Beranda / Wilayah / Ada Sejarah Panjang di Balik Wisata Baduy, dari Akhir 1980-an hingga Saba Budaya

Ada Sejarah Panjang di Balik Wisata Baduy, dari Akhir 1980-an hingga Saba Budaya

Baduy - photo by kevin yung

SPILL Banten – Jauh sebelum dikenal sebagai salah satu tujuan wisata budaya di Banten, wilayah adat Baduy di Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, merupakan ruang hidup masyarakat yang mempertahankan tradisi dan aturan adat secara turun-temurun.

Kini, masyarakat Baduy dikenal luas karena kehidupan yang bersahaja, hubungan erat dengan alam, serta keteguhan mereka dalam menjalankan pikukuh, yakni pedoman adat yang mengatur berbagai aspek kehidupan.

Namun, ada cerita lain yang tidak kalah menarik untuk ditelusuri: bagaimana wilayah adat yang memiliki aturan tersendiri ini mulai dikenal sebagai tujuan kunjungan masyarakat dari luar.

Perjalanan tersebut mulai terlihat pada akhir dekade 1980-an. Sejumlah catatan menyebutkan bahwa pemerintah daerah mulai membahas pengembangan wilayah Baduy sebagai tujuan wisata, sebelum kunjungan wisatawan berkembang pada dekade berikutnya.

Meski begitu, membuka akses bagi pengunjung bukan berarti mengubah kampung adat menjadi ruang wisata biasa. Ada batas-batas adat yang harus dihormati, dan masyarakat Baduy tetap memiliki hak untuk menjaga kehidupan serta warisan leluhurnya.

Awal Mula Baduy Dikenal sebagai Destinasi Wisata

Pembahasan mengenai awal perkembangan pariwisata Baduy berkaitan dengan kondisi sosial dan ekonomi masyarakat setempat pada akhir 1980-an.

Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Banten, dalam sebuah tulisan mengenai sejarah Baduy dan pariwisata, mencatat bahwa sekitar 1988–1992, Sekretaris Desa Kanekes bernama Jusen mengusulkan kepada pemerintah Kabupaten Lebak agar wilayah Baduy dijadikan tujuan wisata.

Usulan tersebut muncul ketika masyarakat menghadapi tekanan ekonomi dan keterbatasan sumber penghidupan. Dalam catatan yang sama, para tetua adat disebut memberikan izin dengan syarat pengunjung menghormati aturan adat yang berlaku.

Pada 1990, sebuah patung keluarga Baduy didirikan di Terminal Ciboleger sebagai penanda penyambutan wisatawan yang hendak mengunjungi wilayah tersebut.

Catatan ini memperlihatkan bahwa perkembangan pariwisata Baduy tidak berlangsung dalam satu langkah. Ada pembahasan pemerintah, pertimbangan masyarakat adat, dan penyiapan akses bagi pengunjung yang datang dari luar wilayah Kanekes.

Sumber: Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Banten, Baduy: Dari Persoalan Tanah Adat hingga Politik Keagamaan.

Peraturan Daerah dan Perkembangan Kunjungan Wisatawan

Perkembangan tersebut kemudian diikuti oleh kebijakan pemerintah daerah.

Tirto mencatat bahwa pembukaan Desa Kanekes sebagai destinasi wisata mulai berlangsung pada akhir dekade 1980-an. Perkembangan itu diperkuat dengan Peraturan Daerah Kabupaten Lebak Nomor 13 Tahun 1990 tentang Pembinaan dan Pengembangan Lembaga Adat Baduy.

Dalam catatan Tirto, salah satu alasan yang melatarbelakangi kebijakan tersebut adalah pandangan bahwa meningkatnya perhatian masyarakat terhadap budaya Baduy dapat menjadi jalan untuk mendukung pelestarian kebudayaan mereka.

Kawasan Ciboleger, yang berada di Desa Bojongmenteng, kemudian berkembang sebagai salah satu gerbang bagi pengunjung yang hendak memasuki wilayah Baduy. Sejak 1992, kunjungan ke Desa Kanekes disebut semakin ramai.

Buat kamu  Hanscraf: UMKM Asal Kota Serang yang Mengolah Kulit Menjadi Perlengkapan Panahan

Namun, kronologi perkembangan pariwisata Baduy tidak sepenuhnya seragam dalam berbagai sumber. Sebuah penelitian akademik tentang perkembangan pariwisata di Desa Kanekes mencatat peresmian pariwisata pada 1994 dan pembukaan untuk umum pada 1997, sebelum perkembangannya semakin terlihat pada 2000.

Perbedaan catatan tersebut menunjukkan pentingnya membedakan antara gagasan awal, kebijakan pemerintah, peresmian, dan pelaksanaan kunjungan untuk umum.

Dengan demikian, akhir dekade 1980-an dapat dipahami sebagai periode awal pembahasan pengembangan wisata Baduy, sementara perkembangan operasionalnya berlangsung melalui beberapa tahapan pada tahun-tahun berikutnya.

Sumber: Tirto, Desa Baduy: Wilayah Adat yang Dipaksa Jadi Objek Wisata; penelitian akademik Baduy Dalam Sentuhan Pariwisata: Studi Antropologi tentang Perkembangan Pariwisata di Desa Kanekes dan Implikasinya.

Mengapa Masyarakat Baduy Menarik Perhatian?

Daya tarik Baduy tidak hanya terletak pada lanskap perbukitan dan lingkungan alamnya. Kehidupan masyarakat yang berpedoman pada aturan adat menjadi bagian penting dari identitas wilayah ini.

Pemerintah Provinsi Banten menjelaskan bahwa masyarakat Baduy tinggal di Desa Kanekes, Kabupaten Lebak, dan secara umum dikenal dalam dua kelompok, yaitu Baduy Dalam dan Baduy Luar. Keduanya memiliki perbedaan dalam penerapan aturan adat dan kehidupan sehari-hari.

Masyarakat Baduy mempertahankan pikukuh sebagai pedoman dalam hubungan sosial, pemanfaatan alam, pola permukiman, serta pelaksanaan tradisi.

Prinsip tersebut membuat kunjungan ke wilayah Baduy berbeda dari kunjungan ke destinasi wisata yang berorientasi pada hiburan dan fasilitas modern.

Pengunjung datang untuk mengenal kehidupan masyarakat dan lingkungan yang mereka jaga, bukan untuk menuntut masyarakat adat mengikuti kebiasaan wisatawan.

Sumber: Pemerintah Provinsi Banten, Mengenal Kearifan Lokal Warga Kanekes Baduy; Indonesia Travel, Jelajahi Provinsi Banten: Budaya, Tempat Wisata & Keindahan Alam.

Dari Istilah Pariwisata Menuju Saba Budaya Baduy

Ada satu hal penting yang perlu dipahami sebelum berkunjung ke wilayah Baduy: tidak semua masyarakat adat memandang istilah pariwisata dengan cara yang sama seperti pemerintah atau pelaku industri wisata.

Laman resmi Desa Wisata Saba Budaya Baduy yang dikelola melalui Jaringan Desa Wisata Kementerian Pariwisata mencatat bahwa masyarakat Baduy memperkenalkan istilah Saba Budaya Baduy sejak 2007.

Istilah tersebut bermakna silaturahmi kebudayaan. Pendekatan ini menempatkan orang luar sebagai tamu yang datang untuk mengenal budaya, bukan semata-mata wisatawan yang mencari hiburan.

Perbedaan istilah ini bukan sekadar persoalan bahasa. Di dalamnya terdapat cara pandang mengenai bagaimana hubungan dengan masyarakat luar seharusnya berlangsung.

Melalui konsep Saba Budaya Baduy, kunjungan diharapkan berlangsung dengan menghormati kehidupan masyarakat, aturan adat, dan kesakralan wilayah yang mereka jaga.

Pendekatan tersebut juga menjadi pengingat bahwa pengembangan kunjungan tidak semestinya hanya berorientasi pada jumlah orang yang datang.

Sumber: Jadesta Kementerian Pariwisata, Desa Wisata Saba Budaya Baduy.

Pariwisata Membawa Peluang sekaligus Tantangan

Kunjungan masyarakat dari luar wilayah dapat membuka peluang ekonomi bagi warga Baduy. Aktivitas perdagangan, penjualan hasil kerajinan, serta kebutuhan pengunjung dapat menjadi bagian dari sumber penghidupan masyarakat.

Namun, perkembangan tersebut juga menghadirkan tantangan.

Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Banten mencatat bahwa meningkatnya kunjungan mendorong munculnya fasilitas pendukung seperti warung dan sarana sanitasi di sekitar jalur masuk. Perubahan tersebut kemudian memunculkan persoalan baru dalam pengelolaan kawasan.

Buat kamu  Bukan Sekadar Cantik Alami, Ini Kekayaan Tradisi Perawatan Wanita Baduy

Di sisi lain, penelitian akademik mengenai pariwisata di Desa Kanekes juga membahas perubahan sosial-ekonomi yang muncul ketika masyarakat semakin sering berinteraksi dengan orang luar.

Situasi ini memperlihatkan adanya kebutuhan untuk menjaga keseimbangan. Peluang ekonomi perlu dipertimbangkan bersama perlindungan lingkungan, penghormatan terhadap adat, dan kewenangan masyarakat dalam menentukan bagaimana wilayahnya dikunjungi.

Karena itu, keberhasilan pengembangan wisata Baduy tidak cukup diukur dari banyaknya pengunjung atau berkembangnya aktivitas ekonomi. Keberlanjutan tradisi dan kenyamanan masyarakat adat juga perlu menjadi pertimbangan utama.

Aturan Adat Harus Menjadi Bagian dari Pengalaman Berkunjung

Bagi masyarakat yang ingin mengenal Baduy secara langsung, memahami aturan adat merupakan langkah penting sebelum melakukan perjalanan.

Wisatawan perlu mengikuti arahan masyarakat setempat, menjaga kebersihan, tidak merusak lingkungan, serta menghormati batas-batas yang ditetapkan oleh adat.

Pengunjung juga tidak boleh berasumsi bahwa seluruh wilayah dan kehidupan pribadi masyarakat dapat diakses atau didokumentasikan secara bebas.

Jaringan Desa Wisata Kementerian Pariwisata menekankan adanya pembatasan dokumentasi, khususnya di wilayah Baduy Dalam. Oleh karena itu, pengunjung perlu menanyakan dan mengikuti ketentuan yang berlaku sebelum mengambil foto atau video.

Prinsip dasarnya sederhana: datang sebagai tamu berarti bersedia menghormati aturan tuan rumah.

Dengan cara tersebut, pengalaman mengenal budaya Baduy dapat berlangsung tanpa menjadikan tradisi masyarakat sebagai sesuatu yang sekadar dipertontonkan.

Menjaga Baduy Bukan Hanya Tanggung Jawab Masyarakat Adat

Perjalanan Baduy dari wilayah yang mulai diperkenalkan kepada pengunjung hingga dikenal sebagai tujuan wisata budaya memperlihatkan hubungan yang terus berkembang antara masyarakat adat dan dunia luar.

Di satu sisi, kunjungan dapat membuka ruang pengenalan budaya serta peluang ekonomi. Di sisi lain, interaksi yang semakin intensif menuntut perhatian terhadap perlindungan adat dan lingkungan.

Masyarakat Baduy memiliki peran utama dalam menjaga tradisi yang diwariskan leluhur mereka. Pemerintah, pelaku perjalanan, peneliti, dan pengunjung juga memiliki tanggung jawab untuk menghormati hak masyarakat adat serta mendukung upaya pelestarian.

Pada akhirnya, Baduy tidak seharusnya dipandang hanya sebagai destinasi untuk dikunjungi atau latar untuk membuat konten media sosial.

Wilayah ini merupakan ruang hidup masyarakat yang memiliki sejarah, aturan, dan pandangan sendiri tentang bagaimana kehidupan seharusnya dijalankan.

Mengenal Baduy berarti bersedia memahami perbedaan tersebut.

Sebab, ukuran keberhasilan kunjungan bukan hanya seberapa banyak hal yang dapat dilihat atau direkam, melainkan juga seberapa jauh kita mampu menghormati kehidupan masyarakat yang menerima kedatangan kita.


Tentang artikel: Naskah ini disusun berdasarkan penelusuran sumber pemerintah, publikasi media, dan penelitian akademik. Kronologi awal perkembangan pariwisata disajikan secara bertahap karena sumber yang tersedia mencatat sejumlah tanggal berbeda untuk tahapan yang berbeda pula.

Sumber referensi :

  • Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Banten, yang mencatat usulan menjadikan Baduy sebagai tujuan wisata sekitar 1988–1992 serta pembangunan penanda penyambutan wisatawan di Ciboleger pada 1990.

  • Tirto, yang membahas pembukaan Desa Kanekes sebagai destinasi wisata pada akhir 1980-an dan Peraturan Daerah Kabupaten Lebak Nomor 13 Tahun 1990 tentang Pembinaan dan Pengembangan Lembaga Adat Baduy.

  • Kementerian Pariwisata melalui Jadesta, yang menjelaskan istilah Saba Budaya Baduy sebagai silaturahmi kebudayaan dan mencatat bahwa sebagian masyarakat Baduy tidak nyaman jika kampung mereka hanya disebut objek pariwisata.

Tag:
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted