SPILL Banten – Ada keputusan organisasi yang selesai ketika palu sidang diketukkan. Ada pula keputusan yang baru benar-benar dimulai setelah forum ditutup. Pemilihan pemimpin adalah salah satunya.
Ketika suara telah dihitung dan seorang kandidat ditetapkan sebagai pemimpin, KOHATI tidak hanya mendapatkan seseorang untuk mengisi sebuah posisi.
KOHATI sedang menentukan arah perjalanan organisasi.
Keputusan itu akan memengaruhi cara organisasi menjalankan konstitusi, membangun kaderisasi, mengambil sikap, menjaga independensi, menjalankan pengabdian, dan menghadapi persoalan perempuan serta masyarakat.
Karena itu, memilih pemimpin bukan perkara siapa yang paling dikenal.
Bukan pula sekadar siapa yang paling pandai berbicara.
Memilih pemimpin adalah memilih kepada siapa masa depan organisasi akan dipercayakan.
Pemimpin Tidak Lahir Sendiri
Seorang pemimpin tidak tiba-tiba muncul di atas panggung organisasi.
Ia lahir dari proses.
Ada kaderisasi.
Ada pengalaman.
Ada forum.
Ada pencalonan.
Dan pada akhirnya ada pilihan dari orang-orang yang memiliki hak menentukan.
Dalam struktur KOHATI, Musyawarah Kohati merupakan forum pengambilan keputusan dan menjadi ruang pemilihan serta penetapan Formateur/Ketua Umum. Dokumen hasil MUNAS KOHATI XXV yang tersedia publik juga mencatat adanya ketetapan mengenai kriteria Formateur/Ketua Umum serta tata tertib pemilihannya.
Artinya, pemimpin adalah hasil dari proses organisasi.
Karena itu, ketika sebuah kepemimpinan ternyata membawa masalah, pertanyaannya tidak selalu berhenti kepada orang yang terpilih.
Ada pertanyaan lain yang harus berani diajukan:
Bagaimana proses memilihnya?
Apa yang menjadi pertimbangan pemilih?
Apakah konstitusi benar-benar dibaca?
Apakah rekam jejak benar-benar diperiksa?
Apakah integritas menjadi pertimbangan utama?
Atau jangan-jangan pilihan justru lebih banyak ditentukan oleh kedekatan, kelompok, popularitas, transaksi kepentingan, atau tekanan sesaat?
Di sinilah kedewasaan organisasi diuji.
Salah Pilih Tidak Selalu Terlihat di Hari Pertama
Sebuah organisasi biasanya tidak runtuh dalam satu malam.
Kerusakan dapat muncul perlahan.
Hari ini satu aturan diabaikan.
Besok satu keputusan dibuat tanpa proses yang semestinya.
Kemudian pelanggaran kecil mulai dianggap biasa.
Setelah itu kritik dianggap sebagai ancaman.
Kader mulai kehilangan ruang.
Kaderisasi melemah.
Kepercayaan turun.
Konflik meningkat.
Dan pada satu titik, organisasi mungkin masih mempunyai struktur dan nama yang sama, tetapi kehilangan sebagian dari ruh yang membuatnya hidup.
Itulah mengapa persoalan kepemimpinan tidak boleh dilihat hanya dari hasil jangka pendek.
Pemimpin yang tidak menghormati konstitusi dapat menciptakan budaya organisasi yang juga semakin permisif terhadap pelanggaran.
Sebaliknya, pemimpin yang menempatkan konstitusi sebagai pijakan dapat membangun budaya kepatuhan dan akuntabilitas.
Ini bukan soal siapa yang sempurna.
Ini soal budaya apa yang dibangun oleh sebuah kepemimpinan.
Ketika Konstitusi Mulai Dianggap Bisa Dilewati
Organisasi mempunyai aturan bukan tanpa alasan.
Konstitusi memberi batas mengenai kewenangan.
Ia menentukan bagaimana keputusan dibuat.
Ia memberi arah mengenai tujuan organisasi.
Ia juga menjadi rambu ketika terjadi perbedaan kepentingan.
Karena itu, ketika seorang pemimpin mulai menganggap aturan sebagai sesuatu yang boleh dilewati demi kepentingan tertentu, persoalannya bukan lagi sekadar kesalahan administratif.
Yang dipertaruhkan adalah kepercayaan terhadap sistem organisasi.
Pedoman Dasar KOHATI yang tersedia publik menempatkan KOHATI sebagai bagian dari HMI dengan tujuan pembinaan muslimah berkualitas insan cita, serta peran untuk membina dan mendidik muslimah dan HMI-Wati dalam menegakkan serta mengembangkan nilai keislaman dan keindonesiaan.
Maka konstitusi tidak boleh hanya dibaca ketika seseorang ingin mencalonkan diri.
Konstitusi harus menjadi pedoman ketika seseorang sudah mendapatkan kekuasaan.
Sebab ujian sesungguhnya terhadap ketaatan pada aturan justru dimulai setelah seseorang mempunyai kewenangan.
Pemimpin yang Melanggar, Organisasi yang Menanggung
Ketika seorang pemimpin melakukan pelanggaran, dampaknya tidak selalu berhenti pada dirinya.
Ada organisasi yang ikut terkena dampak.
Ada kader yang ikut menerima konsekuensi.
Ada reputasi yang ikut dipertaruhkan.
Ada keputusan organisasi yang mungkin harus diperbaiki.
Dan ada kepercayaan publik yang mungkin ikut berkurang.
Itulah sebabnya kepemimpinan tidak boleh dipisahkan dari pertanggungjawaban.
Pemimpin mempunyai kewenangan.
Tetapi kewenangan selalu mempunyai batas.
Dan semakin besar kewenangan, semakin besar pula kebutuhan terhadap pengawasan.
Prinsip ini sebenarnya juga sejalan dengan gagasan umum dalam tata kelola organisasi: kekuasaan tidak boleh berjalan tanpa aturan, mekanisme pertanggungjawaban dan kontrol.
Jangan Memilih Karena “Dia Orang Kita”
Dalam setiap kontestasi, selalu ada godaan untuk melihat kandidat berdasarkan kedekatan.
Dia teman saya.
Dia senior saya.
Dia berasal dari kelompok saya.
Dia pernah membantu saya.
Dia punya jaringan yang kuat.
Dia paling sering hadir dalam kegiatan.
Semua itu mungkin menjadi informasi.
Tetapi tidak semuanya cukup menjadi dasar memilih pemimpin.
Karena setelah terpilih, seorang Ketua Umum bukan lagi milik kelompok yang mendukungnya.
Ia menjadi pemimpin seluruh kader.
Maka pertanyaannya harus berubah.
Bukan:
“Apakah dia orang kita?”
Tetapi:
“Apakah dia mampu menjadi pemimpin kita semua?”
Perubahan pertanyaan itu sederhana.
Tetapi dampaknya besar.
Pemilih Juga Mempunyai Amanah
Sering kali pembicaraan tentang integritas hanya diarahkan kepada kandidat.
Padahal pemilih juga memiliki tanggung jawab.
Bukan berarti pemilih harus menjamin setiap tindakan pemimpin setelah terpilih.
Tetapi suara yang diberikan merupakan bagian dari proses yang menentukan siapa yang menerima mandat.
Karena itu, sebelum memilih, kader perlu bertanya:
Apa alasan saya memilih?
Apakah karena kapasitas?
Apakah karena integritas?
Apakah karena rekam jejak?
Apakah karena kesesuaian dengan tujuan organisasi?
Apakah karena pemahaman terhadap konstitusi?
Atau karena saya hanya mengikuti pilihan lingkungan saya?
Di sinilah suara dalam sebuah forum menjadi lebih dari sekadar selembar kertas.
Suara adalah bentuk kepercayaan.
Dan kepercayaan harus diberikan dengan pertimbangan.
Jangan Sampai Popularitas Mengalahkan Kelayakan
Kandidat yang populer belum tentu kandidat yang paling siap.
Kandidat yang pandai berbicara belum tentu paling kuat dalam menjaga sistem.
Kandidat yang mempunyai banyak jaringan belum tentu paling independen.
Kandidat yang mempunyai banyak pengalaman belum tentu paling tepat untuk situasi organisasi saat ini.
Sebaliknya, kandidat yang tidak terlalu ramai dibicarakan belum tentu tidak memiliki kapasitas.
Karena itu, organisasi membutuhkan ukuran yang lebih sehat.
Kapasitas harus dilihat.
Integritas harus diperiksa.
Rekam jejak harus dipertimbangkan.
Ketaatan terhadap konstitusi harus menjadi perhatian.
Kemampuan mengabdi harus diuji.
Dan semuanya harus dilakukan tanpa mengubah proses pemilihan menjadi arena fitnah.
Ketika Pilihan Salah, Kerusakan Bisa Menjadi Sistemik
Salah memilih pemimpin tidak otomatis berarti organisasi akan hancur.
Namun risiko kerusakan meningkat ketika pelanggaran dibiarkan dan tidak dikoreksi.
Satu keputusan yang salah mungkin masih dapat diperbaiki.
Tetapi jika kesalahan terus dianggap normal, masalahnya berubah menjadi budaya.
Dari budaya, ia dapat berubah menjadi sistem.
Dari sistem, ia dapat memengaruhi generasi berikutnya.
Misalnya, jika pemimpin mengabaikan aturan dan tidak pernah mendapatkan koreksi, kader dapat belajar bahwa aturan memang bisa dinegosiasikan.
Jika kepentingan kelompok selalu mengalahkan kepentingan organisasi, kader dapat belajar bahwa loyalitas kelompok lebih penting daripada tujuan bersama.
Jika kritik selalu dianggap sebagai permusuhan, kader dapat belajar untuk diam.
Dan jika integritas dianggap tidak penting selama seseorang mampu memenangkan pemilihan, maka organisasi sedang mengajarkan pelajaran yang sangat berbahaya kepada generasi berikutnya.
Inilah bentuk kerusakan yang tidak selalu terlihat, tetapi bisa berlangsung lama.
Sebaliknya, Kepemimpinan yang Sehat Bisa Membuka Jalan Perubahan
Ada sisi lain yang tidak boleh dilupakan.
Pemimpin yang taat konstitusi dan mempunyai integritas juga tidak otomatis membuat seluruh persoalan KOHATI selesai.
Organisasi tetap membutuhkan kader.
Tetap membutuhkan sistem.
Tetap membutuhkan kritik.
Tetap membutuhkan kerja kolektif.
Namun pemimpin yang sehat dapat menciptakan ruang yang lebih baik untuk semua itu.
Ia dapat memperkuat kaderisasi.
Mendorong budaya intelektual.
Membuka ruang kritik.
Menjaga independensi.
Membangun kolaborasi.
Mengawal persoalan perempuan.
Membawa KOHATI lebih dekat dengan masyarakat.
Dan yang paling penting:
mempersiapkan generasi pemimpin berikutnya.
Inilah mengapa kualitas pemimpin mempunyai efek berantai.
Satu pemimpin yang baik bukan hanya menghasilkan satu periode kepengurusan.
Ia dapat ikut menentukan kualitas kader yang akan memimpin setelahnya.
Pemimpin yang Taat Tidak Berarti Pemimpin yang Tidak Bisa Dikritik
Ada satu jebakan lain.
Ketika organisasi mendapatkan pemimpin yang dianggap baik, jangan sampai muncul budaya kultus.
Pemimpin yang taat konstitusi justru harus menjadi pemimpin yang bersedia diawasi.
Pemimpin yang berintegritas tidak takut terhadap kritik yang disampaikan berdasarkan fakta dan aturan.
Pemimpin yang memahami amanah tidak menganggap dirinya lebih besar daripada organisasi.
Karena itu:
taat konstitusi bukan berarti anti-kritik.
Justru ketaatan terhadap konstitusi harus membuka ruang bagi koreksi.
UU No. 13 Tahun 2022 yang mengubah UU No. 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan bahkan memperkuat gagasan meaningful participation dalam proses pembentukan peraturan. Dalam konteks yang lebih luas, ini menunjukkan pentingnya partisipasi yang bermakna dalam proses pengambilan keputusan publik.
Bagi organisasi kader, semangatnya dapat diterjemahkan secara sederhana:
pemimpin memimpin, tetapi anggota tetap mempunyai ruang untuk mengawasi dan memberikan koreksi.
Dari KOHATI untuk Indonesia
Mengapa semua ini penting?
Karena KOHATI bukan hanya berbicara tentang organisasi hari ini.
KOHATI adalah ruang perkaderan.
Kader yang ditempa hari ini dapat masuk ke berbagai ruang kehidupan.
Ada yang menjadi akademisi.
Ada yang menjadi profesional.
Ada yang menjadi aktivis.
Ada yang masuk pemerintahan.
Ada yang bekerja di dunia usaha.
Ada yang menjadi pendidik.
Ada yang menjadi tokoh masyarakat.
Dan di setiap ruang tersebut, nilai kepemimpinan yang mereka pelajari akan ikut terbawa.
Undang-Undang No. 40 Tahun 2009 tentang Kepemudaan sendiri menempatkan pemuda sebagai bagian strategis dalam pembangunan nasional dan mengatur penyadaran, pemberdayaan, pengembangan, kepemimpinan, organisasi kepemudaan serta peran serta masyarakat.
Maka kualitas kepemimpinan di organisasi kader bukan persoalan kecil.
Ia dapat menjadi bagian dari proses panjang pembentukan kualitas manusia yang kelak berkontribusi di masyarakat.
Karena itu, memilih pemimpin KOHATI hari ini juga berarti ikut menentukan jenis keteladanan yang akan dipelajari kader untuk hari esok.
Torismayanti: Berani Memimpin, Berarti Berani Bertanggung Jawab
Torismayanti pernah membawa gagasan bahwa KOHATI harus melahirkan kader perempuan yang berani memimpin dan mengabdi.
Gagasan tersebut mempunyai konsekuensi yang sangat penting.
Kalau kader perempuan harus berani memimpin, maka kader juga harus berani memilih.
Berani memeriksa.
Berani mempertanyakan.
Berani mengatakan tidak ketika ada sesuatu yang tidak sesuai dengan prinsip.
Dan yang tidak kalah penting:
berani memilih berdasarkan pertimbangan, bukan tekanan.
Keberanian memilih tidak selalu berarti memilih kandidat yang paling ramai.
Kadang keberanian justru berarti memilih berdasarkan prinsip meskipun pilihan tersebut tidak populer di lingkungan sendiri.
Inilah kedewasaan politik organisasi.
Bukan politik praktis.
Tetapi kemampuan kader untuk menentukan arah organisasinya melalui pertimbangan yang sadar dan bertanggung jawab.
Kalau Pemimpin Tepat, Perubahan Tidak Lagi Sekadar Slogan
Pemimpin yang tepat bukanlah manusia super.
Ia tidak akan menyelesaikan semua persoalan.
Tetapi pemimpin yang taat konstitusi, berintegritas, terbuka terhadap kritik dan mempunyai orientasi pengabdian dapat menjadi fondasi bagi perubahan.
Perubahan itu kemudian harus dikerjakan bersama.
Dari kaderisasi.
Dari kajian.
Dari advokasi.
Dari pengabdian.
Dari penguatan jaringan.
Dari keberanian masuk ke ruang kebijakan.
Dari keberanian membela kepentingan perempuan dan masyarakat.
Dan dari kesediaan membangun generasi berikutnya.
Maka perubahan besar tidak datang hanya karena seseorang duduk di kursi Ketua Umum.
Perubahan datang ketika kepemimpinan yang sehat bertemu dengan kader yang mau bekerja.
Setelah Memilih, Jangan Berhenti Mengawal
Pemilihan bukan garis akhir.
Justru setelah pemilihan, pekerjaan baru dimulai.
Kader tetap harus mengawal.
Memeriksa apakah program berjalan.
Melihat apakah keputusan sesuai konstitusi.
Memberikan kritik ketika diperlukan.
Mendukung ketika kebijakan benar.
Dan mengingatkan ketika organisasi mulai keluar dari jalur.
Ini penting karena pemimpin yang baik pun dapat melakukan kesalahan.
Maka organisasi tidak boleh dibangun berdasarkan asumsi:
“Karena dia orang baik, kita tidak perlu mengawasi.”
Tidak.
Justru karena amanahnya besar, pengawasan harus tetap hidup.
Kepemimpinan yang sehat bukan kepemimpinan tanpa kritik.
Kepemimpinan yang sehat adalah kepemimpinan yang mampu menerima kritik tanpa kehilangan arah.
KOHATI Sedang Memilih Lebih dari Satu Periode
Pada akhirnya, setiap pemilihan akan memiliki satu pemenang.
Tetapi dampaknya tidak berhenti pada satu periode.
Keputusan hari ini dapat memengaruhi:
budaya organisasi,
kaderisasi,
cara berpikir kader,
kualitas pemimpin berikutnya,
dan kepercayaan masyarakat terhadap KOHATI.
Itulah sebabnya pemilihan harus dipandang sebagai investasi organisasi.
Bukan hanya memilih siapa yang akan bekerja selama satu periode.
Tetapi memilih nilai kepemimpinan seperti apa yang ingin diwariskan kepada generasi selanjutnya.
Jangan Sampai KOHATI Menyesal Setelah Semuanya Terlambat
Tidak ada yang dapat menjamin sebuah pilihan akan selalu menghasilkan perjalanan tanpa masalah.
Tetapi organisasi dapat memperkecil risiko dengan memilih berdasarkan pertimbangan yang sehat.
Konstitusi.
Integritas.
Rekam jejak.
Kapasitas.
Keteladanan.
Independensi.
Dan komitmen terhadap tujuan organisasi.
Jangan sampai pilihan ditentukan hanya karena:
“Dia orang kita.”
“Dia teman saya.”
“Dia paling terkenal.”
“Dia paling banyak pendukung.”
Karena ketika seseorang sudah terpilih, kalimat-kalimat itu tidak lagi cukup untuk menjawab persoalan organisasi.
Yang akan ditanyakan adalah:
Apa yang sudah dilakukan?
Apa yang berubah?
Apa yang dijaga?
Apa yang diperbaiki?
Dan apa yang diwariskan kepada generasi berikutnya?
Pilihan Hari Ini, Wajah KOHATI Esok Hari
KOHATI tidak sedang memilih seseorang hanya untuk duduk di kursi kepemimpinan.
KOHATI sedang memilih siapa yang akan membawa nama organisasi.
KOHATI sedang memilih bagaimana konstitusi akan diperlakukan.
KOHATI sedang memilih budaya kepemimpinan yang akan dilihat kader.
KOHATI sedang memilih arah kaderisasi.
Dan secara lebih luas, KOHATI sedang ikut menentukan kualitas kader perempuan yang kelak membawa nilai organisasi ke tengah masyarakat.
Karena itu, pilihan tidak boleh berhenti pada pertanyaan:
“Siapa yang menang?”
Pertanyaan yang lebih penting adalah:
“Setelah dia menang, KOHATI akan dibawa ke mana?”
Jika yang dipilih adalah pemimpin yang mengabaikan konstitusi, mengabaikan integritas, dan membiarkan kepentingan sesaat mengalahkan tujuan organisasi, maka risiko kerusakan dapat tumbuh sedikit demi sedikit.
Tetapi jika yang dipilih adalah pemimpin yang menghormati konstitusi, menjaga integritas, terbuka terhadap kritik, memahami amanah dan bekerja untuk kepentingan organisasi, maka ruang perubahan menjadi jauh lebih terbuka.
Bukan karena pemimpin itu seorang penyelamat.
Tetapi karena arah yang sehat memungkinkan seluruh kader bergerak bersama.
Dan pada akhirnya, tanggung jawab itu kembali kepada setiap kader yang memiliki hak memilih.
Sebelum memasukkan suara ke dalam kotak pemilihan, mungkin ada satu pertanyaan yang perlu benar-benar dijawab:
Apakah saya sedang memilih seseorang yang ingin memimpin, atau seseorang yang memang siap menerima amanah?
Sebab KOHATI tidak hanya membutuhkan orang yang mampu memenangkan pemilihan.
KOHATI membutuhkan orang yang mampu mempertanggungjawabkan kemenangan itu.
Dan jangan sampai suatu hari KOHATI menyesal bukan karena tidak memiliki pemimpin yang hebat, tetapi karena pernah memiliki kesempatan memilih pemimpin yang benar lalu menyia-nyiakannya.
KOHATI tidak sedang memilih siapa yang paling ingin memimpin.
KOHATI sedang memilih kepada siapa masa depan organisasi akan dipercayakan.
Catatan sumber: Untuk bagian yang spesifik mengenai struktur, tujuan, forum pemilihan, dan kriteria kepemimpinan KOHATI, disini menggunakan dokumen Pedoman Dasar dan hasil MUNAS KOHATI yang tersedia publik. Dokumen Hasil MUNAS XXV memuat ketetapan tentang kriteria Formateur/Ketua Umum dan tata tertib pemilihan, sementara Pedoman Dasar yang tersedia publik menyebut tujuan KOHATI sebagai pembinaan muslimah berkualitas insan cita serta peran pengembangan nilai keislaman dan keindonesiaan.
Untuk konteks yang lebih luas mengenai kualitas kepemudaan dan partisipasi, saya menggunakan UU No. 40 Tahun 2009 tentang Kepemudaan serta UU No. 13 Tahun 2022 yang memperkuat meaningful participation dalam pembentukan peraturan perundang-undangan.










