Beranda / Agama / Ketika Tetangga Justru Menjadi Sumber Masalah, Ini Doa yang Diajarkan Rasulullah

Ketika Tetangga Justru Menjadi Sumber Masalah, Ini Doa yang Diajarkan Rasulullah

doa tetangga - Photo by khezez

SPILL Banten – Rumah seharusnya menjadi tempat beristirahat. Tempat keluarga merasa aman. Tempat anak-anak tumbuh. Tempat seseorang pulang setelah seharian bekerja.

Namun bagaimana jika justru lingkungan di sekitar rumah menjadi sumber ketakutan, konflik, gangguan, atau permusuhan?

Bagaimana jika seseorang harus hidup berdampingan dengan tetangga yang suka mengganggu, membuka aib, membuat keributan, mengancam, atau terus-menerus menimbulkan masalah?

Ternyata persoalan seperti ini bukan sesuatu yang sama sekali asing dalam ajaran Islam.

Rasulullah ﷺ bahkan mengajarkan doa untuk memohon perlindungan kepada Allah dari tetangga yang buruk, yang dalam hadis disebut jār as-sū’.

Salah satu riwayat yang memuat doa tersebut berbunyi:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ جَارِ السُّوءِ

Allahumma inni a’udzu bika min jār as-sū’.

Artinya:

“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari tetangga yang buruk.”

Riwayat ini disebut dalam Al-Mu’jam al-Kabir karya At-Tabarani dan dinilai hasan oleh Al-Albani.

Ada pula riwayat dari Abu Hurairah dengan doa yang lebih panjang, yang juga memuat permohonan perlindungan dari jār as-sū’. Riwayat tersebut dicantumkan oleh At-Tabarani dan dinilai memiliki sanad yang baik oleh Al-Albani.

Menariknya, ajaran tentang tetangga dalam Islam tidak hanya berbicara tentang bagaimana menghindari tetangga yang buruk.

Islam juga mengajarkan bagaimana menjadi tetangga yang baik.

Apa Itu Jār As-Sū’?

Secara sederhana, jār berarti tetangga, sedangkan as-sū’ berkaitan dengan keburukan.

Maka jār as-sū’ dapat dipahami sebagai tetangga yang buruk atau membawa gangguan dan keburukan kepada orang di sekitarnya.

Tetapi istilah ini jangan digunakan secara sembarangan.

Tetangga yang berbeda pendapat belum tentu tetangga buruk.

Tetangga yang tidak cocok dengan kepribadian kita juga belum tentu tetangga buruk.

Perbedaan selera, kebiasaan, atau karakter tidak otomatis menjadi alasan untuk memberikan label buruk kepada seseorang.

Yang menjadi persoalan adalah ketika hubungan bertetangga telah berubah menjadi tindakan yang merugikan, mengganggu keamanan, merusak kehormatan, atau menimbulkan keburukan secara nyata.

Karena itu, doa tersebut bukan ajakan untuk mencurigai semua tetangga.

Justru sebaliknya.

Ia menunjukkan bahwa keamanan dan kedamaian lingkungan tempat tinggal merupakan sesuatu yang sangat penting dalam kehidupan manusia.

Mengapa Rasulullah ﷺ Mengajarkan Doa Ini?

Ada pelajaran menarik dari doa tersebut.

Islam tidak menutup mata terhadap kenyataan bahwa hubungan antarmanusia terkadang bermasalah.

Tidak semua orang yang tinggal di sekitar kita akan memiliki karakter yang sama.

Ada orang baik.

Ada orang yang sulit diajak berkomunikasi.

Ada orang yang mungkin melakukan tindakan yang merugikan.

Karena itu, seorang Muslim diajarkan untuk meminta perlindungan kepada Allah.

Namun pada saat yang sama, Islam juga memberikan tanggung jawab kepada kita:

jangan sampai justru kita yang menjadi tetangga buruk bagi orang lain.

Rasulullah ﷺ Sangat Menekankan Hak Tetangga

Besarnya perhatian Islam terhadap persoalan tetangga dapat dilihat dari hadis Shahih al-Bukhari.

Aisyah radhiyallahu ‘anha meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ mengatakan Jibril terus-menerus berwasiat kepada beliau mengenai tetangga sampai beliau mengira bahwa tetangga akan mendapatkan hak waris.

Ini menunjukkan betapa kuatnya pesan tentang hubungan bertetangga.

Tetangga bukan sekadar orang yang kebetulan tinggal di rumah sebelah.

Mereka adalah orang-orang yang paling dekat dengan kehidupan sehari-hari kita.

Mereka bisa mendengar suara kita.

Melihat aktivitas keluarga kita.

Mengetahui ketika kita sakit.

Mengetahui ketika kita sedang mengalami masalah.

Bahkan dalam keadaan darurat, sering kali tetanggalah orang pertama yang berada di sekitar kita.

Tetangga yang Baik Membuat Rumah Terasa Lebih Aman

Ada sebuah kenyataan sederhana:

rumah yang baik tidak hanya ditentukan oleh kondisi di dalam rumah, tetapi juga oleh lingkungan di sekitarnya.

Bayangkan seseorang memiliki rumah yang nyaman.

Tetapi setiap malam terganggu suara keras.

Anak-anak tidak merasa aman bermain di sekitar rumah.

Perselisihan terjadi terus-menerus.

Privasi tidak dihormati.

Batas-batas kepemilikan dilanggar.

Atau seseorang selalu merasa harus waspada terhadap orang di sebelah rumahnya.

Kenyamanan rumah akhirnya terganggu.

Karena itu, hubungan baik dengan tetangga bukan persoalan kecil.

Ia berhubungan dengan kualitas kehidupan sehari-hari.

Nabi Mengingatkan: Jangan Membahayakan Tetangga

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, janganlah ia menyakiti tetangganya.”

Hadis ini diriwayatkan dalam Shahih al-Bukhari.

Kalimatnya sangat sederhana.

Tetapi cakupannya luas.

Jangan mengganggu.

Jangan merusak.

Jangan mengancam.

Jangan mengambil haknya.

Jangan mengganggu ketenangannya.

Buat kamu  Dari Banten ke Makkah: Bagaimana Tanah Jawara Ini Melahirkan Ulama yang Pengaruhnya Menembus Dunia

Jangan menyebarkan keburukannya.

Jangan membuat keluarganya merasa tidak aman.

Dengan kata lain:

keimanan tidak hanya terlihat di tempat ibadah, tetapi juga dalam cara seseorang memperlakukan orang yang tinggal di sebelah rumahnya.

Bahkan Keselamatan Tetangga Menjadi Ukuran yang Sangat Serius

Dalam Shahih Muslim, Rasulullah ﷺ bersabda bahwa tidak masuk surga orang yang tetangganya tidak merasa aman dari keburukan yang ia lakukan.

Hadis ini memberikan gambaran betapa seriusnya persoalan menyakiti tetangga.

Bayangkan seseorang rajin beribadah.

Tetapi tetangganya takut kepadanya.

Takut rumahnya diganggu.

Takut keluarganya disakiti.

Takut terjadi keributan.

Takut haknya diambil.

Ada sesuatu yang perlu diperbaiki.

Islam tidak mengajarkan kesalehan yang hanya terlihat dalam ritual pribadi.

Ada pula kesalehan sosial.

Dan tetangga merupakan salah satu lingkungan sosial terdekat.

Doa Jār As-Sū’ Bukan Doa untuk Membenci Tetangga

Ini penting untuk dipahami.

Ketika Rasulullah ﷺ mengajarkan perlindungan dari tetangga buruk, bukan berarti seorang Muslim diperintahkan membenci semua tetangga yang memiliki masalah dengannya.

Doa adalah permohonan perlindungan kepada Allah.

Bukan lisensi untuk memusuhi orang lain.

Karena itu, seseorang tetap dapat:

berdoa,

menjaga jarak jika diperlukan,

menghindari konflik,

menyelesaikan masalah dengan cara baik,

dan mengambil langkah perlindungan yang wajar jika terjadi gangguan nyata.

Ada Doa yang Lebih Panjang

Salah satu riwayat dari Abu Hurairah memuat doa:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ جَارِ السُّوءِ

Allahumma inni a’udzu bika min jār as-sū’.

Kemudian doa tersebut dilanjutkan dengan permohonan perlindungan dari pasangan yang menyusahkan, anak yang menjadi beban, harta yang berubah menjadi azab, dan teman yang licik.

Riwayat ini tercantum dalam Al-Mu’jam al-Kabir karya At-Tabarani dan dinilai memiliki sanad yang baik oleh Al-Albani dalam As-Silsilah ash-Shahihah nomor 3137.

Untuk artikel ini, bagian yang paling relevan adalah:

“Allahumma inni a’udzu bika min jār as-sū’.”

“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari tetangga yang buruk.”

Ada Juga Riwayat dari Uqbah bin Amir

Dalam riwayat lain dari Uqbah bin Amir, Rasulullah ﷺ disebut berdoa:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ يَوْمِ السُّوءِ، وَمِنْ لَيْلَةِ السُّوءِ، وَمِنْ سَاعَةِ السُّوءِ، وَمِنْ صَاحِبِ السُّوءِ، وَمِنْ جَارِ السُّوءِ فِي دَارِ الْمُقَامَةِ

Secara makna:

“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari hari yang buruk, malam yang buruk, waktu yang buruk, teman yang buruk, dan tetangga yang buruk di tempat tinggal.”

Riwayat ini dicantumkan oleh At-Tabarani dan dinilai hasan oleh Al-Albani.

Kata “di tempat tinggal” sangat menarik.

Karena tetangga adalah orang yang interaksinya tidak mudah dihindari.

Teman bisa ditinggalkan.

Tempat kerja bisa berganti.

Tetapi tetangga berada di lingkungan tempat kita pulang setiap hari.

Itulah sebabnya hubungan bertetangga membutuhkan perhatian khusus.

Kalau Tetangga Kita Buruk, Apa yang Harus Dilakukan?

Doa bukan satu-satunya langkah.

Jika persoalan masih ringan, komunikasi yang baik dapat menjadi jalan pertama.

Terkadang masalah muncul karena kesalahpahaman.

Seseorang mungkin tidak menyadari bahwa suara televisinya terlalu keras.

Anak-anak mungkin bermain terlalu dekat dengan rumah orang lain.

Parkir mungkin mengganggu akses tetangga.

Sampah mungkin tidak sengaja masuk ke halaman orang lain.

Dalam situasi seperti itu, komunikasi yang tenang sering kali lebih efektif daripada kemarahan.

Jangan Membalas Keburukan dengan Keburukan

Ini bukan berarti seseorang harus membiarkan dirinya terus-menerus dizalimi.

Tetapi membalas gangguan dengan gangguan baru biasanya hanya memperpanjang konflik.

Tetangga menyalakan musik keras.

Kita membalas dengan suara lebih keras.

Tetangga membuang sampah sembarangan.

Kita membalas membuang sampah ke rumahnya.

Tetangga menyebarkan cerita.

Kita menyebarkan cerita tentang dirinya.

Akhirnya dua rumah yang semula hanya memiliki masalah kecil berubah menjadi dua pihak yang saling bermusuhan.

Karena itu, menahan diri merupakan bagian penting dari akhlak bertetangga.

Namun Islam Tidak Mengajarkan Pasrah terhadap Kezaliman

Berbuat baik kepada tetangga tidak berarti seseorang harus menerima semua tindakan buruk tanpa batas.

Jika terdapat ancaman, kekerasan, pelecehan, perusakan, pencurian, atau gangguan serius, seseorang berhak mencari perlindungan dan bantuan melalui jalur yang tepat.

Doa tidak menggantikan ikhtiar.

Memohon perlindungan kepada Allah tidak berarti mengabaikan keselamatan diri dan keluarga.

Justru menjaga keselamatan merupakan bagian dari ikhtiar.

Maka prinsipnya dapat diringkas:

berdoa kepada Allah, menjaga akhlak, dan mengambil langkah yang diperlukan untuk mencegah bahaya.

Sebaliknya: Bagaimana Menjadi Tetangga yang Baik?

Jika kita tidak ingin memiliki tetangga buruk, pertanyaan berikutnya adalah:

Apakah kita sendiri sudah menjadi tetangga yang baik?

Inilah bagian yang sering terlupakan.

Kita berdoa:

“Ya Allah, jauhkan aku dari tetangga buruk.”

Tetapi kita juga perlu bertanya:

“Apakah tetanggaku merasa aman dari keburukanku?”

Pertanyaan ini sangat penting.

1. Jangan Membuat Tetangga Terganggu

Suara kendaraan.

Musik.

Acara keluarga.

Anak-anak bermain.

Pekerjaan renovasi.

Hewan peliharaan.

Semua itu bisa menjadi sumber gangguan jika tidak mempertimbangkan orang lain.

Menjadi tetangga baik berarti memiliki kepekaan:

“Apakah aktivitas saya mengganggu orang di sebelah?”

2. Jaga Privasi Tetangga

Tidak semua yang kita lihat harus diceritakan.

Tidak semua masalah keluarga tetangga boleh menjadi bahan percakapan.

Tidak semua tamu yang datang perlu ditanyakan.

Tidak semua persoalan rumah tangga perlu diketahui.

Menjaga privasi merupakan bentuk penghormatan.

Kadang-kadang menjadi tetangga yang baik justru berarti:

tahu kapan harus peduli dan tahu kapan harus memberikan ruang.

3. Jangan Mudah Menyebarkan Cerita

Tetangga biasanya memiliki akses informasi yang sangat dekat.

Karena rumah berdekatan, seseorang bisa mengetahui banyak hal.

Namun mengetahui bukan berarti berhak menyebarkan.

Jika ada masalah rumah tangga tetangga, jangan menjadikannya bahan obrolan.

Buat kamu  Bukan Sekadar Minta Jodoh, Ini Doa yang Diajarkan Al-Qur’an untuk Mendapatkan Pasangan Terbaik

Jika ada kekurangan seseorang, jangan menjadikannya hiburan.

Hubungan bertetangga akan jauh lebih sehat ketika masing-masing menjaga kehormatan satu sama lain.

4. Berbagi Tidak Harus Menunggu Kaya

Rasulullah ﷺ sangat mendorong hubungan baik dengan tetangga.

Bahkan ketika Aisyah radhiyallahu ‘anha bertanya kepada Nabi ﷺ tentang dua tetangganya dan kepada siapa hadiah diberikan, beliau mengarahkan agar diberikan kepada tetangga yang pintunya lebih dekat.

Artinya, perhatian kepada tetangga tidak harus selalu dalam bentuk besar.

Bisa berupa:

makanan,

buah,

oleh-oleh,

bantuan kecil,

atau sekadar menyapa.

Kadang sebuah sapaan sederhana membuat seseorang merasa bahwa dirinya tidak hidup sendirian.

5. Hadir Ketika Tetangga Membutuhkan

Ada saat tetangga sakit.

Ada yang terkena musibah.

Ada yang kehilangan anggota keluarga.

Ada yang membutuhkan bantuan.

Dalam kondisi seperti itu, kehadiran memiliki nilai besar.

Tidak harus selalu memberikan uang.

Terkadang:

datang,

menanyakan kabar,

membantu pekerjaan kecil,

atau sekadar menunjukkan kepedulian

sudah menjadi bentuk kebaikan.

6. Jangan Meremehkan Pemberian Tetangga

Dalam Shahih al-Bukhari, Nabi ﷺ mengingatkan agar seorang tetangga tidak meremehkan pemberian tetangganya, bahkan jika pemberian tersebut sangat sederhana.

Pesannya relevan sampai sekarang.

Jangan menilai kebaikan berdasarkan harga.

Secangkir makanan.

Sepiring masakan.

Beberapa buah.

Semangkuk makanan.

Yang penting bukan nilainya.

Tetapi hubungan yang dibangun.

Tetangga Baik Adalah Aset Sosial

Lingkungan dengan hubungan tetangga yang baik memiliki sesuatu yang tidak bisa dibeli dengan uang:

rasa aman.

Ketika seseorang pergi beberapa hari, ada tetangga yang bisa memperhatikan rumah.

Ketika seorang lansia membutuhkan bantuan, ada orang terdekat.

Ketika anak bermain, ada lingkungan yang saling mengenal.

Ketika terjadi keadaan darurat, ada orang yang dapat segera membantu.

Inilah salah satu alasan mengapa Islam memberikan perhatian besar terhadap hubungan bertetangga.

Jangan Menunggu Tetangga Baik untuk Menjadi Tetangga Baik

Ada orang berkata:

“Kalau tetangga saya baik, saya juga akan baik.”

Islam mengajarkan sesuatu yang lebih tinggi.

Kebaikan tidak selalu harus menunggu orang lain memulai.

Kita dapat memulai dengan:

menyapa,

tersenyum,

memberi hadiah,

menawarkan bantuan,

dan menjaga lisan.

Bisa jadi hubungan yang awalnya dingin berubah karena satu tindakan sederhana.

Tetapi Tidak Semua Hubungan Harus Menjadi Dekat

Menjadi tetangga baik tidak berarti harus berteman dekat dengan semua orang.

Ada batas privasi.

Ada perbedaan karakter.

Ada orang yang memang lebih nyaman menjaga jarak.

Itu tidak masalah.

Islam menekankan hak dan adab bertetangga, bukan kewajiban menjadikan semua tetangga sebagai sahabat dekat.

Yang penting:

jangan menyakiti, jangan menzalimi, jangan mengganggu, dan tetap menjaga hak mereka.

Doa, Akhlak, dan Ikhtiar Harus Berjalan Bersama

Dari ajaran tentang jār as-sū’, kita dapat melihat tiga lapisan penting.

Pertama: Berdoa

Memohon kepada Allah agar dijauhkan dari tetangga yang membawa keburukan.

Kedua: Menjaga diri

Jangan membuka ruang konflik yang tidak perlu.

Ketiga: Menjadi tetangga yang baik

Karena kita juga tidak ingin menjadi sumber gangguan bagi orang lain.

Tiga hal tersebut saling melengkapi.

Sebuah Pertanyaan untuk Diri Sendiri

Mungkin kita pernah merasa memiliki tetangga yang menyebalkan.

Tetapi sebelum menunjuk orang lain, cobalah bertanya:

Apakah saya pernah membuat tetangga terganggu?

Apakah suara rumah saya terlalu keras?

Apakah kendaraan saya menghalangi jalan?

Apakah hewan peliharaan saya mengganggu?

Apakah saya pernah membicarakan kehidupan mereka?

Apakah saya pernah tidak peduli ketika mereka membutuhkan pertolongan?

Pertanyaan-pertanyaan sederhana ini dapat menjadi cermin.

Karena dalam kehidupan bertetangga:

kita tidak hanya berhak mendapatkan tetangga yang baik. Kita juga memiliki tanggung jawab untuk menjadi tetangga yang baik.

Penutup: Rumah yang Tenang Dimulai dari Hubungan yang Baik

Rasulullah ﷺ mengajarkan doa untuk berlindung dari jār as-sū’—tetangga yang buruk. Riwayat tersebut menunjukkan bahwa persoalan tetangga memang dapat menjadi sesuatu yang serius dalam kehidupan manusia.

Tetapi pada saat yang sama, Rasulullah ﷺ juga berkali-kali menekankan hak tetangga.

Jibril terus berwasiat mengenai tetangga.

Orang beriman diperintahkan untuk tidak menyakiti tetangganya.

Dan keselamatan tetangga dari keburukan kita ditempatkan sebagai persoalan yang sangat serius.

Maka doa itu seharusnya tidak berhenti pada:

“Ya Allah, jauhkan aku dari tetangga yang buruk.”

Tambahkan dalam hati:

“Ya Allah, jangan jadikan aku tetangga yang buruk bagi orang lain.”

Sebab rumah yang nyaman bukan hanya rumah dengan dinding yang kokoh.

Bukan hanya rumah yang luas.

Bukan hanya rumah yang indah.

Tetapi rumah yang berada di lingkungan yang saling menjaga.

Tetangga yang saling menghormati.

Lisan yang saling menahan diri.

Dan hati yang tidak senang melihat orang lain berada dalam kesusahan.

Pada akhirnya, salah satu bentuk keberkahan sebuah rumah mungkin bukan seberapa mewah isinya.

Tetapi ketika seseorang bisa menutup pintu rumahnya pada malam hari dengan perasaan tenang:

tidak takut kepada tetangga, dan tetangga pun tidak takut kepadanya.

Catatan Redaksi

Istilah jār as-sū’ dalam artikel ini diterjemahkan sebagai tetangga yang buruk atau tetangga yang membawa gangguan/keburukan.

Doa “Allahumma inni a’udzu bika min jār as-sū’” memiliki beberapa jalur riwayat. Salah satu riwayat dari Uqbah bin Amir dicantumkan oleh At-Tabarani dan dinilai hasan oleh Al-Albani; riwayat lain dari Abu Hurairah dengan lafaz yang lebih panjang dinilai memiliki sanad yang baik oleh Al-Albani.

Karena itu, redaksi artikel tidak menyatakan bahwa satu lafaz tertentu merupakan satu-satunya bentuk doa yang sah.

Artikel ini juga tidak bermaksud memberikan legitimasi untuk memberi label buruk kepada tetangga hanya karena perbedaan pendapat atau ketidakcocokan pribadi. Istilah jār as-sū’ sebaiknya dipahami dalam konteks perilaku yang benar-benar membawa gangguan atau keburukan.


Referensi Utama

  1. Sahih al-Bukhari 6014–6015 — besarnya perhatian Nabi ﷺ terhadap hak tetangga dan wasiat Jibril tentang tetangga.
  2. Sahih al-Bukhari 6016 — ancaman serius bagi orang yang tetangganya tidak merasa aman dari keburukannya.
  3. Sahih al-Bukhari 6018 — perintah bagi orang beriman untuk tidak menyakiti tetangga.
  4. Sahih al-Bukhari 6020 — prioritas memberikan hadiah kepada tetangga yang pintunya paling dekat.
  5. Sahih Muslim 46 — larangan keras menyakiti tetangga hingga tetangga tidak merasa aman dari keburukan seseorang.
  6. At-Tabarani, Al-Mu’jam al-Kabir, no. 810 — riwayat doa memohon perlindungan dari hari buruk, malam buruk, teman buruk dan tetangga buruk; dinilai hasan oleh Al-Albani.
  7. At-Tabarani, Kitab ad-Du’a, no. 1339 / As-Silsilah ash-Shahihah no. 3137 — riwayat doa Abu Hurairah yang memuat permohonan perlindungan dari jār as-sū’; dinilai memiliki sanad yang baik oleh Al-Albani.
  8. Kajian hak bertetangga — rangkuman hadis mengenai adab bertetangga, termasuk riwayat tentang berlindung dari tetangga yang buruk.
Tag:
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted