Beranda / Tokoh / Paku Bumi Banten yang Melegenda, Kisah Ulama Kharismatik yang Terus Hidup di Hati Warga

Paku Bumi Banten yang Melegenda, Kisah Ulama Kharismatik yang Terus Hidup di Hati Warga

paku bumi banten

SPILL Banten – Banten dikenal sebagai tanah yang memiliki tradisi keislaman kuat. Di balik sejarah kesultanan, pesantren, dan kehidupan masyarakatnya, tumbuh pula penghormatan mendalam kepada para ulama yang menjadi rujukan agama sekaligus tempat warga mencari nasihat.

Di tengah tradisi tersebut, dikenal istilah paku bumi Banten. Sebutan ini lekat dengan sosok ulama yang diyakini memiliki kedalaman ilmu agama, keteguhan spiritual, serta pengaruh besar di tengah masyarakat. Bagi sebagian warga, istilah itu bukan sekadar gelar, melainkan ungkapan penghormatan kepada tokoh yang dianggap menjadi penyangga kehidupan rohani masyarakat.

Namun, siapa sebenarnya sosok yang disebut sebagai paku bumi Banten? Sejumlah nama muncul dalam pemberitaan dan cerita yang berkembang di masyarakat, salah satunya Abuya Syar’i dari Ciomas, Kabupaten Serang.

Abuya Syar’i, Ulama yang Dikenal karena Kesederhanaannya

Nama Abuya Syar’i dikenal melalui kisah tentang kehidupan yang sederhana dan kebiasaan menerima tamu yang datang untuk bersilaturahmi. Sosoknya diberitakan tinggal di kawasan Ciomas, Kabupaten Serang, dan memiliki lingkungan pesantren.

Dalam pemberitaan ANTARA pada Juli 2020, tokoh yang disebut KH Ratu Bagus Syah Ahmad Syar’i itu dikunjungi Ketua DPD RI saat itu, La Nyalla Mattalitti, untuk bersilaturahmi dan meminta doa.

Kunjungan tersebut memperlihatkan salah satu peran penting ulama di Banten: menjadi tempat masyarakat dan berbagai kalangan menjalin hubungan, meminta nasihat, serta memperoleh penguatan batin.

Sejumlah media lokal juga menyebut Abuya Syar’i sebagai salah satu ulama yang dijuluki paku bumi Banten. Kisah tentang dirinya berkembang melalui pemberitaan, penuturan warga, dan cerita dari orang-orang yang pernah berkunjung ke kediamannya.

Meski demikian, kisah-kisah mengenai usia, silsilah keilmuan, dan kemampuan spiritualnya perlu ditempatkan secara hati-hati. Tidak semua keterangan yang beredar telah dikonfirmasi melalui dokumen sejarah atau penelitian independen.

Buat kamu  Syekh Nawawi Al-Bantani: Menelusuri Silsilah Keturunannya dari Tanara hingga Generasi Sekarang

Mengapa Disebut Paku Bumi?

Secara harfiah, paku bumi merupakan istilah untuk sesuatu yang berfungsi sebagai penopang atau penguat. Dalam penggunaan kiasan di tengah masyarakat, istilah ini menggambarkan sosok yang dianggap memiliki peran penting dalam menjaga keteguhan suatu wilayah atau komunitas.

Ketika dilekatkan kepada ulama, sebutan paku bumi biasanya berkaitan dengan penghormatan atas ilmu, kesalehan, doa, dan pengaruh moralnya. Masyarakat memandang ulama bukan hanya sebagai pengajar agama, melainkan juga sebagai tempat bertanya ketika menghadapi persoalan kehidupan.

Dalam konteks Banten, penghormatan tersebut tumbuh di tengah tradisi pesantren yang telah lama menjadi bagian penting dari kehidupan sosial dan keagamaan. Kajian sejarah tentang lembaga keagamaan di Kesultanan Banten juga mencatat kuatnya posisi ulama serta guru agama dalam kehidupan masyarakat Banten.

Tradisi itu membantu menjelaskan mengapa sosok ulama kharismatik dapat memperoleh penghormatan yang luas. Namun, sebutan paku bumi sendiri merupakan gelar sosial-spiritual yang digunakan masyarakat, bukan jabatan resmi yang memiliki penetapan tunggal.

Bukan Hanya Satu Nama

Abuya Syar’i bukan satu-satunya ulama yang disebut sebagai paku bumi Banten. Nama Abuya Ahmad Muhtadi Dimyathi dari Cidahu, Pandeglang, juga kerap muncul dalam pemberitaan dengan sebutan tersebut.

Menurut ANTARA, Abuya Muhtadi dikenal sebagai ulama kharismatik Banten dan merupakan putra Abuya Muhammad Dimyathi, pendiri Pondok Pesantren Roudlotul Ulum di Cidahu, Pandeglang.

Peran Abuya Muhtadi dalam kehidupan keagamaan masyarakat juga diberitakan oleh NU Online Banten. Pada Oktober 2025, Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf bersilaturahmi ke kediamannya di Cidahu. Dalam kunjungan tersebut, Abuya Muhtadi berpesan agar masyarakat turut menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia tetap aman dan kondusif.

Sementara itu, nama Abuya Munfasir juga disebut dalam sejumlah pemberitaan lokal ketika membahas ulama-ulama yang dihormati di Banten.

Beragamnya nama tersebut menunjukkan bahwa istilah paku bumi Banten tidak selalu menunjuk kepada satu tokoh saja. Sebutan itu dapat digunakan untuk menggambarkan penghormatan masyarakat terhadap ulama yang dinilai memiliki pengaruh keagamaan dan spiritual.

Buat kamu  Mitos atau Fakta? Menelusuri Cerita Makanan Favorit Ulama Banten Tempo Dulu

Antara Karomah, Cerita Masyarakat, dan Fakta Sejarah

Kisah tentang ulama kharismatik di Banten kerap disertai cerita mengenai karomah atau kejadian yang dipercaya sebagai keistimewaan spiritual. Cerita semacam ini menjadi bagian dari tradisi lisan dan keyakinan sebagian masyarakat.

Dalam penulisan sejarah dan jurnalistik, penting untuk membedakan keyakinan tersebut dari fakta yang bisa diperiksa secara independen. Cerita mengenai karomah dapat disampaikan sebagai kepercayaan atau penuturan masyarakat, tetapi tidak semestinya dinyatakan sebagai fakta terverifikasi tanpa bukti yang memadai.

Pendekatan ini tidak mengurangi penghormatan kepada ulama. Justru, pemisahan yang jelas antara fakta, tradisi lisan, dan keyakinan membuat kisah tokoh agama lebih bertanggung jawab ketika disampaikan kepada generasi berikutnya.

Warisan seorang ulama juga dapat dilihat melalui hal-hal yang lebih nyata: pengajaran agama, kehidupan pesantren, hubungan dengan masyarakat, keteladanan, serta nasihat yang diwariskan kepada murid dan jamaahnya.

Warisan yang Lebih Besar daripada Sebuah Julukan

Bagi masyarakat Banten, sebutan paku bumi mencerminkan cara mereka menghormati sosok yang dianggap menjadi rujukan dalam kehidupan beragama. Di balik julukan yang terdengar legendaris itu, terdapat tradisi panjang penghormatan kepada guru, kiai, dan pesantren.

Kisah Abuya Syar’i, Abuya Muhtadi, dan ulama lainnya memperlihatkan bahwa pengaruh seorang tokoh agama tidak hanya hadir melalui pengajian atau lembaga pendidikan. Kehadirannya juga dapat terasa dalam hubungan sosial, nasihat, dan kepercayaan masyarakat yang tumbuh dari waktu ke waktu.

Pada akhirnya, legenda tentang paku bumi Banten bukan semata-mata cerita tentang kesaktian. Ia juga menjadi pintu untuk memahami kuatnya tradisi keulamaan di Banten dan besarnya tempat ulama dalam ingatan kolektif masyarakat.

Mengabadikan kisah-kisah tersebut berarti menjaga warisan budaya sekaligus memastikan bahwa sejarah, keyakinan, dan fakta disampaikan secara jernih kepada generasi mendatang.


Catatan sumber dan penyuntingan

Artikel ini disusun dengan merujuk pada pemberitaan ANTARA mengenai Abuya Syar’i dan Abuya Muhtadi, serta NU Online Banten mengenai peran Abuya Muhtadi. Sebutan paku bumi Banten diperlakukan sebagai gelar yang berkembang di masyarakat, bukan gelar resmi yang telah ditetapkan kepada satu orang. Klaim mengenai karomah, usia yang sangat panjang, atau silsilah keilmuan yang belum terverifikasi secara independen tidak disajikan sebagai fakta pasti.

Tag:
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted