Beranda / Wilayah / Dodol Ny. Lauw, Warisan Kuliner Tangerang yang Bertahan Lintas Generasi Sejak 1960-an

Dodol Ny. Lauw, Warisan Kuliner Tangerang yang Bertahan Lintas Generasi Sejak 1960-an

Dodol Ny. Lauw

SPILL Banten — Di tengah semakin banyaknya pilihan oleh-oleh modern, ada satu nama yang masih lekat dengan ingatan masyarakat Tangerang: Dodol Ny. Lauw.

Berpusat di kawasan Neglasari, Kota Tangerang, usaha keluarga ini mempertahankan produksi dodol dan kue tradisional secara turun-temurun. Bukan hanya dodol, Ny. Lauw juga dikenal memproduksi kue keranjang dan kue bulan yang permintaannya meningkat pada momentum tertentu, khususnya menjelang Tahun Baru Imlek.

Namun, ada catatan penting mengenai usia usaha ini. Sejumlah sumber menyebut akar usaha keluarga Lauw telah dirintis sekitar 1950, sedangkan sumber lain menyebut usaha Ny. Lauw mulai berkembang pada 1962. Pemerintah Kota Tangerang dan sejumlah media juga konsisten menyebut usaha ini telah bertahan lebih dari enam dekade dan kini diteruskan oleh generasi ketiga.

Artinya, kisah Ny. Lauw bukan sekadar cerita tentang dodol, tetapi juga tentang bagaimana sebuah usaha keluarga mampu menjaga resep, cara produksi, dan identitasnya melewati pergantian generasi.

Dari Usaha Keluarga Menjadi Ikon Kuliner Tangerang

Dodol Ny. Lauw berawal dari keluarga Lauw yang kemudian mengembangkan produksi makanan tradisional di Tangerang.

Salah satu sumber sejarah usaha menyebut Lauw Sun Lim sebagai generasi awal yang merintis usaha tersebut sekitar 1950. Perkembangannya kemudian berlanjut pada 1962 ketika produksi dijalankan oleh generasi berikutnya.

Nama Ny. Lauw sendiri berkaitan dengan keluarga Lauw. Dalam penelusuran yang dimuat IDN Times, nama tersebut bukan semata-mata nama individu, melainkan merujuk pada marga keluarga yang menjadi bagian dari identitas usaha.

Seiring waktu, dodol yang awalnya dibuat dalam skala kecil berkembang menjadi produk oleh-oleh yang dikenal masyarakat Tangerang dan sekitarnya.

Pemerintah Kota Tangerang bahkan memasukkan Dodol Ny. Lauw sebagai salah satu kue khas Kota Tangerang yang banyak digemari masyarakat lokal maupun luar daerah.

Dodol dengan Cara Produksi yang Dipertahankan

Salah satu alasan usaha ini mampu mempertahankan karakter produknya adalah konsistensi dalam proses produksi.

Buat kamu  Ada Sejarah Panjang di Balik Wisata Baduy, dari Akhir 1980-an hingga Saba Budaya

Kompas.com mencatat bahwa bahan-bahan yang digunakan untuk membuat dodol Ny. Lauw dipertahankan sejak era 1960-an sebagai bagian dari upaya menjaga kepercayaan konsumen. Proses produksinya pun masih mempertahankan cara tradisional.

Dalam laporan terbaru Pemerintah Kota Tangerang pada 2026, generasi pengelola saat ini menyebut dodol masih dimasak secara manual menggunakan kayu bakar dan diaduk selama sekitar enam jam. Produksi harian disebut berada di kisaran 50–70 kilogram, dengan beberapa pilihan rasa seperti original dan wijen sebagai varian unggulan.

Sementara itu, penelitian mengenai penerapan sanitasi pangan pada produksi Dodol Ny. Lauw juga mendokumentasikan proses dan karakteristik industri tersebut sebagai usaha pengolahan dodol dan kue keranjang di Kota Tangerang. Penelitian tersebut menyebut produksi dodol dapat mencapai sekitar 100 kilogram per hari dan meningkat pada periode Ramadan maupun menjelang Imlek.

Tradisi produksi manual inilah yang membuat proses pembuatan dodol tidak bisa dilakukan secara terburu-buru.

Ada waktu yang harus diberikan agar adonan berubah menjadi tekstur yang diharapkan.

Tidak Hanya Dodol

Nama Ny. Lauw juga tidak bisa dilepaskan dari kue keranjang.

Menjelang Imlek, aktivitas produksi di rumah produksi meningkat tajam. Pemerintah Kota Tangerang mencatat produksi kue keranjang Ny. Lauw dilakukan menggunakan peralatan tradisional dan membutuhkan waktu panjang. Pada periode biasa produksinya sekitar satu ton, sedangkan menjelang Imlek dapat meningkat hingga sekitar tiga ton.

Kompas.com juga melaporkan bahwa permintaan kue keranjang dan dodol sama-sama meningkat menjelang Imlek. Kue keranjang menjadi salah satu produk yang sangat identik dengan musim tersebut.

Selain dodol dan kue keranjang, kue bulan juga tercatat sebagai bagian dari produk yang berkaitan dengan merek Ny. Lauw. Data Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual mencatat merek “NY. LAUW” milik Umar Sanjaya pada kelas barang 30, dengan uraian antara lain dodol, kue tradisional, dan kue bulan.

Dengan demikian, Ny. Lauw tidak hanya bertahan melalui satu produk. Identitas usahanya berkembang bersama berbagai panganan tradisional yang memiliki kaitan erat dengan budaya dan momentum perayaan masyarakat.

Buat kamu  Mitos atau Fakta? Menelusuri Cerita Makanan Favorit Ulama Banten Tempo Dulu

Ketika Imlek Datang, Produksi Meningkat

Imlek menjadi salah satu periode paling sibuk bagi Ny. Lauw.

Kebutuhan masyarakat terhadap kue keranjang membuat produksi meningkat secara signifikan. Bahkan, laporan Kompas.com pada 2025 menyebut produksi kue keranjang dan dodol meningkat menjelang Imlek, dengan pelanggan yang datang dari berbagai daerah.

Pada periode tertentu, usaha ini juga melibatkan banyak pekerja tambahan. Menurut laporan Kompas.com, aktivitas produksi melibatkan ratusan pekerja yang menangani berbagai tahapan, mulai dari pengolahan bahan hingga pengemasan.

Hal tersebut menunjukkan bahwa sebuah produk tradisional tidak hanya mempertahankan resep lama, tetapi juga menciptakan aktivitas ekonomi bagi masyarakat di sekitarnya.

Dari Tangerang untuk Konsumen di Berbagai Daerah

Perjalanan Ny. Lauw juga memperlihatkan bagaimana produk tradisional dapat bertahan ketika pasar berkembang.

Pada 2019, Pemerintah Kota Tangerang melaporkan bahwa dodol Ny. Lauw diminati konsumen dari dalam maupun luar Kota Tangerang dan penjualannya telah menjangkau wilayah Jabodetabek. Produk tersebut juga kerap dibawa sebagai oleh-oleh ke luar daerah.

Sementara itu, laporan 2026 dari Pemerintah Kota Tangerang menyebut pembelian dapat dilakukan langsung di lokasi produksi maupun melalui kanal daring, dengan pengiriman hingga ke luar pulau.

Perubahan ini memperlihatkan bagaimana UMKM tradisional dapat mengikuti perkembangan pola belanja tanpa harus meninggalkan karakter produknya.

Bukan Sekadar Dodol, tetapi Cerita tentang Ketahanan Usaha

Lebih dari enam dekade bertahan, Dodol Ny. Lauw menunjukkan bahwa kekuatan sebuah UMKM tidak selalu datang dari perubahan besar.

Kadang justru dari kemampuan mempertahankan sesuatu yang dianggap penting.

Resep dipertahankan. Cara produksi tradisional tetap digunakan. Identitas keluarga tetap dibawa. Di saat yang sama, produk mulai dipasarkan melalui jalur yang lebih luas dan mengikuti perubahan perilaku konsumen.

Di situlah cerita Ny. Lauw menjadi menarik.

Dodol yang dibuat dari bahan sederhana tidak hanya menjadi panganan. Ia berubah menjadi bagian dari identitas kuliner sebuah kota.

Bagi masyarakat Tangerang, nama Ny. Lauw telah lama dikaitkan dengan oleh-oleh. Pemerintah Kota Tangerang pun menyebutnya sebagai salah satu panganan khas kota tersebut.

Dan mungkin inilah alasan mengapa sebuah usaha keluarga bisa bertahan lintas generasi: bukan semata karena produknya masih dijual, tetapi karena ada rasa, cara, dan cerita yang terus diwariskan.

Dari dapur keluarga di Tangerang, dodol Ny. Lauw terus membawa satu pesan sederhana: tradisi bisa bertahan ketika ada generasi yang memilih untuk meneruskannya.

Tag:
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted