SPILL Banten – Bagi sebagian masyarakat Banten, perjuangan melawan penjajahan tidak hanya berlangsung di medan pertempuran. Jauh sebelum senjata diangkat, ada kekuatan lain yang dibangun: kekuatan spiritual dan batiniah.
Zikir, wirid, doa, serta tradisi tarekat menjadi bagian penting dari kehidupan keagamaan masyarakat Banten. Dalam sejumlah peristiwa perlawanan terhadap kolonial Belanda, jaringan ulama dan tarekat bahkan menjadi ruang berkumpul, membangun solidaritas, sekaligus menguatkan keberanian untuk menghadapi kekuasaan kolonial.
Salah satu contoh paling jelas terlihat dalam Geger Cilegon 1888, perlawanan rakyat Banten yang dipimpin oleh KH Wasyid.
Sejumlah penelitian sejarah menunjukkan bahwa para pengikut KH Wasyid menggunakan perkumpulan tarekat sebagai tempat berkumpul, melakukan salat dan zikir, sekaligus membangun koordinasi antarkiai.
Artinya, spiritualitas pada masa itu tidak selalu berdiri terpisah dari kehidupan sosial. Bagi para ulama dan pengikutnya, mendekatkan diri kepada Allah dan menghadapi ketidakadilan kolonial merupakan bagian dari kehidupan yang saling berkaitan.
Dari Zikir ke Solidaritas
Tarekat memiliki posisi yang cukup kuat dalam kehidupan masyarakat Banten pada abad ke-19.
Salah satu jaringan yang berpengaruh adalah Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah, yang berkembang pesat di Banten di bawah pengaruh Syekh Abdul Karim al-Bantani. Penelitian mengenai peran Syekh Abdul Karim menyebutkan bahwa ia tidak terlibat langsung dalam pemberontakan 1888 karena berada di Mekkah, tetapi ajaran dan jaringan tarekat yang telah dibangun sebelumnya memiliki pengaruh terhadap suasana keagamaan masyarakat Banten.
Dalam tradisi tarekat, zikir merupakan salah satu praktik utama untuk mengingat Allah. Selain zikir, dikenal pula berbagai bentuk wirid, doa, ratib, dan hizib.
Secara sederhana, zikir berkaitan dengan mengingat dan menyebut Allah, sedangkan ratib dan hizib merupakan bentuk rangkaian wirid atau doa yang dalam tradisi keislaman tertentu diamalkan melalui jalur guru dan murid.
Karena itu, ketika membicarakan perlawanan ulama Banten, dimensi spiritual tidak cukup dipahami hanya sebagai ritual pribadi.
Tarekat juga membentuk jaringan sosial.
Pertemuan antara guru dan murid menciptakan hubungan yang erat. Para kiai memiliki pengaruh besar terhadap santri dan masyarakat. Jaringan tersebut pada kondisi tertentu dapat menjadi sarana komunikasi dan mobilisasi masyarakat. Penelitian mengenai tarekat di Indonesia bahkan mencatat bahwa jaringan tarekat dapat berkembang menjadi jaringan komunikasi sosial dan politik.
Geger Cilegon dan Pertemuan Para Kiai
Pada 9 Juli 1888, perlawanan yang dikenal sebagai Geger Cilegon pecah.
KH Wasyid menjadi salah satu tokoh utama dalam perlawanan tersebut. Ia tidak bergerak sendirian. Sejumlah kiai dan tokoh agama ikut terlibat dalam jaringan perjuangan, di antaranya KH Tubagus Ismail, KH Abdul Gani, KH Usman, Haji Nasiman, Haji Sangadeli, KH Abu Bakar, KH Asnawi, dan KH Muhammad Asyik.
Yang menarik, sejumlah pertemuan para tokoh tersebut berlangsung dalam lingkungan keagamaan.
Penelitian yang merujuk pada catatan kolonial mengenai Geger Cilegon menjelaskan bahwa para anggota perlawanan menggunakan pertemuan tarekat sebagai tempat berkumpul, melaksanakan ibadah dan zikir. Dalam kesempatan tersebut, para kiai dapat bertemu untuk membicarakan strategi dan melakukan koordinasi.
Bahkan, dalam uraian Sartono Kartodirdjo tentang Pemberontakan Petani Banten 1888, pertemuan-pertemuan kecil para pengikut gerakan dilakukan dengan menggunakan kedok pertemuan zikir. Aktivitas keagamaan yang meningkat pada masa itu membuat pemerintah kolonial tidak segera memahami bahwa di balik sebagian pertemuan tersebut terdapat jaringan persiapan perlawanan.
Di sinilah kita bisa melihat satu hal penting:
zikir bukan senjata dalam pengertian fisik, tetapi ruang spiritual dan sosial yang membantu membangun ikatan antarmanusia.
Spiritualitas dan Keberanian
Perjuangan melawan penjajahan tentu memiliki banyak faktor.
Ada persoalan ekonomi, politik, sosial, pajak, campur tangan pemerintah kolonial, serta ketegangan antara masyarakat dengan pejabat kolonial.
Namun, bagi masyarakat Banten yang kehidupan sosialnya sangat dekat dengan ulama dan tradisi keislaman, persoalan tersebut juga mendapatkan makna keagamaan.
Penelitian tentang KH Wasyid menunjukkan bahwa ia menjalin hubungan dengan para pemimpin agama, guru tarekat, dan tokoh masyarakat untuk mengorganisasi perlawanan.
Sementara itu, sumber dari Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Banten mencatat bahwa KH Muhammad Asyik merupakan guru tarekat yang ikut dalam perlawanan Geger Cilegon. Perkumpulan tarekat pada masa itu digunakan sebagai wahana komunikasi dan pembinaan para pengikutnya.
Dengan demikian, spiritualitas memberikan setidaknya dua hal penting.
Pertama, penguatan batin.
Kedua, penguatan solidaritas sosial.
Para pengikut tidak merasa berjalan sendirian. Mereka berada dalam jaringan guru, murid, keluarga, kiai, santri, dan masyarakat yang memiliki keyakinan serta tujuan bersama.
Bagaimana dengan Ratib dan Hizib?
Istilah ratib dan hizib memang dikenal dalam tradisi amalan tarekat dan pesantren.
Namun, kita perlu berhati-hati ketika menghubungkannya langsung dengan setiap peristiwa perjuangan di Banten.
Sumber sejarah yang membahas Geger Cilegon secara lebih kuat menyebut zikir, salat, pertemuan tarekat, wirid, dan jaringan para kiai. Sementara penggunaan hizib dalam konteks perjuangan lebih jelas ditemukan dalam beberapa catatan mengenai gerakan lain di Banten pada periode berikutnya.
Misalnya, penelitian mengenai pemberontakan Banten 1926 mencatat bahwa KH Muhammad Zuhri memberikan ijazah berupa sejumlah hizib kepada murid-muridnya. Catatan tersebut menunjukkan bahwa amalan keagamaan dan keyakinan spiritual memang pernah menjadi bagian dari kehidupan jaringan perlawanan di Banten.
Karena itu, lebih tepat mengatakan bahwa tradisi zikir, wirid, doa, ratib, dan hizib berada dalam lingkungan spiritual masyarakat ulama Banten, sementara bentuk dan penggunaannya dapat berbeda antara satu tokoh, tarekat, dan periode sejarah.
Ini penting agar kisah sejarah tidak berubah menjadi cerita yang dibumbui tanpa dasar sumber.
Syekh Yusuf hingga KH Wasyid: Tradisi Perjuangan yang Panjang
Dimensi spiritual dalam perjuangan Banten sebenarnya memiliki sejarah yang panjang.
Jauh sebelum Geger Cilegon, nama Syekh Yusuf al-Makassari telah terkait erat dengan perjuangan melawan VOC di Banten pada abad ke-17.
Syekh Yusuf menjadi penasihat Sultan Ageng Tirtayasa dan kemudian ikut memimpin perlawanan terhadap Belanda. Ia mengobarkan semangat jihad dan memimpin perang gerilya bersama pasukan Makassar dan Bugis. Setelah perjuangannya berakhir, Syekh Yusuf ditangkap dan diasingkan oleh Belanda.
Beberapa dekade kemudian, tradisi ulama dan jaringan tarekat kembali memainkan peran penting dalam perlawanan Banten.
Pada Geger Cilegon 1888, KH Wasyid dan sejumlah kiai memanfaatkan jaringan keagamaan yang telah mengakar di tengah masyarakat. Penelitian sejarah mengenai KH Wasyid menunjukkan bahwa hubungan antara kiai, guru tarekat, santri, dan jawara menjadi salah satu unsur penting dalam terbentuknya gerakan tersebut.
Karena itu, sejarah perlawanan Banten tidak hanya dapat dibaca melalui pertempuran.
Ada sejarah tentang guru dan murid, pesantren, masjid, tarekat, zikir, doa, dan solidaritas masyarakat.
Kekuatan Batin Sebelum Kekuatan Lahir
Menariknya, tradisi perjuangan para ulama Banten menunjukkan bahwa kekuatan lahir dan batin tidak selalu dipertentangkan.
Semangat spiritual justru dapat menjadi sumber keberanian.
Dalam konteks yang lebih luas, tradisi perjuangan ulama di Nusantara juga menunjukkan gagasan bahwa perjuangan membutuhkan kekuatan lahir sekaligus batin. Dalam penjelasan mengenai perjuangan KH Wahid Hasyim, misalnya, terdapat penekanan bahwa perjuangan tidak cukup hanya mengandalkan satu sisi, tetapi membutuhkan penyusunan kekuatan lahir dan batin, pengorganisasian, serta tawakal kepada Allah.
Dari sini kita bisa memahami bahwa zikir dan doa bukan sekadar pelengkap perjuangan.
Bagi masyarakat Muslim pada masa itu, keduanya merupakan cara untuk menjaga hubungan dengan Allah, membangun keteguhan hati, dan memelihara keyakinan ketika menghadapi situasi yang penuh tekanan.
Warisan yang Masih Relevan
Hari ini kita tidak lagi hidup dalam situasi kolonial seperti para ulama Banten pada abad ke-19.
Namun, nilai spiritual yang mereka bangun masih relevan.
Zikir mengajarkan manusia untuk tidak kehilangan hubungan dengan Allah di tengah kesibukan dunia.
Doa mengingatkan bahwa manusia memiliki keterbatasan.
Tarekat mengajarkan pentingnya hubungan guru dan murid serta kedisiplinan spiritual.
Sementara sejarah para ulama pejuang menunjukkan bahwa ilmu agama tidak berhenti di ruang pengajian. Ia dapat membentuk karakter, solidaritas, keberanian, dan kepedulian terhadap masyarakat.
Mungkin inilah salah satu pelajaran paling menarik dari sejarah Banten.
Perlawanan tidak selalu dimulai dari medan perang.
Kadang, ia dimulai dari masjid.
Dari majelis.
Dari hubungan seorang guru dengan muridnya.
Dari doa yang dipanjatkan dalam kesunyian.
Dan dari hati yang terus dilatih agar tidak mudah menyerah ketika berhadapan dengan ketidakadilan.
Bagi generasi hari ini, tentu perjuangannya berbeda. Tidak harus mengangkat senjata. Tetapi semangatnya bisa diterjemahkan dalam bentuk lain: melawan kebodohan dengan ilmu, melawan kemiskinan dengan kepedulian, melawan hoaks dengan kebenaran, dan melawan kemalasan dengan disiplin.
Sebab pada akhirnya, belajar dari para ulama pejuang Banten bukan sekadar mengingat siapa yang pernah berperang.
Tetapi memahami bagaimana mereka membangun kekuatan di dalam diri sebelum menghadapi tantangan di luar dirinya.
Dan mungkin, di situlah makna spiritualitas yang paling sederhana:
mendekat kepada Allah, menguatkan hati, lalu berbuat sesuatu untuk kehidupan.





Tinggalkan Balasan