SPILL Banten – Ada pertanyaan yang mungkin terdengar sederhana, tetapi sebenarnya cukup berat untuk dijawab:
Ketika Indonesia berubah begitu cepat, apa yang sedang dilakukan KOHATI?
Pertanyaan ini bukan ditujukan untuk menyalahkan.
Bukan pula untuk mengatakan bahwa KOHATI tidak bergerak.
Justru sebaliknya.
Pertanyaan ini perlu diajukan karena KOHATI memiliki sejarah panjang sebagai ruang pembinaan kader perempuan HMI dan telah ditempatkan sebagai wadah untuk meningkatkan kualitas serta peranan HMI-Wati, baik di dalam maupun di luar organisasi. Pedoman KOHATI juga menempatkan perkaderan sebagai rangkaian pembinaan yang diarahkan pada peningkatan kualitas dan peranan kader.
Maka persoalannya bukan:
“Apakah KOHATI masih ada?”
KOHATI jelas masih ada.
Persoalannya jauh lebih dalam:
“Apakah gerak KOHATI hari ini sudah sebanding dengan perubahan persoalan perempuan dan Indonesia?”
Karena sebuah organisasi bisa tetap hidup secara struktur, tetapi perlahan kehilangan pengaruh secara sosial.
Dan di situlah bahayanya.
Torismayanti dan Sebuah Pertanyaan yang Lebih Besar
Nama Torismayanti menjadi titik awal tulisan ini.
Ia bukan sekadar pernah memimpin KOHATI Badko Jabodetabeka-Banten periode 2021–2023.
Jauh sebelumnya, ketika memimpin KOHATI Cabang Lebak, ia pernah membawa tema “KOHATI pelopor literasi, perempuan cerdas, generasi berkualitas.”
Tema tersebut bukan sekadar slogan kegiatan.
Dalam pemberitaan saat itu, Torismayanti menjelaskan bahwa gagasan tersebut lahir melalui proses penelitian dan diskusi agar KOHATI dapat menjadi sumber literasi serta mendorong perempuan menjadi lebih cerdas dan mampu melahirkan generasi berkualitas.
Beberapa tahun kemudian, ia juga berada dalam ruang yang membahas persoalan kekerasan seksual di lingkungan pendidikan.
Pada 2021, Torismayanti menjadi salah satu pembicara dalam diskusi mengenai darurat pelecehan seksual di lingkungan pendidikan dan menekankan pentingnya edukasi seksual sejak bangku sekolah serta lingkungan keluarga.
Pada 2023, ia kembali tercatat sebagai pemateri Pedoman Dasar Kekohatian dalam kegiatan Training Raya HMI Cabang Bogor. Materi tersebut berada dalam rangkaian latihan yang juga membahas isu keperempuanan, kepemimpinan perempuan, komunikasi, kesehatan reproduksi, dan isu mutakhir keperempuanan.
Dari sini, kamera perlu diperlebar.
Karena persoalannya bukan lagi tentang Torismayanti.
Persoalannya adalah bagaimana pengalaman dan gagasan semacam itu diteruskan menjadi gerakan KOHATI yang lebih besar.

KOHATI Tidak Boleh Berhenti pada Eksistensi
Sebuah organisasi dapat dikatakan eksis karena memiliki struktur.
Ada ketua.
Ada pengurus.
Ada cabang.
Ada agenda.
Ada musyawarah.
Ada kader.
Tetapi eksistensi organisasi tidak selalu sama dengan dampak organisasi.
Inilah pertanyaan yang perlu direnungkan KOHATI.
Apakah keberadaan organisasi sudah dirasakan oleh perempuan di luar lingkaran organisasi?
Jika seorang perempuan menghadapi kekerasan, apakah ia tahu ke mana harus mencari bantuan?
Jika seorang mahasiswi mengalami pelecehan di kampus, apakah tersedia pengetahuan dan jejaring yang dapat membantunya?
Jika seorang perempuan muda ingin menjadi pemimpin, apakah KOHATI telah menyiapkan kapasitas yang dibutuhkannya?
Jika perempuan menghadapi persoalan ekonomi, teknologi, pendidikan, atau pekerjaan, apakah KOHATI hadir membawa pengetahuan dan solusi?
Pertanyaan-pertanyaan itu jauh lebih penting daripada sekadar berapa banyak kegiatan yang diselenggarakan dalam satu periode kepengurusan.
Karena ukuran gerakan pada akhirnya bukan keramaian acara.
Ukuran gerakan adalah perubahan.
Indonesia Sedang Berubah
Indonesia hari ini bukan Indonesia yang sama dengan ketika KOHATI pertama kali dibentuk pada 1966.
Perubahan teknologi berlangsung cepat.
Cara manusia bekerja berubah.
Cara mahasiswa memperoleh pengetahuan berubah.
Cara masyarakat berkomunikasi berubah.
Dan persoalan perempuan juga berubah.
Badan Pusat Statistik dalam publikasi Perempuan dan Laki-Laki di Indonesia 2025 bahkan memotret kondisi perempuan dan laki-laki melalui berbagai dimensi, mulai dari kependudukan, kesehatan, ketenagakerjaan, pendidikan, teknologi informasi dan komunikasi, hingga kondisi sosial ekonomi rumah tangga.
Artinya, persoalan perempuan hari ini tidak dapat dibaca hanya melalui satu kacamata.
Perempuan tidak hanya berbicara tentang kesetaraan.
Tidak hanya tentang kekerasan.
Tidak hanya tentang pendidikan.
Tidak hanya tentang keluarga.
Semua saling terhubung.
Dan perubahan itu membutuhkan organisasi yang mampu membaca zaman.
Persoalan Perempuan Tidak Sedang Menunggu
Data pemerintah menunjukkan bahwa persoalan perlindungan perempuan masih sangat serius.
Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak menyebut hasil SPHPN 2024 menunjukkan sekitar satu dari empat perempuan pernah mengalami kekerasan.
Sementara data SIMFONI PPA mencatat 11.850 kasus kekerasan pada Januari hingga pertengahan Juni 2025.
Dalam laporan lain, Kementerian PPPA menyebut hingga 7 Juli 2025 tercatat 14.133 kasus kekerasan, dengan perempuan sebagai mayoritas korban yang tercatat. Pemerintah juga menegaskan bahwa kekerasan terhadap perempuan dan anak membutuhkan respons yang cepat dan sistemik.
Angka-angka tersebut bukan sekadar statistik.
Di balik setiap angka ada manusia.
Ada perempuan.
Ada keluarga.
Ada masa depan yang terganggu.
Dan sebagian persoalan bahkan tidak masuk ke dalam sistem pelaporan.
Kementerian PPPA sendiri menyatakan bahwa hanya sebagian kecil korban yang tercatat dalam sistem pelayanan karena masih banyak perempuan dan anak korban kekerasan yang belum merasa aman untuk melapor.
Lalu pertanyaannya kembali:
Di tengah persoalan sebesar itu, seberapa jauh organisasi perempuan seperti KOHATI mampu mengambil bagian?
Jangan Menunggu Semua Persoalan Selesai
KOHATI tentu tidak mungkin menyelesaikan seluruh persoalan perempuan Indonesia.
Itu bukan tugas satu organisasi.
Negara memiliki kewajiban.
Pemerintah memiliki instrumen.
Lembaga pendidikan memiliki tanggung jawab.
Masyarakat memiliki peran.
Keluarga memiliki posisi penting.
Organisasi masyarakat sipil juga memiliki ruang masing-masing.
Tetapi justru karena persoalannya besar, semua pihak perlu bergerak.
KOHATI dapat mengambil bagian sesuai kapasitasnya:
pendidikan, kaderisasi, literasi, advokasi, riset, kepemimpinan, dan pemberdayaan.
Dan semua itu sebenarnya bukan sesuatu yang asing dalam tradisi KOHATI.
Pedoman KOHATI memuat berbagai bentuk perkaderan, termasuk forum kajian, pelatihan kewirausahaan, public speaking, sensitivitas gender, kesehatan reproduksi, advokasi, hingga peningkatan kapasitas kader.
Pertanyaannya bukan apakah instrumen itu tersedia.
Pertanyaannya:
Seberapa jauh instrumen tersebut diterjemahkan menjadi gerakan yang relevan dengan persoalan hari ini?
Bahaya Terbesar Bukan Kalah, Tetapi Tidak Bergerak
Dalam kehidupan organisasi, kalah dalam sebuah kontestasi bukanlah tragedi terbesar.
Program yang gagal juga bukan akhir dari semuanya.
Bahkan sebuah kepemimpinan yang tidak sempurna masih dapat dievaluasi dan diperbaiki.
Bahaya terbesar justru ketika organisasi mengetahui bahwa sesuatu harus dilakukan, tetapi terus menunda untuk memulainya.
Karena zaman tidak menunggu.
Persoalan perempuan tidak menunggu.
Teknologi tidak menunggu.
Dunia kerja tidak menunggu.
Generasi muda tidak menunggu.
Dan masyarakat juga tidak akan selamanya menunggu organisasi untuk menemukan bentuk gerakannya.
Jika KOHATI terlambat membaca perubahan, maka jarak antara organisasi dan realitas masyarakat akan semakin besar.
Diam Juga Bisa Menjadi Pilihan
Ada satu hal yang perlu dikatakan secara jujur:
Tidak bergerak juga merupakan sebuah pilihan.
Ketika teknologi berkembang dan organisasi tidak beradaptasi, itu pilihan.
Ketika persoalan perempuan berubah dan organisasi tetap menggunakan pendekatan lama, itu pilihan.
Ketika generasi muda berpindah ke ruang digital dan organisasi tidak hadir di sana, itu juga pilihan.
Dan setiap pilihan memiliki konsekuensi.
Bukan berarti KOHATI harus mengikuti setiap tren.
Bukan berarti organisasi harus menjadi seperti media sosial.
Bukan berarti seluruh tradisi harus ditinggalkan.
Justru yang dibutuhkan adalah kemampuan membedakan:
mana nilai yang harus dipertahankan dan mana metode yang harus diperbarui.
Jangan Sampai KOHATI Hanya Menjadi Penonton
KOHATI memiliki sejarah panjang.
Sejarah itu penting.
Tetapi sejarah tidak boleh menjadi alasan untuk berhenti.
Justru sejarah seharusnya menjadi tanggung jawab.
Jika generasi sebelumnya membangun KOHATI karena melihat kebutuhan zamannya, maka generasi sekarang juga memiliki kewajiban membaca kebutuhan zamannya sendiri.
Pertanyaannya:
Apa kebutuhan perempuan Indonesia hari ini?
Jawabannya tentu tidak sama dengan 1966.
Hari ini ada persoalan ruang digital.
Ada kecerdasan buatan.
Ada perubahan pekerjaan.
Ada tantangan ekonomi.
Ada kesehatan mental.
Ada kekerasan berbasis teknologi.
Ada persoalan representasi perempuan.
Ada kesenjangan akses.
Ada perubahan pola pendidikan.
Dan masih banyak persoalan lainnya.
Maka perjuangan juga harus berkembang.
KOHATI Harus Berani Memulai Langkah Baru
Langkah baru tidak selalu harus besar.
Kadang ia dimulai dari hal sederhana.
Satu forum kajian yang serius.
Satu penelitian.
Satu program literasi.
Satu jaringan pendampingan.
Satu pelatihan kepemimpinan.
Satu platform pengetahuan.
Satu pusat data.
Satu kolaborasi.
Satu kader yang dipersiapkan menjadi pemimpin.
Kemudian berkembang menjadi gerakan.
Masalahnya sering bukan pada ketidakmampuan.
Tetapi pada keberanian untuk memulai.
KOHATI dan Tantangan Ruang Digital
Generasi muda hari ini hidup dalam ekosistem digital.
Maka KOHATI juga perlu hadir di sana.
Bukan hanya untuk mengunggah dokumentasi kegiatan.
Tetapi untuk memproduksi pengetahuan.
KOHATI dapat membangun:
- kanal edukasi perempuan;
- database isu keperempuanan;
- kajian digital;
- podcast;
- jurnal kader;
- video edukasi;
- kelas daring;
- pusat informasi advokasi;
- dan jaringan pengetahuan antarcabang.
Dengan demikian, media digital bukan hanya menjadi tempat menunjukkan bahwa kegiatan telah dilakukan.
Tetapi menjadi ruang perjuangan baru.
Dari Dokumentasi Menuju Produksi Pengetahuan
Ini salah satu perubahan penting yang perlu dipikirkan.
Organisasi sering kali menghasilkan banyak dokumentasi.
Foto.
Video.
Poster.
Rilis.
Unggahan media sosial.
Semua penting.
Tetapi setelah itu apa?
Apakah ada pengetahuan yang tertinggal?
Apakah ada data?
Apakah ada kajian?
Apakah ada rekomendasi?
Apakah ada perubahan kebijakan?
KOHATI memiliki potensi besar untuk menjadi produsen pengetahuan tentang perempuan.
Kampus memberikan akses intelektual.
Organisasi memberikan jaringan.
Alumni memberikan pengalaman.
Kader memberikan energi.
Jika semuanya disatukan, KOHATI dapat menghasilkan sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar dokumentasi kegiatan.
Kaderisasi Harus Menghasilkan Manusia yang Siap Menghadapi Masa Depan
Penelitian mengenai kaderisasi KOHATI di Bandung menunjukkan bahwa sistem kaderisasi diarahkan untuk meningkatkan kualitas kader dan memberikan pemahaman mengenai peran perempuan di ranah publik maupun domestik.
Sementara penelitian mengenai pola kaderisasi kepemimpinan KOHATI Cabang Bandar Lampung menunjukkan bahwa KOHATI memang diposisikan sebagai organisasi yang mencetak kader kepemimpinan perempuan, tetapi penelitian tersebut juga mempertanyakan sejauh mana pola kaderisasi yang ada mampu melahirkan kepemimpinan perempuan yang ideal.
Temuan seperti ini seharusnya tidak dipandang sebagai serangan.
Justru menjadi bahan evaluasi.
Karena organisasi kader memang harus selalu bersedia mengevaluasi sistem kaderisasinya.
Pertanyaan yang Harus Dibawa ke MUNAS KOHATI PB HMI XXVI
MUNAS KOHATI PB HMI XXVI di Bandar Lampung seharusnya tidak hanya menghasilkan jawaban tentang:
siapa yang memimpin?
Tetapi juga:
apa yang akan dilakukan?
Lebih jauh lagi:
kader seperti apa yang ingin dilahirkan?
gerakan seperti apa yang ingin dibangun?
persoalan perempuan apa yang ingin diprioritaskan?
bagaimana KOHATI hadir di ruang digital?
bagaimana kader daerah mendapatkan akses yang lebih merata?
bagaimana alumni dilibatkan?
bagaimana riset dan advokasi diperkuat?
Dan pertanyaan yang paling penting:
Bagaimana memastikan hasil MUNAS KOHATI PB HMI XXVI tidak berhenti sebagai dokumen?
Jangan Sampai MUNAS KOHATI PB HMI XXVI Hanya Menghasilkan Pergantian Pengurus
Pergantian kepemimpinan adalah bagian penting dari demokrasi organisasi.
Tetapi pergantian orang tidak otomatis menghasilkan perubahan.
Orang baru dengan cara lama tetap menghasilkan masalah lama.
Karena itu, yang dibutuhkan bukan sekadar regenerasi.
Yang dibutuhkan adalah regenerasi gagasan.
KOHATI perlu memberikan ruang kepada generasi baru untuk membawa perspektif baru.
Bukan untuk menghapus pengalaman generasi sebelumnya.
Tetapi untuk menggabungkan pengalaman dengan kebutuhan masa depan.
Dari KOHATI untuk Indonesia
KOHATI tidak boleh berhenti sebagai ruang pembinaan internal.
Nilai, pengetahuan, dan pengalaman yang tumbuh di dalam organisasi harus diterjemahkan menjadi kontribusi bagi masyarakat luas.
Dari ruang kaderisasi, KOHATI harus melahirkan gagasan.
Dari forum kajian, KOHATI harus melahirkan pengetahuan.
Dari pengalaman advokasi, KOHATI harus melahirkan keberpihakan.
Dari proses kepemimpinan, KOHATI harus melahirkan perempuan-perempuan yang siap mengambil tanggung jawab di ruang publik.
Di sinilah perjalanan Torismayanti menjadi bagian dari pertanyaan yang lebih besar.
