswa:

jabatan menjadi tujuan.

Padahal jabatan seharusnya menjadi alat.

Ketua umum bukan akhir perjalanan.

Sekretaris bukan prestasi terakhir.

Pengurus bukan identitas seumur hidup.

Semua itu adalah proses belajar.

Karena itu, kader harus diarahkan untuk melihat jabatan sebagai amanah dan ruang latihan kepemimpinan, bukan sekadar status.

Jika pemahaman ini kuat, maka setelah masa jabatan berakhir, kader tetap produktif.

Mengubah Budaya “Aktif Organisasi” Menjadi “Bermanfaat”

Aktif organisasi adalah hal baik.

Tetapi ukuran yang lebih tinggi adalah manfaat.

Berapa banyak orang yang terbantu?

Berapa banyak masalah yang diselesaikan?

Berapa banyak pengetahuan yang dibagikan?

Berapa banyak kader yang tumbuh?

Berapa banyak perempuan yang mendapatkan ruang?

Itulah ukuran pengabdian.

Karena pada akhirnya, organisasi bukan tentang seberapa lama seseorang memakai atribut.

Tetapi tentang seberapa besar nilai yang dibawanya kepada masyarakat.

Munas XXVI Harus Membicarakan Manusia, Bukan Hanya Struktur

Menjelang Munas KOHATI XXVI, pembahasan mengenai struktur kepemimpinan tentu penting.

Tetapi ada pembahasan yang jauh lebih mendasar:

manusia seperti apa yang ingin dilahirkan KOHATI?

Apakah kader yang hanya pandai berorganisasi?

Atau kader yang mampu menjadi pemimpin masyarakat?

Apakah kader yang hanya memahami isu perempuan?

Atau kader yang mampu mengubah isu tersebut menjadi kebijakan?

Apakah kader yang hanya aktif ketika masih mahasiswa?

Atau kader yang tetap mengabdi setelah menjadi profesional?

Jawaban atas pertanyaan tersebut seharusnya menjadi bagian dari arah organisasi ke depan.

Kepemimpinan Nasional Harus Memperkuat Kaderisasi

Siapa pun yang nantinya memimpin KOHATI di tingkat nasional, pekerjaan besarnya bukan hanya mengelola struktur.

Ia harus memperkuat sistem kaderisasi.

Harus memastikan materi tidak tertinggal.

Harus memastikan kader daerah mendapatkan akses yang sama terhadap pengetahuan.

Harus membangun jaringan pelatihan.

Dan harus membuka ruang bagi kader untuk berkembang.

KOHATI yang kuat tidak dibangun oleh satu ketua umum.

Ia dibangun oleh sistem kaderisasi yang kuat.

Jangan Biarkan Kader Daerah Tertinggal

KOHATI merupakan organisasi nasional.

Karena itu, kualitas kader seharusnya tidak bergantung pada apakah seseorang berasal dari kota besar atau daerah.

Kader dari Jakarta memiliki hak yang sama untuk berkembang dengan kader dari Banten, Papua, Sulawesi, Sumatra, Kalimantan atau daerah lainnya.

Perbedaan akses harus menjadi perhatian.

KOHATI dapat menggunakan teknologi untuk memperkecil jarak.

Pelatihan daring.

Perpustakaan digital.

Forum kajian nasional.

Mentoring.

Jaringan alumni.

Semua dapat digunakan untuk memperluas akses kader.

Kaderisasi di Era Digital

Hari ini, kader dapat belajar dari mana saja.

Namun tantangannya justru semakin besar.

Informasi terlalu banyak.

Tidak semuanya benar.

Tidak semuanya bermanfaat.

Maka kemampuan menyaring informasi menjadi penting.

Kader KOHATI harus memiliki critical thinking.

Tidak mudah percaya.

Tidak mudah menyebarkan.

Tidak mudah terprovokasi.

Dan mampu membedakan data, opini, propaganda, serta informasi palsu.

Inilah bentuk baru literasi yang harus masuk dalam kaderisasi.

Perempuan Harus Menjadi Produsen Pengetahuan

KOHATI juga harus mendorong kader untuk menulis.

Menulis artikel.

Menulis penelitian.

Membuat kajian.

Membuat konten edukasi.

Menyusun policy brief.

Dan berbicara di ruang publik.

Jangan sampai perempuan hanya menjadi objek pembicaraan.

Perempuan harus menjadi subjek yang berbicara tentang dirinya sendiri.

Kader KOHATI memiliki modal untuk itu.

Mereka berada di lingkungan perguruan tinggi.

Mereka memiliki akses terhadap ilmu.

Mereka memiliki organisasi.

Yang dibutuhkan adalah keberanian dan sistem yang mendukung.

Dari Literasi ke Advokasi

Literasi tanpa tindakan bisa berhenti menjadi pengetahuan.

Karena itu, pengetahuan harus diterjemahkan menjadi advokasi.

Jika kader menemukan persoalan pendidikan, ia harus mampu menyusun rekomendasi.

Jika menemukan persoalan kekerasan, ia harus tahu jalur perlindungan dan pendampingan.

Jika menemukan persoalan ekonomi perempuan, ia harus mampu membangun jejaring.

Jika menemukan persoalan kebijakan, ia harus mampu membaca regulasi.

Inilah titik di mana KOHATI dapat berkembang dari organisasi diskusi menjadi organisasi yang memiliki dampak.

KOHATI Harus Memiliki Ukuran Keberhasilan

Ke depan, KOHATI perlu memiliki indikator yang lebih konkret.

Misalnya:

berapa kader yang menyelesaikan pendidikan kepemimpinan;

berapa kader yang masuk dunia profesional;

berapa kajian yang menghasilkan rekomendasi;

berapa program advokasi yang menghasilkan perubahan;

berapa kader yang aktif dalam ruang publik;

dan berapa jaringan yang berhasil dibangun.

Dengan indikator seperti itu, organisasi dapat melakukan evaluasi.

Bukan hanya berdasarkan kesan.

Pengalaman Torismayanti Menunjukkan Pentingnya Kontinuitas

Jika melihat jejak Torismayanti, ada kontinuitas yang menarik.

Pada 2018, ketika memimpin KOHATI Lebak, ia berbicara mengenai literasi dan perempuan cerdas.

Pada 2021, ketika terlibat dalam diskusi isu kekerasan seksual di lingkungan pendidikan, ia menyoroti pentingnya edukasi sejak dini dan di keluarga.

Pada 2022, ia hadir dalam Musyawarah KOHATI HMI Cabang Pandeglang sebagai Ketua Umum KOHATI Badko Jabodetabeka-Banten.

Pada 2023, ia kembali terlihat dalam ruang kaderisasi sebagai pemateri Pedoman Dasar Kekohatian di Training Raya HMI Cabang Bogor.

Rangkaian tersebut memperlihatkan perjalanan dari tingkat cabang, tingkat Badko, hingga proses kaderisasi.

Dan dari situ terlihat satu benang merah:

penguatan perempuan melalui pendidikan dan organisasi.

Harapan untuk Generasi KOHATI Berikutnya

Generasi KOHATI berikutnya akan menghadapi dunia yang berbeda.

Mereka akan bekerja dengan kecerdasan buatan.

Berkomunikasi melalui platform digital.

Berhadapan dengan ekonomi yang semakin kompetitif.

Masuk ke dunia kerja yang berubah cepat.

Dan menghadapi persoalan sosial yang semakin kompleks.

Maka kaderisasi juga harus berubah.

Kader tidak cukup hanya memahami sejarah organisasi.

Mereka harus memahami masa depan.

KOHATI Tidak Boleh Takut Berubah

Organisasi yang terlalu takut berubah akan kehilangan relevansi.

Tetapi organisasi yang berubah tanpa prinsip juga dapat kehilangan identitas.

Jalan tengahnya adalah:

berubah dalam metode, tetap dalam nilai.

Nilai perjuangan tetap dijaga.

Tetapi cara menyampaikannya dapat berubah.

Dulu melalui diskusi tatap muka.

Sekarang bisa melalui podcast.

Dulu melalui buletin.

Sekarang bisa melalui media digital.

Dulu melalui seminar.

Sekarang bisa melalui kelas daring.

Yang penting bukan bentuknya.

Yang penting adalah nilai dan dampaknya.

Bandar Lampung sebagai Titik Evaluasi

Munas XXVI di Bandar Lampung dapat menjadi ruang untuk melihat perjalanan KOHATI secara lebih jujur.

Apa yang berhasil?

Apa yang gagal?

Apa yang perlu dipertahankan?

Apa yang harus dihentikan?

Apa yang harus diperbarui?

Pertanyaan tersebut membutuhkan keberanian.

Sebab evaluasi yang jujur terkadang tidak nyaman.

Tetapi organisasi yang ingin maju harus berani bercermin.

Dari Kontestasi Menuju Kolaborasi

Munas tentu memiliki dinamika politik organisasi.

Ada pilihan.

Ada kandidat.

Ada dukungan.

Ada perbedaan pandangan.

Semua itu merupakan bagian dari proses demokrasi organisasi.

Tetapi setelah keputusan diambil, energi harus kembali diarahkan kepada kerja.

Karena kemenangan dalam forum tidak akan berarti jika setelahnya organisasi terpecah.

Pemimpin terpilih membutuhkan kader yang bekerja.

Kader membutuhkan pemimpin yang mampu merangkul.

Dan organisasi membutuhkan keduanya.

Pemimpin Perempuan yang Mengabdi

Pada akhirnya, pemimpin perempuan yang dibutuhkan bukan hanya perempuan yang memiliki jabatan.

Tetapi perempuan yang memiliki keberanian untuk mengabdi.

Berani hadir ketika masyarakat membutuhkan.

Berani bersuara ketika terjadi ketidakadilan.

Berani bekerja ketika tidak ada sorotan kamera.

Dan berani tetap konsisten ketika jabatan sudah selesai.

Inilah makna kepemimpinan yang lebih panjang daripada satu periode kepengurusan.

Dari Banten untuk Indonesia

Pengalaman Torismayanti dari Lebak hingga Badko Jabodetabeka-Banten menjadi bagian kecil dari perjalanan panjang kaderisasi KOHATI.

Namun pengalaman lokal memiliki nilai penting.

Karena organisasi nasional tidak dibangun dari ruang kosong.

Ia dibangun dari cabang-cabang.

Dari komisariat.

Dari kader-kader yang belajar di daerah.

Dari perempuan yang bekerja dalam komunitas.

Dan dari pengalaman mereka menghadapi persoalan nyata.

Banten memiliki pengalaman itu.

Dan pengalaman tersebut layak dibawa ke tingkat nasional.

KOHATI Harus Melahirkan Perempuan yang Berani Memimpin

Pada akhirnya, pertanyaan tentang masa depan KOHATI kembali kepada kader.

Bukan kepada struktur.

Bukan kepada gedung tempat Munas berlangsung.

Bukan kepada siapa yang memenangkan kontestasi.

Tetapi kepada perempuan-perempuan yang setelah Munas akan kembali ke daerahnya masing-masing.

Mereka akan kembali ke kampus.

Kembali ke masyarakat.

Kembali ke profesinya.

Dan membawa pengalaman dari organisasi.

Di situlah hasil Munas sesungguhnya akan diuji.

Jika mereka menjadi lebih berani.

Lebih berilmu.

Lebih mandiri.

Lebih peduli.

Lebih mampu memimpin.

Dan lebih siap mengabdi.

Maka KOHATI telah berhasil.

Penutup

Perjalanan Torismayanti memperlihatkan bahwa gagasan tentang perempuan, pendidikan, literasi, dan kaderisasi bukanlah sesuatu yang berdiri sendiri.

Semua saling berhubungan.

Perempuan membutuhkan pendidikan.

Pendidikan membutuhkan kepemimpinan.

Kepemimpinan membutuhkan keberanian.

Dan keberanian membutuhkan proses kaderisasi.

Dari KOHATI Lebak, gagasan tentang literasi dan perempuan cerdas pernah ia dorong.

Di tingkat Badko, ia kemudian berada dalam ruang yang lebih luas untuk melihat dinamika kaderisasi.

Dalam isu perlindungan perempuan, ia juga pernah menekankan pentingnya edukasi untuk mencegah kekerasan seksual.

Sementara dalam ruang kaderisasi, ia tercatat mengisi materi Pedoman Dasar Kekohatian.

Semua jejak tersebut membawa kita pada satu kesimpulan editorial:

KOHATI harus lebih dari sekadar organisasi yang melahirkan pengurus.

KOHATI harus menjadi ruang yang melahirkan perempuan berilmu, berintegritas, mandiri, berani memimpin dan siap mengabdi.

Munas XXVI di Bandar Lampung karena itu seharusnya tidak hanya menjadi forum untuk memilih siapa yang duduk di kursi kepemimpinan.

Lebih penting dari itu, Munas harus menentukan perempuan seperti apa yang ingin dilahirkan KOHATI untuk Indonesia di masa depan.

Karena ketika seorang kader perempuan berani memimpin, sesungguhnya yang tumbuh bukan hanya satu individu.

Yang tumbuh adalah harapan.

Dan ketika perempuan yang telah ditempa organisasi memilih untuk mengabdi kepada masyarakat, di situlah nilai perjuangan KOHATI menemukan maknanya.

Dari kaderisasi menuju kepemimpinan.

Dari kepemimpinan menuju pengabdian.

Dan dari pengabdian menuju perubahan.

Itulah tantangan sekaligus harapan KOHATI menuju babak berikutnya.

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x