SPILL Banten — Ada ulama yang melawan kolonialisme dengan pendidikan.
Ada yang membangun pesantren.
Ada yang memilih jalan diplomasi.
Dan ada pula yang akhirnya turun langsung dalam gerakan perlawanan.
Syekh Mohammad Arsyad Thawil al-Bantani berada di antara semuanya.
Lahir di Tanara, Banten, pada 1851, ia tumbuh dalam lingkungan ulama dan kemudian pergi ke Makkah untuk memperdalam ilmu agama. Di Tanah Suci, ia belajar kepada sejumlah ulama besar, termasuk Syekh Nawawi al-Bantani.
Namun perjalanan hidupnya kemudian membawanya kembali ke Banten.
Di tanah kelahirannya, ia berhadapan dengan kondisi masyarakat yang berada di bawah tekanan kolonial Belanda.
Dan pada 1888, namanya masuk dalam sejarah Geger Cilegon, salah satu perlawanan besar masyarakat Banten terhadap kolonialisme Belanda.
Setelah perlawanan dipatahkan, Arsyad Thawil ditangkap dan dibuang jauh dari Banten.
Tujuan pengasingannya adalah Manado, Sulawesi Utara.
Tetapi pengasingan ternyata tidak menghentikan perjuangannya.
Di tanah rantau, ia kembali menjadi guru.
Kembali menjadi ulama.
Dan kembali membangun hubungan dengan masyarakat.
Anak Tanara dari Lingkungan Ulama
Syekh Mohammad Arsyad Thawil al-Bantani berasal dari Tanara, Banten.
Artikel penelitian yang diterbitkan dalam Al-Qalam menyebut ia lahir pada 1851 dan wafat di Lawangirung, Manado, pada 1934.
Ia tumbuh dalam keluarga yang memiliki tradisi keulamaan.
Nama “Thawil” sendiri kemudian menjadi bagian penting dari identitasnya.
Dalam sejumlah sumber biografis, nama tersebut dikaitkan dengan perbedaan fisik dirinya dengan seorang ulama lain bernama Arsyad Qashir—thawil berarti panjang, sedangkan qashir berarti pendek.
Namun yang membuat nama Arsyad Thawil dikenang bukanlah persoalan nama tersebut.
Yang membuatnya penting adalah perjalanan hidupnya.
Ia tumbuh sebagai seorang santri.
Menjadi pelajar di Makkah.
Kemudian menjadi ulama.
Dan akhirnya menjadi salah satu tokoh perlawanan Banten.
Berangkat ke Makkah
Seperti banyak ulama Nusantara pada abad ke-19, Arsyad Thawil menempuh perjalanan intelektual ke Makkah.
Sumber akademik mencatat ia berada di Makkah sekitar 1868–1873. Di sana ia belajar kepada tiga ulama yang disebut secara khusus, yaitu Syekh Abdul Gani Bima, Syekh Ahmad Zaini Dahlan, dan Syekh Nawawi al-Bantani.
Makkah pada masa itu bukan hanya pusat ibadah.
Kota tersebut juga menjadi pusat pertemuan pelajar Muslim dari berbagai wilayah.
Pelajar dari Jawa.
Banten.
Sumatra.
Sulawesi.
Dan wilayah Nusantara lainnya.
Mereka bertemu dengan ulama dari berbagai penjuru dunia Islam.
Dari lingkungan seperti itulah wawasan keagamaan dan sosial Arsyad Thawil berkembang.
Berguru kepada Syekh Nawawi al-Bantani
Hubungan Arsyad Thawil dengan Syekh Nawawi al-Bantani memiliki arti penting dalam sejarah intelektual Banten.
Syekh Nawawi sendiri berasal dari Tanara.
Ia telah lebih dahulu membangun reputasi sebagai ulama besar di Makkah.
Arsyad Thawil kemudian menjadi salah satu muridnya. Penelitian mengenai perjuangan Syekh Nawawi juga memasukkan KH Mas Muhammad Arsyad Thawil sebagai salah satu murid yang kemudian menjadi penggerak perlawanan di Banten.
Di sini terlihat sebuah pola yang menarik.
Ilmu berpindah dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Nawawi belajar dan mengajar.
Murid-muridnya belajar.
Mereka kembali ke Nusantara.
Dan sebagian dari mereka kemudian terlibat dalam dinamika sosial-politik di tanah kelahirannya.
Arsyad Thawil menjadi salah satu contoh paling jelas.
Kembali ke Banten
Setelah masa belajar di Makkah, Arsyad Thawil kembali ke Banten.
Kepulangannya berlangsung ketika masyarakat Banten menghadapi kondisi sosial yang berat.
Pemerintah kolonial Belanda telah membangun sistem birokrasi yang semakin kuat.
Pajak dan berbagai kewajiban diberlakukan kepada masyarakat.
Perubahan sistem pemerintahan mengurangi peran struktur tradisional yang sebelumnya menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Banten.
Sementara itu, jaringan ulama, pesantren, haji, dan tarekat semakin berkembang.
Kondisi tersebut menciptakan ketegangan antara masyarakat dan pemerintahan kolonial. Penelitian tentang Arsyad Thawil menempatkan faktor sosial, ekonomi, birokrasi kolonial, serta perkembangan jaringan keagamaan sebagai bagian dari konteks yang melatarbelakangi perlawanan Banten 1888.
Banten Setelah Krakatau
Situasi masyarakat semakin berat setelah letusan Krakatau 1883.
Bencana tersebut menghancurkan wilayah pesisir Banten dan menyebabkan korban jiwa dalam jumlah sangat besar.
Belum sepenuhnya pulih dari bencana, masyarakat kembali menghadapi persoalan ekonomi dan sosial.
Kemudian muncul wabah penyakit pada hewan dan berbagai kesulitan lainnya.
Dalam kondisi tersebut, ketidakpuasan terhadap pemerintah kolonial semakin berkembang.
Perlawanan kemudian tidak hanya menjadi persoalan ekonomi.
Ia mendapatkan energi dari jaringan keagamaan.
Para ulama.
Para haji.
Para guru tarekat.
Dan masyarakat pedesaan.
Semua bertemu dalam situasi yang semakin tegang.
Ketika Perlawanan Mulai Bergerak
Pada 1888, Banten memasuki salah satu episode paling penting dalam sejarah perlawanannya.
Peristiwa itu kemudian dikenal sebagai Geger Cilegon.
Perlawanan berlangsung pada 9–13 Juli 1888 dan melibatkan sejumlah ulama serta masyarakat Banten. Penelitian akademik mengenai Arsyad Thawil secara eksplisit menyebut keterlibatannya dalam pemberontakan petani Banten tersebut.
Arsyad Thawil berada di antara tokoh agama yang ikut menggerakkan perlawanan.
Namanya kemudian disejajarkan dengan tokoh-tokoh seperti Ki Wasyid dan ulama lainnya yang memainkan peran dalam gerakan tersebut.
Ini bukan lagi perlawanan melalui kitab.
Bukan sekadar pengajian.
Bukan sekadar pendidikan.
Ini sudah menjadi perlawanan terbuka terhadap kekuasaan kolonial.
Geger Cilegon 1888
Geger Cilegon merupakan perlawanan yang memiliki latar belakang kompleks.
Tidak tepat jika hanya menjelaskannya sebagai persoalan agama.
Ada persoalan ekonomi.
Ada tekanan birokrasi.
Ada ketidakpuasan terhadap kebijakan kolonial.
Ada perubahan tatanan sosial.
Dan ada jaringan keagamaan yang menjadi sarana mobilisasi masyarakat.
Penelitian sejarah mengenai pemberontakan Banten menunjukkan bahwa gerakan tersebut merupakan pertemuan antara persoalan sosial-ekonomi dan mobilisasi keagamaan.
Dalam situasi itulah ulama seperti Arsyad Thawil memiliki posisi penting.
Mereka bukan hanya guru agama.
Mereka adalah tokoh yang dipercaya masyarakat.
Ketika mereka berbicara, masyarakat mendengarkan.
Ketika mereka bergerak, jaringan pengikut ikut bergerak.
Perlawanan yang Harus Dibayar Mahal
Perlawanan terhadap Belanda akhirnya berhasil dipatahkan.
Pemerintah kolonial melakukan penangkapan terhadap tokoh-tokoh yang dianggap terlibat.
Arsyad Thawil termasuk di antara mereka.
Ia kemudian dijatuhi hukuman pengasingan.
Bukan sekadar dipenjara di Banten.
Ia dibuang jauh ke Manado, Sulawesi Utara. Artikel Al-Qalam mencatat bahwa setelah terlibat dalam perlawanan 1888, Arsyad Thawil diasingkan ke Airmadidi, Minahasa.
Pengasingan seperti ini merupakan salah satu cara pemerintah kolonial memutus hubungan seorang tokoh dengan basis sosialnya.
Seorang ulama yang berpengaruh di Banten akan kehilangan akses langsung kepada masyarakatnya.
Pesantren dan muridnya ditinggalkan.
Keluarga ditinggalkan.
Tanah kelahiran ditinggalkan.
Tetapi ada sesuatu yang tidak bisa begitu saja dibuang:
ilmunya.
Dari Banten ke Manado
Manado menjadi babak baru dalam kehidupan Arsyad Thawil.
Ia datang bukan sebagai tokoh yang bebas memilih tempat tinggal.
Ia datang sebagai orang buangan.
Namun sejarah kemudian memperlihatkan sesuatu yang menarik.
Pengasingan justru mempertemukannya dengan masyarakat yang berbeda.
Di Minahasa, Arsyad Thawil kembali menjalankan peran sebagai ulama.
Ia berdakwah.
Mengajar.
Dan membangun hubungan dengan masyarakat setempat.
Penelitian Al-Qalam secara khusus membahas perjumpaan Arsyad Thawil dengan komunitas Kristen Minahasa.
Artinya, cerita Arsyad Thawil tidak berhenti pada konflik antara Islam dan kolonialisme.
Di tempat pengasingan, ia justru memasuki ruang sosial yang jauh lebih kompleks.
Ulama Banten di Tengah Masyarakat Kristen
Manado memiliki karakter sosial dan keagamaan yang berbeda dengan Banten.
Di sana, Arsyad Thawil bertemu dengan masyarakat Kristen Minahasa.
Namun keberadaannya sebagai ulama tidak membuatnya terputus dari masyarakat.
Ia justru membangun hubungan sosial dengan lingkungan sekitar.
Penelitian akademik mengenai dirinya menunjukkan adanya hubungan antara dakwah Arsyad Thawil dengan masyarakat Minahasa serta dukungan dari Kapiten Tan Tjin Bie, seorang tokoh Tionghoa di wilayah tersebut.
Ini bagian yang menarik.
Seorang ulama Banten yang dibuang karena perlawanan terhadap Belanda akhirnya membangun kehidupan baru di tempat yang secara agama dan budaya sangat berbeda.
Ia tidak hanya bertahan.
Ia beradaptasi.
Bertemu dengan Kapiten Tan Tjin Bie
Hubungan Arsyad Thawil dengan Kapiten Tan Tjin Bie menjadi salah satu bagian unik dalam kisah hidupnya.
Menurut penelitian Al-Qalam, dakwah Arsyad Thawil di Airmadidi mendapat dukungan dari Tan Tjin Bie. Penelitian tersebut melihat hubungan ini sebagai contoh perjumpaan antara Islam, komunitas Tionghoa, dan masyarakat lokal melalui jaringan sosial dan perdagangan.
Ini memperlihatkan bahwa kehidupan sosial di Hindia Belanda tidak sesederhana pembagian kelompok berdasarkan agama atau etnis.
Di tengah struktur kolonial yang kompleks, hubungan antarkelompok tetap dapat terbentuk.
Dan Arsyad Thawil menjadi salah satu tokoh yang berada di dalam perjumpaan tersebut.
Dari Pejuang Menjadi Guru di Tanah Rantau
Di Banten, ia dikenal sebagai ulama yang ikut dalam perlawanan.
Di Manado, ia dikenal sebagai ulama yang mengajar.
Dua identitas tersebut sebenarnya tidak bertentangan.
Justru saling melengkapi.
Perlawanan menunjukkan keberaniannya.
Dakwah menunjukkan keteguhannya.
Pengasingan menunjukkan konsekuensi yang harus ia tanggung.
Dan kehidupan di Manado menunjukkan kemampuannya untuk tetap memberi manfaat meskipun jauh dari tanah kelahiran.
Belanda bisa memindahkan tubuhnya. Tetapi tidak bisa memindahkan ilmu dari kepalanya.
Tidak Berhenti Setelah Diasingkan
Banyak tokoh yang ketika dibuang dari tanah kelahirannya kehilangan pengaruh.
Arsyad Thawil justru menunjukkan hal berbeda.
Ia terus berdakwah.
Terus mengajar.
Dan tetap memiliki hubungan dengan masyarakat.
Sumber-sumber mengenai biografinya juga mencatat bahwa ia beberapa kali berusaha untuk kembali ke Makkah atau Banten, tetapi tidak berhasil.
Akhirnya, sebagian besar sisa hidupnya dihabiskan di Sulawesi Utara.
Banten tetap menjadi tanah asalnya.
Tetapi Manado menjadi tempat ia meninggalkan warisan berikutnya.
Perjumpaan yang Tidak Terduga
Kisah Arsyad Thawil menunjukkan bahwa sejarah tidak selalu berjalan sesuai rencana.
Ia berangkat dari Banten untuk belajar.
Kembali sebagai ulama.
Terlibat dalam perlawanan.
Kemudian ditangkap.
Dibuang ke Manado.
Dan akhirnya justru menjadi bagian dari sejarah keislaman di Sulawesi Utara.
Jika ia tidak terlibat dalam perlawanan 1888, mungkin jalan hidupnya akan berbeda.
Tetapi sejarah memilih jalannya sendiri.
Pengasingan yang dimaksudkan untuk memutus pengaruhnya justru memperluas wilayah dakwahnya.
Dari Geger Cilegon ke Manado
Ada garis merah yang jelas dalam perjalanan Arsyad Thawil.
Ilmu membentuk dirinya.
Banten membentuk identitasnya.
Geger Cilegon menguji keberaniannya.
Pengasingan menguji keteguhannya.
Manado memperlihatkan kemampuannya beradaptasi.
Karena itu, kisahnya tidak hanya tentang perang melawan Belanda.
Lebih luas dari itu, ini adalah cerita tentang bagaimana seorang ulama menghadapi perubahan hidup yang ekstrem tanpa kehilangan identitas dan perannya sebagai pendidik.
Perlawanan Bukan Hanya Soal Menang atau Kalah
Dalam sejarah, Geger Cilegon berakhir dengan kekalahan para pejuang Banten.
Belanda berhasil mematahkan perlawanan.
Banyak tokoh ditangkap.
Sebagian dihukum.
Sebagian diasingkan.
Jika dilihat hanya dari hasil militer, perlawanan itu gagal.
Tetapi sejarah tidak hanya mencatat siapa yang menang dalam sebuah pertempuran.
Ia juga mencatat mengapa masyarakat memilih melawan.
Dan siapa yang bersedia menanggung akibatnya.
Arsyad Thawil termasuk di dalam kelompok tersebut.
Ia tahu bahwa melawan kekuasaan kolonial memiliki konsekuensi.
Dan konsekuensi itu akhirnya datang dalam bentuk pengasingan.
Warisan Ilmu yang Tidak Ikut Dibuang
Belanda dapat membuang Arsyad Thawil ke Manado.
Tetapi mereka tidak dapat membuang:
ilmunya,
pengalamannya,
jaringannya,
dan kemampuan dakwahnya.
Itulah salah satu ironi dalam sejarah pengasingan.
Pengasingan dimaksudkan untuk mengisolasi tokoh.
Tetapi seorang ulama membawa “modal” yang tidak berbentuk benda.
Pengetahuan.
Dan pengetahuan dapat berpindah ke mana saja.
Dari satu murid ke murid lain.
Dari satu kampung ke kampung lain.
Bahkan dari satu pulau ke pulau lain.
Wafat di Manado
Syekh Mohammad Arsyad Thawil al-Bantani wafat di Lawangirung, Manado, pada 1934. Keterangan tersebut tercatat dalam penelitian akademik yang diterbitkan Al-Qalam.
Ia tidak kembali untuk menghabiskan masa tua di Banten.
Tanah kelahirannya tetap jauh.
Namun namanya justru menjadi bagian dari sejarah dua wilayah:
Banten dan Manado.
Di Banten, ia dikenang karena keterlibatannya dalam perlawanan 1888.
Di Manado, ia dikenang sebagai ulama yang berdakwah dalam lingkungan masyarakat yang berbeda.
Banten yang Tidak Hilang dari Dirinya
Meskipun hidup puluhan tahun di tanah rantau, identitas al-Bantani tetap melekat.
Nama itu menunjukkan asalnya.
Dan perjalanan hidupnya menunjukkan bagaimana seorang tokoh lokal dapat menjadi bagian dari sejarah yang lebih luas.
Dari Tanara.
Ke Makkah.
Kembali ke Banten.
Kemudian ke Cilegon.
Lalu dibuang ke Minahasa.
Dan akhirnya wafat di Manado.
Sebuah perjalanan yang panjang untuk seorang manusia yang lahir di Banten pada abad ke-19.
Apa yang Bisa Dipelajari dari Arsyad Thawil?
Ada beberapa pelajaran dari kisahnya.
Pertama, ilmu tidak seharusnya berhenti pada diri sendiri.
Arsyad Thawil belajar di Makkah dan kemudian mengajarkan ilmunya kepada masyarakat.
Kedua, keberanian memiliki konsekuensi.
Ia terlibat dalam perlawanan dan harus menerima akibat berupa penangkapan serta pengasingan.
Ketiga, pengasingan tidak selalu berarti akhir dari perjuangan.
Di Manado, ia kembali berdakwah.
Dan keempat, identitas tidak harus hilang ketika seseorang berada jauh dari tanah kelahirannya.
Ia tetap dikenal sebagai ulama Banten.
Tetapi ia juga mampu menjadi bagian dari masyarakat Manado.
Syekh Arsyad Thawil dan Makna Perlawanan
Jika Syekh Nawawi al-Bantani lebih tepat dikenang sebagai pejuang intelektual, maka Arsyad Thawil menunjukkan bentuk yang lebih langsung.
Ia belajar dari jaringan ulama Banten.
Kemudian kembali.
Terlibat dalam perlawanan.
Dan menjadi salah satu tokoh yang harus membayar mahal keterlibatannya.
Namun perjalanan setelah perlawanan justru membuat kisahnya semakin menarik.
Ia tidak berhenti ketika dibuang.
Ia tidak kehilangan identitas.
Ia tidak meninggalkan dakwah.
Ia justru membangun kehidupan baru di tempat yang sangat jauh dari Banten.
Dari Tanara, Melawan di Cilegon, Berdakwah di Manado
Syekh Mohammad Arsyad Thawil al-Bantani adalah cerita tentang seorang ulama yang hidup dalam zaman penuh perubahan.
Ia lahir di Banten ketika kolonialisme menguasai tanah kelahirannya.
Ia belajar di Makkah dan berguru kepada ulama besar.
Ia kembali ke Banten membawa ilmu.
Ia kemudian terlibat dalam Geger Cilegon 1888.
Ketika perlawanan dikalahkan, ia ditangkap dan diasingkan ke Manado.
Tetapi pengasingan tidak menghapus perannya.
Ia kembali menjadi guru.
Kembali menjadi pendakwah.
Dan membangun hubungan dengan masyarakat di tanah rantau.
Pada 1934, ia wafat di Lawangirung, Manado.
Namun kisahnya tetap menghubungkan dua tempat yang berjauhan:
Banten, tempat ia dilahirkan dan berjuang.
Manado, tempat ia diasingkan dan menghabiskan sisa hidupnya.
Perjalanan itu mengajarkan satu hal yang sederhana:
seorang pejuang mungkin dapat dipindahkan dari tanah kelahirannya, tetapi perjuangannya tidak selalu ikut dipindahkan atau berakhir. Selama ilmu dan nilai yang dibawanya masih diteruskan, pengasingan tidak pernah benar-benar berhasil menghapus jejaknya.
Syekh Arsyad Thawil al-Bantani meninggalkan Banten bukan karena memilih pergi, tetapi karena dibuang. Namun di tanah pembuangan itu, ia kembali menemukan jalan pengabdian: menjadi ulama, menjadi guru, dan menjadi bagian dari masyarakat yang sama sekali berbeda.





Tinggalkan Balasan