SPILL Banten – Kalau bicara soal wisata kuliner di Banten, ada satu makanan yang mungkin terlihat sederhana, tetapi punya cerita yang panjang.
Namanya Ketan Bintul.
Bentuknya tidak neko-neko. Potongan ketan yang padat dan lembut, kemudian diberi taburan serundeng kelapa berbumbu. Namun, begitu masuk ke mulut, perpaduan rasa gurih, legit, dan aroma rempah langsung terasa.
Buat masyarakat Banten, khususnya di Serang, Ketan Bintul bukan sekadar jajanan.
Makanan ini sudah lama menjadi bagian dari tradisi Ramadan dan bahkan memiliki cerita yang dikaitkan dengan Kesultanan Banten.
Menariknya lagi, makanan tradisional ini telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia pada 26 November 2020 dengan nomor registrasi 2020009896.
Ketan yang Jadi Identitas Kuliner Banten
Ketan Bintul pada dasarnya dibuat dari beras ketan yang dimasak hingga matang, kemudian ditumbuk sampai teksturnya menjadi lembut, padat, dan kenyal.
Setelah itu, ketan dibentuk dan dipotong menjadi beberapa bagian sebelum diberi taburan serundeng.
Serundeng inilah yang memberikan karakter rasa yang kuat.
Kelapa diparut kemudian disangrai bersama bumbu hingga menghasilkan aroma gurih dan harum. Dalam sejumlah resep yang terdokumentasi, serundeng menjadi bagian penting yang tidak bisa dipisahkan dari penyajian Ketan Bintul.
Perpaduan ketan yang lembut dengan serundeng yang gurih membuat makanan ini punya sensasi yang berbeda.
Tidak terlalu rumit, tetapi justru itu yang membuatnya mudah diingat.
Konon Sudah Ada Sejak Abad ke-16
Bagian paling menarik dari Ketan Bintul adalah cerita di balik keberadaannya.
Sejumlah sumber menyebut Ketan Bintul telah dikenal sejak abad ke-16 dan dikaitkan dengan masa Kesultanan Banten.
Pemerintah Provinsi Banten menyebut Ketan Bintul sebagai makanan yang dalam cerita sejarah kuliner setempat menjadi menu berbuka puasa Sultan Maulana Hasanuddin, tokoh yang dikenal sebagai pendiri Kesultanan Banten.
Menurut cerita yang berkembang, Ketan Bintul kemudian tidak hanya menjadi santapan Sultan, tetapi juga digunakan untuk menjamu tamu kerajaan.
Kisah tersebut membuat Ketan Bintul mempunyai posisi yang berbeda dibandingkan sekadar jajanan tradisional.
Namun, untuk urusan sejarah, ada baiknya kita menggunakan kata “konon” atau “menurut cerita yang berkembang”.
Sebab, kisah mengenai Ketan Bintul sebagai makanan favorit Sultan merupakan bagian dari narasi sejarah dan tradisi kuliner yang diwariskan, bukan sesuatu yang sebaiknya ditulis sebagai fakta sejarah absolut tanpa konteks.
Indonesia Travel juga mencatat Ketan Bintul sebagai kuliner Banten yang disebut telah ada sejak abad ke-16 dan dipercaya menjadi sajian favorit Sultan Banten.
Kenapa Ketan Bintul Begitu Identik dengan Ramadan?
Ada alasan kenapa nama Ketan Bintul sering muncul ketika Ramadan tiba.
Makanan ini memang sangat lekat dengan tradisi berbuka puasa masyarakat Banten.
Di Kota Serang, misalnya, Ketan Bintul menjadi salah satu makanan yang dicari masyarakat ketika berburu takjil.
ANTARA pernah mencatat Ketan Bintul sebagai salah satu panganan tradisional yang dijajakan dalam kegiatan takjil Ramadan di Serang. Dalam laporan tersebut, masyarakat datang untuk membeli berbagai makanan berbuka, termasuk Ketan Bintul.
Pemerintah Provinsi Banten juga menyebut Ketan Bintul sebagai salah satu jajanan tradisional khas Banten yang muncul setiap bulan Ramadan. Makanan tersebut dapat ditemukan di pasar tradisional maupun pusat jajanan.
Jadi, bagi sebagian masyarakat Banten, berburu Ketan Bintul menjelang waktu berbuka bukan sekadar mencari makanan.
Ada tradisi yang ikut terbawa.
Dibuat dengan Proses yang Tidak Instan
Di balik tampilannya yang sederhana, proses membuat Ketan Bintul membutuhkan tenaga.
Beras ketan terlebih dahulu dimasak hingga matang atau setengah matang, kemudian ditumbuk sampai menjadi adonan yang halus dan kenyal.
Pemerintah Provinsi Banten mencatat proses penumbukan dapat berlangsung cukup lama untuk mendapatkan tekstur ketan yang diinginkan. Setelah itu, ketan dipadatkan dalam wadah dan dibiarkan hingga dingin sebelum dipotong serta diberi serundeng.
Kompas juga mencatat bahwa Ketan Bintul dibuat dari beras ketan yang dimasak, kemudian ditumbuk sampai hancur dan tidak lagi berbentuk seperti butiran beras. Setelah diberi bumbu, ketan didiamkan hingga dingin sebelum disajikan bersama serundeng.
Proses tersebut menjadi salah satu alasan mengapa Ketan Bintul tidak bisa begitu saja dianggap sebagai ketan biasa.
Tekstur akhirnya merupakan hasil dari proses pengolahan yang cukup panjang.
Gurih dari Serundeng, Legit dari Ketan
Salah satu daya tarik Ketan Bintul ada pada kesederhanaan rasanya.
Ketan memberikan tekstur lembut dan kenyal dengan rasa yang cenderung gurih. Kemudian serundeng memberikan aroma kelapa sangrai dan rasa berbumbu yang lebih kuat.
ANTARA menggambarkan serundeng Ketan Bintul memiliki karakter gurih, manis, dan sedikit pedas. Penyajiannya juga secara tradisional dapat menggunakan bungkus daun pisang yang memberikan aroma tersendiri.
Dalam beberapa penyajian, Ketan Bintul juga ditemani lauk berbahan daging.
Pemerintah Provinsi Banten menyebut hidangan ini dapat disantap bersama empal daging, gulai kambing, atau semur daging, sementara sumber lain mencatat pasangan dengan semur atau empal.
Di sinilah pengalaman menyantapnya menjadi lebih menarik.
Ketan yang lembut dan gurih bertemu dengan rasa daging serta kuah berbumbu.
Pasar Lama Serang dan Tradisi Berburu Takjil
Kalau ingin melihat bagaimana Ketan Bintul menjadi bagian dari kehidupan kuliner masyarakat, Pasar Lama Kota Serang menjadi salah satu tempat yang punya cerita kuat.
Kompas mencatat kawasan Pasar Lama sebagai salah satu lokasi yang dikenal dengan penjual Ketan Bintul saat Ramadan. ANTARA juga beberapa kali mendokumentasikan aktivitas pedagang Ketan Bintul di kawasan tersebut.
Suasana menjelang berbuka membuat makanan ini terasa semakin khas.
Orang-orang datang, memilih takjil, membawa pulang makanan untuk keluarga, lalu menunggu waktu berbuka.
Dalam situasi seperti itu, Ketan Bintul bukan hanya sebuah produk kuliner.
Ia menjadi bagian dari aktivitas sosial masyarakat.
Dan mungkin justru pengalaman sederhana seperti itulah yang membuat kuliner tradisional tetap bertahan.
Dari Jajanan Ramadan Menjadi Warisan Budaya
Ketan Bintul memiliki perjalanan yang menarik.
Ia masih hadir sebagai makanan yang dibeli masyarakat untuk berbuka, tetapi pada saat yang sama telah mendapatkan pengakuan sebagai bagian dari warisan budaya.
Penetapan Ketan Bintul sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia pada 2020 menunjukkan bahwa makanan tradisional juga bisa memiliki nilai budaya yang lebih luas daripada sekadar fungsi sebagai makanan.
Hal ini penting karena kuliner tradisional tidak selalu bertahan hanya karena rasanya.
Ia bertahan karena ada masyarakat yang terus membuat, menjual, membeli, menyajikan, dan mengenalkannya kepada generasi berikutnya.
Dengan kata lain, keberadaan Ketan Bintul hari ini tidak terlepas dari orang-orang yang terus menjaga tradisinya.
Kenapa Ketan Bintul Layak Dicoba Saat Wisata ke Banten?
Kalau perjalanan ke Banten hanya diisi dengan mengunjungi tempat wisata, pengalaman tersebut sebenarnya belum lengkap.
Ada cerita lain yang bisa ditemukan melalui makanan.
Ketan Bintul bisa menjadi salah satunya.
Buat yang suka mencoba kuliner tradisional, makanan ini menawarkan sesuatu yang cukup berbeda: tekstur ketan yang lembut dan padat, serundeng kelapa yang gurih, serta sejarah kuliner yang berkaitan dengan identitas Banten.
Terlebih jika berkunjung ketika Ramadan, suasana berburu takjil di berbagai titik Kota Serang dapat menjadi bagian dari pengalaman tersebut.
Bukan sekadar datang, membeli, lalu makan.
Tetapi melihat bagaimana makanan tradisional masih menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.
Tidak Harus Menunggu Ramadan untuk Mengenalnya
Ketan Bintul memang sangat identik dengan Ramadan.
Namun, beberapa sumber menunjukkan bahwa makanan ini tidak sepenuhnya hilang di luar bulan puasa.
Kompas mencatat Ketan Bintul sesekali masih dijual di luar Ramadan di sejumlah lokasi di Serang, meskipun popularitas dan ketersediaannya jauh lebih terasa ketika bulan puasa tiba.
Ini menjadi tantangan sekaligus peluang bagi kuliner tradisional.
Di satu sisi, karakter musiman membuat Ketan Bintul terasa spesial ketika Ramadan datang.
Di sisi lain, memperkenalkannya di luar Ramadan dapat membuat lebih banyak orang mengenal makanan ini sebagai bagian dari identitas kuliner Banten.
Ketan Bintul dan Cerita yang Melekat
Ada makanan yang kita makan karena lapar.
Ada juga makanan yang kita cari karena rindu.
Ketan Bintul mungkin berada di antara keduanya.
Bagi masyarakat Banten, khususnya yang sudah terbiasa menikmatinya sejak kecil, makanan ini bisa mengingatkan pada suasana Ramadan, pasar tradisional, keluarga, atau momen berbuka bersama.
Sementara bagi wisatawan, Ketan Bintul menawarkan pintu masuk sederhana untuk mengenal Banten dari sisi yang berbeda.
Tidak perlu selalu melalui bangunan bersejarah atau destinasi wisata besar.
Kadang, sejarah sebuah daerah justru terasa lebih dekat ketika duduk di depan sepiring makanan tradisional.
Dan dari potongan ketan yang ditaburi serundeng itu, kita bisa menemukan satu cerita tentang Banten yang masih bertahan sampai hari ini.
Jadi, kalau nanti berkunjung ke Banten saat Ramadan, jangan cuma berburu takjil kekinian. Coba cari Ketan Bintul juga. Karena ada rasa dan cerita Banten yang ikut tersaji di dalamnya.










