SPILL Banten – Ada satu kuliner Banten yang bentuknya mungkin bikin orang bertanya-tanya saat pertama kali melihatnya.
Namanya sate, tetapi bukan daging ayam, sapi, atau kambing. Yang digunakan justru ikan bandeng—ikan yang terkenal punya banyak duri halus.
Uniknya, setelah diolah, dagingnya bisa dinikmati tanpa harus repot berurusan dengan duri. Bentuk ikannya pun tetap dipertahankan.
Inilah Sate Bandeng, salah satu kuliner yang lekat dengan Kota Serang dan menjadi bagian dari kekayaan kuliner Banten.
Dari Dapur Kesultanan Banten
Cerita mengenai asal-usul Sate Bandeng tidak bisa dilepaskan dari Kesultanan Banten.
Menurut cerita yang berkembang di kalangan pembuat Sate Bandeng, makanan ini pertama kali dibuat oleh juru masak kerajaan pada masa Sultan Maulana Hasanuddin. Sang sultan disebut menyukai ikan bandeng, tetapi duri-duri halus pada ikan tersebut membuatnya tidak mudah disantap.
Dari persoalan sederhana itulah kemudian muncul sebuah inovasi.
Daging ikan bandeng dikeluarkan dari kulitnya, kemudian dipisahkan dari tulang dan duri. Setelah itu, daging diolah bersama bumbu dan santan sebelum dimasukkan kembali ke dalam kulit ikan.
Dengan cara tersebut, sajian tetap mempertahankan bentuk ikan bandeng, tetapi dagingnya menjadi jauh lebih mudah dinikmati.
Kisah tersebut kemudian diwariskan secara turun-temurun dan menjadi bagian dari cerita kuliner masyarakat Banten. Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat juga mencatat kisah serupa dalam dokumentasi mengenai Sate Bandeng.
Yang menarik, keberadaan Sate Bandeng bukan hanya dikenal lewat cerita masyarakat. Sate Bandeng Serang tercatat sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia, dengan penetapan melalui SK No. 186/M/2015 dan berasal dari Kota Serang, Banten.
Kenapa Bandeng Bisa Dibuat Jadi “Sate”?
Kalau membayangkan sate, yang muncul biasanya potongan daging yang ditusuk menggunakan lidi atau bambu lalu dibakar.
Sate Bandeng punya cerita yang berbeda.
Ikan bandeng terlebih dahulu dipisahkan dagingnya dari kulit. Daging tersebut kemudian diolah dan dicampur dengan bumbu. Setelah adonan siap, daging dimasukkan kembali ke dalam kulit ikan sehingga bentuk bandeng tetap terlihat.
Salah satu dokumentasi resmi mengenai budaya Kota Serang mencatat penggunaan bahan seperti kelapa sangrai, garam, gula, air asam, dan telur dalam salah satu resep Sate Bandeng. Sementara sumber pemerintah dan pariwisata juga menyebut penggunaan santan serta berbagai rempah dalam proses pengolahannya.
Setelah selesai dibentuk, ikan kemudian dipanggang atau dibakar hingga matang.
Prosesnya memang tidak sesederhana membakar ikan biasa. Ada tahapan untuk mengeluarkan daging, memisahkan duri, mengolah adonan, kemudian memasukkannya kembali ke kulit ikan.
Justru proses inilah yang membuat Sate Bandeng punya karakter tersendiri.
Gurih, Manis, dan Aroma Bakar yang Khas
Dari sisi rasa, Sate Bandeng umumnya dikenal dengan perpaduan rasa gurih dan manis yang berasal dari daging ikan, santan, bumbu, serta proses pemanggangan.
Ketika dibakar, aroma ikan dan rempah menjadi semakin kuat.
Karakter tersebut membuat Sate Bandeng tidak hanya cocok disantap sebagai lauk bersama nasi, tetapi juga populer sebagai makanan oleh-oleh.
ANTARA pernah mencatat bahwa cita rasa manis dan gurih Sate Bandeng dianggap cukup mudah diterima oleh berbagai kalangan. Dalam perkembangannya, beberapa produsen juga membuat varian rasa lain, termasuk pedas.
Sementara itu, Indonesia Travel menyebut Sate Bandeng sebagai salah satu kuliner khas Banten yang memiliki tekstur lembut dan kerap dijadikan oleh-oleh bagi wisatawan yang berkunjung ke Banten.
Dari Hidangan Kerajaan Menjadi Oleh-Oleh
Perjalanan Sate Bandeng menarik karena makanan ini tidak berhenti sebagai hidangan yang dikaitkan dengan lingkungan Kesultanan Banten.
Kini, Sate Bandeng dapat ditemukan sebagai produk kuliner yang dijual kepada masyarakat umum dan wisatawan.
Kota Serang menjadi salah satu daerah yang paling kuat identitas Sate Bandeng-nya. Pemerintah Provinsi Banten menyebutnya sebagai salah satu kuliner ikonik Kota Serang yang masih diminati wisatawan.
Bahkan, dalam berbagai kesempatan, Sate Bandeng masih digunakan sebagai bagian dari sajian untuk memperkenalkan kuliner Banten.
Pada 2026, misalnya, Sate Bandeng menjadi salah satu menu dalam jamuan penyambutan peserta Hari Pers Nasional di Kota Serang. Sekitar 300 perwakilan peserta dari berbagai provinsi hadir dalam acara tersebut.
Sementara dalam konteks yang berbeda, Sate Bandeng juga pernah digunakan sebagai simbol Kota Serang. Pada Pilkada Kota Serang 2024, KPU Kota Serang menetapkan karakter maskot bernama Sabi dan Sami yang menggunakan simbol Sate Bandeng.
Artinya, Sate Bandeng hari ini bukan cuma soal makanan.
Ia sudah menjadi bagian dari cara Banten memperkenalkan identitas daerahnya.
Bukan Sekadar Kuliner, tetapi Jejak Budaya
Ada alasan kenapa Sate Bandeng menarik untuk dibicarakan lebih jauh.
Makanan ini memperlihatkan bagaimana masyarakat mengubah bahan pangan lokal menjadi sesuatu yang memiliki karakter khas.
Bandeng yang dikenal memiliki banyak duri justru diolah melalui proses yang cukup rumit agar dapat disantap dengan lebih praktis, tanpa kehilangan bentuk ikan aslinya.
Di sisi lain, cerita mengenai asal-usulnya menunjukkan bagaimana sebuah makanan dapat berkembang dari lingkungan kerajaan, kemudian menyebar dan diwariskan kepada masyarakat.
Dalam perkembangannya, Sate Bandeng juga menjadi bagian dari ekonomi kuliner. Pemerintah daerah mencatat adanya pelaku usaha yang mengembangkan produk ini melalui berbagai inovasi, termasuk produk beku dan teknologi pengolahan untuk memperpanjang daya simpan.
Jadi, ketika seseorang membeli Sate Bandeng sebagai oleh-oleh, yang dibawa pulang sebenarnya bukan hanya makanan.
Ada cerita, teknik pengolahan, tradisi, sekaligus identitas daerah di dalamnya.
Kalau Berkunjung ke Banten, Perlu Coba?
Kalau perjalanan membawa Anda ke Kota Serang atau wilayah Banten, Sate Bandeng bisa menjadi salah satu kuliner yang layak masuk daftar untuk dicoba.
Bukan karena harus dianggap sebagai “makanan terbaik”, tetapi karena pengalaman mencicipinya sekaligus memperkenalkan salah satu warisan kuliner yang memiliki cerita panjang di Banten.
Buat yang baru pertama mencoba, karakter rasa gurih-manis, aroma bakaran, tekstur daging yang lembut, serta bentuk ikan yang masih dipertahankan menjadi pengalaman yang cukup berbeda dari sate pada umumnya.
Dan kalau rasanya cocok, Sate Bandeng juga punya satu fungsi lain yang sederhana tetapi menarik: dibawa pulang sebagai oleh-oleh.
Sate Bandeng dan Identitas Kuliner Banten
Banten punya banyak cerita yang bisa ditemukan melalui makanan.
Ada kuliner yang lahir dari tradisi masyarakat, ada yang berkembang dari lingkungan Kesultanan, dan ada pula yang terus beradaptasi mengikuti kebutuhan zaman.
Sate Bandeng berada di antara semuanya.
Ia punya cerita tentang Kesultanan Banten, proses pembuatan yang tidak biasa, rasa yang khas, serta perjalanan panjang hingga menjadi kuliner yang dikenal sebagai salah satu identitas Kota Serang.
Mungkin itu alasan kenapa Sate Bandeng tetap menarik sampai sekarang.
Karena pada akhirnya, kuliner lokal bukan cuma tentang apa yang kita makan, tetapi juga tentang cerita yang ikut kita bawa setelah selesai menyantapnya.
Kalau ada satu kuliner Banten yang menurut lo wajib dicoba, Sate Bandeng masuk daftar nggak?










