Beranda / UMKM / Mitos atau Fakta? Menelusuri Cerita Makanan Favorit Ulama Banten Tempo Dulu

Mitos atau Fakta? Menelusuri Cerita Makanan Favorit Ulama Banten Tempo Dulu

Makanan Ulama - photo by Firman Marek_Brew

SPILL Banten – Di balik kekayaan kuliner Banten, tersimpan cerita tentang kesultanan, penyebaran Islam, perdagangan rempah, dan tradisi masyarakat yang bertahan lintas generasi. Sebagian hidangan bahkan dikaitkan dengan tokoh-tokoh penting pada masa lampau, mulai dari keluarga Kesultanan Banten hingga lingkungan keagamaan.

Namun, pernahkah terpikir makanan apa yang menjadi favorit para ulama Banten ketika wilayah ini berada dalam pergolakan kekuasaan kolonial?

Pertanyaan tersebut menarik untuk ditelusuri. Banten memiliki sejarah panjang sebagai pusat perdagangan dan perkembangan Islam di Nusantara. Dalam perjalanan sejarah itu, makanan bukan hanya urusan perut, tetapi juga bagian dari kebiasaan sosial, jamuan, dan pertemuan antarkelompok masyarakat.

Sejumlah kuliner seperti rabeg, sate bandeng, dan ketan bintul memiliki cerita yang dikaitkan dengan lingkungan Kesultanan Banten. Meski demikian, cerita tentang makanan kesukaan Sultan perlu dibedakan dari klaim mengenai makanan favorit para ulama. Keduanya tidak selalu memiliki bukti sejarah yang sama.

Banten pada Masa Lampau: Pusat Perdagangan Rempah dan Perkembangan Islam

Untuk memahami cerita kuliner para tokoh agama di Banten, kita perlu melihat latar sejarah wilayah ini terlebih dahulu.

Pada abad ke-16 hingga ke-18, Banten berkembang sebagai salah satu pusat perdagangan penting di Nusantara. Lada menjadi komoditas utama yang menghubungkan Banten dengan jaringan perdagangan antardaerah dan berbagai bangsa.

Penelitian berjudul From Pepper Commerce to the Multicultural Formation of Culinary Culture of Banten XVI-XVIII Centuries, yang diterbitkan dalam jurnal Patrawidya pada 2022, membahas bagaimana perdagangan rempah ikut membentuk budaya kuliner Banten.

Penelitian tersebut menggunakan catatan perjalanan Cornelis de Bruijn pada 1737 dan Stavorinus pada 1798, yang antara lain menggambarkan suasana jamuan di lingkungan istana Banten.

Hasil kajian menunjukkan bahwa budaya kuliner Banten terbentuk melalui perjumpaan berbagai kebudayaan, termasuk Arab, India, Tiongkok, dan Belanda. Pengaruh tersebut terlihat dalam penggunaan rempah serta ragam karakter masakan yang berkembang di wilayah ini.

Konteks tersebut membantu menjelaskan mengapa kuliner Banten memiliki cita rasa yang beragam. Namun, catatan tentang jamuan istana tidak serta-merta menjelaskan makanan pribadi yang paling disukai para ulama.

Rabeg: Kuliner Berempah yang Dikaitkan dengan Tradisi Kesultanan

Salah satu hidangan yang menarik ditelusuri adalah rabeg, kuliner berbahan dasar daging kambing yang dikenal dengan cita rasa rempah yang kuat.

Pemerintah Provinsi Banten melalui artikel Rabeg Warisan Kuliner Tinggalan Kesultanan Banten dengan Cita Rasa Timur Tengah menjelaskan bahwa rabeg merupakan bagian dari warisan kuliner Kesultanan Banten. Hidangan ini dikenal di sejumlah kawasan Serang, termasuk Kaujon, Kaloran, dan Sukalila.

Rabeg menggunakan beragam rempah, antara lain lada, jahe, lengkuas, ketumbar, bunga lawang, dan kapulaga. Penggunaan rempah tersebut memperlihatkan hubungan kuliner Banten dengan jaringan perdagangan yang berkembang pada masa lampau.

Dalam sejumlah cerita populer, rabeg dikaitkan dengan Sultan Maulana Hasanuddin. Pemerintah Provinsi Banten juga menyebut hidangan ini sebagai salah satu makanan kesukaan sang sultan.

Buat kamu  Bukan Sekadar Cantik Alami, Ini Kekayaan Tradisi Perawatan Wanita Baduy

Lantas, apakah rabeg juga merupakan makanan favorit para ulama Banten pada zaman kolonial?

Sejauh sumber yang ditelusuri untuk artikel ini, belum ditemukan bukti sejarah yang cukup kuat untuk memastikan klaim tersebut. Rabeg lebih tepat dibahas sebagai warisan kuliner yang dikaitkan dengan tradisi Kesultanan Banten, bukan langsung dinyatakan sebagai makanan favorit para ulama.

Meski begitu, keberadaan rabeg tetap menarik karena memperlihatkan bagaimana warisan kuliner istana bertahan dan menjadi bagian dari identitas kuliner masyarakat Banten hingga sekarang.

Sate Bandeng: Dari Cerita Juru Masak Kerajaan hingga Kuliner Khas Serang

Selain rabeg, sate bandeng juga memiliki cerita yang erat dengan sejarah Kesultanan Banten.

Berbeda dari sate pada umumnya, hidangan ini menggunakan ikan bandeng yang dagingnya dikeluarkan dari kulit, dipisahkan dari duri, lalu dicampur dengan bumbu sebelum dimasukkan kembali dan dimasak.

Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat, dalam tulisan mengenai sate bandeng, mencatat cerita yang berkembang di kalangan pembuatnya bahwa hidangan tersebut berasal dari kreativitas juru masak kerajaan pada masa Sultan Hasanuddin. Olahan itu dibuat untuk mengatasi banyaknya duri halus pada ikan bandeng yang digemari sang sultan.

Kisah serupa juga dipublikasikan oleh Pemerintah Provinsi Banten dan Direktorat Jenderal Kekayaan Negara melalui artikel mengenai sejarah sate bandeng.

Namun, cerita asal-usul tersebut perlu ditempatkan secara tepat. Kisah tentang juru masak kerajaan merupakan tradisi yang diwariskan dan dipublikasikan berbagai sumber, bukan bukti bahwa setiap detail peristiwanya telah terverifikasi melalui dokumen sezaman.

Bagaimana dengan para ulama?

Sate bandeng sangat mungkin menjadi bagian dari kehidupan kuliner masyarakat Banten yang lebih luas, tetapi kemungkinan tersebut tidak cukup untuk menetapkannya sebagai makanan favorit ulama tertentu. Untuk membuat klaim seperti itu, diperlukan sumber yang menyebutkan nama tokoh, waktu, dan konteks yang jelas.

Terlepas dari persoalan tersebut, sate bandeng menunjukkan bagaimana kreativitas mengolah bahan pangan dapat menjadi warisan kuliner yang bertahan hingga masa kini.

Ketan Bintul: Hidangan Ramadan yang Memiliki Cerita dari Masa Kesultanan

Kuliner berikutnya adalah ketan bintul, makanan berbahan dasar beras ketan yang ditumbuk hingga kenyal dan disajikan bersama serundeng kelapa.

Di Banten, ketan bintul dikenal sebagai salah satu hidangan yang lekat dengan bulan Ramadan. Makanan ini dapat ditemukan di pasar tradisional dan toko kue, serta kerap disantap sebagai menu berbuka puasa.

Pemerintah Provinsi Banten dalam artikel Ketan Bintul Khas Banten, Menu Berbuka Puasa Sultan Banten mengaitkan hidangan ini dengan kisah berbuka puasa Maulana Hasanuddin pada sekitar abad ke-16. Artikel tersebut juga menyebut ketan bintul sebagai hidangan jamuan bagi tamu kerajaan.

Cerita itu memperlihatkan hubungan antara makanan, tradisi Ramadan, dan kehidupan istana pada masa lampau. Akan tetapi, sebagaimana cerita kuliner kerajaan lainnya, kisah tersebut perlu dibaca dengan memperhatikan jenis dan kekuatan sumber yang mendukungnya.

Belum ada dasar yang cukup dari sumber yang digunakan dalam artikel ini untuk menyimpulkan bahwa ketan bintul merupakan makanan favorit para ulama Banten pada zaman kolonial.

Meski demikian, tradisi menyantap ketan bintul saat Ramadan memperlihatkan bagaimana makanan dapat bertahan bukan hanya karena rasanya, tetapi juga karena kebiasaan sosial dan makna kebersamaan yang menyertainya.

Ketan bintul juga telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia pada 26 November 2020, dengan nomor registrasi 2020009896 sebagaimana dicantumkan Pemerintah Provinsi Banten.

Buat kamu  Tarekat dan Tasawuf: Kekuatan Batin Para Ulama Banten dalam Melawan Penjajahan

Lalu, Apa Hubungannya dengan Kehidupan Para Ulama?

Pertanyaan mengenai makanan favorit ulama Banten sebenarnya membuka peluang penelitian sejarah yang lebih luas.

Para ulama memiliki peran penting dalam perjalanan masyarakat Banten, terutama melalui pendidikan agama, jaringan pesantren, dan hubungan sosial di tengah masyarakat. Namun, untuk mengetahui kebiasaan makan mereka, peneliti perlu menggunakan sumber yang lebih spesifik daripada sekadar cerita tentang kuliner kesultanan.

Beberapa sumber yang dapat ditelusuri lebih lanjut antara lain:

  • Naskah dan manuskrip lokal, apabila memuat keterangan mengenai kehidupan sehari-hari, jamuan, atau kebiasaan makan tokoh agama.
  • Catatan perjalanan dan arsip kolonial, untuk menelusuri budaya jamuan serta kehidupan sosial pada masa tersebut.
  • Babad, hikayat, dan tradisi lisan, dengan membedakan cerita yang diwariskan dari bukti yang dapat diverifikasi.
  • Sejarah keluarga dan pesantren, jika tersedia kesaksian atau dokumentasi yang menjelaskan kebiasaan tokoh tertentu.

Sumber-sumber itu penting karena istilah “makanan favorit” merupakan klaim yang spesifik. Mengetahui bahwa sebuah hidangan tersedia di Banten pada masa tertentu tidak otomatis membuktikan bahwa seorang ulama menyukainya.

Begitu pula dengan makanan yang disajikan dalam jamuan kerajaan. Hidangan untuk sultan, tamu kerajaan, masyarakat umum, dan kalangan ulama bisa saja berbeda menurut situasi serta kedudukan sosial.

Karena itu, kisah kuliner para ulama sebaiknya tidak dibangun hanya dari kemiripan zaman atau kedekatan hubungan antara tokoh agama dan lingkungan Kesultanan Banten.

Kuliner sebagai Jejak Sejarah yang Masih Bisa Dinikmati

Walaupun belum ditemukan bukti yang cukup untuk memastikan makanan favorit para ulama Banten pada zaman kolonial, rabeg, sate bandeng, dan ketan bintul tetap memberikan pintu masuk untuk memahami sejarah kuliner daerah ini.

Rabeg memperlihatkan warisan olahan daging dan penggunaan rempah. Sate bandeng menyimpan cerita tentang kreativitas juru masak kerajaan. Sementara itu, ketan bintul memperlihatkan hubungan antara makanan, tradisi Ramadan, dan kebersamaan.

Ketiganya menunjukkan bahwa kuliner dapat menjadi bagian dari ingatan kolektif masyarakat. Resep, teknik memasak, dan cerita yang menyertainya diwariskan dari generasi ke generasi, meskipun sebagian kisah asal-usulnya masih membutuhkan pengujian sejarah.

Bagi masyarakat Banten, mengenal kuliner tradisional berarti juga mempelajari perjalanan perdagangan, budaya, dan kehidupan sosial yang membentuk daerah ini.

Kesimpulan

Menelusuri mitos makanan favorit para ulama Banten zaman kolonial membawa kita pada kisah yang lebih luas mengenai warisan kuliner Kesultanan Banten dan perkembangan budaya masyarakatnya.

Rabeg, sate bandeng, dan ketan bintul memiliki cerita yang dikaitkan dengan lingkungan kerajaan. Namun, sumber yang ditelusuri belum cukup untuk menyatakan bahwa ketiganya merupakan makanan favorit para ulama pada masa kolonial.

Pembedaan tersebut bukan berarti cerita kulinernya kehilangan daya tarik. Justru, di situlah pentingnya penelitian sejarah: menjaga cerita yang diwariskan tetap hidup tanpa mencampuradukkan tradisi lisan dengan fakta yang telah terverifikasi.

Sebab, kuliner bukan sekadar soal rasa. Di balik setiap hidangan, ada jejak perdagangan, kebiasaan masyarakat, pertemuan budaya, dan cerita masa lalu yang masih layak ditelusuri.


Sumber Referensi

  1. Pemerintah Provinsi Banten. “Rabeg Warisan Kuliner Tinggalan Kesultanan Banten dengan Cita Rasa Timur Tengah.”
    https://bantenprov.go.id/berita/rabeg-warisan-kuliner-tinggalan-kesultanan-banten-dengan-cita-rasa-timur-tengah
  2. Pemerintah Provinsi Banten. “Kepiawaian Koki Kesultanan Banten Ciptakan Sate Bandeng hingga Digemari Sultan.”
    https://bantenprov.go.id/berita/kepiawaian-koki-kesultanan-banten-ciptakan-sate-bandeng-hingga-digemari-sultan
  3. Pemerintah Provinsi Banten. “Ketan Bintul Khas Banten, Menu Berbuka Puasa Sultan Banten.”
    https://bantenprov.go.id/index.php/berita/ketan-bintul-khas-banten-menu-berbuka-puasa-sultan-banten
  4. Setyawan, Alfonsus Tegar, Azmah Sholihah, dan Siti Lilik Nur Rohmah. (2022). “From Pepper Commerce to the Multicultural Formation of Culinary Culture of Banten XVI-XVIII Centuries.” Patrawidya: Seri Penerbitan Penelitian Sejarah dan Budaya.
    https://patrawidya.kemenbud.go.id/index.php/patrawidya/article/view/376
  5. Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat. “Sate Bandeng.”
    https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpnbjabar/sate-bandeng/
Tag:
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted