Beranda / Agama / Syekh Asnawi Caringin dan Perjalanan 3,5 Tahun: Dari Makkah, Melintasi Negeri hingga Kembali ke Banten

Syekh Asnawi Caringin dan Perjalanan 3,5 Tahun: Dari Makkah, Melintasi Negeri hingga Kembali ke Banten

perjalanan caringan ke mekkah

SPILL Banten — Pada awal abad ke-20, perjalanan dari Banten menuju Makkah bukanlah perjalanan yang bisa ditempuh dengan membeli tiket pesawat, kemudian beberapa jam kemudian tiba di Jeddah.

Bagi seorang ulama Banten seperti Syekh Asnawi Caringin, perjalanan menuju Tanah Suci berarti meninggalkan kampung halaman, menaiki kapal berbulan-bulan, menghadapi ketidakpastian perjalanan dan memasuki dunia yang sama sekali berbeda.

Tetapi perjalanan Syekh Asnawi mempunyai cerita yang lebih panjang.

Pada 1912, ia berangkat ke Makkah bersama keluarga, para menantu dan pembantu. Rencana awalnya bukan hanya menunaikan ibadah haji, tetapi juga bermukim di Makkah.

Perjalanan itu kemudian berubah menjadi sebuah pengembaraan.

Dua tahun setelah keberangkatan mereka, situasi politik dan keamanan di Makkah memburuk. Perang dan wabah membuat kehidupan semakin sulit. Keluarga Syekh Asnawi akhirnya harus meninggalkan Tanah Suci.

Dan perjalanan pulang ternyata jauh lebih sulit daripada perjalanan berangkat.

Mereka tidak bisa begitu saja naik kapal dan kembali ke Banten.

Mereka harus menempuh perjalanan darat, berpindah dari satu negeri ke negeri lain, bekerja untuk bertahan hidup, mengajar, sekaligus tetap belajar kepada ulama yang ditemui.

Perjalanan yang semula dimulai sebagai perjalanan haji berubah menjadi perjalanan hidup.

Anak muda Caringin yang ingin belajar ke Makkah

Jauh sebelum perjalanan 1912, Syekh Asnawi sebenarnya sudah pernah pergi ke Makkah ketika masih muda.

Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Banten mencatat bahwa ketika masih muda, ayahnya, Syekh Abdurrahman, mengirim Asnawi ke Makkah untuk belajar kepada ulama di Tanah Suci. Ia begitu bersemangat hingga disebut tidak sabar menunggu keberangkatan. Ia kemudian dititipkan kepada nakhoda kapal yang menuju Makkah. Pada masa itu, perjalanan dari Nusantara menuju Makkah disebut dapat memakan waktu sekitar satu tahun.

Bagi Asnawi muda, Makkah bukan hanya tempat untuk berhaji.

Makkah adalah tempat mencari ilmu.

Di sana ia belajar kepada beberapa ulama. Sumber Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Banten menyebut antara lain Syekh Hasabullah al-A’ma, Syekh Ahmad Khatib Sambasy, kemudian Syekh Abdul Karim al-Tanara, dan Syekh Nawawi al-Bantani.

Lingkungan Makkah pada masa itu juga mempertemukan ulama dan pelajar dari berbagai penjuru Nusantara.

Asnawi belajar bersama sejumlah tokoh yang kemudian menjadi nama besar dalam sejarah Islam Indonesia.

Di antara mereka disebut KH Hasyim Asy’ari, KH Ahmad Dahlan dan KH Khalil Bangkalan.

Ada pula KH Tubagus Muhammad Wasi, yang kelak justru menjadi bagian penting dari keluarga Syekh Asnawi karena putranya, KH Tubagus Achmad Chatib, menikah dengan putri Syekh Asnawi, Ratu Hasanah.

Makkah, dengan demikian, bukan sekadar tempat Syekh Asnawi menuntut ilmu.

Di sana ia membangun jaringan persahabatan dan keilmuan yang kelak kembali berpengaruh ketika ia pulang ke Banten.

Tahun 1912: berangkat bukan seorang diri

Pada 1912, Syekh Asnawi kembali menuju Makkah.

Kali ini ceritanya berbeda.

Ia tidak berangkat seorang diri.

Ia membawa keluarga, para menantu dan pembantu-pembantunya.

Tulisan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Banten mengenai Ratu Hasanah menyebut jumlah rombongan mencapai 16 orang. Mereka berangkat untuk menunaikan ibadah haji dengan rencana bermukim di Makkah.

Catatan keluarga yang diterbitkan dalam buku mengenai KH Tubagus Achmad Suchari Chatib memberikan daftar yang lebih rinci mengenai rombongan tersebut.

Di antara mereka terdapat:

  • Syekh Asnawi;
  • Nyai Chalimah, istrinya;
  • Ratu Chamsah;
  • Ratu Zainab;
  • Ratu Chasanah;
  • KH Tb Muhammad Hadi;
  • KH Tb Muhammad Mahdi;
  • Ratu Afiah;
  • beberapa menantu;
  • serta beberapa pembantu dan cucu.

Catatan keluarga tersebut menyebut mereka dibawa dan dibiayai Syekh Asnawi untuk bermukim di Makkah.

Ini bukan lagi perjalanan seorang santri.

Ini adalah perjalanan satu keluarga besar ulama Banten menuju pusat dunia Islam.

Ratu Hasanah berangkat dalam keadaan hamil

Di antara rombongan tersebut terdapat putri Syekh Asnawi, Ratu Hasanah, yang saat itu telah menikah dengan KH Tubagus Achmad Chatib.

Perjalanan menuju Makkah ditempuh ketika Ratu Hasanah sedang hamil tua.

Dan sesampainya di Makkah, terjadi sebuah peristiwa yang kelak menjadi bagian penting dari sejarah keluarga itu.

Ratu Hasanah melahirkan seorang anak perempuan.

Syekh Asnawi kemudian memberi nama bayi tersebut:

Ratu Ifat Fatmah Chatib.

Ia lahir di Makkah pada masa keluarganya sedang menjalankan perjalanan haji dan bermukim di Tanah Suci.

Maka dalam satu perjalanan yang dimulai dari Caringin, lahirlah generasi baru keluarga Asnawi di Makkah.

Tidak ada yang menyangka bahwa perjalanan pulang mereka kelak akan jauh lebih berat.

Rencana tinggal di Makkah berubah

Pada awalnya, tujuan keluarga Syekh Asnawi cukup jelas.

Mereka ingin berhaji dan bermukim di Makkah.

Tetapi keadaan politik di kawasan tersebut berubah.

Pada 1914, pecah konflik besar yang berhubungan dengan perebutan kekuasaan di Jazirah Arab, sementara Perang Dunia I juga sedang berlangsung.

Menurut catatan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Banten, kondisi Makkah menjadi genting. Perang dan wabah penyakit menyebabkan kehidupan masyarakat semakin sulit. Bahkan keluarga Syekh Asnawi disebut mengalami kesulitan pangan dan harus mengantre mendapatkan jatah ransum.

Akhirnya, warga asing diminta meninggalkan Makkah dan kembali ke negara asal.

Rencana keluarga Syekh Asnawi untuk bermukim di Tanah Suci pun harus berakhir.

Mereka harus pulang.

Tetapi pulang pada 1914 bukan perkara sederhana.

Buat kamu  Silsilah Abuya Munfasir Mulai Terungkap: Menelusuri Hubungan Keluarga hingga Generasi Penerus

Laut bukan lagi jalan pulang

Dalam kondisi normal, kapal adalah pilihan utama untuk kembali ke Nusantara.

Tetapi Perang Dunia I membuat laut menjadi kawasan berbahaya.

Sumber Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Banten menyebut jalur laut dipenuhi ranjau sehingga keluarga Syekh Asnawi tidak dapat langsung menggunakan kapal.

Mereka kemudian mengambil jalan darat.

Di sinilah kisah perjalanan tersebut berubah menjadi pengembaraan panjang.

Dari Makkah, keluarga besar itu harus bergerak melewati berbagai negeri untuk mencari jalan pulang ke Banten.

Mereka berjalan.

Mereka menaiki kuda.

Mereka berpindah-pindah.

Dan mereka tidak tahu secara pasti kapan perjalanan tersebut akan berakhir.

Dari Makkah menuju Yaman

Catatan yang diterbitkan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Banten menyebut rombongan bergerak dari Makkah menuju Yaman dan seterusnya, melewati berbagai wilayah di Timur Tengah.

Perjalanan dilakukan dalam kondisi yang jauh dari nyaman.

Bekal semakin menipis.

Uang semakin habis.

Sementara rombongan bukan hanya terdiri dari satu atau dua orang.

Ada orang tua.

Ada perempuan.

Ada anak-anak.

Bahkan ada bayi.

Ratu Hasanah membawa bayinya yang baru lahir di Makkah.

Dalam catatan keluarga, rombongan tersebut juga disebut hidup berpindah-pindah dan dalam beberapa kondisi tinggal di tenda layaknya para musafir.

Perjalanan pulang akhirnya tidak lagi sekadar perjalanan geografis.

Ia menjadi ujian bagi keluarga besar itu.

Ketika bekal habis, mereka bekerja

Salah satu bagian paling mengesankan dari kisah ini adalah cara rombongan tersebut bertahan hidup.

Mereka tidak selalu memiliki bekal yang cukup.

Maka para laki-laki dalam rombongan bekerja.

Ada yang menjadi kuli.

Ada yang bekerja sebagai pegawai rendahan.

Ada yang menjadi pengantar surat kabar.

Ada yang mengajar.

Apa pun dilakukan selama halal dan dapat membantu rombongan bertahan hidup serta mengumpulkan bekal untuk melanjutkan perjalanan.

Syekh Asnawi sendiri menggunakan kemampuan yang ia miliki.

Sebagai seorang ulama, ia mengajar.

Di India, ia bahkan mendapat kesempatan mengajar di sebuah madrasah bersama menantunya, KH Tubagus Achmad Chatib.

Jadi, perjalanan itu tidak membuat ilmu berhenti.

Justru ilmu menjadi salah satu cara untuk bertahan.

Perjalanan pulang berubah menjadi perjalanan belajar

Ada hal lain yang menarik.

Mereka memang sedang berusaha pulang.

Tetapi Syekh Asnawi dan keluarganya tidak menyia-nyiakan kesempatan bertemu dengan masyarakat dan ulama di negeri-negeri yang mereka lewati.

Menurut sumber Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Banten, ketika singgah di berbagai tempat, mereka tidak hanya bekerja untuk mendapatkan makanan dan biaya perjalanan, tetapi juga berguru kepada ulama yang ditemui.

Ini membuat perjalanan tersebut mempunyai dua wajah.

Di satu sisi:

mereka adalah rombongan pengungsi yang sedang mencari jalan pulang.

Di sisi lain:

mereka adalah keluarga ulama yang terus mencari ilmu.

Setiap persinggahan menjadi ruang belajar.

Setiap negeri menjadi tempat bertemu manusia baru.

Dan setiap kesulitan menjadi pengalaman.

Di India, Syekh Asnawi kembali mengajar

Setelah melewati perjalanan panjang, rombongan akhirnya sampai di India.

Di sana, kemampuan Syekh Asnawi sebagai ulama kembali menjadi pegangan.

Sumber pemerintah Banten menyebut Syekh Asnawi mendapat tawaran mengajar di sebuah madrasah bersama menantunya, KH Tubagus Achmad Chatib.

Bagi Syekh Asnawi, mengajar bukan sekadar pekerjaan untuk mendapatkan uang.

Itulah dunia yang memang ia jalani.

Di Banten ia mengajar.

Di Makkah ia belajar.

Dalam perjalanan ia mengajar.

Dan di tempat-tempat persinggahan ia kembali belajar.

Sementara Ratu Hasanah mengasuh bayi di tengah perjalanan

Ada cerita lain yang tidak boleh hilang dari perjalanan ini.

Ratu Hasanah.

Ia bukan sekadar anggota rombongan.

Ia adalah seorang ibu yang membawa bayi yang baru lahir di Makkah.

Dalam catatan yang diterbitkan DPK Banten, Ratu Hasanah tetap mengikuti perjalanan sambil menggendong anaknya. Ia juga membantu menyiapkan makanan untuk keluarga dan memanfaatkan kesempatan untuk memperdalam ilmu agama kepada ayah serta suaminya.

Bayangkan situasinya.

Sebuah keluarga besar sedang bergerak dari satu tempat ke tempat lain.

Perjalanan dilakukan dengan berjalan kaki atau menggunakan kuda.

Bekal terbatas.

Tidak ada kepastian kapan sampai di tanah air.

Dan di tengah semua itu terdapat seorang ibu dengan bayi yang baru beberapa waktu lahir.

Perjalanan tersebut tidak hanya menjadi kisah seorang ulama.

Ia juga menjadi kisah ketahanan sebuah keluarga.

Dari Makkah, Yaman, hingga India

Sumber yang tersedia tidak memberikan catatan perjalanan harian yang lengkap mengenai setiap kota atau rute yang dilewati.

Karena itu, kita tidak seharusnya membuat seolah-olah terdapat jurnal perjalanan yang mencatat setiap pemberhentian.

Yang dapat ditelusuri dari sumber adalah bahwa rombongan bergerak dari Makkah menuju Yaman dan wilayah-wilayah lain, kemudian akhirnya mencapai India. Di sana Syekh Asnawi dan KH Achmad Chatib mengajar sebelum rombongan memperoleh kesempatan melanjutkan perjalanan pulang.

Jarak yang ditempuh tentu sangat panjang.

Dan waktu yang dibutuhkan bukan hitungan minggu.

Perjalanan pulang memakan waktu sekitar tiga setengah tahun menurut sumber pemerintah Banten.

Artinya, perjalanan yang dimulai pada 1912 tidak segera berakhir setelah mereka selesai berhaji.

Mereka baru kembali ke tanah air setelah melewati tahun-tahun penuh ketidakpastian.

Seorang saudagar India akhirnya membuka jalan pulang

Salah satu titik balik perjalanan terjadi ketika rombongan berada di India.

Setelah bertahun-tahun mengembara, mereka akhirnya bertemu seorang saudagar Muslim kaya yang dermawan.

Menurut catatan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Banten, saudagar tersebut bersedia membiayai keluarga Syekh Asnawi untuk pulang menggunakan kapal dagangnya.

Inilah yang akhirnya membuka jalan bagi mereka untuk kembali ke Nusantara.

Setelah perjalanan panjang melalui darat dan berbagai negeri, mereka akhirnya dapat kembali menggunakan jalur laut.

Tujuan mereka:

tanah air.

Banten.

Caringin.

Tiga setengah tahun untuk kembali

Jika perjalanan berangkat menuju Makkah sudah berat, perjalanan pulang jauh lebih menguji.

Sumber pemerintah Banten menyebut perjalanan pulang berlangsung sekitar 3,5 tahun.

Dalam rentang waktu tersebut, sebuah keluarga yang berangkat dari Banten telah mengalami begitu banyak perubahan.

Ada bayi yang lahir.

Ada anak-anak yang tumbuh dalam perjalanan.

Ada orang yang bekerja.

Ada yang mengajar.

Ada yang belajar.

Buat kamu  Nyimas Gamparan dan Perlawanan Cikande Udik 1836: Ketika Perempuan Banten Mengangkat Perlawanan

Ada yang menjadi musafir.

Dan ada sebuah keluarga yang terus berusaha tetap bersama.

Mereka tidak pulang sebagai rombongan yang sama persis seperti ketika berangkat.

Mereka pulang membawa pengalaman yang tidak mungkin diperoleh dari perjalanan biasa.

Kembali ke Caringin

Ketika akhirnya kembali ke tanah air, Syekh Asnawi kembali kepada dunia yang sejak awal menjadi perjuangannya:

masyarakat Banten.

Ia kemudian melanjutkan dakwah dan pendidikan di Caringin.

Pesantren dan lembaga pendidikan yang dikembangkan di Caringin kemudian menjadi pusat pengajaran agama.

Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Banten mencatat bahwa Syekh Asnawi mendirikan Madrasah Masyariqul Anwar Caringin pada 12 Mei 1930.

Caringin kemudian bukan hanya tempat tinggal.

Ia menjadi pusat dakwah.

Pusat pendidikan.

Pusat tarekat.

Dan tempat orang datang untuk belajar kepada Syekh Asnawi.

Penelitian di Repository UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten juga menyebut Caringin sebagai salah satu pusat pengajaran Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah di bawah Syekh Asnawi.

Makkah ternyata tidak pernah benar-benar ditinggalkan

Ada paradoks menarik dalam kisah Syekh Asnawi.

Ia meninggalkan Makkah secara fisik.

Tetapi Makkah tidak pernah benar-benar hilang dari kehidupannya.

Ilmu yang diperoleh di sana dibawa pulang.

Jaringan ulama yang ditemuinya tetap menjadi bagian dari perjalanan intelektualnya.

Dan pengalaman mengembara bersama keluarga menjadi bagian dari pembentukan dirinya sebagai ulama.

Makkah akhirnya bukan sekadar tempat yang pernah didatangi.

Makkah menjadi bagian dari identitas keilmuan Syekh Asnawi.

Dari perjalanan menuju perjuangan

Pengalaman Syekh Asnawi di luar negeri juga tidak membuatnya melupakan kondisi masyarakat di Banten.

Sekembalinya ke Caringin, ia semakin aktif dalam dakwah dan pendidikan.

Di kemudian hari, namanya juga dikaitkan dengan gerakan perlawanan terhadap pemerintahan kolonial Belanda.

Pada 1926, ketika perlawanan rakyat Banten meningkat, Syekh Asnawi disebut sebagai salah satu tokoh penting di lingkungan Labuan-Caringin. Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Banten mencatat bahwa pemerintah kolonial kemudian menangkap dan mengasingkannya ke Cianjur.

Perjalanan ke Makkah pada 1912 dengan demikian bukan cerita yang berdiri sendiri.

Ia adalah salah satu bagian dari perjalanan hidup seorang ulama yang kemudian kembali ke Banten dan berhadapan dengan persoalan masyarakatnya sendiri.

Perjalanan yang mempertemukan ilmu dan ketahanan

Ada pelajaran menarik jika perjalanan Syekh Asnawi dilihat secara utuh.

Ia berangkat dari Banten untuk:

berhaji dan mencari ilmu.

Di Makkah, ia:

belajar kepada ulama.

Ketika perang memaksanya pergi:

ia menjadi musafir.

Ketika bekal habis:

ia bekerja.

Ketika menemukan madrasah:

ia mengajar.

Ketika bertemu ulama:

ia kembali berguru.

Dan ketika akhirnya pulang:

ia membawa semuanya ke Caringin.

Perjalanan itu menunjukkan bahwa bagi Syekh Asnawi, ilmu tidak hanya diperoleh ketika duduk di depan guru.

Ilmu juga lahir dari perjalanan.

Dari kesulitan.

Dari perjumpaan.

Dari kehilangan.

Dan dari kemampuan bertahan.

Kisah yang juga dimiliki keluarga Banten

Kisah ini penting karena perjalanan tersebut bukan hanya milik Syekh Asnawi.

Ada seorang istri.

Ada anak-anak.

Ada menantu.

Ada cucu.

Ada pembantu.

Ada bayi yang lahir di Makkah.

Dan ada orang-orang yang bekerja sepanjang perjalanan agar rombongan dapat terus bergerak.

Dalam catatan pemerintah Banten, rombongan itu disebut berjumlah 16 orang.

Karena itu, perjalanan Syekh Asnawi ke Makkah sebetulnya dapat dibaca sebagai kisah keluarga besar Banten yang terjebak dalam pusaran sejarah dunia.

Mereka berangkat ketika dunia sedang berubah.

Mereka berada di Makkah ketika konflik politik terjadi.

Mereka harus meninggalkan Tanah Suci ketika Perang Dunia I berlangsung.

Dan mereka baru pulang setelah bertahun-tahun.

Lebih dari sekadar perjalanan haji

Hari ini, perjalanan Banten–Makkah bisa dilakukan dengan relatif cepat.

Tetapi pada masa Syekh Asnawi, perjalanan tersebut adalah proyek kehidupan.

Pergi berarti meninggalkan rumah.

Pulang belum tentu mudah.

Dan ketika perang mengubah keadaan, perjalanan pulang dapat berlangsung bertahun-tahun.

Kisah Syekh Asnawi menunjukkan bahwa perjalanan ke Tanah Suci pada masa itu bukan hanya tentang ibadah.

Ia juga tentang:

keberanian meninggalkan kampung halaman,

ketekunan mencari ilmu,

kemampuan bertahan ketika keadaan berubah,

dan kesediaan membawa ilmu itu kembali kepada masyarakat.

Jejak yang tersisa di Caringin

Syekh Asnawi wafat pada 1937.

Tetapi jejak perjalanan hidupnya masih dapat ditemukan di Caringin.

Masjid.

Pesantren.

Madrasah.

Keluarga.

Murid-murid.

Dan tradisi keilmuan.

Salah satu sumber akademik UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten mencatat bahwa Syekh Asnawi menjadi tokoh penting dalam perkembangan Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah di Banten.

Artinya, perjalanan yang dimulai dari Caringin menuju Makkah, lalu berputar melewati berbagai negeri sebelum kembali ke Banten, akhirnya bermuara pada satu tempat:

Caringin.

Di sanalah pengalaman itu kemudian diterjemahkan menjadi pendidikan dan dakwah.

Dari Caringin ke Makkah, lalu kembali membawa dunia

Mungkin bagian paling mengesankan dari perjalanan Syekh Asnawi bukanlah berapa jauh jarak yang ditempuh.

Bukan pula berapa banyak negara yang dilewati.

Tetapi bagaimana ia menjalani perjalanan tersebut.

Ia pergi sebagai seorang pencari ilmu.

Di Makkah ia menjadi murid.

Ketika perang datang, ia menjadi musafir.

Ketika uang habis, ia tetap bekerja.

Ketika menemukan madrasah, ia mengajar.

Ketika menemukan ulama, ia kembali belajar.

Dan ketika akhirnya sampai di Banten, ia kembali menjadi guru bagi masyarakatnya.

Perjalanan itu selesai secara geografis. Tetapi perjalanan ilmunya justru baru dimulai.

Dari Caringin menuju Makkah, kemudian melewati Yaman dan berbagai wilayah hingga India, Syekh Asnawi akhirnya kembali ke tanah kelahirannya dengan pengalaman yang jauh lebih luas daripada ketika ia berangkat.

Ia tidak membawa pulang kemewahan.

Ia membawa ilmu, jaringan keulamaan, pengalaman hidup dan keteguhan untuk kembali mengabdi kepada masyarakat.

Dan mungkin itulah alasan mengapa nama Syekh Asnawi Caringin tetap hidup di Banten sampai hari ini.


Catatan sumber

Artikel ini terutama menggunakan sumber dari Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Banten, penelitian dan repository UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten, serta catatan keluarga yang diterbitkan dalam dokumentasi mengenai KH Tubagus Achmad Suchari Chatib.

Sumber pemerintah Banten mencatat perjalanan keluarga Syekh Asnawi pada 1912, kondisi Makkah pada 1914, perjalanan darat, persinggahan di berbagai negeri, perjalanan selama sekitar 3,5 tahun dan bantuan seorang saudagar Muslim di India untuk kepulangan mereka.

Catatan keluarga KH Tubagus Achmad Suchari Chatib memberikan rincian mengenai anggota rombongan dan menyebut bahwa keluarga Syekh Asnawi bermukim di Makkah sekitar dua tahun sebelum situasi perang memaksa mereka meninggalkan Tanah Suci.

Sementara penelitian UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten memperkuat konteks peran Syekh Asnawi sebagai pusat pengajaran Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah di Caringin.

Catatan editorial: beberapa detail dalam kisah perjalanan—terutama cerita mengenai kondisi rombongan, pengalaman Ratu Hasanah, dan penuturan mengenai kehidupan selama perjalanan—bersumber dari tulisan keluarga atau penuturan yang dikutip oleh DPK Banten. Karena itu, bagian tersebut disajikan sebagai catatan sejarah keluarga yang terdokumentasi, bukan sebagai kesaksian primer yang seluruh detailnya telah diverifikasi melalui arsip perjalanan.

Tag:
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted