SPILL Banten — Gunung Anak Krakatau kembali menjadi perhatian pada awal September 2026 setelah mengalami episode erupsi menerus selama sekitar 25 jam. Letusan dimulai pada Jumat, 4 September 2026 pukul 23.07 WIB dan berakhir pada Minggu, 6 September 2026 pukul 00.04 WIB.
Setelah episode erupsi menerus tersebut berakhir, Anak Krakatau masih menunjukkan aktivitas berupa beberapa letusan Strombolian. Badan Geologi juga menyebut kemungkinan terjadinya letusan dalam periode berikutnya masih tinggi.
Lalu, pertanyaannya: kenapa Anak Krakatau bisa erupsi lagi? Dan kenapa justru terjadi pada September 2026?
Jawabannya tidak sesederhana karena “gunung sedang aktif”. Ada rangkaian perubahan aktivitas vulkanik yang sudah terlihat sejak beberapa bulan sebelumnya.
Anak Krakatau Memang Gunung Api yang Aktif
Anak Krakatau merupakan gunung api aktif tipe A yang berada di perairan Selat Sunda dan secara administratif masuk Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung.
Gunung ini bukan gunung api baru dalam arti geologis. Anak Krakatau tumbuh di kawasan kaldera Krakatau setelah letusan besar Krakatau 1883.
Sejak 1927, Anak Krakatau tercatat mengalami aktivitas erupsi berulang. Setelah erupsi besar dan runtuhnya sebagian tubuh gunung pada 22 Desember 2018, aktivitas vulkaniknya kembali mengalami berbagai fase.
Karena itu, munculnya letusan pada 2026 sebenarnya bukan sesuatu yang tiba-tiba.
Yang menarik justru adalah perubahan intensitas aktivitasnya menjelang September.
Tanda Aktivitas Sudah Terlihat Sejak Juni
Badan Geologi mencatat bahwa sejak 1 Juni 2026, pemantauan satelit sudah menunjukkan adanya emisi gas sulfur dioksida (SO₂) dan anomali panas.
Kemudian, sejak 10 Juni 2026, muncul titik api di kawasan kawah.
Aktivitas tersebut menjadi salah satu dasar evaluasi pemerintah hingga akhirnya status Anak Krakatau dinaikkan dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga) pada 2 Juli 2026 pukul 16.30 WIB.
Artinya, aktivitas September bukan muncul dari kondisi yang sepenuhnya tenang.
Sistem vulkanik Anak Krakatau memang sudah menunjukkan tanda-tanda peningkatan aktivitas sejak pertengahan tahun.
Juli 2026: Erupsi Sudah Dimulai Lagi
Pada 2 Juli 2026 pukul 14.05 WIB, Anak Krakatau kembali mengalami erupsi.
Badan Geologi mencatat erupsi tersebut menghasilkan kolom abu berwarna kelabu hingga hitam dengan ketinggian sekitar 200 meter di atas puncak. Status aktivitas kemudian dinaikkan menjadi Level III atau Siaga.
Erupsi kembali terjadi pada 3 Juli 2026. Setelah itu, aktivitas erupsi masih berlangsung dalam bentuk letusan Strombolian dengan lontaran material pijar dan abu vulkanik.
Pemantauan Smithsonian Global Volcanism Program yang menggunakan laporan PVMBG juga mencatat aktivitas erupsi Anak Krakatau terus berlangsung sepanjang Juli, dengan kolom abu dan gas mencapai beberapa ratus meter di atas puncak.
Jadi, kalau ditarik garis waktunya:
Juni → tanda aktivitas meningkat
Juli → erupsi kembali terjadi
Agustus → aktivitas tetap berlangsung dan terdapat indikasi perubahan pada sistem gunung api
September → terjadi episode erupsi menerus yang jauh lebih signifikan
Lalu Kenapa Letusan Menguat pada September?
Di sinilah penting membedakan antara fakta yang sudah terukur dan interpretasi ilmiah.
Badan Geologi mencatat adanya kecenderungan inflasi pada tiltmeter Stasiun Tanjung pada awal Agustus 2026.
Inflasi merupakan istilah yang digunakan dalam pemantauan gunung api untuk menggambarkan adanya perubahan bentuk atau penggembungan pada bagian tubuh gunung. Data ini menjadi salah satu indikator yang digunakan untuk membaca dinamika sistem vulkanik.
Pada saat yang sama, aktivitas kegempaan Anak Krakatau tetap menjadi perhatian.
Dalam periode 6–7 September 2026 saja, Badan Geologi mencatat:
- 3 gempa erupsi
- 9 gempa hembusan
- 93 gempa low frequency
- 98 gempa hybrid/fase banyak
- 4 tremor menerus
- 1 gempa vulkanik dangkal
Data tersebut menunjukkan bahwa sistem vulkanik Anak Krakatau masih berada dalam kondisi dinamis.
Namun, belum tepat jika dikatakan bahwa satu faktor tertentu, misalnya gempa, hujan, atau cuaca September, adalah penyebab pasti erupsi tersebut.
Badan Geologi sampai laporan 7 September 2026 lebih berhati-hati dengan menyebut bahwa dinamika vulkanisme Anak Krakatau masih terus dipantau dan dievaluasi.
Bagaimana Magma Bisa Menghasilkan Letusan?
Secara sederhana, gunung api bekerja seperti sistem yang memiliki saluran dari bagian dalam bumi menuju permukaan.
Magma yang berada di kedalaman mengandung gas terlarut. Ketika magma bergerak naik menuju tekanan yang lebih rendah, gas dapat keluar dari larutan dan membentuk gelembung.
Jika tekanan gas dan magma cukup besar untuk mendorong material menuju permukaan, terjadilah erupsi.
Pada tipe Strombolian, gelembung gas yang berada dalam magma dapat pecah dan menghasilkan ledakan-ledakan kecil yang melontarkan material pijar ke udara. Mekanisme tersebut merupakan salah satu karakteristik erupsi Strombolian.
Inilah yang selama beberapa waktu terlihat pada Anak Krakatau pada 2026.
Letusannya tidak selalu berupa satu ledakan besar.
Aktivitas dapat berupa letusan-letusan berkala, lontaran material pijar, abu, hingga pada episode tertentu berubah menjadi erupsi yang berlangsung terus-menerus.
Kenapa September, Bukan Bulan Lain?
Jawaban paling aman secara ilmiah adalah:
tidak ada bukti dari laporan resmi yang menunjukkan bahwa bulan September memiliki pemicu khusus yang membuat Anak Krakatau pasti meletus.
September bukan semacam “musim erupsi” bagi Anak Krakatau.
Yang terjadi pada September 2026 lebih tepat dipahami sebagai kelanjutan dari proses peningkatan aktivitas vulkanik yang sudah berlangsung sejak beberapa bulan sebelumnya.
Badan Geologi mencatat aktivitas magmatik berenergi rendah setelah periode erupsi sebelumnya, kemudian aktivitas kembali meningkat pada 2026. Tanda-tanda seperti emisi SO₂, anomali panas, titik api, erupsi pada Juli, aktivitas Strombolian, perubahan data deformasi dan kegempaan menjadi bagian dari rangkaian yang kemudian berlanjut menuju episode erupsi menerus pada September.
Dengan kata lain, bukan karena September.
Lebih tepat dikatakan bahwa sistem vulkanik Anak Krakatau sedang berada dalam fase aktif, dan pada awal September aktivitas tersebut berkembang menjadi episode erupsi menerus.
Ada Hubungannya dengan Cuaca?
Cuaca memang berperan dalam dampak erupsi, terutama dalam menentukan ke mana abu vulkanik bergerak.
Tetapi cuaca tidak bisa begitu saja dianggap sebagai penyebab Anak Krakatau meletus.
Dalam kejadian September 2026, BMKG memantau sebaran abu menggunakan data satelit dan menemukan sebaran yang mencakup wilayah Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat hingga Bengkulu.
Angin dan kondisi atmosfer kemudian menentukan bagaimana abu tersebut tersebar dari sumber erupsi.
Jadi perlu dibedakan:
Aktivitas vulkanik → menghasilkan abu dan material erupsi.
Kondisi atmosfer → membantu menentukan arah dan luas penyebaran abu.
Perbedaan ini penting agar informasi tentang erupsi tidak tercampur dengan spekulasi.
Kenapa Suara Dentuman Bisa Terdengar Jauh?
Erupsi September juga membuat masyarakat di sejumlah wilayah melaporkan suara dentuman dan gemuruh.
BMKG melakukan analisis terhadap fenomena tersebut. Data dari beberapa stasiun geomagnetik menunjukkan gangguan yang waktunya berkesesuaian dengan letusan Anak Krakatau.
BMKG menyimpulkan bahwa aktivitas erupsi menjadi sumber suara yang terdengar pada periode tersebut, dengan mekanisme gelombang dan kondisi atmosfer yang memungkinkan energi dari aktivitas erupsi terdengar dari jarak jauh.
Karena itu, dentuman yang terdengar di sejumlah wilayah tidak otomatis berarti terjadi gempa.
Apakah Erupsi September 2026 Bisa Menimbulkan Tsunami?
Kekhawatiran ini wajar mengingat sejarah Anak Krakatau.
Pada 22 Desember 2018, runtuhnya sebagian tubuh Anak Krakatau ke laut memicu tsunami yang menerjang pesisir Banten dan Lampung. Kajian ilmiah mencatat bahwa peristiwa tersebut merupakan runtuhan sektor tubuh gunung yang terjadi di tengah aktivitas erupsi.
Namun kondisi pada September 2026 tidak boleh langsung disamakan dengan 2018.
Dalam evaluasi 5 September, Badan Geologi menyatakan bahwa tubuh Anak Krakatau yang terbentuk kembali setelah 2018 masih relatif kecil dan tidak berpotensi mengalami keruntuhan dalam skala yang dapat memicu tsunami berdasarkan evaluasi saat itu. Meski demikian, perubahan morfologi dan aktivitas gunung tetap dipantau secara intensif.
BMKG melalui sistem InaTEWS juga melaporkan hingga 6 September 2026 pukul 07.30 WIB tidak mendeteksi anomali muka laut yang mengindikasikan tsunami terkait rangkaian erupsi tersebut.
Jadi, masyarakat pesisir Banten dan Lampung tidak perlu panik karena isu tsunami yang tidak terverifikasi.
Tetapi tetap penting mengikuti informasi resmi karena kondisi gunung api dapat berubah.
Apa yang Harus Diwaspadai Warga Banten?
Yang paling relevan bagi masyarakat saat ini bukan menerka-nerka kapan Anak Krakatau akan meletus besar.
Yang jauh lebih penting adalah memahami rekomendasi resmi.
Per 7 September 2026, Badan Geologi masih mempertahankan status Anak Krakatau pada Level III (Siaga).
Masyarakat, wisatawan, dan pengunjung dilarang memasuki kawasan dalam radius 3 kilometer dari pusat aktivitas Anak Krakatau.
Bagi wilayah yang terdampak abu vulkanik, masyarakat juga dianjurkan mengurangi aktivitas di luar rumah atau menggunakan masker ketika harus beraktivitas di luar.
Jadi, Apa Kesimpulannya?
Kalau pertanyaannya “kenapa Anak Krakatau erupsi?”, jawabannya adalah karena sistem vulkaniknya memang sedang aktif dan mengalami dinamika magma, gas, tekanan serta proses pelepasan energi melalui kawah.
Kalau pertanyaannya “kenapa September 2026?”, sejauh data resmi yang tersedia sampai 7 September, tidak ada dasar untuk menyebut September sebagai bulan dengan pemicu khusus.
Yang terlihat justru sebuah rangkaian:
aktivitas magmatik → tanda panas dan gas → erupsi kembali pada Juli → aktivitas Strombolian berlanjut → perubahan deformasi dan kegempaan → episode erupsi menerus pada 4–6 September.
Episode erupsi menerus tersebut memang sudah berakhir. Tetapi aktivitas Anak Krakatau belum dapat dianggap sepenuhnya selesai.
Badan Geologi masih menyatakan probabilitas terjadinya letusan dalam beberapa periode berikutnya masih tinggi.
Karena itu, bagi warga Banten, informasi paling penting bukan soal panik atau tidak panik.
Tetap tenang, jangan mendekati kawasan terlarang, dan ikuti informasi resmi PVMBG/Badan Geologi serta BMKG.
Sebab pada gunung api aktif seperti Anak Krakatau, yang bisa dipastikan bukan kapan tepatnya letusan berikutnya terjadi, melainkan bahwa dinamikanya harus terus dipantau.
Sumber:
- Badan Geologi Kementerian ESDM/PVMBG — laporan perkembangan erupsi Anak Krakatau 7 September 2026.
- Badan Geologi Kementerian ESDM/PVMBG — laporan fenomena erupsi menerus Anak Krakatau 5 September 2026.
- Badan Geologi Kementerian ESDM/PVMBG — kenaikan status Anak Krakatau ke Level III pada 2 Juli 2026.
- BMKG — pemantauan dampak erupsi Anak Krakatau dan sebaran abu vulkanik.
- BMKG — analisis dentuman di sejumlah wilayah yang berkaitan dengan erupsi Anak Krakatau.
- BMKG — pemantauan tsunami melalui InaTEWS.
- BNPB — perkembangan erupsi dan imbauan kewaspadaan masyarakat.
- Smithsonian Institution/USGS Global Volcanism Program — rekam aktivitas Krakatau 2026.
- Nature Communications — kajian ilmiah mengenai aktivitas dan runtuhan Anak Krakatau 2018.










