SPILL Banten — Jika sejarah Kesultanan Banten ingin ditarik ke satu nama yang menjadi titik awal dinasti sultan Banten, maka nama Sultan Maulana Hasanuddin tidak mungkin dilewatkan.
Ia dikenal sebagai Sultan Banten pertama, pendiri dinasti kesultanan yang kemudian melahirkan sejumlah penguasa penting Banten. Ia memerintah sekitar 1552–1570 dengan gelar Panembahan Surosowan. Universitas Islam Negeri Sultan Maulana Hasanuddin Banten juga menempatkan Maulana Hasanuddin sebagai salah satu tokoh sentral dalam sejarah awal berdirinya Kesultanan Banten.
Namun, warisan Sultan Hasanuddin tidak berhenti ketika ia wafat.
Dari anak-anaknya lahir sejumlah cabang keluarga bangsawan Banten. Salah satunya meneruskan takhta melalui Sultan Maulana Yusuf. Cabang lainnya berkembang melalui Pangeran Sunyararas, Pangeran Arya Japara, serta sejumlah putra dan putri lainnya.
Berabad-abad kemudian, sebagian garis tersebut melahirkan ulama, bangsawan, pejabat, pejuang dan tokoh masyarakat.
Bahkan, salah satu silsilah yang dipublikasikan oleh NU Banten menelusurkan garis keturunan Sultan Maulana Hasanuddin hingga tokoh Indonesia kontemporer, KH Ma’ruf Amin.
Jadi, pertanyaannya bukan sekadar:
“Siapa anak Sultan Maulana Hasanuddin?”
Tetapi:
“Bagaimana darah keluarga Sultan pertama Banten itu menyebar selama hampir lima abad hingga generasi sekarang?”
Siapa Sultan Maulana Hasanuddin?
Sultan Maulana Hasanuddin dikenal juga dengan nama Pangeran Sabakingking.
Dalam sumber-sumber sejarah dan biografi, ia disebut sebagai putra Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati dengan Nyai Ratu Kawunganten. Ia kemudian menjadi tokoh utama dalam pembentukan Kesultanan Banten sebagai kerajaan Islam yang mandiri.
Ia memerintah Banten sekitar 1552–1570.
Pada masa kepemimpinannya, pusat kekuasaan Banten berkembang di kawasan Surosowan. Perkembangan tersebut tidak dapat dilepaskan dari posisi Banten sebagai wilayah perdagangan penting di jalur Jawa–Sumatra.
UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten mencatat bahwa Sunan Gunung Jati memainkan peran dalam pengembangan Islam dan politik di wilayah Cirebon, Jakarta dan Banten, sementara Maulana Hasanuddin kemudian menjadi tokoh penting dalam pemantapan kekuasaan Islam di Banten.
Nama Surosowan kemudian menjadi bagian penting dari identitas Kesultanan Banten.
Karena itu, ia kemudian dikenal sebagai:
Panembahan Surosowan.
Dari Sunan Gunung Jati ke Sultan Banten pertama
Silsilah paling umum menempatkan Maulana Hasanuddin sebagai putra Sunan Gunung Jati.
Garis sederhananya:
Syarif Hidayatullah / Sunan Gunung Jati
↓
Maulana Hasanuddin / Pangeran Sabakingking
↓
Kesultanan Banten
Dalam salah satu daftar silsilah yang dikutip dari Catatan Masa Lalu Banten karya Halwany Michrob, Maulana Hasanuddin merupakan salah satu dari tujuh anak Sunan Gunung Jati yang dicatat dalam silsilah tersebut.
Namun, fokus artikel ini bukan menarik nasab ke atas, melainkan mengikuti jejak keturunan Sultan Hasanuddin ke bawah.
Sultan Hasanuddin mempunyai 15 anak
Ini merupakan bagian paling menarik.
Salah satu daftar silsilah Kesultanan Banten yang digunakan dalam penelitian akademik mencatat 15 putra-putri Sultan Maulana Hasanuddin, yaitu:
- Ratu Pembayun Fatimah
- Pangeran Yusuf
- Pangeran Arya Japara
- Pangeran Sunyararas
- Pangeran Pajajaran
- Pangeran Pringgalaya
- Pangeran Sabrang Lor
- Ratu Keben
- Ratu Terpenter
- Ratu Biru
- Ratu Ayu Arsanengah
- Pangeran Pajajaran Wado
- Tumenggung Wilatikta
- Ratu Ayu Kamudarage
- Pangeran Sabrang Wetan.
Daftar yang sama juga dimuat dalam sejumlah sumber genealogis Banten.
Tetapi ada hal yang perlu diperhatikan:
Tidak semua anak Sultan Hasanuddin kemudian menjadi bagian dari garis dinasti sultan yang memerintah Banten.
Garis takhta justru diteruskan melalui salah satu putranya:
Pangeran Yusuf.
1. Pangeran Yusuf: garis utama dinasti Sultan Banten
Pangeran Yusuf kemudian dikenal sebagai Sultan Maulana Yusuf, Sultan Banten kedua.
Ia memerintah sekitar 1570–1580.
Dengan demikian, garis dinasti utamanya menjadi:
Sultan Maulana Hasanuddin
↓
Sultan Maulana Yusuf
↓
Sultan Maulana Muhammad
↓
Sultan Abul Mafakhir
dan kemudian bercabang lagi ke keluarga-keluarga bangsawan Banten.
Daftar silsilah yang digunakan dalam penelitian UIN Sunan Kalijaga mencatat Sultan Maulana Yusuf memiliki sejumlah anak, di antaranya:
- Pangeran Arya Upapati
- Pangeran Arya Adikara
- Pangeran Arya Mandalika
- Pangeran Arya Ranamanggala
- Pangeran Arya Seminingrat
- Ratu Demang
- Ratu Pecatanda
- Ratu Rangga
- Ratu Ayu Wiyos
- Ratu Manis
- Pangeran Manduraraja
- Pangeran Widara
- Ratu Belimbing
- Maulana Muhammad.
Di antara nama tersebut, Maulana Muhammad menjadi mata rantai terpenting karena ia meneruskan takhta Banten.
2. Maulana Muhammad: cucu Sultan Hasanuddin yang menjadi Sultan
Maulana Muhammad atau Pangeran Ratu ing Banten kemudian menjadi Sultan Banten ketiga.
Dengan demikian, garis utama kerajaan dapat dibuat sederhana:
Sultan Maulana Hasanuddin
↓
Sultan Maulana Yusuf
↓
Sultan Maulana Muhammad
Sultan Maulana Muhammad kemudian mempunyai seorang putra yang kelak dikenal sebagai:
Sultan Abdul Mafakhir Mahmud Abdul Kadir.
Dari sinilah dinasti Banten memasuki generasi berikutnya.
3. Sultan Abul Mafakhir: garis keturunan yang terus berkembang
Dalam sejumlah daftar genealogis, Sultan Abul Mafakhir memiliki banyak keturunan.
Garis dinasti utama:
Sultan Maulana Hasanuddin
↓
Sultan Maulana Yusuf
↓
Sultan Maulana Muhammad
↓
Sultan Abul Mafakhir
Dari keturunan Sultan Abul Mafakhir kemudian muncul sejumlah cabang keluarga yang menyebar ke berbagai wilayah.
Salah satu cabang tersebut dapat ditelusuri sampai keluarga ulama dan tokoh masyarakat Banten pada masa berikutnya.
Di sinilah silsilah Sultan Hasanuddin mulai berubah dari sekadar silsilah kerajaan menjadi jaringan keluarga Banten.
4. Pangeran Sunyararas: cabang yang sangat penting
Selain Sultan Maulana Yusuf, ada satu anak Sultan Hasanuddin yang sangat penting dalam sejarah nasab Banten:
Pangeran Sunyararas, yang juga dikenal sebagai Pangeran Tajul Arsy/Tajul Arasy.
Ia tidak menggantikan ayahnya sebagai Sultan.
Tetapi justru keturunannya kemudian menjadi salah satu cabang keluarga paling berpengaruh dalam sejarah intelektual Banten.
Sejumlah sumber genealogis menempatkan:
Sultan Maulana Hasanuddin
↓
Pangeran Sunyararas
↓
Pangeran Wiraraja / Mas Wi / Pangeran Jagalautan
↓
berbagai generasi keluarga ulama Banten.
Sumber akademik mengenai Syekh Nawawi al-Bantani juga menyebut bahwa garis keluarga ayah Syekh Nawawi terhubung dengan Pangeran Sunyararas, putra Sultan Maulana Hasanuddin.
Artinya, salah satu cabang keturunan Sultan Hasanuddin kemudian melahirkan Syekh Nawawi al-Bantani, ulama besar asal Tanara yang pengaruhnya mencapai Makkah dan dunia pesantren Nusantara.
5. Dari Sultan Hasanuddin lahir garis Syekh Nawawi al-Bantani
Jika menggunakan silsilah yang dicatat dalam penelitian mengenai Syekh Nawawi, garis tersebut dapat disusun sebagai berikut:
Sultan Maulana Hasanuddin
↓
Pangeran Sunyararas / Tajul Arsy
↓
Pangeran Wiraraja / Mas Wi
↓
Tubagus Wiranegara
↓
beberapa generasi
↓
Kiai Umar bin Arabi
↓
Syekh Muhammad Nawawi al-Bantani
Penelitian akademik yang dikutip dalam kajian Syekh Nawawi menyebut garis:
Nawawi bin Umar bin Arabi bin Ali bin Jamad bin Janta bin Masbuqil bin Masqun/Maqsum bin Maswi bin Tajul Arsy/Pangeran Sunyararas bin Maulana Hasanuddin.
Dari sini terlihat bahwa keturunan Sultan Hasanuddin tidak hanya menghasilkan sultan.
Salah satu cabangnya melahirkan ulama kelas dunia.
6. Syekh Nawawi kemudian melahirkan garis keluarga ulama
Syekh Nawawi al-Bantani sendiri kemudian mempunyai keturunan.
Sejumlah sumber akademik mencatat ia mempunyai dua istri, Nasimah dan Hamdanah.
Dari Nasimah lahir:
- Nafisah
- Mariam
- Ruqayyah
Sedangkan dari Hamdanah lahir:
- Abdul Mu’thi
- Zahra.
Dengan demikian, salah satu cabang keturunan Sultan Hasanuddin akhirnya masuk ke dalam keluarga ulama besar Nusantara.
Ini memperlihatkan bahwa garis darah Kesultanan Banten tidak hanya bertahan melalui keraton, tetapi juga melalui jaringan pesantren dan keluarga ulama.
7. Cabang lain: Pangeran Arya Japara
Anak lain Sultan Hasanuddin yang tercatat dalam silsilah adalah:
Pangeran Arya Japara.
Basis genealogis yang memuat silsilah Kesultanan Banten menempatkan Pangeran Arya Japara sebagai anak Sultan Hasanuddin dan Ratu Ayu Kirana.
Namun, berbeda dengan garis Maulana Yusuf dan Pangeran Sunyararas, dokumentasi publik mengenai seluruh keturunan Pangeran Arya Japara sampai generasi modern jauh lebih terbatas.
Karena itu, untuk kepentingan jurnalistik, tidak tepat memaksakan rantai keturunan modern tanpa sumber yang dapat diverifikasi.
8. Cabang yang kemudian menyebar menjadi keluarga ulama
Salah satu hal menarik dalam sejarah Banten adalah munculnya keluarga-keluarga ulama yang masih menghubungkan nasab mereka dengan Kesultanan Banten.
Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Banten, misalnya, memuat sejumlah tulisan mengenai genealogi keluarga ulama Banten.
Salah satu contoh adalah KH Tubagus A. Suchari Chatib.
Dalam sumber tersebut disebutkan bahwa Suchari Chatib merupakan keturunan Sultan Maulana Hasanuddin dari garis ayahnya. Ayahnya adalah KH Tubagus Achmad Chatib, sedangkan ibunya Ratu Hasanah binti KH Tubagus Asnawi.
Dengan demikian, keluarga Kesultanan Banten kemudian terhubung dengan jaringan ulama dan pejuang Banten pada abad ke-20.
9. Garis Sultan Hasanuddin sampai KH Ma’ruf Amin
Salah satu bukti paling menarik mengenai keberlanjutan keturunan Sultan Hasanuddin sampai masa sekarang datang dari NU Banten.
Dalam tulisan yang diterbitkan pada 2023, NU Banten menampilkan silsilah KH Ma’ruf Amin dari garis Banten sebagai berikut:
KH Ma’ruf Amin
↓
KH Muhammad Amin Koper
↓
Kiai Abdullah
↓
Nyai Kati
↓
Nyai Kanisah
↓
Syekh Alim
↓
Syekh Abdullah
↓
Syekh Ibrahim
↓
Syekh Hasan Bashri Cakung
↓
Raden Mahmud
↓
Raden Saleh
↓
Sultan Abul Mufakhir
↓
Sultan Maulana Muhammad
↓
Sultan Maulana Yusuf
↓
Sultan Maulana Hasanuddin
↓
Syarif Hidayatullah / Sunan Gunung Jati.
Ini merupakan salah satu jalur yang sangat penting.
Sebab rantai tersebut tidak berhenti pada tokoh abad ke-19 atau abad ke-20.
Ia sampai pada tokoh nasional Indonesia yang masih hidup di era sekarang.
10. Jadi, apakah KH Ma’ruf Amin keturunan langsung Sultan Hasanuddin?
Menurut silsilah yang dipublikasikan NU Banten, ya.
Dan yang menarik, rantainya bukan melalui Pangeran Sunyararas.
Garis yang dicantumkan NU Banten justru melewati:
Sultan Hasanuddin → Sultan Maulana Yusuf → Sultan Maulana Muhammad → Sultan Abul Mufakhir → Raden Saleh → Raden Mahmud → Syekh Hasan Bashri Cakung → … → KH Ma’ruf Amin.
Ini berarti ada dua pola besar yang dapat kita lihat dari keturunan Sultan Hasanuddin:
Garis dinasti
Hasanuddin → Maulana Yusuf → Maulana Muhammad → Abul Mufakhir → cabang-cabang keluarga Banten
Garis Sunyararas
Hasanuddin → Pangeran Sunyararas → keturunan → Syekh Nawawi al-Bantani dan jaringan ulama
Keduanya berasal dari Sultan Maulana Hasanuddin, tetapi berkembang melalui cabang keluarga yang berbeda.
11. Hubungan dengan keluarga KH Tubagus A. Suchari Chatib
Cabang lain yang terdokumentasi dalam sumber pemerintah Banten adalah keluarga KH Tubagus A. Suchari Chatib.
Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Banten menyebut Suchari Chatib sebagai keturunan Sultan Maulana Hasanuddin dari garis ayah. Ia adalah putra KH Tubagus Achmad Chatib, dan cucu Syekh Asnawi Caringin dari garis ibu.
Suchari Chatib lahir di Caringin pada 17 Agustus 1920.
Ia kemudian dikenal sebagai ulama, pejuang Hizbullah Banten, tokoh politik dan tokoh perdamaian. Ia juga memiliki sembilan anak.
Dengan demikian, garis keturunan Sultan Hasanuddin juga dapat ditemukan dalam keluarga ulama-pejuang Banten abad ke-20.
12. Dari kerajaan menuju keluarga besar Banten
Jika dilihat dalam rentang waktu hampir lima abad, perubahan ini sangat menarik.
Pada abad ke-16, keturunan Sultan Hasanuddin berada di lingkungan kerajaan.
Mereka menggunakan gelar:
Sultan, Pangeran, Ratu, Tubagus dan Tumenggung.
Pada abad-abad berikutnya, sebagian keturunan masuk ke lingkungan:
ulama, pesantren, penghulu, pejabat, pejuang dan tokoh masyarakat.
Pada masa Indonesia modern, sebagian garis tersebut kemudian muncul sebagai keluarga ulama dan tokoh nasional.
Jadi, keturunan Sultan Hasanuddin tidak bisa hanya dicari di kompleks Kesultanan Banten Lama.
Jejaknya menyebar.
13. Silsilah ringkas sampai generasi sekarang
Bila seluruh data yang paling kuat disusun secara sederhana, gambaran besarnya seperti ini:
CABANG A — DINASTI KESULTANAN BANTEN
Sultan Maulana Hasanuddin
↓
Sultan Maulana Yusuf
↓
Sultan Maulana Muhammad
↓
Sultan Abul Mufakhir
↓
berbagai cabang keluarga bangsawan Banten
↓
sebagian berkembang menjadi keluarga ulama dan tokoh masyarakat
Salah satu cabang yang terdokumentasi dalam sumber NU Banten:
Sultan Abul Mufakhir
↓
Raden Saleh
↓
Raden Mahmud
↓
Syekh Hasan Bashri Cakung
↓
Syekh Ibrahim
↓
Syekh Abdullah
↓
Syekh Alim
↓
Nyai Kanisah
↓
Nyai Kati
↓
Kiai Abdullah
↓
KH Muhammad Amin Koper
↓
KH Ma’ruf Amin.
CABANG B — GARIS PANGERAN SUNYARARAS
Sultan Maulana Hasanuddin
↓
Pangeran Sunyararas / Tajul Arsy
↓
Pangeran Wiraraja / Mas Wi
↓
berbagai generasi
↓
Kiai Umar bin Arabi
↓
Syekh Muhammad Nawawi al-Bantani.
Dari Syekh Nawawi kemudian berkembang lagi keluarga dan jaringan ulama.
CABANG C — JARINGAN KELUARGA ULAMA-PEJUANG BANTEN
Sultan Maulana Hasanuddin
↓
garis keluarga Kesultanan Banten
↓
KH Tubagus Muhammad Wasi
↓
KH Tubagus Achmad Chatib
↓
KH Tubagus A. Suchari Chatib
↓
9 putra-putri.
Catatan: struktur detail antara Sultan Hasanuddin dan KH Tb A. Suchari Chatib dalam sumber publik yang ditemukan tidak disajikan selengkap garis KH Ma’ruf Amin, sehingga tidak sebaiknya kita mengisi mata rantainya berdasarkan dugaan.
14. Mengapa tidak semua keturunan Sultan Hasanuddin bisa dibuat sampai 2026?
Ini bagian yang penting.
Sultan Hasanuddin hidup pada abad ke-16.
Artinya, jika sampai sekarang terdapat keturunannya, maka kita sedang berbicara tentang lebih dari 15 generasi dalam beberapa cabang.
Dalam rentang waktu sepanjang itu, terjadi:
- perkawinan antarkeluarga;
- perpindahan wilayah;
- perubahan nama;
- hilangnya dokumen;
- penggunaan nama atau gelar yang berbeda;
- dan percabangan keluarga yang sangat banyak.
Karena itu, tidak ada alasan jurnalistik untuk mengklaim satu daftar yang menyebut “semua keturunan Sultan Hasanuddin sampai 2026.”
Yang lebih tepat adalah menyajikan garis yang dapat dibuktikan dari sumber, kemudian menyebut bahwa masih terdapat banyak cabang yang belum terdokumentasi secara publik.
15. Apakah semua pemilik gelar Tubagus adalah keturunan Sultan Hasanuddin?
Tidak bisa disimpulkan demikian.
Gelar seperti Tubagus memang banyak ditemukan dalam keluarga bangsawan Banten.
Tetapi gelar tidak boleh dijadikan satu-satunya bukti hubungan darah.
Silsilah harus ditelusuri melalui hubungan antargenerasi.
Karena itu, apabila seseorang mengatakan:
“Saya Tubagus, berarti saya keturunan Sultan Hasanuddin.”
pernyataan tersebut masih membutuhkan pembuktian genealogis.
Untuk kepentingan media, cara yang lebih aman adalah:
“Menurut silsilah keluarga yang didokumentasikan…”
atau:
“Dalam sumber genealogis yang dirujuk…”
bukan langsung menyatakan hubungan darah sebagai fakta mutlak apabila dokumennya belum diverifikasi silang.
16. Yang diwariskan Sultan Hasanuddin ternyata bukan hanya takhta
Menariknya, semakin jauh silsilah ditelusuri, semakin jelas bahwa warisan Sultan Hasanuddin tidak berhenti pada jabatan sultan.
Keturunannya muncul dalam berbagai bidang.
Ada yang menjadi:
sultan.
Ada yang menjadi:
pangeran.
Ada yang menjadi:
ulama.
Ada yang menjadi:
pejuang.
Ada yang menjadi:
pejabat pemerintahan.
Dan pada masa modern, ada yang menjadi:
tokoh nasional.
Garis keturunan tersebut menunjukkan bahwa perubahan zaman tidak otomatis menghapus jaringan keluarga lama.
Yang berubah adalah peran mereka.
17. Dari Surosowan ke pesantren
Mungkin inilah bagian paling menarik dari kisah keluarga Sultan Hasanuddin.
Kesultanan Banten akhirnya runtuh sebagai kekuatan politik.
Tetapi jaringan keluarganya tidak ikut hilang.
Sebagian berpindah ke lingkungan pesantren.
Sebagian menjadi ulama.
Sebagian menjadi penghulu dan tokoh masyarakat.
Sebagian masuk ke pemerintahan.
Dan sebagian lainnya tetap tinggal di tengah masyarakat Banten.
Garis keturunan Pangeran Sunyararas yang kemudian dikaitkan dengan Syekh Nawawi al-Bantani adalah contoh paling jelas bagaimana darah keluarga kerajaan kemudian bertemu dengan tradisi intelektual Islam.
Sementara garis Sultan Maulana Yusuf–Maulana Muhammad–Sultan Abul Mufakhir menunjukkan bagaimana keturunan dinasti terus berkembang melalui keluarga-keluarga Banten sampai generasi modern, termasuk garis yang menurut NU Banten sampai kepada KH Ma’ruf Amin.
18. Sultan Hasanuddin dan Banten hari ini
Nama Sultan Maulana Hasanuddin bahkan masih hidup dalam institusi pendidikan modern.
UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten menggunakan namanya sebagai bagian dari identitas perguruan tinggi Islam negeri di Banten. Sejarah kampus tersebut sendiri menjelaskan bahwa nama tersebut merujuk kepada tokoh penting dalam sejarah Banten dan penyebaran Islam di wilayah tersebut.
Ini menunjukkan bahwa warisan Sultan Hasanuddin tidak hanya berupa makam atau bangunan sejarah.
Namanya menjadi bagian dari identitas pendidikan Banten modern.
19. Silsilah bukan sekadar mencari “darah bangsawan”
Ada kecenderungan ketika membicarakan silsilah tokoh Banten, perhatian pembaca langsung tertuju kepada pertanyaan:
“Siapa keturunannya sekarang?”
Pertanyaan tersebut sah.
Tetapi ada hal yang lebih menarik.
Dari Sultan Hasanuddin kita bisa melihat bagaimana sebuah keluarga kerajaan berubah mengikuti zaman.
Dulu mereka berada di istana.
Kemudian sebagian berada di pesantren.
Sebagian berada di medan perjuangan.
Sebagian menjadi pejabat.
Sebagian menjadi tokoh nasional.
Dan sebagian besar mungkin hidup sebagai masyarakat biasa tanpa lagi menggunakan gelar kebangsawanan.
Dengan demikian, silsilah bukan hanya soal darah.
Ia juga soal perjalanan keluarga.
Kesimpulan
Sultan Maulana Hasanuddin merupakan titik penting dalam sejarah Kesultanan Banten.
Dari dirinya lahir sedikitnya 15 putra-putri yang tercatat dalam salah satu sumber silsilah utama, dengan cabang yang kemudian berkembang ke berbagai lingkungan keluarga Banten.
Garis paling penting dapat dibaca melalui beberapa cabang.
Pertama:
Sultan Hasanuddin → Sultan Maulana Yusuf → Sultan Maulana Muhammad → Sultan Abul Mufakhir → berbagai cabang keluarga Banten.
Salah satu cabang yang terdokumentasi dalam sumber NU Banten berlanjut hingga:
… → Raden Saleh → Raden Mahmud → Syekh Hasan Bashri Cakung → … → KH Ma’ruf Amin.
Kedua:
Sultan Hasanuddin → Pangeran Sunyararas → Pangeran Wiraraja/Mas Wi → beberapa generasi → Kiai Umar bin Arabi → Syekh Nawawi al-Bantani.
Ketiga, garis keluarga Kesultanan Banten juga terhubung dengan keluarga ulama-pejuang seperti KH Tubagus A. Suchari Chatib, yang menurut sumber pemerintah Banten merupakan keturunan Sultan Maulana Hasanuddin dari garis ayah.
Namun, belum ada satu database publik yang dapat dianggap sebagai daftar lengkap seluruh keturunan Sultan Maulana Hasanuddin yang masih hidup pada 2026.
Karena itu, artikel ini tidak menyebut satu nama sebagai keturunan Sultan Hasanuddin hanya berdasarkan gelar, cerita lisan atau kesamaan nama.
Untuk benar-benar menyusun “Silsilah Sultan Maulana Hasanuddin sampai generasi sekarang” secara lengkap, penelitian berikutnya perlu dilakukan sampai tingkat keluarga: manuskrip silsilah, arsip keluarga, makam, dokumen pernikahan dan sumber genealogis Banten harus dicocokkan satu per satu.
Sebab setelah hampir lima abad, pertanyaan yang menarik bukan hanya:
“Siapa yang masih berdarah Sultan Maulana Hasanuddin?”
Tetapi:
“Bagaimana keturunan Sultan pertama Banten berubah dari keluarga kerajaan menjadi bagian dari masyarakat, ulama, pejuang dan tokoh Indonesia modern?”
Itulah perjalanan manusia di balik sebuah silsilah.
Sumber dan rujukan
- UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten, materi sejarah Kesultanan Banten dan Maulana Hasanuddin.
- Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Banten, Riwayat Kesultanan Banten.
- UIN Sunan Kalijaga, lampiran penelitian yang memuat silsilah Sultan Banten dan putra-putrinya, bersumber antara lain dari Catatan Masa Lalu Banten.
- NU Banten, silsilah KH Ma’ruf Amin yang menghubungkan garis keturunannya dengan Sultan Maulana Hasanuddin.
- Penelitian akademik mengenai Syekh Nawawi al-Bantani, yang memuat jalur Sunyararas–Maulana Hasanuddin.
- Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Banten, biografi KH Tb. A. Suchari Chatib dan hubungan genealogisnya dengan Kesultanan Banten.










