SPILL Banten – Ketika sebagian besar manusia telah terlelap, suasana rumah mulai sunyi, lampu-lampu dipadamkan dan aktivitas dunia berhenti sejenak, ada sebagian orang yang justru bangun.
Mereka mengambil wudu.
Membuka sajadah.
Lalu berdiri menghadap Allah.
Tidak ada tepuk tangan.
Tidak ada penonton.
Tidak ada kamera.
Hanya dirinya, malam yang sunyi, dan Allah yang menjadi tujuan.
Inilah salah satu wajah shalat tahajud.
Shalat yang dilakukan pada malam hari ini bukan sekadar ibadah tambahan. Dalam Al-Qur’an dan hadis, shalat malam memiliki kedudukan yang istimewa. Nabi Muhammad ﷺ menyebut shalat malam sebagai shalat yang paling utama setelah shalat wajib. Al-Qur’an juga secara khusus menyebut tahajud dan mengaitkannya dengan maqaman mahmuda, “tempat yang terpuji”.
Namun, apa sebenarnya rahasia kehebatan tahajud?
Mengapa seseorang rela meninggalkan kenyamanan tempat tidur demi beberapa rakaat?
Dan apa yang dapat berubah dalam kehidupan orang yang membiasakannya?
Tahajud Bukan Sekadar Bangun di Tengah Malam
Secara umum, shalat malam dikenal sebagai qiyam al-lail.
Tahajud sering digunakan untuk menyebut shalat malam yang dilakukan setelah seseorang tidur terlebih dahulu. Karena itu, istilah “shalat malam” cakupannya lebih luas, sedangkan tahajud biasanya dikaitkan dengan bangun dari tidur untuk melaksanakan shalat.
Al-Qur’an menyebut:
“Dan pada sebagian malam, lakukanlah shalat tahajud sebagai suatu ibadah tambahan bagimu…”
(QS. Al-Isra: 79)
Ayat tersebut memiliki kedudukan khusus karena menyebut tahajud secara langsung.
Bagi seorang Muslim, ini sudah menjadi alasan kuat bahwa malam bukan hanya waktu untuk tidur.
Ada ruang yang disediakan untuk berbicara dengan Allah.
Kehebatan Pertama: Tahajud Membawa Manusia Keluar dari Zona Nyaman
Tidur adalah kebutuhan tubuh.
Karena itu, meninggalkan tempat tidur pada malam hari bukan perkara mudah.
Justru di sinilah salah satu pendidikan terbesar tahajud.
Seseorang belajar bahwa tidak semua yang nyaman harus selalu diikuti.
Ketika tubuh mengatakan:
“Tidurlah.”
Iman mengajarkan:
“Bangunlah sebentar untuk menghadap Allah.”
Tahajud melatih kemampuan seseorang mengendalikan dirinya.
Bukan karena ia membenci tidur.
Tetapi karena ia ingin memberikan sebagian waktunya kepada Allah.
Kehebatan Kedua: Ada Waktu Istimewa untuk Berdoa
Salah satu hadis paling terkenal mengenai keutamaan akhir malam diriwayatkan dalam Shahih al-Bukhari.
Nabi Muhammad ﷺ menjelaskan bahwa pada sepertiga malam terakhir terdapat seruan agar orang yang berdoa memohon kepada Allah, orang yang meminta agar diberi, dan orang yang memohon ampun agar diampuni.
Hadis ini menjadi salah satu alasan mengapa sepertiga malam terakhir sangat dikenal dalam tradisi ibadah umat Islam.
Bayangkan suasananya.
Siang hari penuh dengan pekerjaan.
Telepon berdering.
Pesan masuk.
Orang-orang berbicara.
Masalah datang silih berganti.
Tetapi pada penghujung malam, semuanya menjadi lebih sunyi.
Di situlah seorang hamba dapat menghadap Allah dengan lebih tenang.
Tahajud dan Kekuatan Doa
Ada doa yang mungkin terlalu panjang untuk diucapkan di hadapan manusia.
Ada kegelisahan yang sulit diceritakan kepada keluarga.
Ada persoalan yang tidak mudah dibicarakan kepada teman.
Ada kesalahan masa lalu yang hanya diketahui oleh diri sendiri.
Dan ada harapan yang bahkan belum berani disampaikan kepada siapa pun.
Tahajud menyediakan ruang untuk semuanya.
Seorang Muslim dapat berdoa, memohon ampun, mengadukan kesulitan, meminta petunjuk dan memohon kebaikan dunia maupun akhirat.
Namun penting dipahami:
Tahajud bukan mesin pengabul keinginan.
Tidak ada ajaran bahwa setiap orang yang tahajud pasti memperoleh semua yang dimintanya dalam bentuk yang persis sama.
Doa adalah bentuk penghambaan.
Jawaban Allah adalah bagian dari kehendak-Nya.
Karena itu, kehebatan tahajud bukan semata-mata diukur dari seberapa banyak keinginan duniawi yang diperoleh.
Kehebatan Ketiga: Shalat Malam adalah Shalat Sunnah yang Sangat Utama
Nabi Muhammad ﷺ pernah ditanya mengenai shalat yang paling utama setelah shalat wajib.
Jawabannya adalah shalat malam.
Hadis tersebut diriwayatkan dalam Shahih Muslim.
Ini menunjukkan posisi penting shalat malam dalam ibadah sunnah.
Namun urutannya juga penting:
shalat wajib tetap menjadi fondasi.
Tahajud tidak boleh membuat seseorang mengabaikan Subuh.
Tidak masuk akal seseorang bangga tahajud tetapi kemudian meninggalkan shalat Subuh karena tidur terlalu larut.
Tahajud seharusnya memperkuat kewajiban, bukan menggesernya.
Kehebatan Keempat: Tahajud Mengajarkan Keheningan
Ada jenis ketenangan yang sulit ditemukan pada siang hari.
Bukan karena malam memiliki kekuatan mistis.
Melainkan karena malam secara alami lebih sedikit gangguannya.
Tidak banyak aktivitas.
Tidak banyak percakapan.
Tidak banyak tuntutan sosial.
Dalam kondisi seperti itu, seseorang memiliki kesempatan untuk memperlambat dirinya.
Membaca Al-Qur’an.
Berzikir.
Berdoa.
Bersujud lebih lama.
Merenungkan kehidupan.
Bagi seorang Muslim, ketenangan tersebut bukan tujuan akhir.
Tujuan utamanya tetap ibadah kepada Allah.
Tetapi suasana malam dapat membantu seseorang menghadirkan perhatian dan kekhusyukan dalam ibadah.
Kehebatan Kelima: Tahajud Melatih Disiplin
Bangun untuk tahajud sekali bukan perkara yang terlalu sulit.
Yang sulit adalah menjadikannya kebiasaan.
Di sinilah tahajud menjadi latihan disiplin.
Seseorang harus:
- mengatur waktu tidur,
- mengurangi aktivitas yang tidak perlu pada malam hari,
- memasang alarm,
- menjaga niat,
- kemudian benar-benar bangun ketika waktunya tiba.
Dengan demikian, tahajud tidak hanya mengajarkan bagaimana seseorang beribadah.
Ia juga mengajarkan bagaimana seseorang mengatur dirinya.
Orang yang terbiasa mengendalikan waktu tidurnya untuk ibadah belajar bahwa hidup membutuhkan disiplin.
Kehebatan Keenam: Nabi Memberikan Teladan dalam Shalat Malam
Aisyah radhiyallahu ‘anha meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad ﷺ melaksanakan shalat malam dengan jumlah rakaat yang dalam sejumlah riwayat disebut sebelas rakaat, termasuk witir. Dalam riwayat lain disebut tiga belas rakaat dengan rincian yang berbeda karena dua rakaat sunnah sebelum Subuh ikut dihitung dalam jumlah tersebut.
Yang menarik bukan hanya jumlahnya.
Tetapi juga kualitasnya.
Dalam satu riwayat, Aisyah menggambarkan bahwa Nabi ﷺ memperpanjang sujudnya hingga seseorang dapat membaca sekitar lima puluh ayat sebelum beliau mengangkat kepala.
Artinya, shalat malam Nabi bukan sekadar mengejar jumlah rakaat.
Ada kekhusyukan.
Ada ketenangan.
Ada panjangnya doa dan bacaan.
Tidak Harus Banyak Rakaat untuk Memulai
Salah satu kesalahpahaman yang sering muncul adalah anggapan bahwa seseorang harus langsung mampu melaksanakan tahajud dalam jumlah rakaat yang banyak.
Padahal Nabi ﷺ menjelaskan bahwa shalat malam dilakukan dua rakaat-dua rakaat. Jika khawatir waktu Subuh tiba, seseorang dapat menutupnya dengan satu rakaat witir.
Ini memberikan pelajaran penting:
Mulailah dari yang mampu dilakukan secara konsisten.
Dua rakaat yang dilakukan dengan ikhlas dan konsisten dapat menjadi pintu untuk membangun kebiasaan yang lebih besar.
Jangan sampai seseorang gagal memulai karena merasa harus langsung menjadi ahli ibadah malam.
Sepertiga Malam Terakhir: Mengapa Begitu Istimewa?
Dalam hadis sahih, sepertiga malam terakhir disebut sebagai waktu ketika Allah menyeru hamba-Nya untuk berdoa, meminta dan memohon ampun.
Karena itu, banyak Muslim berusaha memanfaatkan waktu tersebut untuk tahajud dan doa.
Namun, menentukan “sepertiga malam terakhir” tidak berarti selalu pukul tertentu.
Waktunya mengikuti panjang malam di tempat seseorang berada.
Secara sederhana:
Hitung waktu dari Maghrib sampai Fajar, lalu bagi menjadi tiga. Bagian terakhir itulah sepertiga malam terakhir.
Karena waktu Maghrib dan Subuh berubah berdasarkan lokasi dan musim, waktunya juga berubah.
Tahajud dan Rezeki: Benarkah Membuka Pintu Kekayaan?
Banyak orang menghubungkan tahajud dengan kelapangan rezeki.
Ada sisi yang perlu dipahami secara benar.
Tahajud memang merupakan waktu yang sangat baik untuk berdoa dan memohon kepada Allah.
Namun tidak tepat membuat klaim bahwa:
“Tahajud sekian hari pasti membuat seseorang kaya.”
Tidak ada dasar yang cukup untuk membuat formula matematis seperti itu.
Rezeki dalam Islam juga tidak hanya berbentuk uang.
Kesehatan adalah rezeki.
Keluarga yang baik adalah rezeki.
Ilmu adalah rezeki.
Kesempatan adalah rezeki.
Hati yang tenang juga merupakan nikmat.
Karena itu, tahajud seharusnya tidak dipersempit menjadi ritual untuk mendapatkan kekayaan materi.
Tahajud dan Kesehatan: Jangan Membuat Klaim Berlebihan
Pembahasan mengenai tahajud sering dikaitkan dengan kesehatan, terutama karena dilakukan pada malam hari dan melibatkan aktivitas fisik.
Namun di sinilah pentingnya kehati-hatian.
Bukti ilmiah mengenai tahajud secara spesifik sebagai intervensi kesehatan tidak sekuat bukti mengenai aktivitas fisik, tidur, relaksasi, atau praktik spiritual secara umum.
Karena itu, tidak tepat mengatakan bahwa tahajud pasti menyembuhkan penyakit tertentu, menurunkan tekanan darah, memperbaiki jantung atau menjamin kesehatan seseorang.
Yang dapat dikatakan secara lebih bertanggung jawab adalah bahwa aktivitas ibadah malam dapat memiliki aspek psikologis dan spiritual—seperti waktu untuk refleksi, doa, perhatian dan ketenangan—yang secara umum relevan dengan kesejahteraan seseorang.
Tetapi penelitian khusus mengenai efek kesehatan tahajud masih membutuhkan bukti yang lebih kuat.
Tahajud adalah ibadah, bukan terapi medis.
Jangan Sampai Tahajud Merusak Kesehatan karena Kurang Tidur
Ini juga penting.
Islam tidak mengajarkan seseorang menyiksa dirinya.
Tidur tetap merupakan kebutuhan tubuh.
Nabi Muhammad ﷺ sendiri mengajarkan keseimbangan dalam ibadah. Salah satu teladan shalat malam Nabi menunjukkan adanya waktu tidur di malam hari dan waktu bangun untuk beribadah. Dalam hadis tentang Nabi Dawud, beliau tidur setengah malam, beribadah sepertiganya, kemudian tidur lagi seperenamnya.
Pesannya jelas:
Ibadah dan kebutuhan tubuh perlu dijaga keseimbangannya.
Jangan sampai seseorang memaksakan diri begadang setiap malam, kemudian tubuh kekurangan tidur, produktivitas menurun dan kesehatan terganggu.
Tahajud seharusnya membangun kehidupan yang lebih baik, bukan membuat seseorang mengabaikan amanah terhadap tubuhnya.
Tahajud Bukan Ajang Membandingkan Diri
Ada orang yang mampu tahajud setiap malam.
Ada yang baru mampu sekali seminggu.
Ada yang hanya mampu dua rakaat.
Ada yang sedang sakit.
Ada yang bekerja dengan jadwal malam.
Ada yang memiliki bayi dan harus terbangun berkali-kali.
Karena kondisi manusia berbeda-beda, ibadah juga tidak semestinya dijadikan ajang saling menghakimi.
Keindahan tahajud bukan pada status sosial orang yang melakukannya.
Bukan pula pada seberapa sering ia menceritakannya.
Justru salah satu keindahannya adalah:
ia dapat menjadi ibadah yang sangat pribadi antara seorang hamba dengan Allah.
Apa yang Dibaca Saat Tahajud?
Tidak ada satu surat tertentu yang wajib dibaca dalam tahajud.
Seseorang dapat membaca surat yang ia mampu dari Al-Qur’an.
Yang lebih penting adalah memahami bahwa shalat malam bukan perlombaan membaca sebanyak-banyaknya.
Nabi ﷺ sendiri pernah memperpanjang bacaan dan sujudnya dalam shalat malam.
Maka seseorang dapat menyesuaikan bacaan dengan kemampuan.
Yang penting:
khusyuk lebih utama daripada memaksakan diri.
Setelah Tahajud, Jangan Lupa Berdoa
Sepertiga malam terakhir merupakan waktu yang sangat dikenal dalam hadis sebagai waktu untuk memohon.
Maka setelah shalat, seseorang dapat memperbanyak:
istighfar,
shalawat,
doa untuk keluarga,
doa untuk kesehatan,
doa untuk rezeki yang halal,
doa agar diberi petunjuk,
doa untuk orang tua,
dan berbagai permohonan kebaikan lainnya.
Tetapi jangan hanya meminta dunia.
Mintalah juga:
hati yang bersih,
iman yang kokoh,
keteguhan dalam menghadapi ujian,
ampunan atas kesalahan,
dan husnul khatimah.
Tahajud Mengubah Cara Seseorang Menghadapi Masalah
Masalah hidup tidak otomatis hilang setelah seseorang tahajud.
Utang belum tentu langsung lunas.
Pekerjaan belum tentu langsung datang.
Penyakit belum tentu langsung sembuh.
Konflik belum tentu langsung selesai.
Tetapi sesuatu di dalam diri seseorang dapat berubah.
Ia belajar membawa masalahnya kepada Allah.
Ia belajar bahwa dirinya tidak sendirian.
Ia belajar bersabar.
Ia belajar meminta pertolongan.
Ia belajar menerima bahwa manusia memiliki batas kemampuan.
Dan dari sana, ia kembali menjalani ikhtiar pada siang hari.
Inilah hubungan antara doa dan usaha.
Malam untuk menghadap Allah.
Siang untuk bekerja dan berikhtiar.
Rahasia Tahajud yang Sering Tidak Terlihat
Orang mungkin melihat seseorang bangun pukul dua atau tiga pagi.
Tetapi orang lain tidak melihat apa yang terjadi di dalam hatinya.
Mungkin ia sedang memohon agar keluarganya diselamatkan.
Mungkin ia sedang meminta kekuatan menghadapi ujian.
Mungkin ia sedang menangisi kesalahan masa lalu.
Mungkin ia sedang mencari jalan keluar.
Mungkin ia tidak meminta apa-apa selain ampunan Allah.
Itulah sebabnya tahajud memiliki dimensi yang sangat personal.
Tidak semua kehebatan ibadah harus terlihat.
Ada amal yang justru menjadi indah karena hanya Allah yang mengetahuinya.
Bagaimana Memulai Tahajud Tanpa Merasa Berat?
Tidak perlu langsung membuat target yang sulit.
Cobalah langkah sederhana.
1. Tidur lebih awal
Kurangi aktivitas yang tidak penting pada malam hari.
2. Pasang alarm
Letakkan alarm agak jauh dari tempat tidur agar tubuh terdorong untuk bangun.
3. Mulai dengan dua rakaat
Jangan menunggu mampu melakukan banyak rakaat.
4. Setelah itu berdoa
Gunakan waktu setelah shalat untuk berbicara kepada Allah.
5. Pertahankan secara perlahan
Jika belum mampu setiap malam, jangan langsung menyerah.
Yang penting adalah membangun kebiasaan.
Tahajud dan Witir
Shalat malam memiliki tata cara yang beragam dalam praktik fikih.
Dalam hadis Shahih Muslim, Nabi ﷺ menjelaskan bahwa shalat malam dilakukan dua rakaat-dua rakaat dan apabila khawatir waktu Subuh tiba, shalat ditutup dengan witir.
Hadis lain menganjurkan agar witir menjadi penutup shalat malam.
Karena terdapat perbedaan pendapat dalam rincian fikih mengenai jumlah dan tata cara witir, artikel ini tidak dimaksudkan untuk menggantikan panduan ulama atau mazhab yang diikuti pembaca.
Jika Takut Tidak Bangun, Bagaimana?
Tidak semua orang mampu bangun pada penghujung malam.
Nabi ﷺ memberikan jalan keluar.
Dalam Shahih Muslim disebutkan bahwa orang yang khawatir tidak mampu bangun pada akhir malam dapat melaksanakan witir di awal malam, sedangkan orang yang yakin dapat bangun dianjurkan menempatkannya di akhir malam.
Ini menunjukkan fleksibilitas dalam ibadah.
Islam tidak hanya berbicara tentang target ideal.
Islam juga memperhatikan kemampuan manusia.
Tahajud: Bukan Tentang Seberapa Lama, tetapi Seberapa Tulus
Ada orang yang mampu berdiri lama.
Ada yang hanya mampu beberapa rakaat.
Ada yang menangis.
Ada yang tidak menangis.
Ada yang berdoa panjang.
Ada yang hanya mampu mengucapkan beberapa kalimat.
Kita tidak mengetahui bagaimana Allah menilai kedalaman hati seseorang.
Karena itu, jangan jadikan tahajud sebagai ukuran untuk merendahkan orang lain.
Biarkan ia menjadi ruang untuk memperbaiki diri.
Penutup: Ketika Semua Orang Tidur, Ada yang Memilih Mendekat
Tahajud memiliki keistimewaan yang kuat dalam sumber-sumber Islam.
Al-Qur’an menyebutnya sebagai ibadah tambahan pada malam hari dan mengaitkannya dengan maqaman mahmuda.
Nabi Muhammad ﷺ menyebut shalat malam sebagai shalat paling utama setelah shalat wajib.
Dan hadis sahih menggambarkan sepertiga malam terakhir sebagai waktu yang sangat istimewa untuk berdoa dan memohon ampun.
Namun rahasia terbesar tahajud mungkin bukan pada apa yang terlihat setelah seseorang bangun.
Bukan semata-mata tentang rezeki.
Bukan tentang kekayaan.
Bukan tentang kesembuhan dari penyakit.
Bukan pula tentang pujian manusia.
Rahasianya justru ada pada hubungan yang dibangun dalam keheningan.
Ketika dunia sedang sibuk mengejar sesuatu, seorang hamba berhenti.
Ketika manusia lain sedang tidur, ia bangun.
Ia mengambil wudu.
Membentangkan sajadah.
Mengangkat takbir.
Kemudian bersujud.
Dan di sana ia mengatakan kepada Allah, dengan bahasa yang mungkin tidak terdengar siapa pun:
“Ya Allah, aku membutuhkan-Mu.”
Mungkin itulah salah satu kehebatan tahajud.
Ia tidak selalu mengubah keadaan di luar diri seseorang dengan seketika, tetapi dapat menjadi jalan untuk menata hati dalam menghadapi keadaan tersebut.
Catatan Redaksi
Artikel ini membedakan antara keutamaan tahajud berdasarkan Al-Qur’an dan hadis dengan pembahasan mengenai kesehatan.
Dalil mengenai keutamaan shalat malam, doa pada sepertiga malam terakhir, praktik Nabi ﷺ dalam shalat malam, serta tata cara umum shalat malam merujuk pada Al-Qur’an dan hadis yang tersedia dalam sumber-sumber primer/rujukan hadis.
Untuk aspek kesehatan, redaksi sengaja tidak menyebut tahajud sebagai obat atau terapi untuk penyakit tertentu. Bukti mengenai tahajud secara spesifik sebagai intervensi medis masih terbatas. Karena itu, pembaca yang memiliki gangguan kesehatan tetap perlu mendapatkan pemeriksaan dan penanganan tenaga kesehatan.
Referensi Utama
- Al-Qur’an, QS. Al-Isra: 79 — perintah melaksanakan tahajud sebagai ibadah tambahan dan penyebutan maqaman mahmuda.
- Sahih Muslim 1163a–b — shalat malam sebagai shalat yang paling utama setelah shalat wajib.
- Sahih al-Bukhari 1145 — keutamaan sepertiga malam terakhir untuk berdoa dan memohon ampun.
- Sahih al-Bukhari 1131 — teladan shalat dan ibadah malam Nabi Dawud sebagai salah satu bentuk ibadah malam yang utama.
- Sahih al-Bukhari 1147 — riwayat Aisyah tentang shalat malam Nabi Muhammad ﷺ.
- Sahih al-Bukhari 1123 — riwayat tentang panjangnya sujud Nabi ﷺ dalam shalat malam.
- Sahih Muslim 749a–b — shalat malam dua rakaat-dua rakaat dan penutupan dengan witir.
- Sahih Muslim 751b — anjuran menjadikan witir sebagai penutup shalat malam.
- Sahih Muslim 755b — pilihan waktu witir bagi orang yang khawatir tidak bangun pada akhir malam.
- Tafsir yang dirujuk melalui Quran.com — penjelasan mengenai QS. Al-Isra: 79 dan konteks tahajud.










