SPILL Banten – Difitnah, dituduh melakukan sesuatu yang tidak pernah dilakukan, atau menjadi bahan pembicaraan buruk orang lain tentu menyakitkan. Islam mengajarkan doa untuk memohon perlindungan dari kezaliman, sekaligus memberikan tuntunan agar seorang Muslim tidak membalas fitnah dengan fitnah.
Tidak semua luka terlihat oleh mata.
Ada orang yang tetap tersenyum, bekerja, dan menjalani aktivitas seperti biasa, padahal sedang menghadapi tuduhan yang tidak benar. Namanya dibicarakan, kehormatannya diragukan, bahkan hubungan dengan keluarga, sahabat, atau rekan kerja ikut terganggu karena kabar yang belum tentu memiliki dasar.
Fitnah memang bukan persoalan ringan.
Satu kabar bohong bisa menyebar dari satu orang ke orang lain. Semakin banyak yang mengulanginya, semakin besar pula kemungkinan orang lain mempercayainya, meskipun tidak pernah memeriksa kebenarannya.
Lantas, bagaimana Islam mengajarkan seseorang menghadapi orang yang gemar memfitnah?
Apakah ada doa khusus agar terhindar dari pemfitnah? Bagaimana cara membela diri tanpa ikut melakukan dosa yang sama?
Al-Qur’an memberikan sejumlah petunjuk penting tentang hal tersebut.
1. Doa Nabi Musa agar Diselamatkan dari Orang-Orang Zalim
Salah satu doa yang dapat diamalkan ketika menghadapi ancaman atau perlakuan zalim adalah doa Nabi Musa AS yang diabadikan dalam Al-Qur’an.
Doa tersebut terdapat dalam Surah Al-Qasas ayat 21:
رَبِّ نَجِّنِي مِنَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ
Rabbi najjinī minal-qaumiẓ-ẓālimīn.
Artinya:
“Ya Tuhanku, selamatkanlah aku dari kaum yang zalim.”
Doa ini dibaca Nabi Musa AS ketika beliau keluar dari kota dalam keadaan takut dan waspada setelah mendapat kabar bahwa para pembesar negeri sedang merencanakan sesuatu yang membahayakan dirinya. (QS. Al-Qasas: 21).
Kisah tersebut memberikan pelajaran bahwa ketika menghadapi ancaman dan kezaliman, seorang hamba boleh memohon pertolongan Allah agar diselamatkan dari orang-orang yang berbuat zalim.
Doa ini relevan untuk seseorang yang sedang menghadapi perlakuan tidak adil, termasuk ketika merasa terancam oleh tuduhan atau tindakan orang lain.
Namun, perlu dipahami bahwa ayat ini merupakan doa Nabi Musa dalam konteks keselamatan dari kaum yang zalim. Bukan doa khusus yang secara eksplisit disebut sebagai doa untuk menghentikan orang yang memfitnah.
2. Hasbunallahu wa Ni’mal Wakil, Ketika Hati Merasa Tertekan
Ada pula kalimat yang sangat dikenal dalam Al-Qur’an dan dapat menjadi penguat hati ketika seseorang menghadapi tekanan atau ancaman:
حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ
Hasbunallāhu wa ni’mal-wakīl.
Artinya:
“Cukuplah Allah menjadi penolong kami dan Dia sebaik-baik pelindung.”
Kalimat ini terdapat dalam Surah Ali Imran ayat 173.
Ayat tersebut menggambarkan orang-orang beriman yang mendapat kabar bahwa ada pihak yang sedang mengumpulkan kekuatan untuk menghadapi mereka. Namun, ancaman itu justru menambah keimanan mereka dan mereka menyatakan bahwa Allah cukup sebagai penolong dan sebaik-baik tempat bersandar.
Pesan dari kalimat ini sangat dalam.
Ketika seseorang difitnah, ia mungkin tidak mampu mengendalikan apa yang dikatakan orang lain. Ia juga tidak selalu bisa membuat semua orang langsung percaya kepadanya.
Tetapi ia tetap dapat berusaha menjelaskan kebenaran, menjaga perilakunya, dan menyerahkan hasil akhirnya kepada Allah.
Hasbunallahu wa ni’mal wakil bukan ajakan untuk menyerah, melainkan pengingat agar tidak kehilangan kepercayaan kepada Allah ketika menghadapi keadaan yang sulit.
3. Ketika Mendengar Fitnah, Al-Qur’an Mengajarkan untuk Tidak Ikut Menyebarkannya
Salah satu pelajaran paling penting tentang fitnah terdapat dalam Surah An-Nur ayat 15–16.
Ayat tersebut mengingatkan orang-orang beriman agar tidak menerima dan menyebarkan berita bohong dari mulut ke mulut, apalagi membicarakan sesuatu yang tidak mereka ketahui kebenarannya.
Dalam Surah An-Nur ayat 16, Allah mengingatkan bahwa ketika mendengar kabar semacam itu, seharusnya seseorang mengatakan:
سُبْحَانَكَ هَٰذَا بُهْتَانٌ عَظِيمٌ
Subḥānaka hāżā buhtānun ‘aẓīm.
Artinya:
“Mahasuci Engkau, ini adalah kebohongan yang sangat besar.”
Kalimat tersebut merupakan bagian dari pesan Al-Qur’an dalam peristiwa berita bohong yang dibicarakan dalam Surah An-Nur.
Ada pelajaran penting di dalamnya.
Ketika mendengar tuduhan terhadap seseorang, jangan langsung ikut menyebarkannya. Jangan menjadikan kabar yang belum terbukti sebagai bahan percakapan, apalagi menyebarkannya melalui media sosial.
Sebab, orang yang meneruskan fitnah tanpa memeriksa kebenarannya dapat ikut memperbesar kerugian yang ditimbulkan.
Al-Qur’an juga mengingatkan bahwa ucapan yang dianggap ringan oleh manusia bisa menjadi perkara besar di sisi Allah. (QS. An-Nur: 15–17).
4. Cara Menghadapi Orang yang Sering Memfitnah Menurut Ajaran Islam
Berdoa merupakan bagian penting dari ikhtiar seorang Muslim. Namun, Islam juga mengajarkan tindakan nyata ketika seseorang menjadi korban tuduhan yang tidak benar.
Berikut beberapa prinsip yang dapat diterapkan.
A. Jangan Membalas Fitnah dengan Fitnah
Ketika seseorang menyebarkan cerita buruk tentang kita, dorongan untuk membalas dengan membuka aibnya mungkin terasa kuat.
Namun, tindakan tersebut justru berisiko membuat persoalan semakin panjang.
Islam mengingatkan agar keburukan tidak dibalas dengan keburukan yang sama.
Dalam Surah Al-Mu’minun ayat 96, Allah memerintahkan Nabi Muhammad ﷺ untuk menolak keburukan dengan cara yang lebih baik.
Artinya, seseorang tetap boleh membela diri, tetapi tidak perlu mengarang cerita, menyebarkan tuduhan yang belum terbukti, atau merusak kehormatan orang lain sebagai balasan.
Membela diri adalah hak. Membalas fitnah dengan fitnah bukan jalan yang dibenarkan.
B. Periksa Fakta Sebelum Menanggapi Tuduhan
Tidak semua kabar yang sampai kepada kita benar.
Karena itu, Surah Al-Hujurat ayat 6 mengajarkan prinsip tabayyun, yaitu memeriksa dan memastikan kebenaran informasi sebelum mengambil tindakan.
Prinsip ini berlaku bagi orang yang menerima fitnah maupun orang yang menjadi sasaran fitnah.
Jika ada seseorang menyampaikan tuduhan, cari tahu sumbernya. Periksa apa yang sebenarnya dikatakan, siapa yang menyebarkannya, dan apakah terdapat bukti yang dapat diperiksa.
Jangan terburu-buru mengambil kesimpulan hanya berdasarkan cerita dari satu pihak.
C. Sampaikan Klarifikasi dengan Tenang dan Berdasarkan Bukti
Jika tuduhan tersebut sudah merugikan nama baik, jangan selalu memilih diam tanpa melakukan apa pun.
Sampaikan klarifikasi dengan bahasa yang jelas, tidak berlebihan, dan berdasarkan fakta.
Misalnya:
- Jelaskan bagian informasi yang tidak benar.
- Tunjukkan bukti yang relevan jika memang tersedia.
- Hindari kata-kata kasar atau ancaman.
- Pilih orang atau forum yang tepat untuk menyelesaikan masalah.
- Jangan menyebarkan informasi pribadi yang tidak berkaitan dengan persoalan.
Tujuannya bukan mempermalukan orang yang menuduh, melainkan menghentikan kesalahpahaman dan memulihkan kebenaran.
D. Jangan Terjebak dalam Perdebatan yang Tidak Berujung
Ada kalanya seseorang terus mengulang tuduhan meskipun sudah diberikan penjelasan.
Dalam keadaan seperti ini, tidak semua perkataan harus ditanggapi.
Surah Al-Furqan ayat 63 menggambarkan salah satu sifat hamba Allah Yang Maha Pengasih: ketika menghadapi perkataan kasar dari orang-orang yang tidak berpengetahuan, mereka menjawab dengan perkataan yang membawa keselamatan dan kedamaian.
Artinya, menjaga kehormatan tidak harus dilakukan dengan berteriak lebih keras daripada orang yang memfitnah.
Ada saatnya memberikan klarifikasi. Ada saatnya pula menjaga jarak dan tidak memperpanjang pertengkaran.
E. Cari Pertolongan Jika Fitnah Sudah Menimbulkan Kerugian Serius
Jika fitnah berkembang menjadi perundungan, ancaman, pemerasan, atau tuduhan yang berdampak serius pada kehidupan seseorang, mencari pertolongan bukanlah tindakan yang salah.
Bicarakan persoalan tersebut dengan orang yang dapat dipercaya, keluarga, pihak yang berwenang, atau lembaga yang relevan.
Simpan bukti yang berkaitan dengan kejadian, seperti pesan atau pernyataan yang memang diterima.
Jangan menghadapi ancaman sendirian apabila keselamatan diri atau orang lain ikut terancam.
Islam tidak mengharuskan seseorang membiarkan dirinya terus-menerus menjadi korban kezaliman.
5. Mengapa Memfitnah Termasuk Perbuatan yang Sangat Berbahaya?
Rasulullah ﷺ memberikan peringatan keras tentang bahaya menyakiti dan merugikan orang lain.
Dalam hadis riwayat Sahih Muslim nomor 2581, Rasulullah ﷺ menjelaskan tentang orang yang bangkrut pada hari kiamat.
Orang tersebut datang membawa pahala salat, puasa, dan zakat. Namun, ia juga pernah mencaci orang lain, menuduh, mengambil harta secara tidak benar, dan melakukan berbagai bentuk kezaliman.
Akibatnya, pahala kebaikannya diberikan kepada orang-orang yang pernah menjadi korban kezalimannya.
Hadis ini menunjukkan bahwa ibadah seseorang tidak boleh dijadikan alasan untuk meremehkan hak orang lain.
Seseorang mungkin dikenal rajin beribadah, tetapi jika lisannya digunakan untuk merusak kehormatan orang lain, perbuatannya tetap memiliki konsekuensi besar.
Karena itu, menjaga lisan merupakan bagian penting dari akhlak seorang Muslim.
6. Jangan Sampai Menjadi Orang yang Melakukan Fitnah Saat Sedang Difitnah
Ini merupakan bagian yang sering terlupakan.
Ketika menjadi korban fitnah, seseorang perlu menjaga diri agar tidak berubah menjadi pelaku perbuatan yang sama.
Jangan sampai karena ingin membuktikan bahwa diri kita benar, kita justru menyebarkan tuduhan baru yang belum jelas kebenarannya.
Jangan pula menjadikan persoalan pribadi sebagai alasan untuk membuka semua kekurangan orang lain.
Rasulullah ﷺ mengajarkan pentingnya kejujuran. Dalam Sahih Al-Bukhari nomor 6094, beliau menjelaskan bahwa kejujuran menuntun kepada kebaikan, sedangkan kebohongan menuntun kepada keburukan.
Maka, jika sedang menghadapi fitnah, tetaplah berpegang pada fakta.
Jangan mengubah cerita.
Jangan menambahkan tuduhan.
Jangan mengarang bukti.
Sebab, kebenaran tidak perlu dibangun dengan kebohongan baru.
Doa dan Ikhtiar, Dua Hal yang Tidak Bisa Dipisahkan
Menghadapi orang yang gemar memfitnah memang tidak mudah.
Ada kalanya tuduhan datang dari orang dekat. Ada pula yang muncul dari lingkungan pekerjaan, pertemanan, keluarga, bahkan orang yang sebelumnya dipercaya.
Namun, seorang Muslim memiliki pegangan.
Ketika merasa terancam oleh kezaliman, ia dapat membaca doa Nabi Musa:
رَبِّ نَجِّنِي مِنَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ
Rabbi najjinī minal-qaumiẓ-ẓālimīn.
“Ya Tuhanku, selamatkanlah aku dari kaum yang zalim.”
Ketika hati terasa berat, ia dapat mengingat:
حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ
Hasbunallāhu wa ni’mal-wakīl.
“Cukuplah Allah menjadi penolong kami dan Dia sebaik-baik pelindung.”
Keduanya merupakan doa dan kalimat yang bersumber dari Al-Qur’an, dengan konteks yang perlu dipahami sebagaimana dijelaskan dalam artikel ini.
Selain berdoa, tetaplah melakukan ikhtiar: periksa kebenaran informasi, sampaikan klarifikasi, jaga perilaku, dan cari pertolongan jika diperlukan.
Jangan biarkan fitnah membuat kita kehilangan akhlak.
Sebab, menghadapi kebohongan tidak harus dengan kebohongan. Menghadapi keburukan tidak harus dengan menjadi buruk.
Pada akhirnya, tugas seorang Muslim adalah menjaga kebenaran, berusaha melindungi kehormatan diri, dan tidak melampaui batas dalam membela diri.
Allah mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, bahkan ketika manusia belum mampu melihat seluruh kebenarannya.
Catatan Redaksi
Artikel ini tidak menyatakan adanya satu doa khusus dari Rasulullah ﷺ yang secara eksplisit dijanjikan dapat menghentikan orang yang memfitnah. Doa yang dibahas merupakan doa Nabi Musa dalam QS. Al-Qasas ayat 21 dan kalimat tawakal dalam QS. Ali Imran ayat 173.
Kalimat Subhanaka hadza buhtanun ‘azhim diangkat dari QS. An-Nur ayat 16 sebagai pesan Al-Qur’an tentang sikap ketika mendengar berita bohong atau tuduhan besar. Sementara prinsip tabayyun merujuk pada QS. Al-Hujurat ayat 6.
Hadis tentang orang yang bangkrut pada hari kiamat merujuk pada Sahih Muslim nomor 2581, sedangkan keutamaan kejujuran merujuk pada Sahih Al-Bukhari nomor 6094.
Pembaca perlu membedakan antara fitnah dalam pengertian berita bohong atau tuduhan palsu dengan kritik yang disampaikan berdasarkan fakta. Tidak setiap kritik merupakan fitnah, dan setiap tuduhan perlu diperiksa sebelum disimpulkan sebagai kebohongan.
Referensi Utama
- Al-Qur’an, Surah Al-Qasas ayat 21 — doa Nabi Musa memohon keselamatan dari kaum zalim.
- Al-Qur’an, Surah Ali Imran ayat 173 — Hasbunallahu wa ni’mal wakil.
- Al-Qur’an, Surah An-Nur ayat 15–17 — peringatan tentang penyebaran berita bohong dan tuduhan palsu.
- Al-Qur’an, Surah Al-Hujurat ayat 6 — prinsip tabayyun atau memeriksa kebenaran berita.
- Al-Qur’an, Surah Al-Mu’minun ayat 96 — perintah menolak keburukan dengan cara yang lebih baik.
- Al-Qur’an, Surah Al-Furqan ayat 63 — sikap hamba Allah ketika menghadapi perkataan kasar.
- Sahih Muslim No. 2581 — hadis tentang orang yang bangkrut akibat kezaliman terhadap sesama.
- Sahih Al-Bukhari No. 6094 — hadis tentang keutamaan kejujuran dan bahaya kebohongan.










