Beranda / Tokoh / Menapak Jejak Syekh Nawawi Al-Bantani: Dari Tanara, Tempat Lahir Sang Ulama Dunia

Menapak Jejak Syekh Nawawi Al-Bantani: Dari Tanara, Tempat Lahir Sang Ulama Dunia

Jejak Syekh Nawawi Al-Bantani

SPILL Banten — Ada perjalanan yang tidak selalu membutuhkan peta panjang.

Cukup menuju Tanara.

Di wilayah Kabupaten Serang, Banten, masyarakat masih dapat menemukan jejak kehidupan Syekh Nawawi al-Bantani, ulama besar kelahiran Tanara yang namanya kemudian dikenal jauh melampaui tanah kelahirannya.

Syekh Nawawi memang tidak dimakamkan di Banten. Setelah menghabiskan sebagian besar perjalanan intelektualnya di Makkah, ia wafat di Tanah Suci pada 1897 dan dimakamkan di Pemakaman Ma’la, Makkah. Makam tersebut hingga kini menjadi salah satu lokasi yang diziarahi jamaah haji dan umrah, termasuk masyarakat Indonesia.

Namun di Banten, khususnya Tanara, masyarakat memiliki cara lain untuk mengenang sang ulama.

Mereka mendatangi tempat-tempat yang berkaitan dengan masa hidupnya.

Bait Nawawi.

Masjid Agung Tanara.

Kawasan Tanara sebagai tanah kelahirannya.

Dan lingkungan pesantren yang hingga hari ini menjadi bagian dari tradisi keilmuan yang diwariskan atas namanya.

Bagi masyarakat Banten, perjalanan tersebut bukan semata wisata religi.

Ini adalah tapak tilas seorang anak Tanara yang kemudian menjadi ulama besar dunia Islam.

Tanara, Titik Awal Perjalanan

Nama Tanara tidak dapat dipisahkan dari Syekh Nawawi.

Sumber Pemerintah Provinsi Banten melalui Dinas Perpustakaan dan Kearsipan mencatat Syekh Nawawi lahir di Tanara, Kabupaten Serang, pada 1813 M. Ia berasal dari keluarga ulama. Ayahnya, Kiai Umar bin Arabi, dikenal sebagai penghulu, ulama, sekaligus pemimpin masjid dan pendidikan Islam di Tanara.

Dari lingkungan inilah perjalanan keilmuan Nawawi dimulai.

Tanara menjadi titik awal sebelum ia kemudian menempuh perjalanan ilmu ke Makkah.

Di kemudian hari, namanya dikenal sebagai salah satu ulama Nusantara yang memiliki pengaruh besar dalam dunia keilmuan Islam.

Karena itu, Tanara mempunyai posisi istimewa.

Bukan karena di sanalah makam Syekh Nawawi berada, melainkan karena di sanalah perjalanan hidupnya bermula.

Bait Nawawi, Jejak Kehidupan Sang Ulama

Salah satu tempat yang kerap menjadi tujuan masyarakat ketika melakukan napak tilas Syekh Nawawi adalah Bait Nawawi di Kampung Pesisir, Desa Pedaleman, Kecamatan Tanara.

NU Online mencatat bahwa tempat tersebut dipercaya sebagai kediaman Syekh Nawawi ketika berada di Jawa. Lokasi ini berbeda dengan tempat kelahirannya, tetapi masih berada tidak jauh dari kawasan Tanara.

Bait Nawawi menjadi menarik karena memberikan gambaran yang lebih dekat tentang kehidupan sang ulama sebelum akhirnya menetap di Makkah.

Di tempat ini, masyarakat tidak sedang mencari makam.

Mereka mencari jejak kehidupan.

Bagaimana seorang ulama yang kemudian dikenal hingga Timur Tengah pernah menjalani kehidupannya di tanah Banten.

Bagaimana Tanara menjadi bagian dari perjalanan panjang seorang pencari ilmu.

Dan bagaimana warisan intelektualnya kemudian kembali mengalir kepada masyarakat Nusantara melalui karya-karyanya.

NU Online Banten menyebut Bait Nawawi sebagai salah satu tujuan peziarah ketika melakukan perjalanan mengenang Syekh Nawawi di Tanara. Terlebih ketika memasuki momentum haul, kawasan tersebut menjadi bagian dari rangkaian kunjungan masyarakat.

Masjid Agung Tanara: Tempat Ibadah yang Menjadi Jejak Sejarah

Dari Bait Nawawi, perjalanan dapat dilanjutkan menuju Masjid Agung Tanara.

Masjid ini merupakan salah satu bangunan bersejarah di Tanara dan memiliki hubungan erat dengan perjalanan sejarah kawasan tersebut.

Namun, ada satu hal yang penting untuk dicatat.

Masjid Agung Tanara bukan masjid yang dibangun oleh Syekh Nawawi.

Sumber sejarah yang dihimpun NU Online menyebut masjid tersebut dibangun oleh Pangeran Sunyararas, tokoh Kesultanan Banten. Karena itu, masjid ini lebih tepat ditempatkan sebagai latar sejarah dan ruang yang beririsan dengan kehidupan Syekh Nawawi, bukan sebagai karya arsitektur yang dibangun oleh sang ulama.

Buat kamu  Lawang Taji, Urban Legend Banten di Kaki Gunung Karang yang Dikaitkan dengan Gerbang Alam Gaib

Masjid ini tetap penting dalam perjalanan tapak tilas karena berada di kawasan Tanara yang menjadi tanah kelahiran Syekh Nawawi.

Dan yang membuatnya semakin menarik, masjid tersebut masih digunakan masyarakat.

ANTARA pada Maret 2026 mencatat Masjid Agung Tanara sebagai salah satu masjid tua di Banten yang masih ramai dikunjungi, terutama pada bulan Ramadan.

Dengan demikian, ketika seseorang duduk di dalam masjid tersebut, ia tidak hanya melihat bangunan tua.

Ia sedang berada di ruang keagamaan yang telah menjadi bagian dari perjalanan panjang masyarakat Tanara.

Masjid, Pengajian dan Tradisi Keilmuan

Keterkaitan Tanara dengan Syekh Nawawi tidak berhenti pada bangunan fisik.

Yang jauh lebih penting adalah tradisi ilmu.

Syekh Nawawi dikenal sebagai ulama produktif yang menghasilkan banyak karya dalam berbagai bidang keislaman. Karya-karyanya menjadi bagian penting dari tradisi pembelajaran Islam di Nusantara dan dikenal pula di dunia Islam. NU Online mencatat bahwa ia pernah mengajar di Masjidil Haram dan memiliki murid dari berbagai negara.

Warisan itulah yang kemudian terus dihidupkan di Tanara.

Pemerintah Kabupaten Serang bahkan pernah merancang pengembangan Pusat Kajian Kitab Kuning Syekh Nawawi Al-Bantani di Tanara.

Gagasan tersebut diarahkan bukan hanya untuk santri, tetapi juga agar masyarakat luas dapat mengenal dan mempelajari karya-karya Syekh Nawawi.

Artinya, Tanara tidak ingin hanya menjadi tempat yang mengingat nama Syekh Nawawi.

Tanara juga berusaha menjadikan ilmunya sebagai warisan yang terus dipelajari.

Pesantren An-Nawawi Tanara

Dalam perkembangan wisata religi dan kegiatan keagamaan di Tanara, Pondok Pesantren An-Nawawi Tanara juga menjadi salah satu titik penting.

Tempat ini secara rutin menjadi lokasi penyelenggaraan haul Syekh Nawawi.

Pada haul ke-131 tahun 2024, Pemerintah Provinsi Banten mencatat kegiatan tersebut berlangsung di Pondok Pesantren An-Nawawi Tanara dan dihadiri Wakil Presiden KH Ma’ruf Amin bersama berbagai unsur pemerintah dan masyarakat.

Setahun sebelumnya, rangkaian haul ke-130 juga dilaksanakan di kawasan Tanara, termasuk kegiatan di Masjid Agung Tanara dan Pondok Pesantren An-Nawawi.

Kehadiran ribuan masyarakat dalam momentum haul memperlihatkan bahwa nama Syekh Nawawi masih mempunyai daya ikat yang kuat.

Mereka datang bukan hanya dari Tanara.

Tetapi dari berbagai daerah.

Haul, Ketika Tanara Dipenuhi Peziarah

Momentum paling besar dalam perjalanan tapak tilas Syekh Nawawi adalah haul.

Ketika haul berlangsung, Tanara berubah menjadi ruang pertemuan masyarakat dari berbagai daerah.

ANTARA Foto mendokumentasikan pelaksanaan Haul ke-124 Syekh Nawawi di Tanara pada 2017 yang dihadiri Presiden Joko Widodo.

Pemerintah Kabupaten Serang juga pernah menyebut bahwa haul Syekh Nawawi mampu menarik sekitar 150 ribu pengunjung, sehingga Tanara didorong menjadi salah satu model pengembangan wisata religi.

Dalam pemberitaan mengenai haul 2025, ribuan masyarakat dari berbagai wilayah juga dilaporkan datang ke Tanara untuk mengikuti rangkaian peringatan tersebut.

Angka-angka tersebut memberikan gambaran bahwa tapak tilas Syekh Nawawi bukan sekadar aktivitas kelompok kecil.

Ia telah menjadi bagian dari fenomena wisata religi dan tradisi masyarakat Banten.

Bukan Makamnya, tetapi Tanah Kelahirannya

Di sinilah perbedaan antara Syekh Nawawi dengan banyak tokoh ulama Banten lainnya menjadi penting.

Masyarakat yang datang ke Caringin, misalnya, dapat berziarah langsung ke makam Syekh Asnawi.

Sementara di Tanara, masyarakat tidak menemukan makam Syekh Nawawi.

Makam beliau berada di Ma’la, Makkah.

Yang ada di Tanara adalah jejak kehidupan dan warisan intelektualnya.

Ada Bait Nawawi.

Ada kawasan tempat kelahirannya.

Ada masjid tua yang beririsan dengan perjalanan sejarahnya.

Ada pesantren.

Ada tradisi haul.

Dan ada masyarakat yang terus menjaga ingatan tentang ulama tersebut.

Pembedaan ini penting agar wisata sejarah tidak mengorbankan akurasi.

Dari Tanara ke Makkah

Perjalanan hidup Syekh Nawawi sebenarnya merupakan kisah tentang bagaimana sebuah desa kecil di Banten dapat melahirkan seorang ulama yang kemudian menjadi bagian dari jaringan intelektual dunia Islam.

Ia belajar sejak usia muda.

Kemudian pergi ke Makkah.

Di Tanah Suci, ia memperdalam ilmu hingga kemudian dikenal sebagai pengajar di Masjidil Haram.

Buat kamu  Sebelum Melamar Kerja di Banten, Kenali Dulu UMK, Sektor Industri, dan Peluang di 8 Daerah Ini

Karya-karyanya tersebar luas.

Nama “Al-Bantani” menjadi penanda asal-usulnya.

Dan Tanara menjadi bagian dari identitas tersebut.

Pemerintah Provinsi Banten menyebut Syekh Nawawi sebagai tokoh yang memberikan kontribusi besar terhadap peradaban Islam. Pernyataan itu disampaikan dalam peringatan haul ke-131 pada 2024.

Sementara dalam peringatan haul ke-130 pada 2023, Wakil Presiden KH Ma’ruf Amin menekankan pentingnya meneladani pemikiran Syekh Nawawi dalam kehidupan masyarakat.

Dengan kata lain, warisan Syekh Nawawi bukan sekadar benda.

Warisan terbesarnya adalah ilmu.

Ketika Ziarah Bertemu Ekonomi Masyarakat

Ramainya masyarakat yang datang ke Tanara juga membawa dampak ekonomi.

Ketika haul berlangsung, pedagang makanan, peci, buku, poster ulama dan berbagai produk lokal memperoleh kesempatan untuk menjual dagangan mereka.

Pemerintah Provinsi Banten sendiri dalam pengembangan wisata religi menekankan pentingnya pemberdayaan masyarakat sekitar dan peningkatan ekonomi lokal.

Karena itu, pengembangan Tanara sebagai destinasi wisata religi tidak semestinya hanya berbicara mengenai pembangunan fisik.

Yang tidak kalah penting adalah bagaimana masyarakat setempat mendapatkan manfaat.

Bagaimana pedagang lokal tumbuh.

Bagaimana UMKM berkembang.

Bagaimana anak muda dapat mengambil peluang.

Dan bagaimana aktivitas wisata tetap menghormati nilai religius serta sejarah kawasan.

Tapak Tilas yang Lebih dari Sekadar Wisata

Ada perbedaan antara berwisata dan melakukan tapak tilas.

Berwisata membuat kita melihat tempat.

Tapak tilas mengajak kita memahami cerita di balik tempat tersebut.

Ketika berada di Bait Nawawi, kita mengingat perjalanan hidup seorang anak Tanara.

Ketika berada di Masjid Agung Tanara, kita melihat sejarah panjang kehidupan keagamaan masyarakat.

Ketika memasuki lingkungan pesantren, kita melihat bagaimana tradisi ilmu masih diteruskan.

Dan ketika ribuan orang datang pada haul, kita menyaksikan bagaimana ingatan terhadap seorang ulama dapat menyatukan masyarakat lintas generasi.

Itulah yang membuat Tanara istimewa.

Menjaga Tanara, Menjaga Warisan Nawawi

Pemerintah Kabupaten Serang pernah menggagas pusat kajian karya Syekh Nawawi di Tanara dengan harapan kawasan tersebut tidak hanya menjadi destinasi ziarah, tetapi juga pusat pembelajaran.

Gagasan tersebut sejalan dengan tantangan wisata religi masa kini.

Masyarakat datang bukan hanya untuk melihat tempat.

Mereka membutuhkan informasi.

Mereka ingin mengetahui sejarah.

Mereka ingin memahami siapa Syekh Nawawi.

Apa yang ditulisnya.

Bagaimana perjalanan ilmunya.

Dan mengapa seorang ulama dari Tanara dapat dikenal hingga Makkah dan dunia Islam.

Karena itu, menjaga warisan Syekh Nawawi berarti menjaga tempat sekaligus pengetahuan tentang tempat tersebut.

Tanara dan Ingatan yang Tidak Pernah Putus

Syekh Nawawi telah wafat lebih dari satu abad lalu.

Namun setiap tahun, masyarakat kembali berkumpul di Tanara.

Haul digelar.

Pengajian berlangsung.

Doa dipanjatkan.

Kitab-kitabnya dipelajari.

Dan generasi baru diperkenalkan kepada namanya.

Bait Nawawi tetap menjadi bagian dari perjalanan ziarah.

Masjid Agung Tanara tetap berdiri dan digunakan masyarakat.

Pondok Pesantren An-Nawawi menjadi salah satu pusat kegiatan haul dan pendidikan.

Sementara nama Syekh Nawawi terus hidup dalam ingatan masyarakat Banten.

Semua itu menunjukkan bahwa sebuah tokoh besar tidak selalu harus meninggalkan monumen megah untuk dikenang.

Kadang, warisan terbesar justru berupa ilmu yang terus dibaca dan tempat yang terus mengingatkan manusia dari mana perjalanan itu dimulai.

Dan perjalanan itu dimulai dari Tanara.

Dari sebuah kawasan di Banten.

Dari seorang anak bernama Nawawi.

Yang kemudian dikenal dunia sebagai Syekh Nawawi al-Bantani.

Catatan Redaksi

Untuk menjaga akurasi, artikel ini tidak menyebut adanya makam Syekh Nawawi al-Bantani di Tanara. Sumber NU Online Banten dan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Banten mencatat bahwa beliau wafat di Makkah pada 1897 dan dimakamkan di Pemakaman Ma’la.

Destinasi tapak tilas di Tanara yang dibahas dalam artikel ini adalah Bait Nawawi, kawasan Tanara sebagai tanah kelahiran, Masjid Agung Tanara, dan lingkungan Pondok Pesantren An-Nawawi Tanara. Bait Nawawi disebut sebagai kediaman Syekh Nawawi ketika berada di Jawa dan menjadi salah satu tujuan peziarah.

Sementara Masjid Agung Tanara merupakan situs sejarah yang lebih tua dan bukan bangunan yang didirikan Syekh Nawawi. ANTARA mencatat masjid tersebut sebagai salah satu masjid tua di Banten yang masih digunakan masyarakat dan menjadi destinasi wisata religi.

Dengan demikian, istilah “tapak tilas Syekh Nawawi di Tanara” dalam artikel ini dimaknai sebagai perjalanan mengunjungi tempat-tempat yang berkaitan dengan kelahiran, kehidupan, tradisi keilmuan, dan penghormatan masyarakat terhadap warisan beliau—bukan sebagai klaim bahwa semua situs tersebut merupakan peninggalan fisik yang dibangun langsung oleh Syekh Nawawi.

Tag:
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted