SPILL Banten – Ada sebuah sebutan yang begitu melekat dengan Banten: “Seribu Kiai, Sejuta Santri.” Ungkapan tersebut bukan sekadar kalimat penghias identitas daerah.
Ia lahir dari gambaran tentang kuatnya kehidupan keagamaan masyarakat Banten, terutama tradisi pesantren dan peran kiai dalam kehidupan sosial.
Bahkan hingga sekarang, pemerintah daerah masih menggunakan gambaran Banten sebagai daerah “sejuta santri dan seribu ulama”. Pemerintah Provinsi Banten pada 2025, misalnya, menyebut berdasarkan data Kementerian Agama terdapat 6.290 pesantren dengan sekitar 483.386 santri.
Namun, jika ingin memahami mengapa sebutan itu begitu kuat, kita harus mundur jauh ke belakang.
Karena tradisi keislaman Banten tidak lahir dalam waktu singkat.
Ia tumbuh melalui perjalanan berabad-abad.
Banten dan Jejak Kesultanan Islam
Salah satu titik penting sejarah keislaman Banten adalah munculnya Kesultanan Banten.
Ketika pusat kekuasaan Islam berkembang di kawasan pesisir Banten, wilayah tersebut bukan hanya menjadi pusat politik.
Banten juga berkembang sebagai pusat perdagangan, pendidikan, dakwah, dan kehidupan keagamaan.
Kawasan Banten Lama hari ini masih menyimpan sejumlah jejak penting dari masa tersebut, antara lain Masjid Agung Banten, Keraton Surosowan, Keraton Kaibon, makam Sultan Maulana Hasanuddin, Danau Tasikardi, hingga kawasan pelabuhan Karangantu.
Posisi Banten di jalur perdagangan membuat wilayah ini berhubungan dengan berbagai kawasan di Nusantara dan dunia luar.
Hubungan perdagangan itu pada akhirnya juga menjadi jalur pertukaran ilmu.
Pedagang datang.
Ulama datang.
Pelajar datang.
Dan gagasan keislaman ikut bergerak bersama manusia yang berpindah dari satu wilayah ke wilayah lain.
Penelitian mengenai Banten bahkan menunjukkan bahwa Kesultanan Banten pernah menjadi salah satu simpul penting jaringan keilmuan Islam di Asia Tenggara. Para penguasa Banten diketahui memberikan ruang dan dukungan kepada ulama serta cendekiawan dari berbagai kawasan untuk mengembangkan kegiatan keilmuan di Banten.
Dengan kata lain, Banten pada masa itu bukan hanya tempat orang belajar agama.
Banten menjadi tempat bertemunya jaringan keilmuan.
Dari Masjid ke Majelis Ilmu
Salah satu bukti menarik dapat dilihat dari keberadaan Masjid Kasunyatan.
Masjid yang berkembang pada masa Kesultanan Banten tersebut tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah.
Pemerintah Provinsi Banten mencatat bahwa Masjid Kasunyatan pernah menjadi pusat penyebaran dan pendidikan Islam serta tempat berkumpulnya para alim ulama.
Penelitian dan penelusuran sejarah lokal bahkan menggambarkan kawasan Kasunyatan sebagai salah satu pusat pendidikan Islam pada masa Kesultanan Banten.
Para pelajar dari berbagai daerah datang dan tinggal di sekitar pusat kegiatan keilmuan tersebut.
Sejarawan Banten Yadi Ahyadi, sebagaimana dikutip NU Online Banten, bahkan menggambarkan Kasunyatan secara analogis seperti sebuah “kampus” pada masanya. Catatan tersebut juga menyebut adanya pelajar dari berbagai daerah Nusantara yang belajar di kawasan tersebut.
Di sinilah kita mulai melihat akar dari tradisi yang kelak begitu kuat di Banten.
Masjid bukan hanya tempat shalat.
Ia menjadi tempat bertemu.
Tempat mengaji.
Tempat berdiskusi.
Tempat ulama bertukar pemikiran.
Dan tempat generasi muda belajar agama.
Tradisi semacam inilah yang kemudian berkembang dalam bentuk pesantren dan jaringan keulamaan yang jauh lebih luas.
Mengapa Banten Begitu Identik dengan Kiai dan Santri?
Jawabannya tidak hanya terletak pada banyaknya pesantren.
Ada faktor sejarah dan budaya yang saling berkelindan.
Di Banten, ulama secara historis mempunyai posisi penting dalam kehidupan masyarakat.
Kiai tidak hanya dikenal sebagai pengajar agama.
Dalam berbagai periode sejarah, mereka juga menjadi pemimpin masyarakat, rujukan moral, penggerak pendidikan, bahkan tokoh yang terlibat dalam dinamika sosial dan perjuangan.
Penelitian yang diterbitkan BRIN mencatat kuatnya pengaruh ulama dalam masyarakat Banten dan menyebut keberadaan banyak makam ulama yang hingga kini menjadi tempat ziarah masyarakat Muslim. Sumber yang sama juga mencatat bahwa karya Syekh Nawawi Al-Bantani diajarkan di banyak pesantren di Indonesia dan bahkan digunakan di madrasah-madrasah di negara-negara Arab.
Artinya, tradisi keulamaan Banten tidak berhenti pada lingkup desa.
Jaringan tersebut berkembang dari:
kampung → pesantren → Nusantara → Timur Tengah → dunia Islam.
Dari Tanara, Lahir Ulama yang Mendunia
Jika harus menyebut satu nama yang menggambarkan bagaimana seorang ulama Banten mampu menembus dunia Islam, nama itu hampir selalu mengarah kepada:
Syekh Nawawi Al-Bantani.
Ia lahir di wilayah Tanara, Kabupaten Serang, Banten, pada 1815.
Perjalanan keilmuannya kemudian membawanya ke Makkah.
Di sana ia bukan hanya belajar.
Ia juga mengajar.
Dan yang lebih penting, ia menghasilkan karya-karya keislaman yang kemudian dipelajari secara luas.
Sekretariat Negara mencatat bahwa Syekh Nawawi dikenal di Indonesia maupun berbagai negara, terutama di kawasan Timur Tengah, dan sejumlah karyanya masih menjadi bahan rujukan dan penelitian.
MUI juga mencatat reputasi internasional Syekh Nawawi dan banyaknya karya yang menjadi rujukan ulama.
Jejak tersebut membuat nama Tanara tidak lagi sekadar nama sebuah daerah di Banten.
Tanara menjadi bagian dari sejarah intelektual Islam Nusantara.
Kitab dari Tanara yang Menembus Dunia Islam
Yang membuat Syekh Nawawi istimewa bukan hanya perjalanan hidupnya.
Tetapi juga karya-karyanya.
Ia menulis dalam berbagai bidang keislaman, termasuk tafsir, fikih, ushul fikih, dan tasawuf.
Salah satu karya terkenalnya adalah Tafsir Marah Labid.
Ada pula Nihayatuz Zain dan Kasyifatus Saja yang kemudian dikenal luas dalam tradisi pesantren.
Kajian NU Online Banten pada 2025 mencatat bahwa karya Syekh Nawawi ditemukan dan dikenal dalam lingkungan keilmuan Al-Azhar, sementara karya-karyanya juga telah lama menjadi rujukan di pesantren Nusantara.
Di sinilah ada sesuatu yang menarik.
Banten tidak hanya menerima ilmu dari pusat-pusat Islam dunia.
Seorang ulama yang berasal dari Banten juga ikut menyumbangkan ilmu kepada dunia Islam.
Itulah salah satu alasan mengapa pembicaraan tentang Banten tidak cukup jika hanya membahas sejarah kesultanan dan peperangan.
Ada sejarah intelektual yang tidak kalah penting.
Syekh Yusuf: Ulama yang Jejaknya Melintasi Banten hingga Afrika Selatan
Nama lain yang memperlihatkan luasnya jaringan keislaman yang terhubung dengan Banten adalah Syekh Yusuf Al-Makassari.
Berbeda dengan Syekh Nawawi yang lahir di Banten, Syekh Yusuf berasal dari Sulawesi Selatan.
Namun perjalanan hidupnya kemudian mempertemukannya dengan Banten dan Sultan Ageng Tirtayasa.
Syekh Yusuf dikenal sebagai ulama sekaligus tokoh perjuangan.
Jejak kehidupannya membentang jauh melampaui satu wilayah.
Dari Sulawesi Selatan, Banten, hingga pengasingannya di Sri Lanka dan kemudian Afrika Selatan.
Pada 2026, pemerintah Indonesia bahkan memperingati 400 tahun Syekh Yusuf Al-Makassari. Menteri Kebudayaan menyebut perjalanan tokoh tersebut memiliki jejak lintas geografis, dari Banten, Batavia, Sri Lanka hingga Cape Town. Peringatan 400 tahun tersebut juga masuk dalam agenda UNESCO.
Karena itu, ketika berbicara tentang Banten sebagai tanah ulama, Syekh Yusuf menjadi salah satu contoh penting bagaimana Banten menjadi bagian dari jaringan Islam yang melampaui batas wilayah Indonesia.
Bukan Hanya Nama Besar, Tetapi Ada Tradisi yang Terus Hidup
Kesalahan yang sering terjadi ketika membahas sejarah ulama adalah hanya berhenti pada nama-nama besar.
Padahal kekuatan Banten justru terlihat dari bagaimana tradisi tersebut terus diwariskan.
Setelah generasi ulama besar berlalu, muncul kembali kiai dan pesantren baru.
Salah satu nama yang juga dikenal dalam sejarah keulamaan Banten adalah Syekh Asnawi Caringin.
Pemerintah Provinsi Banten pada 2025 menyebut sejumlah ulama besar yang memiliki hubungan dengan tradisi pendidikan pesantren Banten, antara lain Syekh Nawawi Al-Bantani, Syekh Asnawi Caringin, Syekh Mansyur, Syekh Abdul Karim, dan Syekh Dimyati.
Nama-nama tersebut menunjukkan bahwa fenomena keulamaan Banten tidak hanya dibangun oleh satu generasi.
Ada kesinambungan.
Dari guru kepada murid.
Dari pesantren kepada pesantren.
Dari kitab kepada kitab.
Dan dari satu generasi santri kepada generasi berikutnya.
“Sejuta Santri” Bukan Sekadar Angka
Lalu, apakah benar Banten memiliki satu juta santri?
Di sinilah istilah tersebut perlu dipahami dengan hati-hati.
“Sejuta santri” lebih tepat dipahami sebagai ungkapan identitas sosial dan keagamaan, bukan angka sensus yang harus dibaca secara literal.
Jumlah pesantren dan santri berubah sesuai tahun pendataan, definisi, serta sistem administrasi yang digunakan.
Sebagai gambaran, Pemerintah Provinsi Banten pada Agustus 2025 menyebut data Kementerian Agama mencatat 6.290 pesantren dan 483.386 santri di Banten.
Sementara data EMIS Kementerian Agama yang dikutip dalam publikasi lain untuk tahun ajaran 2025/2026 mencatat jumlah pesantren Banten mencapai 6.776. Perbedaan angka tersebut menunjukkan pentingnya menyebut tahun dan basis data ketika membicarakan jumlah pesantren.
Jadi, “sejuta santri” bukan berarti harus ada tepat satu juta santri yang terdaftar dalam satu tabel.
Ungkapan itu menggambarkan besarnya ekosistem pesantren dan kehidupan keagamaan Banten.
“Seribu Kiai” Juga Menggambarkan Tradisi Keulamaan
Begitu pula dengan istilah “seribu kiai”.
Tidak ada alasan untuk memahami angka seribu sebagai jumlah resmi seluruh kiai di Banten.
Sebutan itu lebih merupakan gambaran tentang betapa dekatnya masyarakat Banten dengan tokoh agama.
Dalam sebuah wawancara yang dimuat NU Online, Abuya Muhtadi menyebut Banten sebagai daerah “seribu kiai dan sejuta santri” dan menggambarkan keberadaan pesantren yang tersebar hingga tingkat desa.
Ini menunjukkan bahwa istilah tersebut telah hidup dalam percakapan sosial masyarakat Banten.
Bukan sekadar slogan pemerintah.
Ia menjadi bagian dari cara masyarakat menggambarkan identitas daerahnya.
Mengapa Tradisi Ini Bisa Bertahan?
Salah satu jawabannya adalah pesantren.
Pesantren memiliki kemampuan untuk mempertahankan pengetahuan melalui hubungan guru dan murid.
Ilmu tidak hanya ditulis.
Ia diajarkan.
Dipraktikkan.
Dihidupkan dalam keseharian.
Kemudian diwariskan.
Karena itu, seorang santri yang belajar kepada seorang kiai tidak hanya membawa pulang isi kitab.
Ia juga membawa cara membaca kitab, adab belajar, tradisi keilmuan, dan nilai-nilai kehidupan yang diajarkan gurunya.
Ketika santri tersebut kemudian mendirikan pesantren atau majelis sendiri, rantai itu berlanjut.
Begitu seterusnya.
Itulah yang membuat tradisi pesantren mampu bertahan lintas generasi.
Banten, Antara Sejarah dan Masa Kini
Hari ini Banten tentu sudah berubah.
Kawasan industri berkembang.
Kota-kota tumbuh.
Bandara, jalan tol, pusat perdagangan, dan kawasan permukiman modern mengubah wajah daerah.
Namun di tengah perubahan itu, pesantren tetap menjadi bagian penting dari kehidupan Banten.
Pemerintah Provinsi Banten sendiri masih menempatkan pesantren sebagai bagian penting dalam pendidikan keagamaan dan pembangunan sumber daya manusia.
Bahkan pada 2026, berbagai kegiatan akademik di UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten kembali mengangkat Syekh Nawawi Al-Bantani dengan tema “Jejak Lokal dan Dampak Global”.
Ini menunjukkan bahwa warisan keulamaan Banten bukan hanya sesuatu yang dikenang dalam haul dan ziarah.
Warisan tersebut juga terus dikaji secara akademik.
Banten Bukan Sekadar “Kota Santri”
Jika seluruh perjalanan tersebut dirangkai, kita akan menemukan gambaran yang lebih besar.
Banten bukan hanya daerah yang memiliki banyak pesantren.
Banten memiliki sejarah sebagai ruang pertemuan antara kekuasaan, perdagangan, dakwah, pendidikan, dan jaringan ulama.
Dari Banten Lama, berkembang pusat-pusat pendidikan Islam.
Dari masjid dan majelis ilmu, lahir tradisi belajar.
Dari pesantren, lahir santri.
Dari santri, lahir kembali para guru dan kiai.
Dan dari jaringan ulama Banten, lahir tokoh-tokoh yang pengaruhnya menembus batas Nusantara.
Syekh Nawawi Al-Bantani menjadi salah satu contoh paling kuat.
Dari Tanara, ilmunya menembus Makkah dan dunia Islam.
Syekh Yusuf Al-Makassari menjadi contoh lain.
Seorang ulama dari Sulawesi Selatan yang kemudian memiliki jejak sejarah sangat kuat di Banten dan bahkan meninggalkan warisan spiritual hingga Afrika Selatan.
Maka, ketika orang menyebut:
“Banten, Seribu Kiai Sejuta Santri,”
sesungguhnya yang sedang dibicarakan bukan hanya jumlah.
Yang sedang dibicarakan adalah sebuah tradisi.
Tradisi menghormati ilmu.
Tradisi berguru.
Tradisi pesantren.
Tradisi menghidupkan masjid dan majelis.
Dan tradisi melahirkan ulama dari generasi ke generasi.
Catatan Redaksi
Istilah “Seribu Kiai, Sejuta Santri” dalam artikel ini diposisikan sebagai sebutan atau ungkapan yang menggambarkan kuatnya tradisi keulamaan dan pesantren di Banten, bukan sebagai angka sensus literal.
Data jumlah pesantren dan santri dapat berubah berdasarkan tahun pendataan dan basis data yang digunakan. Karena itu, angka yang disebutkan dalam artikel selalu dikaitkan dengan periode atau sumbernya.
Penyebutan Syekh Nawawi Al-Bantani sebagai ulama yang memiliki pengaruh internasional didukung oleh berbagai sumber, termasuk Sekretariat Negara, MUI, BRIN, UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten, dan kajian NU Online.
Sementara pembahasan mengenai Banten sebagai salah satu simpul jaringan keilmuan Islam Asia Tenggara didukung oleh kajian NU Online yang merujuk pada penelitian dan manuskrip sejarah Banten.
Referensi Utama
- Pemerintah Provinsi Banten — data dan kebijakan terkait pesantren serta pendidikan keagamaan.
- Kementerian Agama — data pendidikan pesantren/EMIS.
- Sekretariat Negara RI — profil dan kiprah Syekh Nawawi Al-Bantani.
- BRIN — kajian mengenai ulama dan masyarakat Banten serta kiprah Syekh Nawawi Al-Bantani.
- UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten — kajian akademik mengenai Syekh Nawawi Al-Bantani.
- NU Online — sejarah Banten sebagai pusat studi Islam dan jaringan keilmuan.
- NU Online Banten — sejarah pendidikan Islam Kasunyatan dan Syekh Nawawi Al-Bantani.
- ANTARA Banten — kiprah dan warisan Syekh Yusuf Al-Makassari.










