SPILL Banten – Setiap orang tua tentu memiliki harapan terhadap anaknya. Ada yang berharap anaknya sehat. Ada yang ingin anaknya cerdas. Ada yang ingin anaknya kuat menghadapi kehidupan. Ada yang berharap anaknya berhasil secara ekonomi.
Namun bagi seorang Muslim, ada harapan yang lebih dalam:
semoga anak menjadi saleh, berakhlak baik, kuat menghadapi ujian, mencintai Allah, berbakti kepada orang tua, dan menjadi penyejuk hati.
Harapan semacam itu ternyata bukan sesuatu yang baru.
Al-Qur’an mengabadikan doa para nabi dan orang-orang saleh yang memohon keturunan kepada Allah.
Nabi Zakariya memohon keturunan yang baik.
Nabi Ibrahim memohon anak yang saleh.
Dan Al-Qur’an juga mengajarkan doa agar pasangan dan keturunan menjadi qurrata a’yun—penyejuk mata dan hati—serta menjadi teladan bagi orang-orang bertakwa.
Di balik doa-doa itu ada satu pelajaran besar:
orang tua tidak hanya meminta seorang anak untuk dimiliki, tetapi memohon seorang manusia yang kelak mampu hidup dalam kebaikan.
Anak Bukan Sekadar Penerus Nama
Dalam banyak keluarga, kelahiran anak sering dipandang sebagai penerus nama keluarga.
Tetapi perspektif Al-Qur’an jauh lebih luas.
Keturunan adalah amanah.
Anak bukan hanya seseorang yang akan meneruskan nama orang tua, tetapi manusia yang memiliki perjalanan hidupnya sendiri.
Karena itu, doa tentang anak dalam Al-Qur’an tidak berhenti pada:
“Ya Allah, berikan saya anak.”
Melainkan berkembang menjadi:
“Ya Allah, berikan saya keturunan yang baik.”
Nabi Zakariya mengucapkan:
رَبِّ هَبْ لِي مِنْ لَدُنْكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً ۖ إِنَّكَ سَمِيعُ الدُّعَاءِ
Rabbi hab li min ladunka dzurriyyatan thayyibah, innaka sami’ud-du’a.
Artinya:
“Ya Tuhanku, berilah aku dari sisi-Mu keturunan yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar doa.”
(QS. Ali ‘Imran: 38)
Perhatikan kata yang digunakan:
dzurriyyatan thayyibah.
Bukan sekadar keturunan.
Tetapi keturunan yang baik.
Doa Nabi Zakariya: Ketika Usia Tidak Menghalangi Harapan
Kisah Nabi Zakariya memberikan pelajaran yang sangat kuat bagi siapa pun yang sedang menantikan keturunan.
Dalam Surah Maryam, Nabi Zakariya mengadu kepada Allah bahwa tulangnya telah melemah dan rambutnya telah memutih. Ia juga menyebut istrinya dalam keadaan tidak dapat memiliki anak.
Namun ia tidak berhenti berharap.
Ia berdoa:
رَبِّ فَهَبْ لِي مِنْ لَدُنْكَ وَلِيًّا
Rabbi fa hab li min ladunka waliyyan.
Artinya:
“Ya Tuhanku, maka anugerahkanlah kepadaku seorang anak dari sisi-Mu.”
Doa itu terdapat dalam rangkaian QS. Maryam ayat 4–6.
Kemudian Allah memberikan kabar gembira tentang kelahiran Yahya.
Kisah ini bukan sekadar kisah tentang seseorang yang memperoleh anak setelah lama menunggu.
Ada pelajaran tentang harapan.
Selama manusia masih berdoa kepada Allah, ia tidak boleh menganggap bahwa harapannya sudah selesai hanya karena keadaan terlihat sulit.
Nabi Zakariya Tidak Hanya Meminta Anak, tetapi Pewaris Kebaikan
Ada hal menarik dalam doa Nabi Zakariya.
Dalam QS. Al-Anbiya ayat 89, beliau berdoa:
رَبِّ لَا تَذَرْنِي فَرْدًا وَأَنْتَ خَيْرُ الْوَارِثِينَ
Rabbi la tazarni fardan wa anta khairul-waritsin.
Artinya:
“Ya Tuhanku, janganlah Engkau membiarkan aku hidup seorang diri, dan Engkaulah sebaik-baik pewaris.”
Dalam konteks kisahnya, doa ini berkaitan dengan keinginan Nabi Zakariya memperoleh keturunan.
Dan Al-Qur’an kemudian menyatakan:
“Maka Kami mengabulkan doanya…”
Allah memberikan kepadanya Yahya.
Ini mengajarkan satu hal:
Doa tentang keturunan bukan hanya tentang siapa yang lahir, tetapi juga tentang apa yang akan diwariskan.
Bukan hanya harta.
Bukan hanya nama keluarga.
Tetapi juga iman, ilmu, akhlak dan kebaikan.
Doa Nabi Ibrahim: “Anugerahkanlah Kepadaku Anak yang Saleh”
Nabi Ibrahim juga memiliki doa yang sangat singkat tetapi sangat dalam:
رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ
Rabbi hab li minas-shalihin.
Artinya:
“Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku seorang anak yang saleh.”
(QS. As-Saffat: 100)
Hanya beberapa kata.
Tetapi sasaran doanya sangat jelas.
Nabi Ibrahim tidak sekadar meminta keturunan.
Ia meminta:
minas-shalihin — dari golongan orang-orang saleh.
Ini merupakan salah satu doa yang dapat menjadi inspirasi bagi orang tua.
Karena ukuran keberhasilan seorang anak dalam perspektif agama bukan semata-mata seberapa tinggi jabatan yang dicapai.
Bukan semata-mata berapa banyak uang yang diperoleh.
Bukan pula sekadar seberapa terkenal namanya.
Tetapi:
apakah ia menjadi manusia yang baik di hadapan Allah dan manusia.
Hebat Tidak Selalu Berarti Kaya atau Terkenal
Kata “hebat” sering dipahami sebagai sukses secara duniawi.
Padahal seorang anak bisa disebut hebat karena:
ia jujur ketika berbohong akan lebih menguntungkan;
ia tetap rendah hati ketika memiliki kelebihan;
ia berani membela kebenaran;
ia mampu mengendalikan amarah;
ia menghormati orang tua;
ia memiliki ilmu;
ia mau bekerja keras;
ia peduli kepada orang lain;
dan ia tetap mengingat Allah ketika memperoleh kesuksesan.
Dengan demikian, ketika orang tua berdoa agar memperoleh keturunan yang hebat, doa itu sebaiknya tidak dipersempit menjadi:
“Ya Allah, jadikan anakku kaya.”
Tetapi:
“Ya Allah, jadikan anakku manusia yang kuat, baik, bermanfaat dan dekat kepada-Mu.”
Kuat Bukan Berarti Keras
Ada pula harapan agar anak menjadi kuat.
Namun kekuatan dalam Islam tidak identik dengan kekerasan.
Anak yang kuat adalah anak yang mampu menghadapi kehidupan tanpa kehilangan prinsip.
Ia kuat menghadapi kegagalan.
Kuat menghadapi godaan.
Kuat menghadapi tekanan teman sebaya.
Kuat menolak sesuatu yang haram.
Kuat meminta maaf ketika salah.
Kuat memaafkan ketika disakiti.
Kuat untuk tetap jujur ketika kejujuran terasa merugikan.
Dan kuat untuk tetap berbuat baik ketika orang lain tidak membalas kebaikannya.
Karena itu, kekuatan yang perlu diminta bukan hanya kekuatan fisik.
Tetapi juga kekuatan iman, mental, akhlak dan keteguhan hati.
Doa yang Sangat Indah: Keturunan sebagai Penyejuk Hati
Salah satu doa paling populer mengenai keluarga terdapat dalam QS. Al-Furqan ayat 74:
رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
Rabbana hab lana min azwajina wa dzurriyyatina qurrata a’yun, waj’alna lil-muttaqina imama.
Artinya:
“Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan dan keturunan kami sebagai penyejuk hati, dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.”
Kata yang sangat menarik dalam doa ini adalah:
qurrata a’yun.
Sering diterjemahkan sebagai penyejuk mata atau penyenang hati.
Ini bukan sekadar meminta anak yang membuat orang tua bangga.
Tetapi anak yang keberadaannya menghadirkan ketenteraman karena kebaikannya.
Penyejuk Hati Bukan Berarti Selalu Menuruti Orang Tua
Anak yang menjadi penyejuk hati bukan berarti anak yang selalu mengatakan “iya” kepada semua keinginan orang tua.
Ia bisa saja memiliki pandangan berbeda.
Ia bisa memiliki profesi yang berbeda.
Ia bisa memiliki karakter yang berbeda.
Tetapi ia tetap memiliki adab.
Ia tetap menghormati orang tua.
Ia memiliki prinsip.
Dan ketika dewasa, ia mampu mengambil keputusan dengan tanggung jawab.
Karena itu, qurrata a’yun lebih dalam daripada sekadar anak yang “membanggakan keluarga”.
Doa untuk Anak Tidak Berhenti Setelah Anak Lahir
Ada kecenderungan sebagian orang menganggap doa keturunan hanya diperlukan ketika belum memiliki anak.
Padahal perjalanan sesungguhnya justru dimulai setelah anak lahir.
Anak perlu dididik.
Dijaga.
Diberi contoh.
Diberikan ilmu.
Diarahkan.
Dan didoakan.
Karena itu, QS. Ibrahim ayat 40 memberikan doa yang sangat menarik:
رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلَاةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي
Rabbi-j’alni muqimash-shalati wa min dzurriyyati.
Artinya:
“Ya Tuhanku, jadikanlah aku orang yang tetap melaksanakan shalat dan demikian pula keturunanku.”
Perhatikan urutannya.
Nabi Ibrahim berdoa:
jadikan aku…
baru kemudian:
dan keturunanku.
Seakan ada pesan penting bagi orang tua:
sebelum meminta anak menjadi baik, mintalah diri sendiri menjadi baik.
Anak Belajar dari Apa yang Dilihat
Seorang ayah yang meminta anaknya rajin shalat tetapi dirinya sendiri tidak menjaga shalat akan menghadapi tantangan dalam memberikan keteladanan.
Seorang ibu yang meminta anaknya berkata jujur tetapi sering berbohong di depan anak juga sedang memberikan pelajaran yang bertentangan.
Anak tidak hanya mendengarkan nasihat.
Anak mengamati.
Mereka melihat bagaimana orang tua memperlakukan pasangan.
Bagaimana orang tua berbicara kepada orang yang lebih lemah.
Bagaimana orang tua menghadapi masalah.
Bagaimana orang tua mencari rezeki.
Bagaimana orang tua meminta maaf.
Bagaimana orang tua memperlakukan orang tuanya sendiri.
Karena itu, doa dan keteladanan seharusnya berjalan bersama.
Al-Qur’an Mengajarkan Doa untuk Memperbaiki Keturunan
Ada satu doa lagi yang sangat relevan bagi orang tua:
رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ … وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي
Rabbi awzi’ni an asykura ni’mataka… wa aslih li fi dzurriyyati.
Artinya secara ringkas:
“Ya Tuhanku, ilhamkanlah kepadaku untuk mensyukuri nikmat-Mu … dan perbaikilah untukku keturunanku.”
(QS. Al-Ahqaf: 15)
Doa ini menarik karena permintaannya tidak hanya:
“Berikan aku keturunan.”
Tetapi:
“Perbaikilah keturunanku.”
Ada kesadaran bahwa memiliki anak saja belum cukup.
Yang diharapkan adalah kebaikan dalam perjalanan hidup anak tersebut.
Doa Orang Tua dan Pendidikan Harus Berjalan Bersama
Doa adalah ikhtiar spiritual.
Pendidikan adalah ikhtiar kehidupan.
Keduanya tidak perlu dipertentangkan.
Orang tua dapat mendoakan anak sambil:
- memberikan pendidikan agama;
- mengajarkan akhlak;
- mengenalkan Al-Qur’an;
- mengajarkan tanggung jawab;
- membangun kebiasaan membaca;
- menjaga lingkungan pergaulan;
- memberikan makanan dan rezeki yang halal;
- mengajarkan keterampilan hidup;
- memberi ruang untuk bertanya;
- dan menjadi teladan.
Karena doa bukan alasan untuk berhenti berusaha.
Justru doa seharusnya membuat ikhtiar menjadi lebih terarah.
Keturunan Saleh Bisa Menjadi Amal yang Terus Mengalir
Nabi Muhammad ﷺ bersabda bahwa ketika manusia meninggal, amalnya terputus kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya. Hadis ini diriwayatkan dalam Shahih Muslim.
Hadis ini menunjukkan betapa pentingnya keturunan yang saleh.
Seorang anak bukan hanya menjadi kebahagiaan ketika orang tua masih hidup.
Kebaikan anak bahkan dapat menjadi sebab datangnya manfaat bagi orang tua setelah mereka meninggal, melalui doa sang anak.
Karena itu, membesarkan anak bukan hanya investasi dunia.
Dalam perspektif Islam, ia juga dapat menjadi bagian dari bekal akhirat.
Jangan Hanya Berdoa Agar Anak Menjadi Saleh, Berdoalah Agar Orang Tua Juga Saleh
Ini mungkin bagian paling penting.
Orang tua sering berkata:
“Saya ingin anak saya saleh.”
Tetapi Al-Qur’an mengajarkan sesuatu yang lebih dalam.
Nabi Ibrahim berdoa:
“Ya Tuhanku, jadikanlah aku orang yang tetap melaksanakan shalat dan demikian pula keturunanku.”
Ada dua permintaan di sana:
aku
dan
keturunanku.
Ini seperti mengingatkan orang tua:
jangan hanya mempersiapkan masa depan anak; persiapkan juga diri sendiri.
Karena anak tidak hanya membutuhkan nasihat.
Mereka membutuhkan contoh hidup.
Bagaimana Mengamalkan Doa-Doa Ini?
Doa-doa tersebut dapat dibaca kapan saja sebagai permohonan kepada Allah.
Misalnya:
Setelah shalat
Setelah menyelesaikan shalat wajib, seseorang dapat berdoa memohon keturunan yang baik.
Saat tahajud
Waktu malam dapat digunakan untuk memperbanyak doa dan memohon kepada Allah.
Saat sedang bersama keluarga
Orang tua dapat mendoakan anak secara langsung.
Saat anak menghadapi masalah
Doa tidak harus berhenti ketika anak masih kecil.
Anak yang sudah dewasa pun tetap membutuhkan doa orang tua.
Saat belum memiliki keturunan
Kisah Nabi Zakariya menunjukkan bahwa doa dapat menjadi bagian dari ikhtiar seorang hamba dalam menghadapi penantian.
Namun tetap perlu diingat:
doa bukan jaminan bahwa Allah akan memberikan sesuatu persis sesuai keinginan manusia dan pada waktu yang manusia tentukan.
Doa adalah bentuk penghambaan dan permohonan kepada Allah.
Rangkaian Doa Keturunan yang Bisa Diamalkan
Berikut beberapa doa Al-Qur’an yang dapat menjadi pilihan.
1. Memohon keturunan yang baik
رَبِّ هَبْ لِي مِنْ لَدُنْكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً إِنَّكَ سَمِيعُ الدُّعَاءِ
Rabbi hab li min ladunka dzurriyyatan thayyibah, innaka sami’ud-du’a.
“Ya Tuhanku, berilah aku dari sisi-Mu keturunan yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar doa.”
QS. Ali ‘Imran: 38.
2. Memohon anak yang saleh
رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ
Rabbi hab li minas-shalihin.
“Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku anak yang saleh.”
QS. As-Saffat: 100.
3. Memohon pasangan dan keturunan sebagai penyejuk hati
رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
Rabbana hab lana min azwajina wa dzurriyyatina qurrata a’yun, waj’alna lil-muttaqina imama.
“Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan dan keturunan kami sebagai penyejuk hati, dan jadikanlah kami teladan bagi orang-orang yang bertakwa.”
QS. Al-Furqan: 74.
4. Memohon agar diri dan keturunan menjadi orang yang menjaga shalat
رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلَاةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ
Rabbi-j’alni muqimash-shalati wa min dzurriyyati rabbana wa taqabbal du’a.
“Ya Tuhanku, jadikanlah aku orang yang tetap melaksanakan shalat dan demikian pula keturunanku. Ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku.”
QS. Ibrahim: 40.
5. Memohon agar keturunan diperbaiki
وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي
Wa aslih li fi dzurriyyati.
“Dan perbaikilah untukku keturunanku.”
Bagian doa ini terdapat dalam QS. Al-Ahqaf: 15.
6. Doa Nabi Zakariya agar tidak hidup tanpa keturunan
رَبِّ لَا تَذَرْنِي فَرْدًا وَأَنْتَ خَيْرُ الْوَارِثِينَ
Rabbi la tazarni fardan wa anta khairul-waritsin.
“Ya Tuhanku, janganlah Engkau membiarkan aku hidup seorang diri, dan Engkaulah sebaik-baik pewaris.”
QS. Al-Anbiya: 89.
Jangan Mengukur Keberhasilan Anak Hanya dari Prestasi
Ada anak yang menjadi dokter.
Ada yang menjadi guru.
Ada yang menjadi pengusaha.
Ada yang menjadi petani.
Ada yang menjadi pegawai.
Ada yang menjadi seniman.
Ada yang memilih jalan kehidupan yang sederhana.
Profesi bukan satu-satunya ukuran keberhasilan.
Anak yang jujur juga berhasil.
Anak yang menjaga shalat juga berhasil.
Anak yang tidak mengambil hak orang lain juga berhasil.
Anak yang merawat orang tuanya ketika tua juga berhasil.
Anak yang menggunakan ilmunya untuk membantu orang lain juga berhasil.
Karena ukuran kebaikan tidak selalu terlihat dalam bentuk gelar dan kekayaan.
“Penyejuk Hati” Dimulai dari Rumah
Anak yang saleh tidak lahir hanya dari doa yang diucapkan sekali.
Ia tumbuh dalam lingkungan.
Ia belajar dari percakapan.
Ia menyerap kebiasaan.
Ia melihat bagaimana orang tua menjalankan agama.
Karena itu, rumah adalah sekolah pertama.
Kalau orang tua ingin anak mencintai Al-Qur’an, biarkan anak melihat Al-Qur’an hadir di rumah.
Kalau ingin anak rajin shalat, biarkan anak melihat orang tua menjaga shalat.
Kalau ingin anak menghormati orang lain, tunjukkan penghormatan itu kepada mereka.
Kalau ingin anak jujur, jangan ajarkan kebohongan sebagai jalan keluar.
Doa kemudian menjadi kekuatan yang menyertai semua usaha tersebut.
Keturunan Hebat Tidak Harus Menjadi Terkenal
Ada anak-anak yang kelak namanya dikenal banyak orang.
Tetapi ada pula anak yang hidupnya sederhana dan tidak pernah masuk berita.
Namun ia:
merawat orang tuanya,
membantu tetangganya,
menjaga amanah,
mencari rezeki halal,
rajin beribadah,
dan tidak menyakiti orang lain.
Boleh jadi namanya tidak dikenal manusia.
Tetapi kehidupannya bernilai.
Maka ketika meminta:
“Ya Allah, berikan aku keturunan yang hebat,”
barangkali yang paling baik adalah mendefinisikan kembali kata hebat.
Hebat bukan selalu berarti terkenal.
Hebat bisa berarti baik ketika tidak ada yang melihat.
Penutup: Doakan Anak, Didik Anak, dan Jadilah Teladan
Al-Qur’an memberikan banyak pelajaran tentang bagaimana manusia memohon keturunan.
Nabi Zakariya memohon dzurriyyatan thayyibah—keturunan yang baik.
Nabi Ibrahim memohon anak dari golongan orang-orang saleh.
Ada pula doa agar pasangan dan keturunan menjadi qurrata a’yun, penyejuk hati.
Dan Nabi Ibrahim memohon agar dirinya serta keturunannya menjadi orang-orang yang menjaga shalat.
Semua itu menunjukkan bahwa doa terbaik tentang anak bukan sekadar:
“Ya Allah, berikan kami keturunan.”
Tetapi:
“Ya Allah, berikan kami keturunan yang baik.”
“Jadikan mereka saleh.”
“Jadikan mereka kuat menghadapi kehidupan.”
“Jadikan mereka penyejuk hati.”
“Jadikan mereka dekat kepada-Mu.”
Dan yang tidak kalah penting:
“Jadikan kami orang tua yang layak menjadi teladan bagi mereka.”
Sebab anak adalah amanah.
Mereka bukan proyek untuk memenuhi ambisi orang tua.
Mereka bukan alat untuk memperbesar nama keluarga.
Mereka adalah manusia yang dipercayakan kepada orang tua untuk dicintai, dididik, diarahkan dan didoakan.
Maka ketika tangan seorang ayah atau ibu terangkat dalam doa, yang sebenarnya sedang dimohon bukan hanya masa depan anak.
Yang sedang dimohon adalah:
masa depan sebuah generasi.
Catatan Redaksi
Artikel ini menggunakan ayat-ayat Al-Qur’an sebagai sumber utama untuk doa tentang keturunan. Beberapa doa secara eksplisit merupakan doa Nabi, seperti doa Nabi Zakariya dan Nabi Ibrahim. Sementara QS. Al-Furqan: 74 adalah doa yang disebut sebagai karakter ‘ibadurrahman (hamba-hamba Allah Yang Maha Pengasih), bukan doa yang secara eksplisit dinisbatkan kepada nabi tertentu.
Istilah “keturunan hebat, kuat, saleh” dalam artikel ini merupakan pengembangan jurnalistik dari nilai-nilai yang terkandung dalam ayat-ayat tersebut, bukan lafaz doa Al-Qur’an secara literal.
Artikel juga tidak bermaksud menyatakan bahwa membaca doa tertentu akan secara otomatis menjamin seseorang memperoleh anak dengan karakter tertentu. Dalam perspektif Islam, doa berjalan bersama ikhtiar, pendidikan, keteladanan, dan kehendak Allah.
Hadis tentang anak saleh yang mendoakan orang tuanya setelah orang tua meninggal diriwayatkan dalam Shahih Muslim 1631.
Referensi Utama
- Al-Qur’an, QS. Ali ‘Imran: 38–39 — doa Nabi Zakariya memohon keturunan yang baik dan kabar kelahiran Yahya.
- Al-Qur’an, QS. Maryam: 4–7 — doa Nabi Zakariya, kondisi beliau, dan kabar gembira kelahiran Yahya.
- Al-Qur’an, QS. Al-Anbiya: 89–90 — doa Nabi Zakariya agar tidak ditinggalkan tanpa keturunan dan dikabulkannya doa tersebut.
- Al-Qur’an, QS. As-Saffat: 100–102 — doa Nabi Ibrahim memohon anak yang saleh dan kisah Ismail.
- Al-Qur’an, QS. Ibrahim: 40–41 — doa Nabi Ibrahim agar dirinya dan keturunannya menegakkan shalat.
- Al-Qur’an, QS. Al-Furqan: 74 — doa memohon pasangan dan keturunan sebagai qurrata a’yun dan menjadi teladan bagi orang bertakwa.
- Al-Qur’an, QS. Al-Ahqaf: 15 — doa agar keturunan diperbaiki dan agar manusia bersyukur serta beramal saleh.
- Shahih Muslim 1631 — anak saleh yang mendoakan orang tua sebagai salah satu amal yang terus memberi manfaat setelah kematian.
- Quran.com — Kumpulan doa tentang anak dan keturunan dalam Al-Qur’an, sebagai rujukan silang ayat-ayat terkait.










