Beranda / Spill Warga / Abuya Mama Ghufron dan Kontroversi Nasab Banten: Antara Pengakuan Keturunan dan Bantahan Keluarga

Abuya Mama Ghufron dan Kontroversi Nasab Banten: Antara Pengakuan Keturunan dan Bantahan Keluarga

Abuya mama gufron

SPILL Banten – Nama Abuya Mama Ghufron pernah menjadi perbincangan luas di media sosial. Potongan ceramahnya tentang bahasa semut, bahasa Suryani, hingga pengakuan dapat melakukan panggilan video dengan malaikat maut memicu perhatian dan perdebatan publik.

Namun, di balik sosok yang dikenal melalui berbagai potongan video tersebut, ada pertanyaan yang tidak kalah menarik untuk ditelusuri: siapa sebenarnya Abuya Mama Ghufron, bagaimana hubungannya dengan Banten, dan benarkah ia memiliki garis keturunan dari Syekh Nawawi Al-Bantani?

Penelusuran berbagai pemberitaan menunjukkan bahwa identitas pribadi dan perjalanan pendidikannya memiliki sejumlah keterangan yang dapat dilacak. Sementara klaim nasabnya masih menjadi persoalan yang diperdebatkan dan belum didukung bukti silsilah yang dapat diverifikasi secara terbuka.

Artikel ini mencoba memisahkan informasi biografis, keterangan pihak pesantren, klaim pribadi, serta tanggapan dari pihak keluarga keturunan Syekh Nawawi Al-Bantani.

Siapa Sebenarnya Abuya Mama Ghufron?

Sosok yang dikenal sebagai Abuya Mama Ghufron memiliki nama lahir Iyus Sugiman. Sejumlah pemberitaan menyebut ia lahir pada 25 Desember 1963 di Bandung, Jawa Barat.

Dalam pemberitaan SINDOnews pada 28 Juni 2024, pengurus Pondok Pesantren UNIQ Nusantara, Ubad Aminullah, menyebut Iyus Sugiman merupakan anak kedua dari pasangan H. Endang Mustofa dan Hj. Suntari.

Nama Muhammad Abdul Ghufron kemudian dikenal sebagai nama yang diberikan oleh gurunya, KH Hasan Amin, yang lebih dikenal dengan sebutan Abuya Armin, ketika Iyus menimba ilmu di pesantren wilayah Cibuntu, Pandeglang, Banten.

Nama tersebut kemudian dikenal luas bersama sebutan Abuya Mama Ghufron atau Mama Ghufron Al-Bantani.

Keterangan mengenai identitas dan perjalanan awalnya tersebut diberitakan SINDOnews, Okezone, dan Tirto dengan mengutip penjelasan pihak pesantren.

Pernah Menimba Ilmu di Pandeglang, Banten

Salah satu bagian perjalanan hidup Mama Ghufron yang berkaitan langsung dengan Banten adalah masa pendidikannya di pesantren.

Menurut keterangan pengurus Pondok Pesantren UNIQ Nusantara yang dikutip SINDOnews, Iyus Sugiman meninggalkan rumah ketika masih muda dan kemudian menimba ilmu di Pondok Pesantren Alhasaniah, Cibuntu, Pandeglang.

Saat itu usianya disebut sekitar 12 tahun.

Di pesantren tersebut, ia berguru kepada KH Hasan Amin atau Abuya Armin. Dari gurunya inilah, menurut keterangan pihak pesantren, nama Muhammad Abdul Ghufron diberikan kepadanya.

Riwayat ini menjadi salah satu alasan mengapa nama Mama Ghufron memiliki hubungan dengan lingkungan keagamaan Banten.

Namun, ada hal yang perlu dibedakan: pernah belajar di Banten tidak otomatis berarti seseorang merupakan keturunan biologis ulama Banten.

Hubungan pendidikan, hubungan guru dan murid, serta hubungan darah merupakan tiga hal berbeda yang masing-masing membutuhkan bukti tersendiri.

Klaim Keturunan Syekh Nawawi Al-Bantani

Bagian yang paling banyak dipertanyakan dari identitas Mama Ghufron adalah penggunaan nama Al-Bantani dan pengakuannya mengenai hubungan keturunan dengan Syekh Nawawi Al-Bantani.

Syekh Nawawi Al-Bantani sendiri merupakan ulama besar asal Tanara, Kabupaten Serang, Banten. Ia dikenal luas sebagai ulama Nusantara yang memiliki pengaruh besar dalam perkembangan keilmuan Islam di Makkah dan dunia pesantren.

Buat kamu  Otto Djaya: Dari Prajurit PETA hingga Melukis Wajah Revolusi Indonesia 1942

Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Banten mencatat Syekh Nawawi lahir pada 1813 di Tanara. Nama lengkapnya adalah Abu Abdul Mu’ti Muhammad Nawawi bin Umar bin Arabi.

Karena besarnya pengaruh Syekh Nawawi, hubungan nasab dengan ulama tersebut tentu memiliki nilai sejarah dan genealogis yang penting bagi keluarga maupun masyarakat Banten.

Mama Ghufron pernah menyatakan dirinya sebagai keturunan Syekh Nawawi Al-Bantani. Namun, klaim tersebut tidak bisa langsung diperlakukan sebagai fakta sejarah hanya berdasarkan pengakuan pribadi atau penggunaan nama Al-Bantani.

Untuk membuktikan hubungan keturunan, diperlukan susunan silsilah yang jelas dari satu generasi ke generasi berikutnya, disertai dokumen atau keterangan keluarga yang dapat diperiksa.

Klaim Nasab Mendapat Bantahan dari KH Majazi

Pengakuan Mama Ghufron sebagai keturunan Syekh Nawawi Al-Bantani mendapat tanggapan dari KH Majazi, sosok yang dikenal sebagai salah satu keturunan langsung Syekh Nawawi.

Dalam pemberitaan yang dikutip detikJatim pada 2024, KH Majazi membantah bahwa Mama Ghufron merupakan keturunan Syekh Nawawi Al-Bantani.

KH Majazi menyampaikan bahwa pengakuan tersebut tidak benar dan menyatakan dirinya dapat mempertanggungjawabkan keterangan itu.

NU Online juga pernah mengulas keluarga KH Majazi di Tangerang. Dalam pemberitaan tersebut, KH Majazi disebut sebagai keturunan Syekh Nawawi melalui jalur Nyai Ruqoyah, putri Syekh Nawawi.

Dengan demikian, terdapat dua hal yang perlu dibaca secara terpisah:

  1. Mama Ghufron memiliki klaim mengenai hubungan keturunan dengan Syekh Nawawi Al-Bantani.
  2. KH Majazi, yang dikenal sebagai keturunan Syekh Nawawi, membantah klaim tersebut.

Sampai terdapat dokumentasi silsilah yang dapat diperiksa secara independen, klaim nasab Mama Ghufron belum dapat dinyatakan terbukti.

Jangan Mencampuradukkan Nasab dengan Sanad Keilmuan

Dalam tradisi pesantren, ada dua istilah yang penting dipahami ketika membicarakan hubungan seorang tokoh dengan ulama terdahulu, yaitu nasab dan sanad.

Nasab merujuk pada hubungan keturunan atau garis keluarga berdasarkan hubungan biologis.

Sementara sanad keilmuan merupakan jalur transmisi ilmu dari seorang guru kepada muridnya, kemudian diteruskan melalui guru-guru sebelumnya.

Seseorang bisa saja belajar kepada ulama yang memiliki hubungan keluarga dengan Syekh Nawawi. Namun, hal itu tidak otomatis menjadikan murid tersebut keturunan biologis Syekh Nawawi.

Dalam konteks Mama Ghufron, keterangan mengenai dirinya pernah belajar kepada KH Hasan Amin di Pandeglang merupakan informasi tentang perjalanan pendidikan. Adapun klaim bahwa dirinya merupakan keturunan Syekh Nawawi membutuhkan bukti silsilah keluarga yang berbeda.

Pembedaan ini penting agar masyarakat tidak salah memahami hubungan antara tradisi keilmuan pesantren dan garis keturunan ulama.

Kontroversi Ceramah dan Tanggapan MUI

Nama Mama Ghufron semakin ramai diperbincangkan pada Juni hingga Juli 2024 setelah sejumlah potongan ceramahnya beredar di media sosial.

Beberapa pernyataannya yang menjadi perhatian publik antara lain pengakuan dapat berbicara dengan semut dan jin, menggunakan bahasa yang disebutnya sebagai bahasa Suryani, serta melakukan panggilan video dengan malaikat maut.

Pernyataan-pernyataan tersebut memunculkan beragam tanggapan, termasuk dari Majelis Ulama Indonesia.

Pada 9 Juli 2024, Ketua MUI Bidang Dakwah dan Ukhuwah, KH M. Cholil Nafis, menyampaikan bahwa MUI sedang mengkaji lebih lanjut ajaran yang dibawa Mama Ghufron.

MUI juga menyatakan telah berkoordinasi dengan MUI Kabupaten Malang untuk menindaklanjuti persoalan tersebut.

Dalam pemberitaan ANTARA pada 10 Juli 2024, MUI menyampaikan rencana pembinaan dan pelurusan pemahaman. Cholil Nafis menilai pernyataan mengenai panggilan video dengan malaikat maut tidak memiliki dasar yang dapat dipertanggungjawabkan.

Buat kamu  Paku Bumi Banten yang Melegenda, Kisah Ulama Kharismatik yang Terus Hidup di Hati Warga

MUI juga menyampaikan bahwa pihaknya telah berupaya mengundang Mama Ghufron untuk memberikan klarifikasi, tetapi yang bersangkutan tidak menghadiri undangan tersebut.

Penting dicatat, pemberitaan tersebut menjelaskan proses pengkajian dan sikap MUI pada Juli 2024. Artikel ini tidak menyimpulkan adanya keputusan fatwa tertentu yang tidak disebutkan dalam sumber tersebut.

Dari Banten ke Malang, Membangun Lingkungan Pesantren

Dalam perjalanan berikutnya, Mama Ghufron dikenal sebagai pengasuh Pondok Pesantren UNIQ Nusantara yang berlokasi di Desa Pamotan, Kecamatan Dampit, Kabupaten Malang, Jawa Timur.

SINDOnews dan Okezone pada 2024 menyebut pesantren tersebut sebagai tempat aktivitas pendidikan dan dakwah yang diasuhnya. Pemberitaan juga menyebut adanya sejumlah lembaga pesantren lain yang dikaitkan dengan pengelolaannya.

Kehadiran lembaga pendidikan tersebut menjadi bagian dari latar belakang aktivitasnya sebagai tokoh agama.

Meski begitu, keberadaan pesantren, jumlah lembaga, dan aktivitas pengajaran merupakan informasi yang berbeda dari pembuktian nasab. Ketiganya tidak dapat digunakan sebagai bukti bahwa klaim keturunan Syekh Nawawi Al-Bantani telah benar.

Fakta yang dapat ditelusuri:

  • Identitas: Nama lahir Iyus Sugiman, dikenal dengan nama Muhammad Abdul Ghufron atau Abuya Mama Ghufron.
  • Kelahiran: Sejumlah pemberitaan menyebut lahir pada 25 Desember 1963 di Bandung, Jawa Barat.
  • Keluarga: Pihak pesantren menyebut ia merupakan anak kedua H. Endang Mustofa dan Hj. Suntari.
  • Hubungan dengan Banten: Pernah menimba ilmu di Pondok Pesantren Alhasaniah, Cibuntu, Pandeglang, dan berguru kepada KH Hasan Amin atau Abuya Armin.
  • Klaim nasab: Mengaku memiliki hubungan keturunan dengan Syekh Nawawi Al-Bantani.
  • Bantahan: KH Majazi, salah satu keturunan Syekh Nawawi, membantah klaim tersebut.
  • Aktivitas: Dikenal sebagai pengasuh Pondok Pesantren UNIQ Nusantara di Dampit, Malang.

Yang belum dapat dipastikan:

  • Susunan silsilah biologis yang menghubungkan Mama Ghufron dengan Syekh Nawawi Al-Bantani.
  • Dokumen keluarga yang membuktikan setiap mata rantai nasab tersebut.
  • Bukti independen yang menguatkan klaim hubungan keturunan yang disampaikan.

Catatan redaksi: Klaim pribadi, keterangan pihak pesantren, bantahan keluarga, dan fakta biografis ditempatkan sebagai kategori informasi yang berbeda. Tidak satu pun boleh diubah menjadi kesimpulan sejarah tanpa bukti yang memadai.

Membaca Identitas Tokoh dengan Memisahkan Fakta dan Klaim

Kisah Abuya Mama Ghufron memperlihatkan bagaimana identitas seorang tokoh dapat terbentuk dari perjalanan pendidikan, aktivitas dakwah, penggunaan gelar, dan pengakuan mengenai asal-usul keluarga.

Hubungannya dengan Banten memiliki bagian yang dapat ditelusuri, terutama melalui riwayat pendidikannya di Pandeglang. Namun, hubungan tersebut berbeda dari klaim keturunan Syekh Nawawi Al-Bantani yang masih dipersoalkan.

Bagi masyarakat, penting untuk tidak menyamakan nama, gelar, popularitas, atau pengalaman belajar dengan bukti nasab.

Pada akhirnya, sejarah keluarga harus dibangun melalui dokumen dan hubungan antargenerasi yang jelas. Sementara penilaian terhadap pernyataan keagamaan perlu merujuk pada kajian dan otoritas keilmuan yang dapat dipertanggungjawabkan.

Mengenal seorang tokoh bukan berarti harus menerima seluruh pengakuannya. Justru dengan memeriksa identitas, perjalanan, dan klaimnya secara kritis, pembaca dapat memahami sosok tersebut secara lebih utuh.

Sumber yang digunakan:

  1. Tirto — Siapa Mama Ghufron, Apa Isi Ajarannya, dan Benarkah Sesat? — identitas, keluarga, dan riwayat belajar.

  2. SINDOnews — Sosok Abuya Mama Ghufron — keterangan pengurus pesantren.

  3. detikJatim — Sosok Mama Ghufron — riwayat belajar dan bantahan klaim nasab oleh KH Majazi.

  4. NU Online — Mengenang Syekh Nawawi Banten dari Kampung Kelahirannya — konteks keluarga KH Majazi dan garis keturunan Syekh Nawawi.

Tag:
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted