Beranda / Agama / Apa yang Terjadi pada Tubuh Saat Kita Sholat? Dari Doa, Rukuk hingga Sujud

Apa yang Terjadi pada Tubuh Saat Kita Sholat? Dari Doa, Rukuk hingga Sujud

Sholat - Photo by Raihan Ali

SPILL Banten – Ada ibadah yang dilakukan setiap hari, lima kali dalam sehari, dengan gerakan yang berulang dan doa yang terus-menerus dipanjatkan.

Itulah sholat.

Dalam Islam, sholat bukan sekadar rangkaian berdiri, rukuk, sujud dan duduk. Di dalamnya terdapat komunikasi seorang hamba dengan Allah: memuji, memohon ampun, meminta perlindungan, memohon petunjuk, serta menyerahkan berbagai kegelisahan kepada-Nya.

Menariknya, dari sudut pandang kesehatan modern, sejumlah penelitian juga telah mengkaji gerakan dan praktik salat. Hasil penelitian menunjukkan adanya potensi manfaat pada aspek psikologis, neurologis, kardiovaskular, keseimbangan, serta sistem muskuloskeletal. Namun, penelitian tersebut juga memiliki keterbatasan sehingga manfaat kesehatan salat tidak tepat jika dibingkai sebagai pengganti olahraga, obat, atau perawatan medis.

Dengan kata lain, sholat memiliki dua dimensi yang dapat dibaca secara bersamaan: ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah dan aktivitas yang melibatkan tubuh.

Sholat: Menghadap Allah dengan Tubuh dan Jiwa

Al-Qur’an menyebut tujuan sholat berkaitan erat dengan mengingat Allah.

“Dan laksanakanlah salat untuk mengingat-Ku.”

(QS. Thaha: 14)

Dalam ayat lain, Al-Qur’an menjelaskan bahwa sholat memiliki fungsi moral: ia menjadi bagian dari upaya seorang Muslim menjauhkan diri dari perbuatan keji dan mungkar.

Karena itu, sholat bukan hanya aktivitas fisik.

Gerakannya melibatkan tubuh.

Bacaannya melibatkan lisan.

Kekhusyukannya melibatkan hati.

Dan doanya merupakan bentuk penghambaan kepada Allah.

Doa-Doa yang Dibaca dalam Sholat

Ada banyak doa yang diajarkan Nabi Muhammad ﷺ dalam sholat. Sebagian dibaca pada posisi tertentu, sementara sebagian lainnya dapat menjadi doa yang dipanjatkan setelah tahiyat.

Berikut beberapa di antaranya yang memiliki dasar dalam hadis.

1. Doa Istiftah: Memulai Sholat dengan Memohon Kesucian

Salah satu doa yang diriwayatkan dari Nabi Muhammad ﷺ dibaca setelah takbiratul ihram sebelum membaca Al-Fatihah.

Allahumma baa’id baini wa baina khathayaya kamaa baa’adta bainal-masyriqi wal-maghrib. Allahumma naqqini min khathayaya kamaa yunaqqats-tsaubul-abyadhu minad-danas. Allahummaghsil khathayaya bil-ma’i wats-tsalji wal-barad.

Artinya:

“Ya Allah, jauhkanlah antara aku dan kesalahan-kesalahanku sebagaimana Engkau menjauhkan antara timur dan barat. Ya Allah, bersihkanlah aku dari kesalahan-kesalahanku sebagaimana pakaian putih dibersihkan dari kotoran. Ya Allah, cucilah kesalahan-kesalahanku dengan air, salju dan embun es.”

Doa ini diriwayatkan dalam Shahih al-Bukhari.

Pesannya sangat dalam.

Sebelum seorang Muslim memulai bacaan sholat, ia terlebih dahulu memohon agar dirinya dibersihkan dari kesalahan.

2. Doa Saat Rukuk: Mengagungkan Allah

Dalam rukuk, seorang Muslim mengagungkan Allah dengan bacaan:

Subhaana rabbiyal ‘azhiim.

Artinya:

“Mahasuci Tuhanku Yang Mahaagung.”

Rukuk mengajarkan satu sikap penting: ketika manusia menundukkan tubuhnya, ia sedang mengingat kebesaran Allah.

Tubuh yang berdiri tegak kemudian membungkuk.

Kesombongan diluruhkan.

Hati diajak mengingat bahwa manusia hanyalah makhluk.

3. Doa Saat Bangkit dari Rukuk

Ketika bangkit dari rukuk, seorang Muslim membaca:

Sami’allahu liman hamidah.

Artinya:

“Allah mendengar orang yang memuji-Nya.”

Kemudian dilanjutkan:

Rabbanaa wa lakal hamd.

Artinya:

“Ya Tuhan kami, bagi-Mulah segala puji.”

Rangkaian ini mengingatkan bahwa pujian pada akhirnya kembali kepada Allah.

4. Doa Saat Sujud: Memohon Sebanyak-Banyaknya

Sujud merupakan salah satu posisi paling penting dalam sholat.

Nabi Muhammad ﷺ bersabda bahwa seorang hamba berada pada keadaan paling dekat dengan Tuhannya ketika ia sedang sujud, sehingga dianjurkan memperbanyak doa ketika itu. Hadis ini diriwayatkan dalam Shahih Muslim.

Bacaan tasbih yang umum:

Subhaana rabbiyal a’laa.

Artinya:

“Mahasuci Tuhanku Yang Mahatinggi.”

Sujud memiliki paradoks yang indah.

Manusia merendahkan tubuhnya ke tanah, tetapi justru pada saat itulah ia berada dalam posisi spiritual yang sangat dekat kepada Allah.

Karena itu, sujud sering menjadi tempat seseorang mencurahkan sesuatu yang tidak mampu ia ungkapkan kepada manusia.

5. Doa di Antara Dua Sujud

Di antara dua sujud, Nabi Muhammad ﷺ mengajarkan doa:

Rabbighfir li, rabbighfir li.

Artinya:

“Wahai Tuhanku, ampunilah aku. Wahai Tuhanku, ampunilah aku.”

Riwayat ini terdapat dalam Sunan Ibnu Majah dan dinilai sahih oleh Darussalam pada laman hadis tersebut.

Dalam praktik sholat, doa ini terasa sangat sederhana.

Namun maknanya besar.

Manusia mengakui bahwa dirinya memiliki kesalahan dan membutuhkan ampunan Allah.

Ada pula riwayat doa yang lebih panjang dalam sholat malam:

Buat kamu  Saat Rezeki Terasa Sempit, Ingat Doa Rasulullah ﷺ agar Tidak Terpaksa Mencari Harta Haram

Rabbighfir li warhamni wajburni warzuqni warfa’ni.

Artinya:

“Ya Tuhanku, ampunilah aku, rahmatilah aku, perbaikilah keadaanku, berilah aku rezeki dan angkatlah derajatku.”

Riwayat ini terdapat dalam Sunan Ibnu Majah, tetapi pada sumber yang sama diberi penilaian da’if oleh Darussalam. Karena itu, status hadisnya perlu disebutkan dan tidak disamakan dengan riwayat yang lebih kuat.

6. Doa Setelah Tahiyat: Memohon Perlindungan dari Empat Perkara

Sebelum salam, setelah tahiyat, terdapat doa yang diajarkan Nabi Muhammad ﷺ:

Allahumma inni a’udzu bika min ‘adzaabi jahannam, wa min ‘adzaabil-qabr, wa min fitnatil-mahyaa wal-mamaat, wa min syarri fitnatil-masihid-dajjal.

Artinya:

“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari azab Jahannam, dari azab kubur, dari fitnah kehidupan dan kematian, serta dari keburukan fitnah Al-Masih Ad-Dajjal.”

Doa ini diriwayatkan oleh Muslim dan dianjurkan dibaca setelah tahiyat.

Doa tersebut menunjukkan bahwa sholat juga merupakan ruang perlindungan.

Manusia tidak hanya meminta rezeki.

Ia juga meminta keselamatan.

Tidak hanya meminta dunia.

Ia juga memohon keselamatan akhirat.

Sholat dan Kesehatan: Apa Kata Penelitian?

Di sinilah pentingnya membedakan antara keyakinan keagamaan dan kesimpulan ilmiah.

Dalam perspektif Islam, sholat adalah ibadah wajib. Manfaat spiritualnya tidak bergantung pada hasil penelitian laboratorium.

Sementara dalam ilmu kesehatan, yang diteliti adalah dampak gerakan, postur, aktivitas fisiologis, relaksasi, dan aspek psikologis yang menyertai praktik salat.

Salah satu tinjauan literatur yang diterbitkan di Medical Journal of Malaysia pada 2021 menelaah penelitian mengenai manfaat kesehatan salat. Review tersebut melaporkan adanya temuan mengenai aspek psikologis, neurologis, kardiovaskular dan muskuloskeletal. Namun penelitian mengenai bidang ini masih terus berkembang.

1. Gerakan Sholat Melibatkan Banyak Otot dan Persendian

Sholat terdiri dari sejumlah perubahan posisi:

  • berdiri,
  • rukuk,
  • berdiri kembali,
  • sujud,
  • duduk,
  • kemudian kembali berdiri.

Perubahan posisi tersebut membuat berbagai kelompok otot dan persendian ikut bekerja.

Sebuah penelitian yang mengamati aktivitas otot selama posisi salat menemukan adanya pola kontraksi dan relaksasi yang berbeda pada otot trapezius dan erector spinae selama berdiri, rukuk dan sujud.

Artinya, sholat bukan aktivitas tubuh yang sepenuhnya pasif.

Ada gerakan.

Ada perubahan posisi.

Ada kerja otot.

Ada kontrol tubuh.

2. Rukuk dan Sujud Berkaitan dengan Mobilitas Tubuh

Gerakan rukuk melibatkan perubahan posisi tulang belakang, panggul dan tungkai.

Sementara sujud melibatkan perubahan posisi pada sejumlah persendian secara bersamaan.

Penelitian biomekanik menunjukkan bahwa postur rukuk memberikan beban tertentu pada tulang belakang bagian bawah. Pada orang sehat, gerakan tersebut dapat dianalisis sebagai bagian dari pola gerak tubuh, tetapi bagi seseorang yang mengalami nyeri punggung, teknik atau modifikasi tertentu dapat mengurangi beban pada area tersebut.

Pesannya penting:

Gerakan sholat memiliki manfaat potensial, tetapi cara melakukan gerakan harus memperhatikan kondisi tubuh.

Orang yang memiliki masalah lutut, pinggang, keseimbangan, atau kondisi medis tertentu tidak seharusnya memaksakan gerakan yang memperburuk kondisinya.

Dalam Islam sendiri terdapat keringanan dalam pelaksanaan sholat bagi orang yang tidak mampu melakukan gerakan tertentu.

3. Sholat Berkaitan dengan Keseimbangan Tubuh

Penelitian yang membandingkan orang yang rutin melakukan sholat dengan kelompok yang tidak melakukannya menemukan perbedaan pada sejumlah parameter keseimbangan dinamis tubuh.

Hal tersebut masuk akal untuk diteliti karena sholat melibatkan perpindahan posisi secara berulang:

berdiri → rukuk → berdiri → sujud → duduk → berdiri.

Setiap perpindahan membutuhkan koordinasi tubuh.

Namun hasil penelitian semacam ini tidak boleh diterjemahkan sebagai bukti bahwa sholat otomatis mencegah semua gangguan keseimbangan.

Kesehatan manusia dipengaruhi banyak faktor: usia, kekuatan otot, aktivitas fisik, penyakit, nutrisi, tidur dan gaya hidup.

4. Sholat dan Sistem Saraf

Salah satu penelitian terhadap 30 pria Muslim sehat mengukur aktivitas EEG dan variabilitas denyut jantung sebelum, selama dan setelah salat.

Penelitian tersebut menemukan peningkatan indikator aktivitas parasimpatik selama salat serta perubahan aktivitas EEG tertentu. Para peneliti mengaitkannya dengan keadaan relaksasi dan respons sistem saraf otonom.

Penelitian lain yang menggunakan EEG juga menemukan perubahan aktivitas otak ketika peserta melakukan salat.

Temuan ini menarik karena menunjukkan bahwa sholat bukan hanya rangkaian gerakan tubuh.

Ada pula unsur:

konsentrasi, bacaan, perhatian, ritme gerak dan ketenangan.

Semua itu dapat menjadi objek penelitian fisiologis.

5. Sholat dan Ketenangan Psikologis

Manusia modern hidup dalam situasi yang sering kali penuh tekanan.

Pekerjaan.

Masalah ekonomi.

Hubungan sosial.

Kecemasan mengenai masa depan.

Dalam keadaan seperti itu, sholat memberikan jeda lima kali sehari untuk berhenti dari kesibukan dunia dan mengarahkan perhatian kepada Allah.

Al-Qur’an menempatkan sholat sebagai sarana mengingat Allah.

Dalam penelitian mengenai salat, sejumlah temuan juga mengarah pada hubungan dengan aspek psikologis dan relaksasi, meskipun kualitas dan desain penelitian berbeda-beda sehingga hasilnya perlu dibaca secara hati-hati.

Dengan demikian, tidak tepat mengatakan:

“Sholat pasti menyembuhkan stres.”

Yang lebih tepat adalah:

Sholat dapat menjadi bagian dari praktik spiritual yang membantu seseorang memperoleh ketenangan, sementara penelitian ilmiah sedang terus mempelajari mekanisme dan besarnya manfaat tersebut.

6. Sholat Bukan Pengganti Olahraga

Ini bagian yang penting.

Buat kamu  Bukan Sekadar Minta Jodoh, Ini Doa yang Diajarkan Al-Qur’an untuk Mendapatkan Pasangan Terbaik

Walaupun sholat melibatkan aktivitas fisik, bukan berarti seseorang yang sudah sholat lima waktu tidak membutuhkan aktivitas fisik lainnya.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan orang dewasa melakukan setidaknya 150–300 menit aktivitas aerobik intensitas sedang per minggu, atau 75–150 menit aktivitas intensitas berat, ditambah aktivitas penguatan otot pada dua hari atau lebih setiap minggu.

Karakter gerakan sholat berbeda dengan latihan aerobik atau latihan kekuatan yang terstruktur.

Karena itu:

Sholat adalah ibadah.

Olahraga adalah aktivitas kebugaran.

Keduanya tidak perlu dipertentangkan.

Justru keduanya dapat berjalan bersama.

7. Sholat Tidak Menggantikan Pengobatan

Begitu pula ketika seseorang sakit.

Sholat dapat memberikan dukungan spiritual dan ketenangan batin, tetapi bukan berarti seseorang harus meninggalkan pemeriksaan dokter atau pengobatan yang diperlukan.

Penelitian mengenai hubungan doa dan kesehatan secara umum juga menunjukkan hasil yang beragam. Salah satu review eksperimental menyatakan bahwa bukti mengenai efek langsung doa terhadap kesehatan fisik masih terbatas dan membutuhkan penelitian lebih lanjut.

Karena itu, kita perlu menghindari klaim seperti:

“Sholat pasti menyembuhkan penyakit.”

Kalimat seperti itu terlalu jauh dari apa yang dapat dibuktikan penelitian.

Yang lebih bertanggung jawab adalah mengatakan bahwa sholat memiliki nilai spiritual yang sangat penting dan terdapat penelitian yang menemukan berbagai potensi manfaat fisiologis dan psikologis dari praktik salat.

Ketika Doa dan Gerakan Menjadi Satu

Ada hal menarik dalam sholat.

Ketika berdiri, manusia membaca.

Ketika rukuk, manusia mengagungkan.

Ketika sujud, manusia merendahkan diri.

Ketika duduk, manusia kembali berdoa.

Dengan demikian, sholat menggabungkan:

pikiran, ucapan, tubuh dan hati.

Bagi seorang Muslim, seluruh rangkaian itu bukan sekadar olahraga ringan.

Ia adalah ibadah.

Sementara dari perspektif kesehatan, gerakan dan ritmenya dapat menjadi objek penelitian mengenai postur, keseimbangan, aktivitas otot, sistem saraf dan aspek psikologis.

Lima Waktu, Lima Kali Jeda dari Kesibukan

Ada hikmah praktis yang dapat direnungkan.

Subuh membuat manusia berhenti dari tidur dan mengingat Allah.

Zuhur menghentikan aktivitas kerja di tengah hari.

Asar kembali mengingatkan manusia ketika kesibukan belum selesai.

Maghrib menjadi jeda ketika siang berganti malam.

Isya menutup hari dengan kembali menghadap Allah.

Lima waktu tersebut membentuk ritme kehidupan.

Manusia tidak dibiarkan terus-menerus mengejar dunia tanpa berhenti.

Ada waktu untuk bekerja.

Ada waktu untuk keluarga.

Ada waktu untuk beristirahat.

Dan ada waktu untuk kembali mengingat Sang Pencipta.

Sholat yang Sehat untuk Jiwa, Tubuh yang Dijaga dengan Baik

Dari sini kita dapat mengambil satu pelajaran penting.

Kesehatan dalam Islam tidak hanya berbicara tentang tubuh.

Tetapi juga tentang hati dan perilaku.

Tubuh perlu dijaga dengan makanan yang baik, tidur yang cukup dan aktivitas fisik.

Jiwa perlu dijaga dengan doa, dzikir dan ibadah.

Dan keduanya membutuhkan keseimbangan.

Sholat dapat menjadi salah satu titik temu antara keduanya.

Gerakannya membuat tubuh bergerak.

Bacaannya mengarahkan pikiran.

Doanya menenangkan hati.

Dan ibadahnya menghubungkan manusia dengan Allah.

Jangan Hanya Mengejar Gerakannya, Rasakan Maknanya

Pada akhirnya, jangan sampai pembahasan tentang manfaat kesehatan membuat sholat dipahami seperti senam.

Sebab tujuan utama sholat bukan membakar kalori.

Bukan meningkatkan massa otot.

Bukan menurunkan berat badan.

Tujuan utamanya adalah beribadah kepada Allah dan mengingat-Nya.

Manfaat kesehatan adalah sesuatu yang dapat menyertai praktik tersebut, dan sebagian di antaranya telah menjadi objek penelitian ilmiah.

Maka ketika seorang Muslim berdiri untuk sholat, yang perlu diingat bukan hanya:

“Tubuh saya sedang bergerak.”

Tetapi juga:

“Saya sedang menghadap Allah.”

Ketika rukuk:

“Saya sedang merendahkan diri.”

Ketika sujud:

“Saya sedang berada dalam posisi paling dekat dengan Tuhan saya.”

Dan ketika selesai:

“Saya kembali menjalani kehidupan dengan hati yang semoga lebih tertata.”

Penutup: Sholat Mengajarkan Keseimbangan

Sholat mengajarkan manusia untuk tidak hanya memperhatikan satu sisi kehidupan.

Ada kebutuhan tubuh.

Ada kebutuhan jiwa.

Ada pekerjaan.

Ada ibadah.

Ada ikhtiar.

Ada doa.

Dalam bahasa sederhana:

Tubuh perlu bergerak. Jiwa perlu tenang. Hati perlu mengingat Allah.

Penelitian modern memberikan gambaran bahwa salat memiliki sejumlah potensi manfaat fisiologis dan psikologis, terutama berkaitan dengan gerakan tubuh, keseimbangan, aktivitas otot dan respons sistem saraf. Namun manfaat tersebut tidak menjadikan salat sebagai pengganti olahraga terstruktur atau pengobatan medis.

Sedangkan bagi seorang Muslim, nilai terbesar sholat tetap berada pada kedudukannya sebagai ibadah.

Karena pada akhirnya, kesehatan tubuh adalah bagian dari amanah.

Dan ketenangan jiwa adalah bagian dari perjalanan manusia untuk kembali kepada Allah.


Catatan Redaksi

Artikel ini menggabungkan sumber keislaman berupa Al-Qur’an dan hadis dengan hasil penelitian kesehatan yang tersedia dalam literatur ilmiah.

Untuk bagian doa, redaksi membedakan antara riwayat yang kuat dan riwayat yang memiliki perbedaan penilaian. Khusus doa “Rabbighfir li warhamni wajburni warzuqni warfa’ni”, sumber yang dirujuk mencantumkan penilaian da’if, sehingga tidak diposisikan setara dengan hadis sahih.

Untuk aspek kesehatan, penelitian yang dikutip menunjukkan potensi atau asosiasi manfaat, bukan jaminan bahwa sholat dapat menyembuhkan penyakit tertentu. Pembaca yang memiliki keluhan kesehatan tetap dianjurkan mengikuti pemeriksaan dan penanganan tenaga kesehatan.

Referensi Utama

  1. Al-Qur’an, QS. Thaha: 14 — sholat sebagai sarana mengingat Allah.
  2. Al-Qur’an, QS. Al-‘Ankabut: 45 — hubungan sholat dengan pencegahan perbuatan keji dan mungkar.
  3. Sahih Muslim 482 — anjuran memperbanyak doa ketika sujud.
  4. Sahih al-Bukhari 744 — doa istiftah yang diajarkan Nabi ﷺ.
  5. Sunan Ibn Majah 897 — doa di antara dua sujud.
  6. Riyad as-Salihin 1423, dari riwayat Muslim — doa perlindungan setelah tahiyat.
  7. Chamsi-Pasha & Chamsi-Pasha, A Review of the Literature on the Health Benefits of Salat, Medical Journal of Malaysia, 2021.
  8. Doufesh dkk., Effect of Muslim Prayer (Salat) on α Electroencephalography and Its Relationship with Autonomic Nervous System Activity.
  9. Physical Activity Associated with Prayer Regimes Improves Standing Dynamic Balance of Healthy People.
  10. AbouHassan dkk., penelitian biomekanik postur rukuk dan beban tulang belakang.
  11. World Health Organization (WHO), Guidelines on Physical Activity and Sedentary Behaviour.
Tag:
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted