Beranda / Wilayah / Saat Krakatau Menghancurkan Caringin, Syekh Asnawi Mengungsi ke Muruy hingga Diasingkan ke Cianjur

Saat Krakatau Menghancurkan Caringin, Syekh Asnawi Mengungsi ke Muruy hingga Diasingkan ke Cianjur

Caringin - Pandeglang

SPILL Banten — Dalam perjalanan hidup Syekh Asnawi Caringin, Caringin bukan sekadar tempat kelahiran dan pusat dakwah. Kampung itu juga menjadi tempat yang beberapa kali harus ia tinggalkan karena keadaan.

Pertama, karena bencana alam.

Kedua, karena tekanan pemerintah kolonial Belanda.

Dua peristiwa tersebut terjadi dalam konteks yang berbeda. Pada 1883, Syekh Asnawi bersama keluarga dan masyarakat Caringin mengungsi ke Kampung Muruy, Menes, setelah Gunung Krakatau mengalami erupsi dahsyat yang memicu tsunami di pesisir Banten.

Beberapa dekade kemudian, pada masa pergolakan 1926, ia kembali harus meninggalkan Caringin. Kali ini bukan karena bencana alam, melainkan karena ditangkap pemerintah kolonial dan kemudian dibuang ke Cianjur.

Dua perpindahan itu memperlihatkan bagian lain dari perjalanan hidup Syekh Asnawi: seorang ulama yang tidak hanya menjalani aktivitas keagamaan, tetapi juga hidup di tengah berbagai perubahan besar yang terjadi di Banten.

Kisah Syekh Asnawi dalam artikel ini ditempatkan sebagai cerita perjalanan hidup. Detail mengenai pengungsian ke Muruy dan pengasingan ke Cianjur dibandingkan dari beberapa sumber. Bagian yang berasal dari penuturan lokal atau biografi kemudian disajikan sebagai keterangan sumber, bukan sebagai fakta yang melampaui bukti yang tersedia.

Ketika Caringin Diterjang Krakatau

Tahun 1883 menjadi salah satu titik paling kelam dalam sejarah pesisir Banten.

Gunung Krakatau di Selat Sunda mengalami rangkaian erupsi besar pada 26–27 Agustus 1883. Letusan tersebut memicu tsunami yang menghantam wilayah pesisir Banten dan Lampung. Data Kementerian ESDM mencatat erupsi utama Krakatau pada 27 Agustus 1883 disertai tsunami besar, dengan korban jiwa di Indonesia mencapai sekitar 36 ribu orang.

Caringin termasuk wilayah yang terdampak parah.

Sumber-sumber lokal dan pemberitaan mengenai sejarah Caringin menyebut bahwa ketika Krakatau meletus, Syekh Asnawi bersama keluarga dan pengikutnya mengungsi ke Kampung Muruy di wilayah Menes. NU Banten juga mencatat bahwa Syekh Asnawi dan keluarganya selamat setelah mengungsi ke Muruy, sementara pesantrennya di Caringin hancur akibat bencana.

Catatan mengenai pengungsian ke Muruy juga muncul dalam sejarah lokal Caringin. Dalam penuturan tersebut, perpindahan dilakukan sebagai langkah penyelamatan sementara sebelum akhirnya Syekh Asnawi kembali ke Caringin setelah keadaan mulai mereda.

Dengan kata lain, Muruy bukanlah tujuan perpindahan permanen.

Ia menjadi tempat berlindung ketika Caringin berubah menjadi kawasan bencana.

Caringin Setelah Krakatau

Kembalinya Syekh Asnawi ke Caringin memperlihatkan kondisi yang tidak lagi sama.

Bangunan pesantren dan berbagai fasilitas masyarakat mengalami kerusakan. Sejumlah sumber menyebut pesantren Syekh Asnawi hancur akibat dampak letusan dan tsunami. Setelah kembali, ia kemudian membangun kembali pusat kegiatan keagamaan di Caringin.

Masjid yang kemudian dikenal sebagai Masjid Agung As-Salafi atau Masjid Salafiah Caringin menjadi salah satu bagian penting dari sejarah pemulihan kawasan tersebut.

Buat kamu  Paku Bumi Banten yang Melegenda, Kisah Ulama Kharismatik yang Terus Hidup di Hati Warga

ANTARA Banten mencatat masjid tersebut dibangun kembali setelah tersapu tsunami akibat letusan Krakatau, sementara sumber lain mengaitkan pembangunan kembali pusat keagamaan Caringin dengan upaya Syekh Asnawi memulihkan kehidupan masyarakat setelah bencana.

Artinya, perjalanan Syekh Asnawi setelah Krakatau bukan hanya soal kembali ke rumah.

Ia kembali ke sebuah kampung yang harus dibangun lagi.

Pesantren harus dihidupkan kembali. Masyarakat harus ditata. Aktivitas keagamaan harus berjalan lagi.

Dan Caringin perlahan kembali menjadi pusat aktivitas keislaman.

Empat Dekade Kemudian, Masalahnya Bukan Lagi Krakatau

Sekitar empat puluh tahun setelah bencana Krakatau, Syekh Asnawi kembali menghadapi situasi yang membuatnya harus meninggalkan Caringin.

Kali ini penyebabnya adalah konflik dengan pemerintah kolonial Belanda.

Pada 1925, Syekh Asnawi disebut mengerahkan para santrinya untuk membantu pembangunan jalan antara Labuan dan Carita. Setahun kemudian, situasi politik dan perlawanan terhadap pemerintah kolonial di Banten meningkat. Sumber-sumber biografis Syekh Asnawi mengaitkan penangkapan dirinya dengan pergolakan 1926.

Dalam catatan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Banten, setelah terjadi bentrokan antara kelompok perlawanan dan pasukan kolonial, pemerintah Hindia Belanda melakukan penangkapan terhadap sejumlah pejuang. Syekh Asnawi beserta anggota keluarganya turut ditangkap. Sumber tersebut menyebut ia kemudian diasingkan ke Jakarta dan sekitar setahun berikutnya dipindahkan ke Cianjur.

Sementara sumber NU menyebut urutannya dimulai dari penahanan di Tanah Abang, Jakarta, sebelum kemudian dipindahkan ke Cianjur.

Di sinilah penting membedakan istilah.

Dalam berbagai sumber, peristiwa ini disebut sebagai penahanan, pembuangan, atau pengasingan. Konteksnya adalah tindakan pemerintah kolonial terhadap Syekh Asnawi yang dikaitkan dengan perlawanan di Banten pada 1926.

Sementara tuduhan terhadap dirinya dan tingkat keterlibatan langsungnya dalam gerakan tersebut merupakan bagian yang dijelaskan secara berbeda dalam sejumlah sumber biografi.

Cianjur Menjadi Tempat Dakwah Berikutnya

Pengasingan tidak otomatis membuat aktivitas Syekh Asnawi berhenti.

Sumber NU menyebut bahwa selama berada di Cianjur, ia tetap berdakwah dan mengajarkan tarekat kepada masyarakat sekitar.

Dengan begitu, perpindahan dari Caringin ke Cianjur tidak serta-merta memutus hubungan Syekh Asnawi dengan aktivitas keagamaannya.

Tempatnya berubah.

Lingkungannya berubah.

Tetapi aktivitas mengajar tetap berlangsung.

Dalam catatan DPK Banten, bahkan disebutkan bahwa selama masa penahanan dan pengasingan, keluarga besar Syekh Asnawi turut menemani dirinya di Cianjur.

Hal tersebut membuat episode Cianjur tidak hanya menjadi cerita tentang seorang tokoh yang dibuang oleh pemerintah kolonial, tetapi juga tentang bagaimana kehidupan keluarga dan jaringan muridnya ikut terdampak.

1931: Kembali ke Caringin

Sumber NU mencatat Syekh Asnawi bebas dari penjara pada 1931. Setelah itu ia kembali ke Caringin dan melanjutkan aktivitas keagamaannya.

Ada sumber lain yang memberikan rincian durasi berbeda mengenai masa penahanan dan pengasingannya. Karena itu, angka pasti lama masa penahanan sebaiknya tidak diperlakukan sebagai satu-satunya kronologi yang sudah final.

Namun satu hal relatif konsisten dalam berbagai sumber: Syekh Asnawi kembali ke Caringin setelah masa penahanan dan pengasingannya berakhir.

Buat kamu  Sultan Maulana Hasanuddin: Pemimpin yang Meletakkan Dasar Kesultanan Banten 1552–1570

Kembalinya ia juga terjadi ketika jaringan pendidikan Islam di Caringin terus berkembang.

Dari dalam masa penahanan, menurut sumber NU, Syekh Asnawi meminta cucunya, KH Tubagus Muhammad Muslih dan KH Tubagus Ahmad Maemun, untuk membangun dan meneruskan kembali pesantren Caringin. Pada 1930 kemudian berdiri Madrasah Masyariqul Anwar di depan Masjid Salafiah.

Jadi, bahkan ketika dirinya sedang jauh dari Caringin, keberlangsungan pendidikan tetap menjadi perhatian.

Dari Muruy hingga Cianjur

Kalau dua peristiwa ini diletakkan dalam satu garis waktu, kehidupan Syekh Asnawi terlihat melalui dua jenis perpindahan yang sangat berbeda.

1883:
Caringin menghadapi bencana Krakatau. Syekh Asnawi dan keluarganya mengungsi ke Muruy untuk menyelamatkan diri. Setelah keadaan mereda, ia kembali ke Caringin dan ikut membangun kembali kehidupan keagamaan masyarakat.

1926–1931:
Syekh Asnawi berhadapan dengan pemerintah kolonial dalam konteks pergolakan Banten. Ia ditangkap, ditahan di Jakarta, kemudian diasingkan ke Cianjur. Pada 1931 ia kembali ke Caringin.

Dua perpindahan tersebut terjadi karena alasan yang sama sekali berbeda.

Yang pertama adalah upaya menyelamatkan diri dari bencana.

Yang kedua merupakan konsekuensi dari konflik dengan kekuasaan kolonial.

Tetapi keduanya memiliki satu titik akhir yang sama:

Caringin.

Di sanalah Syekh Asnawi kembali menjalankan aktivitas dakwah dan pendidikan hingga akhir hidupnya.

CATATAN SUMBER

Yang relatif kuat: letusan Krakatau terjadi pada 26–27 Agustus 1883 dan menyebabkan tsunami besar di pesisir Banten; sejumlah sumber NU dan sejarah lokal menyebut Syekh Asnawi mengungsi ke Muruy dan kemudian kembali ke Caringin.

Mengenai pengasingan: sumber DPK Banten dan NU sama-sama menghubungkan Syekh Asnawi dengan penangkapan pada pergolakan 1926, penahanan di Jakarta/Tanah Abang, kemudian pengasingan ke Cianjur.

Catatan kronologi: terdapat perbedaan sumber mengenai lama penahanan dan pengasingan. Karena itu, artikel ini menggunakan formulasi “sekitar 1926–1931” dan tidak mengunci satu angka durasi sebagai fakta tunggal.

Sumber pendukung: Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Banten, NU/NU Banten, Kementerian ESDM, BNPB, BMKG, serta sejumlah catatan sejarah lokal. Keterangan mengenai Muruy secara khusus juga muncul dalam sumber lokal dan biografi Syekh Asnawi.

Bukan Sekadar Perpindahan Tempat

Kisah Muruy dan Cianjur memberi sisi lain dari kehidupan Syekh Asnawi Caringin.

Ia pernah menjadi bagian dari masyarakat yang harus menyelamatkan diri ketika bencana menghancurkan kampungnya.

Puluhan tahun kemudian, ia kembali menjadi bagian dari pergolakan sosial-politik Banten yang membuatnya berhadapan dengan pemerintah kolonial.

Dua kali ia meninggalkan Caringin.

Dua kali pula ia kembali.

Karena itu, kisah Syekh Asnawi tidak hanya dapat dibaca dari pesantren, masjid, murid, dan aktivitas dakwahnya.

Ada juga cerita tentang bertahan hidup, kehilangan, perpindahan, tekanan kekuasaan, dan kembali membangun kehidupan setelah keadaan berubah.

Dan mungkin justru di bagian inilah perjalanan manusia Syekh Asnawi menjadi lebih dekat dengan pembaca hari ini.

Sebab seorang tokoh sejarah tidak selalu berada di tempat yang sama.

Kadang ia harus pergi karena bencana.

Kadang karena kekuasaan.

Tetapi yang menarik untuk dilihat adalah apa yang ia lakukan setelah kembali.

Tag:
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted