Beranda / News / Tak Cuma Bikin Sesak, Asap Karhutla Mengandung Partikel Halus yang Bisa Masuk ke Aliran Darah

Tak Cuma Bikin Sesak, Asap Karhutla Mengandung Partikel Halus yang Bisa Masuk ke Aliran Darah

Asap ISPA - photo by antara

SPILL Banten – Asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) bukan sekadar gangguan yang membuat udara terlihat berkabut dan mata terasa perih. Di dalamnya terdapat campuran partikel halus dan berbagai gas hasil pembakaran yang dapat mengganggu kesehatan, mulai dari iritasi saluran pernapasan hingga peningkatan risiko penyakit jantung dan paru-paru.

Salah satu komponen yang paling mendapat perhatian adalah particulate matter 2,5 atau PM2.5, yakni partikel berukuran tidak lebih dari 2,5 mikrometer. Ukurannya sangat kecil sehingga dapat masuk jauh ke dalam paru-paru. Sebagian partikel bahkan dapat menembus penghalang paru-paru dan masuk ke aliran darah.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Badan Perlindungan Lingkungan Amerika Serikat (US EPA) menempatkan partikel halus sebagai salah satu ancaman kesehatan utama dari asap kebakaran. Risiko ini tidak hanya dirasakan oleh orang yang tinggal dekat dengan titik api, tetapi juga masyarakat di wilayah lain yang terpapar asap kiriman.

Lantas, apa yang membuat asap karhutla berbahaya? Bagaimana PM2.5, karbon monoksida, benzena, dan formaldehida memengaruhi tubuh manusia?

PM2.5, Partikel Kecil yang Bisa Menjangkau Jauh ke Dalam Paru-paru

PM2.5 merupakan partikel udara dengan diameter aerodinamis 2,5 mikrometer atau lebih kecil. Sebagai gambaran, ukurannya jauh lebih kecil daripada diameter rambut manusia.

Partikel ini dapat terbentuk dari pembakaran vegetasi, kayu, dan bahan lainnya. Ketika hutan atau lahan terbakar, PM2.5 dilepaskan bersama campuran gas dan senyawa kimia yang terkandung dalam asap.

Berbeda dengan partikel yang lebih besar, PM2.5 dapat melewati sebagian mekanisme penyaringan alami pada hidung dan saluran pernapasan, lalu mencapai bagian terdalam paru-paru, termasuk alveoli, tempat pertukaran oksigen dan karbon dioksida berlangsung.

US EPA menjelaskan bahwa partikel yang mencapai bagian terdalam paru-paru dapat memicu peradangan dan stres oksidatif. Sebagian partikel juga dapat berpindah dari paru-paru ke peredaran darah dan memengaruhi organ lain, termasuk jantung.

Itulah sebabnya dampak asap tidak selalu berhenti pada batuk atau tenggorokan yang terasa kering.

Paparan PM2.5 berkaitan dengan peningkatan risiko gangguan pernapasan dan kardiovaskular. Pada orang yang memiliki asma atau penyakit jantung dan paru-paru, kualitas udara yang buruk juga dapat memperburuk kondisi yang sudah ada.

Karbon Monoksida: Gas Berbahaya yang Tidak Berwarna dan Tidak Berbau

Selain partikel halus, asap kebakaran dapat mengandung karbon monoksida (CO), gas yang terbentuk ketika bahan yang mengandung karbon mengalami pembakaran tidak sempurna.

Sifatnya membuat gas ini sulit dikenali tanpa alat pengukur: karbon monoksida tidak berwarna dan tidak berbau.

Menurut WHO, karbon monoksida dapat mengganggu kemampuan darah membawa oksigen. Gas ini berikatan dengan hemoglobin, protein dalam sel darah merah yang bertugas mengangkut oksigen ke seluruh tubuh.

Ketika karbon monoksida masuk ke tubuh dalam jumlah berbahaya, pengangkutan oksigen dapat terganggu. Akibatnya, organ dan jaringan tubuh tidak memperoleh pasokan oksigen yang memadai.

Buat kamu  Dari KOHATI untuk Indonesia: Strategi Memperkuat Pengaruh, Menguasai Hukum, dan Menjadi Agen Perubahan

Paparan karbon monoksida dapat menimbulkan sakit kepala, pusing, kelemahan, mual, hingga kebingungan. Pada paparan berat, kondisi ini dapat menyebabkan kerusakan organ dan mengancam nyawa.

Namun, kadar karbon monoksida dalam asap tidak selalu sama. Konsentrasinya bergantung pada kondisi pembakaran, jenis bahan yang terbakar, jarak dari sumber, dan kondisi lingkungan. Karena itu, keberadaan CO dalam asap tidak otomatis berarti setiap orang yang menghirupnya mengalami keracunan.

Benzena dan Formaldehida, Senyawa yang Perlu Diwaspadai

Asap kebakaran juga dapat mengandung senyawa organik yang berbahaya bagi kesehatan. Dua di antaranya adalah benzena dan formaldehida.

Keduanya dapat terbentuk dalam proses pembakaran, meskipun kadar yang dihasilkan bergantung pada bahan bakar dan kondisi kebakaran.

Benzena: Paparan Berulang Berkaitan dengan Kanker Darah

Benzena merupakan senyawa kimia yang dikenal sebagai karsinogen manusia. Badan Internasional untuk Penelitian Kanker (IARC), lembaga di bawah WHO, mengklasifikasikannya sebagai zat yang dapat menyebabkan kanker.

Paparan benzena dalam jangka panjang telah dikaitkan dengan gangguan sistem pembentukan darah, termasuk leukemia tertentu. Benzena dapat masuk ke tubuh melalui udara yang dihirup, kemudian dimetabolisme dan memengaruhi sistem biologis tubuh.

Meski demikian, keberadaan benzena dalam asap tidak berarti setiap orang yang terpapar akan terkena kanker. Penilaian risiko harus mempertimbangkan konsentrasi, durasi, frekuensi paparan, dan kondisi individu.

Formaldehida: Dapat Mengiritasi Mata dan Saluran Pernapasan

Formaldehida merupakan gas yang dapat dilepaskan dalam proses pembakaran berbagai bahan organik. Senyawa ini juga dikenal sebagai karsinogen manusia berdasarkan penilaian IARC.

Pada paparan yang cukup tinggi, formaldehida dapat mengiritasi mata, hidung, tenggorokan, dan saluran pernapasan. Paparan berulang dalam kondisi tertentu juga menjadi perhatian karena kaitannya dengan risiko kanker.

Penting dipahami bahwa asap kebakaran bukan campuran kimia yang selalu memiliki komposisi sama. Jenis vegetasi, kondisi pembakaran, dan ada atau tidaknya bahan buatan manusia yang ikut terbakar dapat mengubah kandungan polutannya. CDC melalui National Institute for Occupational Safety and Health (NIOSH) mencatat bahwa asap kebakaran dapat mengandung karbon monoksida, benzena, hidrokarbon, dan berbagai aldehida.

Dengan demikian, penjelasan mengenai zat berbahaya perlu dibedakan dari klaim bahwa semua zat tersebut selalu hadir pada kadar yang sama dalam setiap peristiwa karhutla.

Dampaknya Tidak Hanya Batuk dan Sesak Napas

Paparan asap dapat menimbulkan keluhan dalam waktu relatif singkat. Gejalanya antara lain mata perih, hidung dan tenggorokan teriritasi, batuk, mengi, sakit kepala, hingga kesulitan bernapas.

Pada sebagian orang, paparan dapat memperburuk asma dan penyakit paru obstruktif kronis (PPOK). Risiko gangguan jantung dan pembuluh darah juga menjadi perhatian, terutama ketika konsentrasi partikel halus meningkat.

WHO menyebut bahwa asap kebakaran dapat meningkatkan beban layanan kesehatan akibat gangguan pernapasan. Dampaknya juga bisa meluas ke wilayah yang jauh dari titik api karena asap dapat terbawa angin hingga lintas daerah dan negara.

Kelompok yang perlu mendapat perhatian lebih besar meliputi:

  • Anak-anak, karena paru-paru dan sistem tubuh mereka masih berkembang.
  • Lansia, terutama yang memiliki penyakit jantung atau paru-paru.
  • Ibu hamil, karena paparan polusi udara berkaitan dengan risiko hasil kehamilan yang merugikan.
  • Orang dengan penyakit kronis, khususnya gangguan pernapasan dan kardiovaskular.
  • Petugas pemadam dan pekerja luar ruangan, yang dapat mengalami paparan lebih tinggi atau lebih lama.
Buat kamu  Siapa di Balik Karhutla Kalimantan 2026? Kenali Tanda Pembakaran yang Perlu Diusut

Risiko kesehatan tidak hanya ditentukan oleh seberapa tebal asap terlihat. Konsentrasi polutan, lamanya paparan, aktivitas fisik, dan kondisi kesehatan turut memengaruhi dampaknya.

Mengapa Asap Tetap Berbahaya meski Tidak Terlihat Pekat?

Warna asap bukan alat ukur yang akurat untuk menentukan aman atau tidaknya udara.

Asap yang terlihat tipis belum tentu memiliki konsentrasi polutan rendah. Sebaliknya, tingkat bahaya tidak bisa ditentukan hanya dari warna atau bau.

Karena itu, informasi kualitas udara dan konsentrasi PM2.5 lebih berguna dibandingkan sekadar mengandalkan penglihatan atau penciuman.

Masyarakat dapat memantau informasi kualitas udara melalui kanal resmi seperti BMKG dan instansi lingkungan hidup setempat. Ketika kualitas udara memburuk, mengurangi aktivitas di luar ruangan dan membatasi masuknya udara berasap ke dalam rumah dapat membantu menurunkan paparan.

WHO menyarankan masyarakat mengurangi aktivitas luar ruangan ketika asap pekat, mencari ruang dengan udara lebih bersih, serta mengikuti arahan otoritas setempat. Untuk perlindungan dari partikel, respirator yang pas di wajah seperti N95 dapat membantu menyaring PM2.5, tetapi tidak melindungi dari gas karbon monoksida.

Jika mengalami sesak napas berat, nyeri dada, kebingungan, atau gejala serius lain ketika terpapar asap, segera cari pertolongan medis.

Apa yang Bisa Dilakukan untuk Mengurangi Risiko?

Menghindari paparan merupakan langkah penting ketika karhutla terjadi. Masyarakat dapat melakukan beberapa hal berikut:

  1. Pantau kualitas udara. Gunakan informasi resmi dan perhatikan peringatan kesehatan di wilayah masing-masing.
  2. Kurangi aktivitas luar ruangan. Terutama ketika konsentrasi polutan meningkat atau asap terlihat pekat.
  3. Jaga udara di dalam rumah. Tutup jendela dan pintu ketika udara luar tercemar, selama kondisi di dalam ruangan lebih bersih dan aman.
  4. Gunakan perlindungan yang sesuai. Respirator yang pas dapat membantu mengurangi paparan partikel, tetapi bukan perlindungan terhadap semua gas beracun.
  5. Perhatikan kelompok rentan. Anak-anak, lansia, ibu hamil, dan orang dengan penyakit kronis membutuhkan perhatian khusus.
  6. Ikuti informasi dan arahan petugas. Jika ada perintah evakuasi atau peringatan resmi, utamakan keselamatan.

Langkah-langkah tersebut dapat mengurangi paparan, tetapi tidak menghilangkan seluruh risiko jika udara di sekitar masih tercemar.

Kesimpulan: Asap Karhutla Adalah Masalah Kesehatan, Bukan Sekadar Gangguan Penglihatan

Asap karhutla merupakan campuran kompleks partikel dan gas yang komposisinya dapat berubah sesuai bahan yang terbakar dan kondisi kebakaran. PM2.5 menjadi salah satu ancaman utama karena mampu mencapai bagian terdalam paru-paru dan sebagian partikelnya dapat memengaruhi sistem peredaran darah.

Karbon monoksida memiliki mekanisme bahaya yang berbeda, yaitu mengganggu pengangkutan oksigen dalam darah. Sementara itu, benzena dan formaldehida merupakan senyawa yang perlu diwaspadai karena sifat karsinogeniknya dan dampak kesehatan lain yang berkaitan dengan paparan.

Tidak semua orang yang menghirup asap akan mengalami dampak yang sama. Namun, paparan yang tinggi atau berlangsung lama dapat meningkatkan risiko kesehatan, terutama pada kelompok rentan.

Karena itu, penanganan karhutla tidak cukup hanya memadamkan api. Perlindungan kesehatan masyarakat, pemantauan kualitas udara, penyampaian informasi yang akurat, dan pencegahan kebakaran harus menjadi bagian dari upaya yang berjalan bersama.

Ketika hutan terbakar, yang terancam bukan hanya pepohonan. Udara yang dihirup masyarakat juga dapat menjadi bagian dari persoalan kesehatan yang dampaknya melampaui lokasi kebakaran.

Referensi utama
  1. WHO — Wildfires and health: komposisi asap kebakaran, dampak kesehatan, kelompok rentan, dan langkah perlindungan.

  2. US EPA — Why is Smoke a Health Concern?: bagaimana PM2.5 mencapai paru-paru dan memengaruhi organ lain.

  3. CDC/NIOSH — Wildland Fire Smoke: senyawa yang dapat terkandung dalam asap serta upaya mengurangi paparan.

  4. WHO — How air pollution is destroying our health: dampak polusi udara terhadap organ dan sistem tubuh.

  5. CDC — How Wildfire Smoke Affects Your Body: gejala dan risiko kesehatan akibat asap kebakaran.

Tag:
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted