SPILL Banten – Ada pertanyaan yang mungkin lebih sulit daripada bertanya siapa yang akan memimpin KOHATI.
Pertanyaan itu adalah:
Apa sebenarnya yang selama ini menghambat KOHATI untuk bergerak lebih jauh?
Pertanyaan tersebut penting karena KOHATI bukan organisasi yang lahir tanpa alasan.
KOHATI dibentuk pada 17 September 1966 dalam Kongres HMI ke-VIII di Solo. Sejak awal, keberadaannya berkaitan dengan kebutuhan pembinaan dan pengembangan potensi HMI-Wati serta keterlibatan perempuan dalam wacana dan dinamika keperempuanan.
Artinya, sejak kelahirannya KOHATI memang tidak dirancang hanya untuk menjadi tempat berkumpulnya kader perempuan.
Ia memiliki mandat pembinaan.
Memiliki tanggung jawab kaderisasi.
Memiliki ruang pengabdian.
Dan memiliki hubungan dengan persoalan perempuan di masyarakat.
Karena itu, ketika kita membicarakan masa depan KOHATI, kita tidak cukup hanya berbicara mengenai struktur, jabatan, musyawarah, atau pergantian kepemimpinan.
Kita harus berani melihat lebih dalam:
Apa saja yang membuat sebuah gerakan perempuan kehilangan daya dorongnya?
Di sinilah kita menemukan “musuh-musuh” KOHATI.
Bukan satu orang.
Bukan satu kelompok.
Bukan pula satu lembaga.
Melainkan berbagai keadaan, kebiasaan, pola pikir, dan kepentingan yang dapat membuat sebuah gerakan berhenti berkembang.
Torismayanti dan Pertanyaan tentang Gerakan
Dalam rangkaian tulisan sebelumnya, nama Torismayanti menjadi salah satu pintu masuk untuk melihat perjalanan KOHATI Banten.
Ketika memimpin KOHATI Cabang Lebak, Torismayanti juga berada dalam ruang diskusi mengenai persoalan kekerasan seksual di lingkungan pendidikan serta terlibat dalam ruang kaderisasi dan pembahasan ke-KOHATI-an.
Dari perjalanan itu muncul sebuah pertanyaan yang lebih besar:
Apakah gagasan yang dibawa seorang kader berhenti sebagai gagasan pribadi, atau berubah menjadi energi yang terus hidup dalam gerakan?
Pertanyaan inilah yang kemudian membawa kita dari Torismayanti kepada KOHATI secara lebih luas.
Karena sebuah gerakan tidak boleh bergantung pada satu tokoh.
Tokoh bisa berganti.
Pengurus bisa berganti.
Generasi bisa berganti.
Tetapi nilai perjuangan harus terus hidup.
Musuh Pertama: Kebodohan
Kita sering menggunakan kata “kebodohan” untuk menggambarkan seseorang yang tidak memiliki pengetahuan.
Tetapi dalam organisasi kader, persoalannya lebih kompleks.
Yang paling berbahaya bukan sekadar tidak tahu.
Yang lebih berbahaya adalah:
tidak tahu tetapi merasa sudah tahu.
Kader yang tidak tahu masih bisa belajar.
Kader yang menyadari kekurangannya masih bisa membaca.
Masih bisa bertanya.
Masih bisa berdiskusi.
Masih bisa mencari data.
Tetapi ketika seorang kader merasa tidak perlu lagi belajar, proses kaderisasi mulai kehilangan maknanya.
KOHATI sendiri sejak awal menempatkan peningkatan kualitas HMI-Wati sebagai bagian penting dari keberadaannya. Dalam berbagai dokumen dan materi ke-KOHATI-an, pembinaan diarahkan pada peningkatan kualitas, wawasan, keterampilan, kepemimpinan, dan kemampuan kader menghadapi persoalan masyarakat.
Maka kader yang berhenti belajar sebenarnya sedang menjauh dari semangat dasar perkaderan itu sendiri.
Hari ini, pengetahuan yang dibutuhkan bahkan semakin luas.
Kader perempuan tidak cukup memahami persoalan organisasi.
Ia juga perlu memahami hukum.
Kebijakan publik.
Ekonomi.
Teknologi.
Media.
Kesehatan.
Pendidikan.
Gender.
Komunikasi.
Dan persoalan sosial di masyarakat.
Karena masalah perempuan tidak pernah berdiri sendiri.
Musuh Kedua: Kemalasan
Setelah kebodohan, ada musuh lain yang tidak kalah berbahaya:
kemalasan.
Bukan hanya malas membaca.
Tetapi malas berpikir.
Malas berdiskusi.
Malas turun ke masyarakat.
Malas melakukan riset.
Malas membangun jaringan.
Malas mengevaluasi program.
Dan yang paling berbahaya:
malas memperjuangkan gagasan setelah forum selesai.
Kita dapat membuat diskusi yang sangat bagus.
Seminar yang sangat ramai.
Pelatihan yang sangat meriah.
Namun ketika semuanya selesai, persoalan masyarakat tetap sama.
Maka muncul pertanyaan:
Apakah kegiatan itu benar-benar menjadi gerakan?
Gerakan membutuhkan kerja setelah tepuk tangan berhenti.
Membutuhkan konsistensi setelah kamera dimatikan.
Membutuhkan keberanian ketika perhatian publik sudah berpindah.
Di situlah perbedaan antara aktivitas organisasi dan gerakan sosial.
Musuh Ketiga: Ketika Aturan Jauh dari Realitas Masyarakat
KOHATI juga perlu memiliki keberanian untuk melihat persoalan yang lebih besar:
hubungan antara masyarakat dan kebijakan.
Indonesia memiliki berbagai kebijakan untuk perlindungan perempuan.
Namun keberadaan aturan tidak otomatis membuat seluruh persoalan selesai.
Di lapangan, masyarakat memiliki kondisi yang sangat beragam.
Kebutuhan perempuan di kota besar tidak selalu sama dengan perempuan di desa.
Persoalan mahasiswa tidak selalu sama dengan pekerja.
Persoalan perempuan muda tidak selalu sama dengan ibu rumah tangga.
Karena itu, kebijakan publik membutuhkan kemampuan untuk membaca realitas.
KOHATI tidak harus menjadi pembuat seluruh kebijakan.
Tetapi KOHATI dapat menjadi bagian dari masyarakat sipil yang menyampaikan suara, pengalaman, dan kebutuhan perempuan kepada pengambil kebijakan.
Inilah fungsi penting gerakan mahasiswa:
menjembatani realitas masyarakat dengan ruang kebijakan.
Bukan hanya berteriak bahwa aturan tidak berpihak.
Tetapi membawa:
data, pengalaman, penelitian, dan rekomendasi.
Aturan Ada, Tetapi Apakah Perempuan Merasakan Perlindungannya?
Pertanyaan ini semakin relevan ketika kita melihat persoalan kekerasan terhadap perempuan.
Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak menyampaikan bahwa berdasarkan SPHPN 2024, sekitar satu dari empat perempuan di Indonesia pernah mengalami kekerasan. Pada periode Januari hingga pertengahan Juni 2025, SIMFONI PPA mencatat 11.850 kasus kekerasan.
Pada 7 Juli 2025, data SIMFONI PPA yang disampaikan Kemen PPPA mencatat 14.133 kasus kekerasan, dengan 12.161 korban perempuan dan 2.913 korban laki-laki. Pemerintah menyebut kondisi tersebut membutuhkan respons yang cepat dan sistemik.
Angka tersebut memberi pesan sederhana:
persoalan perempuan belum selesai.
Dan karena persoalan belum selesai, organisasi yang memiliki perhatian terhadap isu perempuan tidak boleh merasa bahwa tugasnya telah selesai hanya karena berbagai aturan telah dibuat.
Musuh Keempat: Isu Perempuan yang Diabaikan
Ada persoalan lain yang lebih sunyi.
Isu perempuan sering kali mendapatkan perhatian besar ketika terjadi kasus yang viral.
Tetapi setelah pemberitaan berhenti, perhatian juga ikut menghilang.
Padahal persoalan perempuan tidak hanya muncul ketika kamera media datang.
Kekerasan ada sebelum berita.
Diskriminasi ada sebelum konferensi pers.
Kesenjangan ada sebelum menjadi statistik.
Dan ketidakadilan sering kali berlangsung tanpa suara.
Karena itu, KOHATI perlu mendorong agar isu perempuan tidak hanya menjadi agenda reaktif, tetapi menjadi agenda yang diperjuangkan secara konsisten.
Perempuan jangan hanya menjadi objek pemberitaan ketika menjadi korban.
Perempuan harus menjadi subjek ketika kebijakan dan masa depan sedang dirancang.
Data Perempuan Tidak Boleh Hanya Menjadi Angka
BPS melalui publikasi Perempuan dan Laki-Laki di Indonesia 2025 memperlihatkan bahwa kondisi perempuan dan laki-laki perlu dibaca melalui banyak dimensi: kependudukan, kesehatan, ketenagakerjaan, pendidikan, teknologi informasi dan komunikasi, perumahan, hingga kondisi sosial ekonomi rumah tangga.
Ini menunjukkan bahwa persoalan perempuan memang multidimensi.
Karena itu, perjuangan perempuan juga tidak cukup hanya berbicara tentang satu isu.
KOHATI harus mampu membaca hubungan antara:
pendidikan → ekonomi → teknologi → kesehatan → keamanan → kepemimpinan → kebijakan.
Semakin kompleks masalahnya, semakin tinggi pula tuntutan terhadap kualitas kader.
Musuh Kelima: Intervensi Kepentingan Eksternal
Ini adalah bagian yang paling sensitif.
Sebuah organisasi tidak mungkin hidup sendirian.
KOHATI membutuhkan jaringan.
Membutuhkan kolaborasi.
Membutuhkan hubungan dengan kampus, masyarakat, pemerintah, lembaga sosial, media, alumni, dan berbagai pihak lainnya.
Kolaborasi bukan masalah.
Justru kolaborasi dapat memperbesar dampak.
Persoalan baru muncul ketika:
kolaborasi berubah menjadi ketergantungan.
Ketika dukungan mulai menentukan arah.
Ketika kepentingan pihak luar mulai menggeser kepentingan kader.
Ketika organisasi kehilangan kemampuan untuk mengatakan:
“Tidak.”
Di sinilah independensi menjadi penting.
KOHATI boleh bekerja sama dengan siapa saja.
Tetapi arah gerakannya harus tetap memiliki pijakan.
KOHATI Harus Bisa Bekerja Sama Tanpa Kehilangan Diri
Ada perbedaan antara kolaborasi dan intervensi.
Kolaborasi berarti dua pihak bekerja bersama dengan kepentingan yang dapat dipertemukan.
Intervensi terjadi ketika pihak lain mulai menentukan sesuatu yang seharusnya menjadi kewenangan internal organisasi.
Karena itu, KOHATI membutuhkan kemampuan untuk membangun batas.
Batas bukan berarti menutup diri.
Batas berarti tahu:
kapan harus bekerja sama,
kapan harus berdialog,
dan kapan harus berdiri sendiri.
Gerakan yang terlalu tertutup sulit berkembang.
Tetapi gerakan yang terlalu bergantung juga mudah kehilangan arah.
Musuh Keenam: Putusnya Hubungan Antargenerasi
Ada satu persoalan yang sering tidak terlihat:
jarak antara generasi.
Generasi senior memiliki pengalaman.
Generasi muda memiliki energi.
Generasi senior memahami sejarah.
Generasi muda memahami perubahan.
Seharusnya keduanya saling melengkapi.
Namun jika tidak dikelola, bisa muncul kesalahpahaman.
Senior menganggap generasi baru tidak cukup memahami perjuangan.
Generasi baru menganggap generasi lama tidak memahami zaman.
Jika dibiarkan, organisasi kehilangan dua hal sekaligus:
pengalaman dan pembaruan.
Padahal KOHATI membutuhkan keduanya.
Pengalaman Bukan Beban, Generasi Baru Bukan Ancaman
Generasi sebelumnya tidak perlu takut ketika generasi baru membawa metode berbeda.
Begitu pula generasi muda tidak perlu menganggap seluruh warisan generasi sebelumnya sebagai sesuatu yang harus ditinggalkan.
Yang perlu dilakukan adalah:
membawa pengalaman lama ke persoalan baru.
Nilai perjuangan dapat tetap sama.
Metodenya dapat berubah.
Cara komunikasi dapat berubah.
Media dapat berubah.
Teknologi dapat berubah.
Tetapi orientasi pengabdian tetap dapat dipertahankan.
Itulah regenerasi yang sehat.
Ketika Jabatan Lebih Besar daripada Gagasan
Ada satu persoalan yang tidak boleh dihindari ketika berbicara mengenai organisasi:
politik jabatan.
Organisasi membutuhkan kepemimpinan.
Kontestasi adalah bagian dari dinamika demokrasi.
Tetapi kontestasi menjadi masalah ketika jabatan berubah menjadi tujuan akhir.
Ketika kader lebih sibuk memikirkan:
“Siapa yang menjadi ketua?”
daripada:
“Apa yang akan dilakukan setelah menjadi ketua?”
Padahal jabatan seharusnya bukan hadiah.
Jabatan adalah tanggung jawab.
Ketua bukan pemilik organisasi.
Pengurus bukan pemilik kader.
Struktur bukan tujuan.
Semua itu adalah alat untuk menjalankan amanah.
KOHATI Tidak Membutuhkan Pemimpin yang Hanya Pandai Menang
KOHATI membutuhkan pemimpin yang mampu bekerja setelah menang.
Mampu merangkul setelah kontestasi.
Mampu mendengar kritik.
Mampu menerima perbedaan.
Mampu membaca data.
Mampu mengambil keputusan.
Mampu mempertanggungjawabkan keputusan.
Dan yang paling penting:
mampu meninggalkan warisan kerja, bukan sekadar masa jabatan.
Sebab setelah sebuah kepemimpinan berakhir, yang tersisa bukan jabatan.
Yang tersisa adalah:
apa yang telah dilakukan.
Musuh Gerakan Tidak Selalu Berdiri di Depan Kita
Dari seluruh pembahasan ini, satu hal menjadi jelas.
Musuh gerakan tidak selalu berbentuk orang.
Kadang ia berbentuk:
ketidaktahuan.
Kadang berbentuk:
kemalasan.
Kadang berupa:
sistem yang tidak sensitif terhadap realitas.
Kadang berupa:
ketidakpedulian terhadap isu perempuan.
Kadang berupa:
kepentingan eksternal yang terlalu jauh masuk.
Dan kadang berbentuk:
jarak antargenerasi.
Karena itu, KOHATI tidak perlu mencari musuh untuk diserang.
KOHATI perlu mencari hambatan untuk diperbaiki.
KOHATI Harus Berani Mengoreksi Dirinya Sendiri
Organisasi yang kuat bukan organisasi yang selalu mengatakan:
“Kami sudah benar.”
Organisasi yang kuat justru mampu berkata:
“Ada yang harus kami perbaiki.”
Jika kaderisasi tidak menghasilkan kapasitas yang dibutuhkan zaman, evaluasi.
Jika program tidak menghasilkan dampak, evaluasi.
Jika hubungan antargenerasi renggang, perbaiki.
Jika organisasi terlalu bergantung pada pihak tertentu, bangun kembali kemandirian.
Jika isu perempuan belum menjadi prioritas, dorong lebih kuat.
Jika kader kurang membaca, bangun budaya belajar.
Karena kritik internal bukan tanda kelemahan.
Kritik adalah cara organisasi menyelamatkan dirinya dari stagnasi.
KOHATI Harus Kembali kepada Pertanyaan Dasarnya
KOHATI memiliki tujuan pembinaan yang jelas.
Dalam materi dan dokumen ke-KOHATI-an, tujuan tersebut dirumuskan sebagai terbinanya muslimah yang berkualitas insan cita, dengan pembinaan yang diarahkan pada peningkatan kualitas dan peranan HMI-Wati dalam wacana keperempuanan dan kehidupan masyarakat.
Maka setiap generasi pengurus seharusnya kembali bertanya:
Apakah kader yang kita lahirkan semakin berkualitas?
Apakah mereka semakin mampu memimpin?
Apakah mereka semakin mampu membaca persoalan perempuan?
Apakah mereka semakin mampu mengabdi kepada masyarakat?
Jika jawabannya belum, maka pekerjaan rumah KOHATI masih panjang.
Masa Depan KOHATI Tidak Ditentukan oleh Satu Orang
Ini juga harus ditegaskan.
Torismayanti bukan jawaban untuk seluruh persoalan KOHATI.
Begitu juga siapa pun yang nantinya memimpin.
Sebab organisasi tidak boleh bergantung pada satu tokoh.
Tokoh hanya bisa membuka pintu.
Generasi berikutnya harus melanjutkan perjalanan.
Karena itu, yang lebih penting daripada mencari “siapa penyelamat KOHATI” adalah membangun sistem yang mampu melahirkan banyak kader berkualitas.
Munas XXVI Bukan Hanya Pergantian Kepemimpinan
Munas XXVI harus menjadi ruang untuk mengevaluasi lebih dari sekadar siapa yang memimpin.
Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah:
KOHATI akan menjadi apa setelah Munas?
Apakah hanya mengganti struktur?
Atau mengganti cara berpikir?
Apakah hanya menghasilkan program?
Atau menghasilkan perubahan?
Apakah hanya mempertahankan tradisi?
Atau memperbarui metode tanpa kehilangan nilai?
Apakah hanya mencari kemenangan?
Atau membangun persatuan setelah kontestasi?
Pertanyaan-pertanyaan itu jauh lebih penting daripada sekadar siapa yang mendapatkan posisi.

KOHATI Harus Memilih: Bertahan atau Bertumbuh
Bertahan berarti menjaga apa yang sudah ada.
Bertumbuh berarti menjaga yang penting sambil berani memperbaiki yang tidak lagi memadai.
KOHATI tidak perlu meninggalkan sejarahnya.
Tetapi sejarah tidak boleh menjadi alasan untuk takut berubah.
KOHATI tidak perlu kehilangan identitas.
Tetapi identitas tidak boleh menjadi alasan untuk menolak evaluasi.
KOHATI tidak perlu memusuhi pihak luar.
Tetapi KOHATI juga tidak boleh kehilangan independensi.
Dan KOHATI tidak perlu memutus hubungan dengan generasi sebelumnya.
Tetapi generasi baru harus diberi ruang untuk menciptakan sejarahnya sendiri.
Sebuah Gerakan Harus Mampu Menjawab Zaman
KOHATI lahir pada zaman yang berbeda.
Tetapi semangat pembinaan perempuan dan pengabdian kepada masyarakat tetap dapat diterjemahkan ke zaman sekarang.
Dulu persoalan perempuan memiliki bentuknya sendiri.
Hari ini bentuknya semakin kompleks.
Maka kualitas kader juga harus berkembang.
Kader hari ini harus mampu membaca:
data,
hukum,
kebijakan,
teknologi,
media,
ekonomi,
pendidikan,
dan realitas sosial.
Sebab perempuan Indonesia tidak hanya membutuhkan orang yang berbicara atas nama mereka.
Perempuan membutuhkan lebih banyak orang yang mampu bekerja bersama mereka.
Jangan Sampai Musuh Gerakan Justru Menjadi Kebiasaan
Ada satu bahaya yang paling halus.
Kebiasaan.
Kebiasaan tidak membaca.
Kebiasaan menunda.
Kebiasaan mengikuti.
Kebiasaan takut berbeda.
Kebiasaan mempertahankan cara lama.
Kebiasaan mengejar jabatan.
Kebiasaan bergantung pada pihak tertentu.
Kebiasaan memisahkan generasi.
Jika semua itu dibiarkan, pada akhirnya ia tidak lagi terasa sebagai masalah.
Ia berubah menjadi budaya.
Dan ketika sebuah masalah sudah menjadi budaya, memperbaikinya menjadi jauh lebih sulit.
Karena Itu, KOHATI Harus Berani Bertanya
Bukan hanya:
“Apa yang salah dengan mereka?”
Tetapi:
“Apa yang salah dengan kita?”
Bukan hanya:
“Mengapa pemerintah belum melakukan ini?”
Tetapi:
“Apa yang sudah kita lakukan untuk membawa data dan suara masyarakat kepada pemerintah?”
Bukan hanya:
“Mengapa perempuan belum mendapatkan ruang?”
Tetapi:
“Apakah kita sudah menyiapkan perempuan yang siap mengisi ruang tersebut?”
Bukan hanya:
“Mengapa generasi muda tidak tertarik?”
Tetapi:
“Apakah cara kita berbicara masih dipahami generasi muda?”
Pertanyaan seperti inilah yang membuat organisasi tumbuh dewasa.
Penutup: Musuh Terbesar Adalah Ketika Gerakan Berhenti Bertanya
KOHATI tidak membutuhkan musuh untuk membuktikan bahwa ia sedang berjuang.
KOHATI membutuhkan keberanian untuk mengidentifikasi apa saja yang membuat perjuangan itu tidak berjalan sebagaimana mestinya.
Kebodohan harus dilawan dengan pengetahuan.
Kemalasan harus dilawan dengan disiplin.
Kebijakan yang jauh dari masyarakat harus dijawab dengan data dan advokasi.
Pengabaian isu perempuan harus dijawab dengan konsistensi perjuangan.
Intervensi kepentingan harus dihadapi dengan independensi.
Dan jarak antargenerasi harus dijembatani dengan dialog.
Tidak ada satu pun yang mudah.
Tetapi organisasi yang besar memang tidak dibentuk untuk memilih jalan yang selalu mudah.
KOHATI memiliki sejarah.
Tetapi sejarah bukan jaminan masa depan.
KOHATI memiliki kader.
Tetapi jumlah kader bukan jaminan kualitas.
KOHATI memiliki struktur.
Tetapi struktur bukan jaminan dampak.
Dan KOHATI memiliki nama besar.
Tetapi nama besar bukan jaminan bahwa masyarakat masih merasakan kehadirannya.
Maka menjelang Munas XXVI, pertanyaan paling penting mungkin bukan:
“Siapa yang akan memimpin KOHATI?”
Pertanyaan yang lebih penting adalah:
“Apakah KOHATI berani membenahi dirinya sendiri agar mampu menghadapi persoalan yang semakin besar di luar dirinya?”
Sebab musuh terbesar sebuah gerakan terkadang bukan mereka yang berdiri di luar pagar.
Musuh terbesar bisa muncul ketika orang-orang di dalam pagar berhenti membaca, berhenti berpikir, berhenti bertanya, berhenti mengkritik, dan akhirnya merasa bahwa semuanya sudah baik-baik saja.
Jika itu terjadi, gerakan tidak selalu mati.
Ia bisa tetap memiliki nama.
Tetap memiliki struktur.
Tetap memiliki agenda.
Tetapi perlahan kehilangan daya.
Dan itulah yang harus dihindari.
KOHATI tidak perlu takut menghadapi musuh-musuh gerakan.
Yang harus ditakuti adalah ketika KOHATI kehilangan keberanian untuk mengenali, mengoreksi, dan mengalahkan hambatan yang ada di dalam maupun di sekeliling gerakannya sendiri.
Karena pada akhirnya, masa depan KOHATI tidak hanya ditentukan oleh siapa yang duduk di kursi kepemimpinan.
Masa depan KOHATI ditentukan oleh seberapa berani kader-kadernya bergerak setelah kursi itu tidak lagi menjadi tujuan.
Dan perjuangan yang sesungguhnya selalu dimulai setelah forum berakhir.
Catatan Redaksi SPILL Banten
Artikel ini merupakan bagian dari serial EPISODE KOHATI dan menggunakan pendekatan reflektif-analitis. Data mengenai kondisi perempuan Indonesia merujuk pada sumber pemerintah dan publikasi statistik resmi, sedangkan pembahasan mengenai KOHATI digunakan sebagai dasar untuk membaca tantangan kaderisasi, kepemimpinan, dan gerakan perempuan. Pandangan analitis dalam tulisan ini merupakan perspektif editorial dan tidak dimaksudkan sebagai tuduhan terhadap individu, kepengurusan, maupun lembaga tertentu.
Sumber rujukan utama: Badan Pusat Statistik; Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak; dokumen/materi ke-KOHATI; serta sumber pendukung mengenai sejarah dan kaderisasi KOHATI.










