Beranda / Agama / Bukan Sekadar Minta Kaya, Ini Doa Rasulullah agar Terhindar dari Kefakiran dan Kehinaan

Bukan Sekadar Minta Kaya, Ini Doa Rasulullah agar Terhindar dari Kefakiran dan Kehinaan

Rasulullah kaya - photo by Defrino Maasy

SPILL Banten – Setiap orang tentu ingin hidup berkecukupan. Bisa memenuhi kebutuhan keluarga. Tidak terlilit utang. Mampu membayar kebutuhan sehari-hari. Bisa menyekolahkan anak. Mampu membantu orang tua.

Dan, jika memiliki kelebihan, dapat berbagi dengan orang lain.

Namun kehidupan tidak selalu berjalan seperti yang direncanakan.

Ada masa ketika penghasilan berkurang.

Usaha sepi.

Pekerjaan hilang.

Utang menumpuk.

Kebutuhan semakin besar sementara pemasukan tidak bertambah.

Dalam kondisi seperti itu, seorang Muslim tentu boleh memohon pertolongan kepada Allah.

Menariknya, Rasulullah ﷺ sendiri mengajarkan beberapa doa yang berkaitan dengan kecukupan, perlindungan dari kefakiran, dan terbebas dari ketergantungan kepada selain Allah.

Salah satunya bahkan secara langsung memohon perlindungan dari kefakiran, kekurangan dan kehinaan.

1. Doa Nabi ﷺ agar Terhindar dari Kefakiran, Kekurangan, dan Kehinaan

Dalam hadis riwayat An-Nasa’i dari Abu Hurairah RA, Rasulullah ﷺ pernah berdoa:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْقِلَّةِ وَالْفَقْرِ وَالذِّلَّةِ، وَأَعُوذُ بِكَ أَنْ أَظْلِمَ أَوْ أُظْلَمَ

Allahumma inni a’udzu bika minal-qillati wal-faqri wadz-dzillati, wa a’udzu bika an azhlima au uzhlam.

Artinya:

“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kekurangan, kefakiran dan kehinaan. Aku berlindung kepada-Mu dari berbuat zalim atau dizalimi.”

Hadis ini tercantum dalam Sunan an-Nasa’i 5462, dengan penilaian sahih pada sumber yang dirujuk.

Perhatikan bahwa Rasulullah ﷺ tidak hanya meminta perlindungan dari al-faqr atau kefakiran.

Beliau juga menyebut:

al-qillah — kekurangan,

dan

adz-dzillah — kehinaan.

Kemudian doa tersebut dilanjutkan dengan permohonan agar tidak menzalimi dan tidak dizalimi.

Artinya, persoalan kehidupan tidak dilihat hanya dari sisi materi.

Ada kebutuhan untuk hidup berkecukupan.

Ada kebutuhan menjaga kehormatan.

Dan ada kebutuhan untuk tetap berada dalam keadilan.

2. Rasulullah ﷺ Juga Memohon “Al-Ghina” — Kecukupan

Ada doa lain yang sangat singkat tetapi memiliki makna luas:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالْعَفَافَ وَالْغِنَى

Allahumma inni as’alukal-huda wat-tuqa wal-‘afafa wal-ghina.

Artinya:

“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu petunjuk, ketakwaan, kesucian diri, dan kecukupan.”

Doa ini diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud RA dan tercantum dalam sejumlah koleksi hadis, termasuk Sahih Muslim, serta diriwayatkan pula oleh At-Tirmidzi dan Ibnu Majah.

Kata al-ghina dapat dipahami sebagai kecukupan atau tidak bergantung kepada manusia.

Ini menarik.

Sebab doa tersebut tidak berbunyi:

“Ya Allah, jadikan aku orang paling kaya.”

Melainkan meminta:

petunjuk, ketakwaan, kesucian diri dan kecukupan.

Seolah-olah Rasulullah ﷺ mengajarkan bahwa kekayaan yang paling penting bukan sekadar banyaknya angka di rekening.

Tetapi kemampuan hidup dalam kecukupan sambil tetap berada dalam jalan yang diridai Allah.

3. Memohon Kecukupan Bukan Berarti Harus Menjadi Orang Kaya

Ada perbedaan antara kaya dan berkecukupan.

Seseorang bisa memiliki banyak harta tetapi terus merasa kekurangan.

Sebaliknya, seseorang mungkin tidak memiliki kekayaan besar, tetapi mampu memenuhi kebutuhan hidupnya dengan tenang dan bersyukur.

Karena itu, doa:

Allahumma inni as’alukal-huda wat-tuqa wal-‘afafa wal-ghina

mengandung permohonan yang lebih luas daripada sekadar meminta uang.

Kita meminta Allah memberikan kecukupan.

Cukup untuk kebutuhan.

Cukup untuk menjaga kehormatan.

Cukup agar tidak terpaksa mengambil jalan yang haram.

Cukup agar dapat menjalani kehidupan dengan tenang.

Dan cukup agar kita tidak menjadikan harta sebagai satu-satunya ukuran kebahagiaan.

4. Ada Doa agar Allah Mencukupi dengan yang Halal

Dalam persoalan rezeki dan utang, ada doa yang sangat populer dan memiliki dasar hadis:

اللَّهُمَّ اكْفِنِي بِحَلَالِكَ عَنْ حَرَامِكَ، وَأَغْنِنِي بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ

Allahummakfini bihalalika ‘an haramika, wa aghnini bifadhlika ‘amman siwak.

Artinya:

“Ya Allah, cukupkanlah aku dengan yang halal dari-Mu sehingga aku tidak membutuhkan yang haram, dan cukupkanlah aku dengan karunia-Mu sehingga aku tidak bergantung kepada selain-Mu.”

Doa ini diriwayatkan dalam Jami’ at-Tirmidzi 3563 dari Ali bin Abi Thalib RA. Dalam riwayat tersebut, Ali mengajarkan doa itu kepada seseorang yang mengalami kesulitan memenuhi kewajiban finansialnya.

Buat kamu  Proses Masuk dan Perkembangan Islam di Banten: Pendirian Kesultanan

Pesan doanya sangat jelas:

bukan sekadar meminta banyak uang.

Tetapi meminta:

rezeki yang halal.

Ini penting.

Sebab seseorang bisa saja memperoleh uang dalam jumlah besar melalui cara yang tidak benar.

Namun Islam tidak mengajarkan seorang Muslim mengejar kecukupan dengan mengorbankan kehalalan.

5. Rezeki Tidak Selalu Datang dari Jalan yang Kita Duga

Al-Qur’an memberikan sebuah pengingat yang sangat kuat dalam Surah At-Talaq ayat 2–3.

Allah berfirman bahwa siapa yang bertakwa kepada-Nya, Allah akan memberikan jalan keluar dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka. Ayat tersebut juga mengaitkan tawakal kepada Allah dengan kecukupan.

“Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya.”

Ayat ini bukan janji bahwa seseorang yang bertakwa pasti menjadi kaya raya.

Maknanya lebih luas.

Allah menjanjikan jalan keluar dan rezeki bagi orang yang bertakwa, sesuai dengan kehendak dan ketetapan-Nya.

Karena itu, ketika seseorang sedang mengalami kesulitan ekonomi, ia tidak seharusnya kehilangan harapan.

Bisa jadi jalan keluarnya belum terlihat.

Bisa jadi bentuk rezekinya berbeda dari yang dibayangkan.

Bisa jadi pertolongan datang melalui pekerjaan.

Peluang usaha.

Orang yang membantu.

Kesehatan yang terjaga.

Utang yang berkurang.

Atau kemampuan mengelola pengeluaran dengan lebih baik.

6. Doa Bukan Pengganti Ikhtiar Mencari Rezeki

Ada kesalahpahaman yang perlu dihindari.

Membaca doa agar terhindar dari kemiskinan bukan berarti seseorang cukup berdoa tanpa bekerja.

Islam tidak mengajarkan sikap pasif.

Doa berjalan bersama ikhtiar.

Jika ingin meningkatkan kondisi ekonomi, seseorang tetap perlu:

  • mencari pekerjaan,
  • mengembangkan keterampilan,
  • membangun usaha,
  • mengelola keuangan,
  • menghindari pemborosan,
  • membayar utang sesuai kemampuan,
  • mencari peluang yang halal,
  • dan membangun jaringan yang baik.

Doa memberikan dimensi spiritual.

Ikhtiar memberikan langkah nyata.

Keduanya tidak perlu dipertentangkan.

7. Jangan Sampai Keinginan Menghindari Kemiskinan Membawa kepada Jalan Haram

Inilah salah satu pesan paling penting dari doa:

“Allahummakfini bihalalika ‘an haramika…”

Kita meminta Allah mencukupi dengan yang halal agar tidak membutuhkan yang haram.

Artinya, ketika sedang terdesak secara ekonomi, seseorang tetap perlu menjaga batas.

Jangan karena kebutuhan mendesak kemudian:

menipu,

mengambil hak orang lain,

memanipulasi,

korupsi,

berutang tanpa niat membayar,

atau mengambil keuntungan dari kelemahan orang lain.

Kesulitan ekonomi memang berat.

Tetapi Islam tidak mengajarkan bahwa kesulitan otomatis menghalalkan semua cara.

Justru dalam kondisi sulit, doa tersebut mengajarkan:

“Ya Allah, berikan aku kecukupan melalui jalan yang Engkau halalkan.”

8. Ada Doa untuk Berlindung dari Utang yang Berat

Kefakiran dan utang terkadang berjalan beriringan.

Karena itu, Rasulullah ﷺ juga mengajarkan doa agar berlindung dari beban utang.

Dalam hadis riwayat An-Nasa’i, Rasulullah ﷺ berdoa:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ، وَالْكَسَلِ وَالْبُخْلِ، وَالْجُبْنِ وَضَلَعِ الدَّيْنِ، وَغَلَبَةِ الرِّجَالِ

Allahumma inni a’udzu bika minal-hammi wal-hazan, wal-‘ajzi wal-kasal, wal-jubni wal-bukhli, wa dala’id-daini wa ghalabatir-rijal.

Secara ringkas, doa tersebut memohon perlindungan dari kegelisahan, kesedihan, kelemahan/ketidakberdayaan, kemalasan, sifat kikir, pengecut, beban utang yang berat, dan tekanan dari orang lain. Riwayat yang memuat doa tersebut terdapat dalam Sunan an-Nasa’i.

Ini menunjukkan bahwa Rasulullah ﷺ memahami persoalan ekonomi bukan hanya sebagai persoalan angka.

Utang dapat menjadi beban psikologis.

Dapat menimbulkan tekanan.

Dapat membuat seseorang kehilangan ketenangan.

Karena itu, perlindungan dari beban utang juga menjadi bagian dari doa.

9. Kemiskinan Tidak Boleh Menjadi Alasan untuk Kehilangan Harga Diri

Ada satu bagian yang sangat menarik dari doa Rasulullah ﷺ:

memohon perlindungan dari kehinaan.

Ini menunjukkan bahwa seorang Muslim diajarkan menjaga martabatnya.

Namun menjaga martabat bukan berarti malu menjadi miskin.

Kemiskinan bukan dosa.

Orang yang sedang mengalami kesulitan ekonomi tidak otomatis menjadi rendah di hadapan Allah.

Nilai manusia tidak ditentukan semata-mata oleh jumlah harta.

Yang perlu dihindari adalah kondisi yang membuat seseorang kehilangan kehormatan karena terpaksa melakukan sesuatu yang bertentangan dengan prinsip agama atau merugikan orang lain.

Karena itu, doa memohon perlindungan dari kefakiran dan kehinaan bukan berarti Islam mengajarkan bahwa orang miskin adalah orang hina.

Justru doa tersebut menunjukkan permohonan agar manusia tidak terjerumus dalam kondisi yang merusak kehidupan dan kehormatannya.

10. Rezeki yang Berkah Tidak Selalu Berarti Rezeki yang Banyak

Kata berkah sering digunakan dalam pembicaraan tentang rezeki.

Namun keberkahan tidak selalu identik dengan jumlah.

Penghasilan yang tidak terlalu besar tetapi mampu mencukupi kebutuhan keluarga, diperoleh secara halal, dan membuat seseorang tetap tenang bisa memiliki nilai yang sangat besar.

Sebaliknya, penghasilan yang besar tetapi diperoleh dengan cara haram atau membuat seseorang semakin jauh dari kebaikan bukanlah gambaran rezeki yang ideal dalam perspektif Islam.

Buat kamu  Bukan Mantra untuk Menaklukkan Mertua, Ini Doa yang Diajarkan Islam untuk Memperbaiki Hubungan

Karena itu, ketika berdoa, jangan hanya meminta:

“Ya Allah, tambah uangku.”

Mintalah:

“Ya Allah, berkahilah rezekiku.”

Sebab jumlah bisa dihitung.

Tetapi keberkahan tidak selalu dapat dihitung dengan angka.

11. Doa Memohon Rezeki dan Kecukupan yang Bisa Diamalkan

Berikut beberapa doa yang dapat diamalkan berdasarkan sumber yang telah disebutkan.

Doa pertama: Memohon kecukupan

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالْعَفَافَ وَالْغِنَى

Allahumma inni as’alukal-huda wat-tuqa wal-‘afafa wal-ghina.

“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu petunjuk, ketakwaan, kesucian diri dan kecukupan.”

Doa kedua: Berlindung dari kefakiran dan kehinaan

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْقِلَّةِ وَالْفَقْرِ وَالذِّلَّةِ

Allahumma inni a’udzu bika minal-qillati wal-faqri wadz-dzillah.

“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kekurangan, kefakiran dan kehinaan.”

Doa ketiga: Memohon kecukupan melalui jalan halal

اللَّهُمَّ اكْفِنِي بِحَلَالِكَ عَنْ حَرَامِكَ، وَأَغْنِنِي بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ

Allahummakfini bihalalika ‘an haramika, wa aghnini bifadhlika ‘amman siwak.

“Ya Allah, cukupkanlah aku dengan yang halal dari-Mu sehingga aku tidak membutuhkan yang haram, dan cukupkanlah aku dengan karunia-Mu sehingga aku tidak bergantung kepada selain-Mu.”

Doa keempat: Berlindung dari utang yang berat

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ ضَلَعِ الدَّيْنِ وَغَلَبَةِ الرِّجَالِ

Allahumma inni a’udzu bika min dhala’id-daini wa ghalabatir-rijal.

“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari beban utang yang berat dan tekanan/penguasaan orang lain.”

12. Bolehkan Menambahkan Doa dengan Bahasa Sendiri?

Boleh memohon kepada Allah dengan bahasa sendiri selama kandungannya baik.

Misalnya:

“Ya Allah, jauhkan aku dan keluargaku dari kefakiran yang membuat kami tidak mampu memenuhi kebutuhan hidup. Berikan kami rezeki yang halal, luas, cukup dan penuh keberkahan. Bukakan pintu pekerjaan dan usaha yang baik. Jauhkan kami dari utang yang memberatkan dan dari jalan mencari harta yang Engkau haramkan. Jadikan rezeki yang Engkau berikan sebagai sarana untuk beribadah, membantu keluarga, menolong sesama dan mendekatkan diri kepada-Mu.”

Doa tersebut adalah susunan doa pribadi, bukan lafaz khusus yang dinisbatkan kepada Rasulullah ﷺ.

Hal ini perlu ditegaskan agar pembaca tidak mengira bahwa setiap redaksi doa yang beredar di internet merupakan hadis.

13. Ada Satu Hal yang Sering Dilupakan: Meminta Hati yang Merasa Cukup

Manusia dapat memiliki penghasilan yang bertambah tetapi tetap merasa kekurangan.

Karena itu, selain meminta rezeki, kita juga perlu meminta kecukupan hati.

Doa Nabi ﷺ yang meminta al-ghina menjadi sangat relevan.

Sebab kecukupan bukan hanya:

berapa banyak yang kita punya,

tetapi juga:

seberapa baik kita menggunakan apa yang kita punya.

Jika penghasilan bertambah tetapi gaya hidup juga terus meningkat tanpa kendali, rasa cukup mungkin tidak pernah datang.

Karena itu, ikhtiar rezeki sebaiknya berjalan bersama:

syukur,

qanaah,

perencanaan,

disiplin,

dan tanggung jawab.

14. Takwa dan Tawakal Bukan Berarti Berhenti Berusaha

QS. At-Talaq ayat 2–3 menghubungkan takwa dengan jalan keluar dan rezeki, serta menghubungkan tawakal dengan kecukupan dari Allah.

Namun tawakal tidak identik dengan pasrah tanpa usaha.

Seseorang tetap perlu bekerja.

Tetap perlu belajar.

Tetap perlu memperbaiki keterampilan.

Tetap perlu mengatur keuangan.

Tetap perlu mencari peluang.

Tetap perlu meminta bantuan ketika memang membutuhkan.

Setelah itu, hasil akhirnya diserahkan kepada Allah.

Itulah keseimbangan yang sehat antara ikhtiar dan tawakal.

Penutup: Jangan Hanya Meminta Banyak Rezeki, Mintalah Rezeki yang Mencukupi dan Memberkahi

Rasulullah ﷺ mengajarkan doa agar seorang Muslim memohon perlindungan dari kekurangan, kefakiran dan kehinaan.

Beliau juga mengajarkan doa:

“Allahumma inni as’alukal-huda wat-tuqa wal-‘afafa wal-ghina.”

“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu petunjuk, ketakwaan, kesucian diri dan kecukupan.”

Dan ketika menghadapi kesulitan finansial, ada pula doa:

“Allahummakfini bihalalika ‘an haramika, wa aghnini bifadhlika ‘amman siwak.”

Memohon agar Allah mencukupi kita dengan yang halal dan menjauhkan kita dari kebutuhan terhadap yang haram.

Semua doa tersebut memberikan satu pesan penting:

Islam tidak hanya mengajarkan manusia meminta harta. Islam mengajarkan manusia meminta kecukupan yang halal, keberkahan, kehormatan dan kemampuan untuk tetap berada di jalan yang benar.

Sebab rezeki yang paling menenangkan bukan selalu rezeki yang paling besar.

Tetapi rezeki yang:

halal sumbernya,

cukup kebutuhannya,

berkah manfaatnya,

dan

membuat pemiliknya semakin dekat kepada Allah.

Maka ketika keadaan ekonomi sedang sulit, jangan berhenti berusaha.

Jangan pula berhenti berdoa.

Mintalah jalan keluar.

Mintalah kecukupan.

Mintalah rezeki yang halal.

Mintalah perlindungan dari utang yang memberatkan.

Dan yang tidak kalah penting:

mintalah agar hati tetap kuat ketika rezeki belum datang sesuai harapan.

Catatan Redaksi

Artikel ini menggunakan doa-doa yang memiliki dasar dalam hadis, bukan mengklaim adanya satu “doa anti-kemiskinan” yang secara otomatis membuat seseorang menjadi kaya.

Doa Nabi ﷺ tentang perlindungan dari al-qillah (kekurangan), al-faqr (kefakiran), dan adz-dzillah (kehinaan) diriwayatkan dalam Sunan an-Nasa’i.

Doa memohon al-huda, at-tuqa, al-‘afaf, dan al-ghina terdapat dalam riwayat Sahih Muslim dan juga tercantum dalam Jami’ at-Tirmidzi serta Sunan Ibnu Majah.

Sementara doa “Allahummakfini bihalalika ‘an haramika…” diriwayatkan dalam Jami’ at-Tirmidzi 3563 dan dinilai hasan pada sumber yang dirujuk.

Adapun QS. At-Talaq ayat 2–3 mengaitkan takwa dengan jalan keluar dan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka, serta tawakal dengan kecukupan dari Allah.

Referensi Utama

  1. Al-Qur’an, QS. At-Talaq: 2–3 — tentang takwa, jalan keluar, rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka, dan tawakal.
  2. Sunan an-Nasa’i 5462 — doa Rasulullah ﷺ memohon perlindungan dari kekurangan, kefakiran dan kehinaan.
  3. Sahih Muslim / Riyad as-Salihin 71 — doa memohon petunjuk, ketakwaan, kesucian diri dan kecukupan.
  4. Jami’ at-Tirmidzi 3489 — Allahumma inni as’alukal-huda wat-tuqa wal-‘afafa wal-ghina.
  5. Jami’ at-Tirmidzi 3563 — doa memohon kecukupan dengan yang halal dan tidak bergantung kepada selain Allah.
  6. Sunan an-Nasa’i 5476 — doa berlindung dari kesulitan, kemalasan, kebakhilan, utang yang berat dan tekanan orang lain.
  7. Sunan an-Nasa’i 5465 — doa memohon perlindungan dari kekufuran, kefakiran dan azab kubur.
Tag:
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted