Beranda / Agama / Bukan Mantra untuk Menaklukkan Mertua, Ini Doa yang Diajarkan Islam untuk Memperbaiki Hubungan

Bukan Mantra untuk Menaklukkan Mertua, Ini Doa yang Diajarkan Islam untuk Memperbaiki Hubungan

Mertua - photo by JURIADI PADDO

SPILL Banten – Hubungan dengan mertua terkadang menjadi salah satu ujian dalam rumah tangga. Ada menantu yang merasa sulit mendapatkan penerimaan. Ada pula mertua yang membutuhkan waktu untuk mempercayai pasangan anaknya.

Tidak sedikit pula persoalan muncul bukan karena kebencian, tetapi karena perbedaan cara berpikir, kebiasaan, harapan, atau cara memandang kehidupan rumah tangga anak.

Dalam kondisi seperti ini, sebagian orang kemudian mencari:

“Apa doa untuk meluluhkan hati mertua?”

Pertanyaan tersebut wajar.

Tetapi ada satu hal yang perlu diluruskan sejak awal.

Dalam Al-Qur’an dan hadis sahih, tidak ditemukan lafaz khusus yang dinamakan “doa meluluhkan mertua”.

Karena itu, kita sebaiknya tidak mengatasnamakan sebuah bacaan sebagai doa khusus dari Rasulullah ﷺ jika memang tidak ada sumber yang jelas.

Namun, bukan berarti seorang Muslim tidak boleh berdoa agar Allah memberikan kelembutan kepada hati seseorang.

Justru Al-Qur’an dan sunnah memberikan banyak landasan tentang persatuan hati, kelembutan, perdamaian, dan memohon agar hati diarahkan kepada kebaikan.

Allah yang Memegang Hati Manusia

Salah satu dasar penting dalam persoalan ini terdapat dalam Al-Qur’an.

Allah berfirman dalam Surah Al-Anfal ayat 63 tentang orang-orang yang hatinya dipersatukan:

وَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ

“Dan Dia mempersatukan hati mereka.”

Ayat tersebut kemudian menjelaskan bahwa seandainya manusia mengeluarkan seluruh kekayaan yang ada di bumi, mereka tidak akan mampu menyatukan hati manusia dengan kekuatan mereka sendiri.

Allah-lah yang mempersatukan hati mereka.

Pesannya sangat kuat.

Manusia dapat berbicara.

Manusia dapat menjelaskan.

Manusia dapat berusaha memperbaiki hubungan.

Tetapi perubahan hati pada akhirnya berada dalam kekuasaan Allah.

Karena itu, ketika seorang menantu ingin hubungannya dengan mertua menjadi lebih baik, doa bukanlah sesuatu yang keliru.

Yang perlu dihindari adalah anggapan bahwa ada satu bacaan tertentu yang secara otomatis dapat “mengendalikan” hati orang lain.

Islam tidak mengajarkan demikian.

1. Doa Memohon Agar Hati Tetap Berada dalam Petunjuk

Salah satu doa Al-Qur’an yang dapat diamalkan adalah:

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً ۚ إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ

Rabbanaa laa tuzigh quluubanaa ba’da idz hadaitanaa wa hab lanaa mil ladunka rahmah, innaka antal-Wahhaab.

Artinya:

“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan setelah Engkau berikan petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu. Sesungguhnya Engkau Maha Pemberi.”

(QS. Ali ‘Imran: 8)

Doa ini sebenarnya bukan doa khusus untuk mertua.

Tetapi kandungannya sangat relevan ketika seseorang sedang menghadapi persoalan hubungan.

Sebab sebelum meminta hati orang lain menjadi baik, seorang Muslim juga perlu meminta:

“Ya Allah, jangan biarkan hatiku sendiri berubah menjadi keras.”

Jangan sampai karena merasa disakiti, seseorang kemudian membalas dengan kebencian.

Jangan sampai keinginan untuk “meluluhkan” hati mertua justru membuat hati sendiri dipenuhi dendam.

2. Doa Rasulullah ﷺ tentang Hati

Rasulullah ﷺ juga mengajarkan doa:

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ

Yaa muqallibal-quluub, tsabbit qalbii ‘alaa diinika.

Artinya:

“Wahai Dzat Yang Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.”

Doa ini diriwayatkan dari Ummu Salamah RA mengenai doa yang sering diucapkan Rasulullah ﷺ. Riwayat tersebut terdapat dalam Jami’ at-Tirmidzi.

Dalam riwayat lain, Rasulullah ﷺ bersabda bahwa hati manusia berada dalam kekuasaan Allah dan Dia membolak-balikkannya sesuai kehendak-Nya.

Perhatikan maknanya.

Rasulullah ﷺ justru mengajarkan manusia untuk pertama-tama memohon keteguhan hati sendiri.

Maka ketika menghadapi mertua yang sulit diajak dekat, doa ini dapat menjadi pengingat:

“Ya Allah, jangan hanya ubah hati orang lain. Teguhkan juga hatiku agar tetap sabar, santun dan berada dalam kebaikan.”

3. Doa Nabi Musa Agar Urusan Dimudahkan dan Ucapan Dipahami

Hubungan menantu dan mertua sering kali bermasalah bukan karena tidak ada kasih sayang.

Buat kamu  Anak Hebat Dimulai dari Doa: Jejak Doa Nabi Ibrahim dan Nabi Zakariya untuk Keturunan

Kadang masalahnya adalah komunikasi.

Satu pihak bermaksud baik.

Pihak lain menangkapnya berbeda.

Satu kalimat dianggap biasa.

Pihak lain menganggapnya sebagai bentuk tidak menghormati.

Dalam kondisi seperti itu, doa Nabi Musa AS sangat relevan:

رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي ۝ وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي ۝ وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِي ۝ يَفْقَهُوا قَوْلِي

Rabbi ishrah lii shadrii, wa yassir lii amrii, wahlul ‘uqdatan min lisaanii, yafqahuu qawlii.

Artinya:

“Ya Tuhanku, lapangkanlah untukku dadaku, mudahkanlah untukku urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, agar mereka memahami perkataanku.”

(QS. Taha: 25–28)

Konteks doa ini adalah Nabi Musa AS ketika menghadapi tugas besar untuk menyampaikan risalah kepada Fir’aun.

Namun kandungan doanya memberikan pelajaran yang luas:

ketika kita hendak berbicara dalam situasi yang sulit, mintalah kepada Allah agar hati dilapangkan, urusan dimudahkan, dan perkataan dapat dipahami.

Ini bisa menjadi doa sebelum berbicara dengan mertua.

4. Doa agar Hati Dipersatukan

Al-Qur’an juga memberikan gambaran yang sangat kuat tentang kekuasaan Allah dalam mempersatukan hati.

Surah Al-Anfal ayat 63 menyatakan bahwa Allah-lah yang mempersatukan hati manusia dan bahwa manusia tidak akan mampu melakukan hal tersebut hanya dengan kekuatan material.

Dari kandungan tersebut, seseorang boleh berdoa kepada Allah dengan redaksi pribadi, misalnya:

“Ya Allah, jika ada jarak antara hatiku dan hati mertuaku, maka dekatkanlah kami dalam kebaikan. Hilangkan prasangka yang tidak benar. Berikan kami kemampuan untuk saling memahami. Lembutkan perkataan kami, lapangkan dada kami, dan satukan hati kami dalam hal-hal yang Engkau ridhai.”

Catatan penting: redaksi ini adalah doa susunan pribadi, bukan lafaz yang dinisbatkan sebagai doa khusus Rasulullah ﷺ.

Menyusun doa dengan bahasa sendiri diperbolehkan selama isinya baik dan tidak bertentangan dengan ajaran Islam.

5. Al-Qur’an Mengajarkan Perdamaian, Bukan Sekadar “Meluluhkan”

Ada perbedaan penting antara meluluhkan hati seseorang dan memperbaiki hubungan.

Istilah “meluluhkan” kadang terdengar seperti seseorang ingin membuat orang lain tunduk kepada keinginannya.

Sementara prinsip Islam lebih dekat kepada ishlah — memperbaiki hubungan.

Allah berfirman:

فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ

“Maka damaikanlah antara kedua saudaramu.”

(QS. Al-Hujurat: 10)

Prinsip ini dapat menjadi pegangan dalam hubungan keluarga.

Tujuannya bukan:

“Bagaimana agar mertua mengikuti semua keinginan saya?”

Tetapi:

“Bagaimana agar hubungan kami menjadi lebih baik dan tidak saling menyakiti?”

Perbedaan itu penting.

Karena rumah tangga bukan hanya menyatukan dua orang.

Pernikahan juga mempertemukan dua keluarga dengan kebiasaan, pengalaman dan latar belakang yang berbeda.

6. Sebelum Meminta Mertua Berubah, Periksa Cara Kita Bersikap

Doa sangat penting.

Tetapi doa tidak seharusnya menggantikan introspeksi.

Cobalah bertanya kepada diri sendiri:

Apakah selama ini saya berbicara dengan mertua dengan sopan?

Apakah saya mudah tersinggung?

Apakah saya sering membandingkan keluarga pasangan dengan keluarga sendiri?

Apakah saya menghormati kebiasaan keluarga pasangan selama tidak bertentangan dengan agama?

Apakah saya memberikan ruang kepada mertua untuk mengenal saya?

Apakah saya datang kepada mereka hanya ketika membutuhkan sesuatu?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut mungkin tidak selalu nyaman.

Tetapi terkadang jawaban yang jujur justru membuka pintu perbaikan.

Sebab bisa saja persoalan bukan semata-mata karena mertua sulit menerima menantu.

Mungkin kedua pihak sama-sama belum menemukan cara berkomunikasi yang tepat.

7. Jangan Menggunakan Doa sebagai “Senjata” untuk Mengendalikan Orang Lain

Ada satu hal yang perlu ditegaskan.

Doa bukan mantra.

Doa bukan teknik untuk mengendalikan pikiran seseorang.

Doa juga bukan jaminan bahwa orang yang kita hadapi akan langsung berubah sesuai keinginan kita.

Seorang Muslim berdoa karena meyakini Allah berkuasa atas segala sesuatu.

Tetapi hasil doa tetap berada dalam hikmah Allah.

Karena itu, lebih baik mengubah kalimat:

“Ya Allah, buat mertua saya mengikuti keinginan saya.”

menjadi:

“Ya Allah, berikan yang terbaik bagi hubungan kami. Jika ada kesalahpahaman, bukakan jalan untuk memperbaikinya. Jika ada kekerasan hati, berikan kelembutan. Dan jika ada sesuatu yang salah pada diri saya, tunjukkan dan perbaikilah.”

Doa seperti ini lebih dekat dengan semangat memperbaiki hubungan.

8. Doa Panjang untuk Hubungan Menantu dan Mertua

Setelah membaca doa-doa yang memiliki dasar dari Al-Qur’an dan sunnah, seseorang juga dapat memanjatkan doa pribadi.

Misalnya:

“Ya Allah, Engkau yang mengetahui isi hati manusia dan Engkau yang mempersatukan hati yang berjauhan. Jika ada kesalahpahaman antara aku dan mertuaku, bukakanlah jalan untuk memperbaikinya.

Ya Allah, lembutkanlah hatiku dan hatinya dalam kebaikan. Jauhkan kami dari prasangka, kesombongan, perkataan yang menyakiti, dan sikap yang menimbulkan permusuhan.

Buat kamu  Apa yang Terjadi pada Tubuh Saat Kita Sholat? Dari Doa, Rukuk hingga Sujud

Lapangkanlah dadaku ketika menghadapi perbedaan. Berikan aku lisan yang santun, pikiran yang jernih, dan kesabaran untuk menghormati orang yang lebih tua.

Jika ada kekuranganku yang membuat hubungan kami sulit, tunjukkanlah kepadaku dan berikan aku kekuatan untuk memperbaikinya. Jika ada kesalahpahaman yang membuat hati kami berjauhan, bukakanlah jalan agar kami dapat saling memahami.

Ya Allah, jadikan hubungan kami sebagai jalan kebaikan bagi keluarga. Satukan hati kami dalam perkara yang Engkau ridhai, dan jauhkan kami dari perselisihan yang merusak rumah tangga.

Jika kedekatan itu baik bagi kami, dekatkanlah. Jika diperlukan jarak untuk menjaga kedamaian, berikanlah kami kebijaksanaan untuk menjaga batas dengan cara yang tetap santun.

Ya Allah, berkahilah rumah tangga kami dan jadikan keluarga kami keluarga yang penuh kasih sayang, saling menghormati dan saling mendoakan. Aamiin.”

Catatan redaksi: doa panjang tersebut adalah susunan doa pribadi, bukan hadis atau doa khusus yang diriwayatkan dari Rasulullah ﷺ.

9. Jika Mertua Belum Berubah, Bukan Berarti Doa Sia-Sia

Ini bagian yang sering terlupakan.

Seseorang mungkin sudah berdoa.

Sudah berusaha sopan.

Sudah mencoba berbicara baik-baik.

Sudah menghindari konflik.

Namun hubungan tetap belum ideal.

Apakah berarti doanya tidak dikabulkan?

Tidak sesederhana itu.

Doa bukan kontrak bahwa manusia lain harus berubah sesuai keinginan kita.

Terkadang jawaban dari doa datang dalam bentuk kemampuan kita menghadapi keadaan.

Terkadang berupa terbukanya jalan komunikasi.

Terkadang berupa perubahan situasi.

Terkadang berupa dijauhkannya konflik yang lebih besar.

Dan terkadang seseorang memang perlu belajar menerima bahwa tidak semua hubungan akan menjadi sangat dekat.

Yang penting adalah menjaga agar hubungan tersebut tidak berubah menjadi permusuhan dan tidak merusak rumah tangga.

10. Mertua Perlu Dihormati, tetapi Rumah Tangga Juga Memiliki Batas

Menghormati mertua bukan berarti seorang suami atau istri harus kehilangan seluruh batas dalam rumah tangganya.

Pernikahan membutuhkan penghormatan kepada orang tua sekaligus komunikasi yang sehat antara suami dan istri.

Jika ada perbedaan pendapat, pasangan perlu belajar membicarakannya tanpa menjadikan salah satu pihak sebagai musuh.

Jangan sampai muncul kalimat:

“Kamu harus memilih: saya atau orang tuamu.”

Sebaliknya, yang lebih sehat adalah:

“Bagaimana kita bisa menghormati orang tua tanpa mengorbankan ketenangan rumah tangga?”

Pertanyaan semacam ini mengubah konflik menjadi upaya mencari solusi.

11. Tiga Hal yang Bisa Dilakukan Bersamaan dengan Doa

Pertama: Perbaiki komunikasi

Pilih waktu yang tepat.

Hindari berbicara ketika emosi sedang tinggi.

Gunakan kata-kata yang menghormati.

Jangan mengungkit seluruh kesalahan masa lalu ketika sedang membahas satu persoalan.

Kedua: Bangun kepercayaan secara perlahan

Kepercayaan tidak selalu muncul dalam satu percakapan.

Kadang ia tumbuh dari hal-hal kecil:

menepati janji,

menjaga sikap,

menghormati keluarga pasangan,

membantu ketika diperlukan,

dan tidak mempermalukan pasangan di depan orang tuanya.

Ketiga: Berikan ruang

Hubungan yang baik bukan berarti harus selalu dekat.

Ada kalanya menjaga jarak yang sehat justru membuat hubungan menjadi lebih damai.

Terutama jika konflik sudah berulang.

Penutup: Bukan Meluluhkan Hati, Tetapi Memohon Allah Memperbaiki Hubungan

Dalam Islam, tidak ditemukan hadis sahih yang menetapkan satu lafaz khusus bernama “doa meluluhkan hati mertua.”

Namun, seorang Muslim tetap dapat memohon kepada Allah agar hati diberi petunjuk, dilapangkan, dipersatukan dalam kebaikan, dan dijauhkan dari permusuhan.

Rasulullah ﷺ sendiri mengajarkan doa:

“Yā Muqallibal-qulūb, tsabbit qalbī ‘alā dīnik.”

“Wahai Dzat Yang Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.”

Al-Qur’an juga mengingatkan bahwa Allah-lah yang mempersatukan hati manusia.

Maka ketika hubungan dengan mertua terasa berat, jangan hanya berdoa agar orang lain berubah.

Berdoalah agar Allah memperbaiki semuanya.

Perbaiki hati sendiri.

Perbaiki cara berbicara.

Perbaiki cara memahami.

Perbaiki batas.

Perbaiki komunikasi.

Dan tetap berdoa.

Karena terkadang yang paling kita butuhkan bukanlah hati orang lain yang sepenuhnya mengikuti keinginan kita.

Melainkan hati yang mampu menerima perbedaan tanpa kehilangan kasih sayang dan rasa hormat.

Catatan Redaksi

Artikel ini sengaja tidak menyebut adanya “doa meluluhkan mertua” sebagai doa khusus yang berasal dari hadis sahih. Dasar yang digunakan adalah prinsip-prinsip umum dari Al-Qur’an dan sunnah mengenai hati, petunjuk, persatuan, perdamaian, dan kemudahan dalam berkomunikasi.

QS. Al-Anfal: 63 menyebut bahwa Allah mempersatukan hati manusia. QS. Ali ‘Imran: 8 memuat doa agar hati tidak menyimpang setelah mendapat petunjuk. Sementara doa Nabi Musa dalam QS. Taha: 25–28 berisi permohonan agar dada dilapangkan, urusan dimudahkan, dan perkataan dapat dipahami.

Adapun doa “Yā Muqallibal-qulūb, tsabbit qalbī ‘alā dīnik” memiliki dasar dalam hadis yang diriwayatkan dari Ummu Salamah dan terdapat dalam Jami’ at-Tirmidzi.

Referensi Utama

  1. Al-Qur’an, QS. Al-Anfal: 63 — Allah mempersatukan hati manusia.
  2. Al-Qur’an, QS. Ali ‘Imran: 8 — doa agar hati tidak menyimpang setelah memperoleh petunjuk.
  3. Al-Qur’an, QS. Taha: 25–28 — doa Nabi Musa agar dada dilapangkan, urusan dimudahkan, dan perkataan dipahami.
  4. Al-Qur’an, QS. Al-Hujurat: 9–10 — prinsip ishlah atau mendamaikan pihak yang berselisih.
  5. Jami’ at-Tirmidzi 3522 — doa Rasulullah ﷺ: Yā Muqallibal-qulūb, tsabbit qalbī ‘alā dīnik.
  6. Jami’ at-Tirmidzi 2140 — hadis tentang hati manusia yang berada dalam kekuasaan Allah.
  7. Riyad as-Salihin 1470 / riwayat Muslim — doa Rasulullah ﷺ agar Allah mengarahkan hati kepada ketaatan-Nya.
Tag:
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted