Beranda / News / Api Tak Kunjung Padam! Kenapa Kebakaran Hutan Kalimantan 2026 Begitu Sulit Diatasi?

Api Tak Kunjung Padam! Kenapa Kebakaran Hutan Kalimantan 2026 Begitu Sulit Diatasi?

Kebakaran hutan kalimantan - photo by eksotikkalimantan

SPILL Banten — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan sepanjang 2026 menjadi persoalan yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan menyiram api dari udara atau mengerahkan petugas ke lokasi kebakaran. Di balik upaya pemadaman, ada persoalan lahan yang mengering, api yang dapat menjalar di bawah permukaan tanah, akses menuju titik kebakaran, hingga cuaca yang membuat api mudah bertahan.

Situasi ini masih menjadi perhatian pemerintah memasuki Oktober 2026. Dalam laporan pada 12 Oktober, pemerintah menyebut kebakaran baru seluas sekitar 513,89 hektare di kawasan Taman Nasional Tanjung Puting, Kabupaten Kotawaringin Barat dan Seruyan, Kalimantan Tengah. Penanganan dilakukan dengan penambahan personel dan peralatan di lapangan.

Temuan tersebut memperlihatkan bahwa tantangan karhutla bukan hanya memadamkan api yang sudah terlihat, tetapi juga mencegah kebakaran meluas dan memastikan bara tidak kembali menyala.

Lalu, mengapa kebakaran hutan di Kalimantan begitu sulit diatasi? Apa saja faktor yang membuat pemadaman memakan waktu, dan bagaimana dampaknya terhadap masyarakat?

1. Musim Kemarau dan El Niño Membuat Lahan Lebih Mudah Terbakar

Salah satu faktor penting adalah kondisi cuaca yang relatif kering sepanjang periode puncak kemarau 2026.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan bahwa kombinasi musim kemarau dan pengaruh El Niño memperbesar risiko kekeringan serta kebakaran hutan dan lahan. Dalam pemantauan pada September 2026, BMKG juga mencatat tingginya konsentrasi titik panas di Kalimantan.

Pada 13 September, misalnya, terdeteksi 627 titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi di Kalimantan berdasarkan pemantauan satelit yang dilaporkan BMKG. Angka ini merupakan hasil pengamatan pada tanggal tersebut, bukan jumlah total kebakaran sepanjang tahun.

Ketika vegetasi dan permukaan lahan mengering, api lebih mudah menyebar. Kondisi tersebut juga membuat kebakaran yang sudah terjadi lebih sulit dikendalikan, terutama ketika hujan belum cukup membasahi kawasan terdampak.

Kondisi cuaca bukan satu-satunya penyebab munculnya api. Sumber penyalaan dan kondisi lahan juga perlu ditelusuri dalam setiap kejadian. Namun, cuaca kering dapat membuat kebakaran yang awalnya terbatas berkembang menjadi persoalan yang lebih besar.

2. Api Bisa Bersembunyi di Bawah Permukaan Lahan Gambut

Salah satu tantangan terbesar dalam penanganan karhutla di sebagian wilayah Kalimantan adalah keberadaan lahan gambut.

Gambut terbentuk dari timbunan material organik yang mengalami proses penguraian dalam kondisi tertentu selama waktu yang panjang. Ketika kondisi lahan cukup basah, kandungan air membantu menekan risiko kebakaran. Sebaliknya, gambut yang mengering dapat menjadi bahan bakar bagi api.

Masalahnya, kebakaran pada gambut tidak selalu terlihat seperti api yang membakar pepohonan atau semak di permukaan.

Api dapat menjalar ke lapisan bawah tanah, menghasilkan bara dan asap meskipun kobaran di permukaan sudah tidak terlihat. Akibatnya, petugas harus memastikan bagian yang terbakar benar-benar padam, bukan sekadar terlihat aman dari atas.

BMKG secara khusus mengingatkan bahwa kebakaran gambut bisa bertahan lebih lama karena api dapat menjalar di bawah permukaan tanah. Kondisi tersebut membuat deteksi titik api dan proses pemadaman menjadi lebih rumit.

Inilah salah satu alasan mengapa pemadaman tidak selalu selesai dalam satu operasi. Setelah api permukaan berhasil dikendalikan, petugas masih perlu melakukan pembasahan dan pendinginan untuk mencegah bara kembali menyala.

Perlu dicatat, tidak semua kebakaran di Kalimantan merupakan kebakaran gambut. Pemerintah juga melaporkan kejadian di kawasan Taman Nasional Tanjung Puting pada Oktober 2026 yang disebut terjadi di lahan mineral. Artinya, strategi pemadaman harus menyesuaikan karakteristik lokasi, bukan menggunakan satu pendekatan untuk semua kebakaran.

Buat kamu  Tak Cuma Bikin Sesak, Asap Karhutla Mengandung Partikel Halus yang Bisa Masuk ke Aliran Darah

3. Lokasi Kebakaran dan Keterbatasan Air Menyulitkan Petugas

Api yang terlihat dari kejauhan belum tentu mudah dijangkau.

Pada kawasan hutan yang luas, lokasi kebakaran bisa berada jauh dari jalan, permukiman, atau sumber air yang dapat digunakan untuk pemadaman. Kondisi ini menyulitkan petugas membawa personel, pompa, selang, kendaraan, dan perlengkapan lain ke titik api.

Dalam laporan penanganan karhutla pada September 2026, BNPB menyebut sejumlah kendala di lapangan, termasuk keterbatasan akses dan sumber air, kebakaran pada lahan gambut, angin kencang, serta kabut asap yang menurunkan jarak pandang.

Petugas perlu mengatur strategi berdasarkan kondisi tersebut. Selain pemadaman langsung, upaya yang dilakukan meliputi penyekatan titik api, pembasahan dan pendinginan lahan, penggunaan tangki air portabel, serta pemanfaatan sumber air alternatif.

Ketika lokasi sulit dijangkau, waktu menjadi faktor penting. Api yang belum segera ditangani berpotensi meluas, sementara petugas harus bekerja untuk membatasi penyebaran sekaligus memastikan area yang sudah dipadamkan tidak kembali terbakar.

4. Angin dan Kabut Asap Bisa Menghambat Operasi Pemadaman

Kebakaran hutan tidak hanya menghasilkan api, tetapi juga asap yang dapat memengaruhi operasi penanganannya.

Angin dapat membantu membawa asap ke wilayah lain sekaligus membuat kondisi kebakaran lebih sulit diprediksi. Sementara itu, kabut asap yang tebal dapat mengurangi jarak pandang dan membatasi pelaksanaan patroli udara maupun pengeboman air menggunakan pesawat.

BNPB menyebut faktor-faktor tersebut sebagai kendala nyata dalam penanganan karhutla di sejumlah wilayah Kalimantan pada September 2026. Operasi pengeboman air perlu mempertimbangkan kondisi jarak pandang dan keselamatan penerbangan.

Artinya, meskipun dukungan pesawat tersedia, operasi udara tidak selalu dapat dilakukan secara optimal setiap saat. Pemadaman tetap membutuhkan koordinasi antara petugas darat, tim udara, pemantauan titik api, dan pengelolaan sumber air.

5. Mengapa Hujan Tidak Langsung Menyelesaikan Masalah?

Hujan memang dapat membantu menekan kebakaran. Namun, dampaknya bergantung pada intensitas, durasi, dan lokasi turunnya hujan.

Hujan yang hanya membasahi permukaan belum tentu cukup untuk mengembalikan kelembapan seluruh lapisan gambut yang sudah mengering. Jika masih terdapat bagian lahan yang menyimpan bara, kebakaran berpotensi muncul kembali ketika kondisi kembali kering.

Karena itu, penanganan karhutla tidak hanya bergantung pada datangnya hujan. Pembasahan lahan, pemantauan titik panas, patroli, serta pemeriksaan dan pendinginan lokasi yang telah terbakar tetap diperlukan.

BMKG pada September 2026 melaporkan pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca di Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah untuk membantu meningkatkan peluang hujan di wilayah prioritas. Operasi ini merupakan salah satu bentuk dukungan terhadap upaya pengendalian karhutla, bukan jaminan bahwa seluruh kebakaran langsung padam.

6. Apa Dampak Kebakaran terhadap Kehidupan Masyarakat?

Ketika kebakaran berlangsung lama dan menghasilkan asap, dampaknya tidak berhenti di kawasan hutan. Masyarakat yang tinggal di sekitar lokasi maupun wilayah yang dilalui asap dapat ikut merasakan akibatnya.

Kualitas udara memburuk dan kesehatan terganggu

Asap kebakaran mengandung partikel dan berbagai polutan yang dapat mengganggu kesehatan. Paparan asap dapat memicu iritasi mata dan tenggorokan, batuk, serta memperburuk gangguan pernapasan, terutama pada anak-anak, lansia, dan orang yang memiliki penyakit pernapasan atau jantung.

BMKG mengingatkan bahwa sebaran asap karhutla dapat memengaruhi kualitas udara, kesehatan masyarakat, serta jarak pandang. Dalam pemantauan September 2026, asap terdeteksi di sejumlah wilayah Kalimantan dan wilayah Indonesia lainnya.

Dampaknya terhadap setiap orang dapat berbeda, bergantung pada tingkat polusi, lama paparan, kondisi kesehatan, dan usia. Karena itu, kondisi kualitas udara setempat perlu menjadi perhatian, terutama ketika asap terlihat atau tercium semakin pekat.

Aktivitas sekolah dan pekerjaan dapat terganggu

Ketika kualitas udara memburuk, kegiatan luar ruangan bisa menjadi tidak nyaman dan berisiko bagi kelompok rentan.

Sekolah, pekerja lapangan, pedagang, pengemudi, dan masyarakat yang harus beraktivitas di luar ruangan dapat menghadapi kondisi yang lebih sulit. Apabila jarak pandang menurun, perjalanan darat, sungai, maupun penerbangan juga berpotensi terdampak sesuai kondisi setempat.

Buat kamu  Siapa di Balik Karhutla Kalimantan 2026? Kenali Tanda Pembakaran yang Perlu Diusut

Dampak tersebut tidak otomatis terjadi dengan tingkat yang sama di seluruh Kalimantan. Besarnya gangguan bergantung pada lokasi kebakaran, arah angin, konsentrasi asap, dan durasi kejadian.

Penghidupan warga dan kegiatan ekonomi terancam

Karhutla berpotensi mengganggu kegiatan masyarakat yang bergantung pada lingkungan sekitar, termasuk pertanian, perkebunan, perikanan, perdagangan, dan jasa transportasi.

Kebakaran yang meluas juga dapat merusak vegetasi, habitat satwa, serta sumber daya alam yang menopang penghidupan masyarakat. Ketika akses terganggu atau kegiatan luar ruangan harus dibatasi akibat asap, pendapatan sebagian warga juga dapat terpengaruh.

Besarnya kerugian ekonomi perlu dihitung berdasarkan data kerusakan dan kondisi masing-masing daerah. Tanpa data tersebut, tidak tepat menetapkan angka kerugian secara menyeluruh hanya berdasarkan luas lahan terbakar.

Hutan dan keanekaragaman hayati ikut terancam

Hutan Kalimantan merupakan habitat bagi beragam satwa dan tumbuhan. Kebakaran dapat menghilangkan vegetasi, merusak tempat berlindung, dan mengganggu sumber makanan satwa.

Risiko ini menjadi perhatian khusus ketika kebakaran terjadi di kawasan konservasi, seperti Taman Nasional Tanjung Puting yang dilaporkan mengalami kebakaran pada Oktober 2026.

Namun, luas area yang terbakar tidak selalu sama dengan luas habitat yang rusak berat. Penilaian dampak ekologis membutuhkan pemeriksaan lapangan dan data mengenai vegetasi, satwa, serta tingkat kerusakan kawasan.

7. Apa yang Dilakukan Pemerintah untuk Mengatasinya?

Penanganan karhutla membutuhkan kombinasi operasi darat, dukungan udara, pemantauan, serta pencegahan agar kebakaran tidak terus berulang.

Dalam laporan 29 September 2026, BNPB menyampaikan bahwa penanganan dilakukan melalui operasi darat dan udara, termasuk patroli, pengeboman air, Operasi Modifikasi Cuaca, penyekatan titik api, serta pembasahan dan pendinginan lahan.

Pemerintah juga menyebut pemanfaatan drone termal dan metode injeksi air atau surfaktan untuk membantu mendeteksi serta menangani api di bawah permukaan. Pendekatan tersebut ditujukan untuk menghadapi kondisi kebakaran yang tidak selalu dapat dikenali hanya melalui pengamatan visual.

Namun, keberhasilan jangka panjang tidak cukup diukur dari berapa banyak titik api yang berhasil dipadamkan dalam sehari.

Pencegahan perlu dilakukan sebelum kebakaran membesar, antara lain melalui pemantauan titik panas, pengelolaan kelembapan lahan gambut, kesiapan sumber air, pengawasan kawasan rawan, serta penegakan aturan terhadap pembakaran yang melanggar hukum.

Penyebab setiap kebakaran juga perlu diselidiki berdasarkan bukti. Kondisi cuaca yang kering dapat memperbesar risiko dan memperburuk kebakaran, tetapi tidak dengan sendirinya membuktikan siapa atau apa yang menyalakan api pada lokasi tertentu.

8. Apa yang Bisa Dilakukan Masyarakat?

Masyarakat dapat ikut mengurangi risiko dengan tidak membakar sampah atau membuka lahan menggunakan api, tidak meninggalkan sumber api tanpa pengawasan, dan segera melaporkan titik kebakaran kepada petugas berwenang.

Jika asap mulai mengganggu, masyarakat sebaiknya memantau informasi kualitas udara dan arahan pemerintah setempat. Kurangi aktivitas luar ruangan ketika kondisi udara memburuk, terutama bagi anak-anak dan kelompok rentan. Masker yang sesuai dapat membantu mengurangi paparan partikel, tetapi bukan pengganti udara bersih atau perlindungan penuh dari asap.

Informasi mengenai kondisi cuaca, titik panas, dan penanganan karhutla dapat dipantau melalui kanal resmi BMKG, BNPB, BPBD, serta instansi kehutanan dan lingkungan hidup.

Kesimpulan: Memadamkan Api Saja Tidak Cukup

Kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan sulit diatasi karena berbagai kendala dapat terjadi secara bersamaan: cuaca kering yang membuat vegetasi mudah terbakar, api yang dapat menjalar di bawah permukaan gambut, keterbatasan akses dan air, serta angin dan asap yang menghambat pemadaman.

Dampaknya juga melampaui kerusakan hutan. Kualitas udara, kesehatan, aktivitas pendidikan dan pekerjaan, kegiatan ekonomi, serta habitat satwa dapat ikut terancam.

Karena itu, penanganan karhutla membutuhkan dua langkah yang berjalan bersamaan: memadamkan kebakaran yang sedang berlangsung dan mengurangi risiko agar kejadian serupa tidak terus berulang.

Bagi masyarakat Kalimantan, persoalan ini bukan hanya tentang api yang terlihat di kejauhan. Ini juga tentang udara yang dihirup, lingkungan tempat tinggal, dan keberlanjutan penghidupan.

Semakin cepat kebakaran terdeteksi, semakin tepat penanganannya, dan semakin kuat upaya pencegahannya, semakin besar peluang untuk membatasi dampak karhutla terhadap manusia dan lingkungan.

Referensi utama :

  1. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) — Perkembangan penanganan karhutla di enam provinsi prioritas, 29 September 2026.

  2. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) — Atmosfer kering, karhutla dan asap meluas, 14 September 2026.

  3. Sekretariat Negara — Pengantar Presiden dalam rapat penanganan karhutla, 12 Oktober 2026.
Tag:
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted