SPILL Banten — Nama Sultan Ageng Tirtayasa tidak hanya hidup di dalam buku sejarah.
Jejaknya masih dapat ditemui di sejumlah tempat di Banten. Ada makam yang setiap tahun didatangi masyarakat untuk berziarah, ada bekas keraton yang menjadi saksi pusat kekuasaan pada masa pemerintahannya, hingga jejak tata air yang memperlihatkan bagaimana seorang penguasa Banten pada abad ke-17 tidak hanya memikirkan peperangan, tetapi juga kehidupan ekonomi dan pertanian rakyat.
Bagi masyarakat Banten, mengunjungi tempat-tempat tersebut bukan sekadar perjalanan wisata.
Di sana, sejarah terasa lebih dekat.
Nama Sultan Ageng Tirtayasa menjadi pengingat tentang seorang pemimpin yang pada abad ke-17 membawa Kesultanan Banten mencapai masa penting dalam perdagangan, pemerintahan, pembangunan, sekaligus menghadapi tekanan VOC.
Arsip dan kajian sejarah menempatkan Sultan Ageng Tirtayasa sebagai tokoh penting dalam perlawanan Banten terhadap VOC. Perpustakaan Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) bahkan menyimpan karya khusus mengenai biografinya, yang menggambarkannya sebagai tokoh yang gigih mempertahankan Banten dari kolonialisme VOC.
Lalu, ke mana masyarakat bisa menapak jejaknya?
1. Makam Sultan Ageng Tirtayasa di Tirtayasa
Salah satu tempat yang paling mudah untuk merasakan kedekatan masyarakat dengan sosok Sultan Ageng adalah makamnya di Desa Tirtayasa, Kecamatan Tirtayasa, Kabupaten Serang.
Situs makam tersebut tercatat dalam daftar situs/cagar budaya Kabupaten Serang sebagai “Makam Sultan Ageng Tirtayasa”, berada di Kampung Tirtayasa, Desa Tirtayasa, Kecamatan Tirtayasa.
Di tempat ini, masyarakat masih datang untuk berziarah.
Bukti bahwa tradisi tersebut tetap hidup terlihat dalam kegiatan ziarah yang dilakukan pada Agustus 2025. Pemerintah Kecamatan Tirtayasa mencatat rombongan masyarakat, pelajar, unsur kepolisian dan TNI, serta aparatur kecamatan berziarah ke makam Sultan Ageng Tirtayasa dalam rangka memperingati HUT ke-80 Kemerdekaan RI. Kegiatan itu diisi doa bersama, tabur bunga dan pembacaan sejarah perjuangan Sultan Ageng.
Jadi, makam tersebut bukan hanya peninggalan masa lalu.
Ia masih menjadi ruang perjumpaan masyarakat dengan sejarah.
Di tempat yang tenang itu, generasi sekarang datang mengingat seorang pemimpin yang pernah menghadapi VOC dan mempertahankan kedaulatan Banten.
2. Situs Keraton Tirtayasa
Tidak jauh dari ingatan tentang makam, ada jejak yang bahkan menjadi bagian dari nama sang sultan: Tirtayasa.
Nama tersebut berasal dari kawasan tempat Sultan Ageng kemudian mendirikan keraton baru.
Data resmi Cagar Budaya Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah mencatat Kraton S.A. Tirtayasa sebagai cagar budaya tingkat kabupaten/kota di Kabupaten Serang, berdasarkan SK Nomor 430/Kep.173-Huk/2017. Situs tersebut diperkirakan merupakan bekas keraton yang menjadi tempat tinggal Sultan Ageng Tirtayasa pada akhir abad ke-17.
Letaknya pada masa itu memiliki nilai strategis.
Situs tersebut berada di kawasan yang berhubungan dengan jalur lama dan jaringan perairan. Data cagar budaya pemerintah menjelaskan bahwa dari kawasan keraton tersebut Sultan Ageng dapat mengawasi perkembangan politik di Banten, sementara kanal-kanal dibangun di sepanjang jalan kuno untuk mendukung lalu lintas air.
Artinya, Tirtayasa bukan sekadar tempat tinggal seorang sultan.
Ia merupakan bagian dari rancangan kekuasaan.
Dari sana, pemerintahan, perdagangan dan pengelolaan wilayah dapat dijalankan.
3. Jejak Kanal dan Tata Air Tirtayasa
Kalau keraton menjadi simbol kekuasaan, maka kanal dan sistem irigasi memperlihatkan sisi lain dari pemerintahan Sultan Ageng: bagaimana air dikelola untuk kehidupan masyarakat.
Penelitian arkeologi yang diterbitkan BRIN dalam jurnal Amerta menemukan bukti jejak hidro-arkeologi dari sistem tata air Kesultanan Banten abad ke-17.
Jejak tersebut tersebar di antara Sungai Ciujung, Sungai Cidurian dan Sungai Cipasilihan.
Peninggalannya antara lain berupa bekas kanal, tanggul buatan, jembatan, pintu air dan bangunan pengontrol air. Penelitian tersebut menyebut rekayasa tata air skala besar itu diprakarsai Sultan Ageng Tirtayasa untuk mendukung pertanian intensif di pesisir Banten.
Inilah bagian sejarah yang kadang luput ketika kisah Sultan Ageng hanya diceritakan sebagai cerita perang melawan VOC.
Padahal, seorang pemimpin tidak hanya dinilai dari bagaimana ia menghadapi musuh.
Ia juga dapat dilihat dari bagaimana ia mengelola wilayahnya.
Sistem air tersebut menunjukkan adanya perhatian terhadap pertanian dan kemampuan teknis masyarakat Banten pada zamannya.
Ada perang, tetapi ada pula pembangunan.
Ada perlawanan, tetapi ada pula upaya meningkatkan kehidupan rakyat.
4. Banten Lama dan Kompleks Makam Kesultanan
Jejak Sultan Ageng juga dapat ditemui di kawasan Banten Lama.
Kompleks Kesultanan Banten merupakan kawasan yang menyimpan berbagai tinggalan sejarah. Salah satu yang paling dikenal adalah Masjid Agung Banten, yang merupakan peninggalan Kesultanan Banten dan memiliki kompleks makam keluarga kesultanan. Kajian sejarah menyebut makam Sultan Ageng Tirtayasa termasuk dalam kawasan makam kesultanan tersebut.
Namun ada satu hal yang perlu diluruskan.
Masjid Agung Banten tidak dibangun oleh Sultan Ageng Tirtayasa.
Masjid tersebut sudah berdiri sejak masa Sultan Maulana Hasanuddin.
Jadi, dalam artikel ini Masjid Agung Banten ditempatkan sebagai bagian dari lanskap sejarah Kesultanan Banten yang menjadi konteks pemerintahan Sultan Ageng, bukan sebagai bangunan yang didirikan olehnya.
Pembedaan semacam ini penting agar perjalanan sejarah tidak menjadi sekadar cerita yang diwariskan tanpa pemeriksaan.
5. Surosowan, Pusat Kesultanan Sebelum Tirtayasa
Masih di Banten Lama terdapat Keraton Surosowan.
Keraton ini merupakan pusat pemerintahan Kesultanan Banten sebelum pusat kekuasaan Sultan Ageng kemudian berkembang di Tirtayasa.
Kajian arkeologi BRIN mencatat bahwa setelah sekitar 1676, Kesultanan Banten memiliki tiga istana: kawasan Banten Girang, istana ibu kota di Banten Lama, dan istana baru di Tirtayasa.
Karena itu, ketika masyarakat berjalan di kawasan Surosowan hari ini, yang mereka lihat bukan hanya reruntuhan bangunan.
Mereka sedang berada di kawasan yang pernah menjadi pusat kekuasaan Banten.
Di sinilah berbagai keputusan politik Kesultanan Banten pernah dibuat.
Di sinilah pula sejarah konflik antara Sultan Ageng dan Sultan Haji kemudian berkembang hingga memberikan kesempatan bagi VOC untuk memperbesar pengaruhnya di Banten.
Sultan Ageng, Perdagangan dan Kedaulatan Banten
Untuk memahami mengapa tempat-tempat tersebut penting, kita perlu kembali kepada sosok yang namanya melekat pada Tirtayasa.
Sultan Ageng Tirtayasa memerintah Banten pada 1651–1683. Pemerintahannya dikenal sebagai salah satu periode penting dalam sejarah Kesultanan Banten. Pemerintah Kabupaten Serang mencatat bahwa pada masa tersebut politik, perekonomian, perdagangan, pelayaran dan kebudayaan berkembang, sementara Sultan Ageng gigih menentang Kompeni Belanda.
Banten berada pada posisi strategis dalam jaringan perdagangan.
VOC berusaha membangun monopoli.
Sultan Ageng memilih kebijakan yang berbeda.
Pemerintah Provinsi Banten mencatat bahwa ia menolak perjanjian monopoli perdagangan yang merugikan Kesultanan Banten dan mempertahankan Banten sebagai pelabuhan terbuka.
Kebijakan tersebut membuat Banten tetap menjadi salah satu pusat perdagangan penting.
Penelitian mengenai nilai budaya bahari Sultan Ageng juga mencatat hubungan perdagangan dan diplomatik Banten dengan berbagai wilayah serta bangsa, termasuk Inggris, Prancis, Denmark, Turki, India, Cina, Arab dan kawasan Nusantara lainnya.
Jadi, perjuangan Sultan Ageng tidak hanya berbentuk pertempuran.
Ia juga merupakan perjuangan mempertahankan ruang ekonomi dan kedaulatan politik Banten.
Ketika Konflik Internal Membuka Jalan bagi VOC
Perjalanan Sultan Ageng akhirnya menghadapi persoalan dari dalam.
Konflik antara Sultan Ageng dengan putranya, Sultan Haji, dimanfaatkan VOC untuk memperlemah Banten.
Kajian sejarah yang diterbitkan Universitas Padjadjaran pada 2024 menempatkan konflik Sultan Ageng dengan VOC dan Sultan Haji sebagai persoalan yang saling berkaitan. Konflik tersebut pada akhirnya membawa Sultan Ageng ke penjara di Batavia hingga wafat.
Pemerintah Kabupaten Serang juga mencatat bahwa politik devide et impera atau adu domba antara Sultan Ageng dan Sultan Haji menjadi salah satu faktor yang membuat kekuasaan Sultan Ageng melemah.
Sejarah tersebut meninggalkan pelajaran yang tidak kalah penting dari kisah peperangannya.
Kekuatan sebuah masyarakat tidak hanya ditentukan oleh keberanian menghadapi kekuatan dari luar, tetapi juga oleh kemampuan menjaga persatuan di dalam.
Menapak Jejak, Bukan Sekadar Berziarah
Masyarakat yang datang ke makam Sultan Ageng Tirtayasa mungkin memiliki tujuan yang berbeda-beda.
Ada yang datang untuk berziarah.
Ada yang ingin mengenang sejarah.
Ada yang mengajak keluarga.
Ada pula pelajar yang datang untuk mengenal lebih dekat tokoh yang namanya mereka temui di buku pelajaran.
Semua aktivitas tersebut membuat sejarah tetap memiliki hubungan dengan kehidupan hari ini.
Pemerintah Kecamatan Tirtayasa sendiri secara terbuka mengaitkan kegiatan ziarah ke makam Sultan Ageng dengan upaya menumbuhkan pemahaman sejarah dan semangat nasionalisme generasi muda.
Artinya, makam dan situs sejarah bukan hanya benda mati.
Ia bisa menjadi ruang belajar.
Tempat anak-anak mengenal siapa yang pernah berjuang sebelum mereka.
Tempat masyarakat mengingat bahwa Banten pernah memiliki kekuatan politik dan ekonomi yang besar.
Dan tempat generasi sekarang bertanya kembali:
Apa yang bisa kita warisi dari perjuangan itu?
Yang Tertinggal Bukan Hanya Reruntuhan
Kalau kita melihat peninggalan Sultan Ageng hanya sebagai batu bata, makam, kanal atau reruntuhan keraton, mungkin kita akan kehilangan bagian terpentingnya.
Karena di balik peninggalan tersebut terdapat gagasan tentang kepemimpinan.
Ada keberanian untuk mempertahankan kepentingan Banten.
Ada usaha membangun pertanian.
Ada pengembangan perdagangan.
Ada diplomasi dengan dunia luar.
Dan ada upaya mempertahankan kedaulatan dari dominasi VOC.
Kajian arkeologi mengenai irigasi Tirtayasa bahkan memperlihatkan bahwa pembangunan tata air merupakan bagian penting dari kehidupan Kesultanan Banten pada masa Sultan Ageng.
Dengan demikian, warisan Sultan Ageng tidak hanya berada di medan perang.
Ia juga berada di sawah, kanal, pelabuhan, pusat pemerintahan dan kehidupan masyarakat.
Dari Tirtayasa untuk Generasi Sekarang
Hari ini, Banten sudah jauh berubah.
Keraton tidak lagi menjadi pusat pemerintahan.
Kapal-kapal perdagangan tradisional telah berganti dengan pelabuhan dan kawasan industri modern.
Sistem pemerintahan kesultanan telah berubah menjadi pemerintahan republik.
Tetapi nama Sultan Ageng Tirtayasa tetap melekat.
Nama itu digunakan sebagai nama jalan, lembaga pendidikan, kawasan, hingga institusi di Banten.
Dan yang paling penting, tempat-tempat yang berkaitan dengan dirinya masih dikunjungi.
Masyarakat masih datang ke makamnya.
Situs Tirtayasa masih tercatat sebagai peninggalan sejarah.
Jejak tata air masih diteliti.
Banten Lama masih menjadi tujuan wisata sejarah dan religi.
Semua itu menunjukkan bahwa sejarah tidak benar-benar hilang.
Ia hanya berubah bentuk.
Sebuah Pelajaran dari Tapak Tilas
Berjalan menelusuri jejak Sultan Ageng Tirtayasa pada akhirnya bukan sekadar perjalanan ke masa lalu.
Dari makam, kita belajar tentang penghormatan kepada sejarah.
Dari keraton, kita belajar tentang kepemimpinan dan tata pemerintahan.
Dari kanal dan sistem irigasi, kita melihat kemampuan membangun dan mengelola sumber daya.
Dari Banten Lama, kita melihat bagaimana sebuah kesultanan pernah menjadi bagian penting dalam jaringan perdagangan dan kebudayaan Nusantara.
Dan dari perjuangan melawan VOC, kita mengenal keberanian mempertahankan kedaulatan dan kepentingan masyarakat Banten.
Mungkin itulah alasan mengapa jejak Sultan Ageng Tirtayasa masih layak dikunjungi hingga sekarang.
Bukan untuk sekadar mengenang seorang sultan.
Tetapi untuk memahami bagaimana masyarakat Banten pada masa lalu membangun, bertahan dan menghadapi perubahan zaman.
Karena sejarah yang baik bukan hanya membuat kita tahu siapa pahlawan kita.
Sejarah juga membuat kita bertanya:
Nilai apa yang masih sanggup kita bawa dari perjuangan mereka untuk kehidupan Banten hari ini?
Dan ketika langkah kaki berhenti di makam Sultan Ageng Tirtayasa, di reruntuhan keraton, atau di kawasan Banten Lama, mungkin yang sebenarnya sedang kita lakukan bukan sekadar melihat peninggalan.
Kita sedang menapak jejak sebuah peradaban.
Sebuah peradaban yang pernah tumbuh kuat di Banten—dan meninggalkan pesan bahwa kedaulatan, keberanian, ilmu, perdagangan, pembangunan serta kepedulian terhadap masyarakat merupakan bagian dari warisan yang patut terus dirawat.
Catatan Redaksi
Artikel ini membedakan antara situs yang secara langsung berkaitan dengan Sultan Ageng Tirtayasa dan situs peninggalan Kesultanan Banten yang menjadi konteks sejarah pemerintahannya.
Situs Kraton S.A. Tirtayasa dan Makam Sultan Ageng Tirtayasa tercatat dalam data cagar budaya Kabupaten Serang. Pemerintah juga masih mencatat kegiatan ziarah masyarakat ke makam tersebut, termasuk kegiatan pada Agustus 2025.
Untuk aspek perjuangan dan kebijakan Sultan Ageng, artikel ini menggunakan rujukan pemerintah, kajian arkeologi BRIN, kajian akademik Universitas Padjadjaran dan sumber sejarah ANRI. Data ANRI juga menunjukkan adanya koleksi surat-surat Sultan Ageng Tirtayasa kepada dan dari Batavia pada abad ke-17, yang menjadi bagian penting dalam penelusuran sejarah hubungan Banten dengan VOC.
Untuk pembaca yang ingin menelusuri sumber sejarah lebih lanjut, koleksi biografi Sultan Ageng Tirtayasa di Perpustakaan Arsip Nasional Republik Indonesia dan data Cagar Budaya Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah dapat menjadi rujukan awal.