Gagasan tentang literasi, perempuan cerdas, pendidikan, dan perlindungan perempuan tidak boleh berhenti sebagai pengalaman personal atau agenda satu cabang.
Gagasan itu harus diperluas menjadi gerakan yang dapat dirasakan oleh perempuan Indonesia.
KOHATI memiliki jaringan kader, cabang, alumni, dan ruang intelektual yang dapat menjadi modal untuk membangun kontribusi tersebut.
Maka pertanyaannya bukan hanya:
“Apa yang dilakukan KOHATI untuk dirinya sendiri?”
Tetapi:
“Apa yang dapat diberikan KOHATI untuk Indonesia?”
Bukan hanya jabatan.
Bukan hanya posisi.
Bukan hanya suara dalam forum.
Tetapi gagasan.
Pengetahuan.
Kepemimpinan.
Perlindungan.
Dan kerja nyata.
KOHATI Wajib Datang Membawa Jawaban
MUNAS KOHATI PB HMI XXVI tidak boleh hanya menjadi ruang untuk membawa pertanyaan.
Pertanyaan memang penting.
Namun organisasi yang telah memiliki sejarah, jaringan, dan pengalaman juga wajib datang membawa jawaban.
Bukan jawaban yang sempurna.
Bukan pula jawaban yang mengklaim mampu menyelesaikan seluruh persoalan perempuan Indonesia.
Tetapi jawaban yang konkret, terukur, dan dapat dikerjakan.
KOHATI wajib datang membawa jawaban tentang kaderisasi.
Bagaimana kader dipersiapkan menghadapi perubahan zaman?
KOHATI wajib datang membawa jawaban tentang kepemimpinan.
Bagaimana perempuan disiapkan untuk masuk dan bertahan di ruang pengambilan keputusan?
KOHATI wajib datang membawa jawaban tentang kekerasan.
Bagaimana organisasi membangun literasi, pencegahan, pendampingan, dan jejaring rujukan?
KOHATI wajib datang membawa jawaban tentang ruang digital.
Bagaimana organisasi hadir bukan hanya sebagai pengguna, tetapi sebagai produsen pengetahuan?
KOHATI wajib datang membawa jawaban tentang ekonomi dan profesionalitas.
Bagaimana kader perempuan memiliki kemandirian, kompetensi, dan daya tawar?
KOHATI wajib datang membawa jawaban tentang keberlanjutan.
Bagaimana setiap keputusan MUNAS dikawal agar tidak berhenti sebagai dokumen?
Karena musyawarah yang sehat bukan hanya tempat mempertahankan pendapat.
Musyawarah adalah tempat menguji gagasan, menetapkan arah, dan memastikan keputusan dapat dipertanggungjawabkan.
KOHATI tidak cukup datang membawa kegelisahan.
KOHATI harus datang membawa keberanian untuk menjawab.
KOHATI Harus Memiliki Keberanian untuk Mengoreksi Diri
Organisasi yang kuat bukan organisasi yang tidak pernah salah.
Organisasi yang kuat adalah organisasi yang berani mengakui ketika ada sesuatu yang harus diperbaiki.
Jika kaderisasi kurang efektif, perbaiki.
Jika komunikasi publik lemah, perbaiki.
Jika advokasi belum kuat, perbaiki.
Jika kajian tidak menghasilkan dampak, evaluasi.
Jika generasi muda mulai menjauh, tanyakan mengapa.
Jangan langsung menyalahkan generasi muda.
Mungkin justru cara organisasi yang perlu berubah.
Jangan Takut Kehilangan Tradisi, Takutlah Kehilangan Relevansi
Tradisi tetap penting.
Nilai keislaman dan keindonesiaan tetap penting.
Sejarah HMI dan KOHATI tetap penting.
Identitas organisasi tetap penting.
Tetapi semua itu harus hidup dalam konteks zaman.
Nilai yang tidak diterjemahkan akan menjadi slogan.
Sejarah yang tidak diteruskan akan menjadi nostalgia.
Dan organisasi yang tidak mampu menjawab persoalan zaman akan kehilangan relevansi.
Karena itu:
jangan takut berubah.
Yang perlu ditakuti adalah ketika organisasi tidak lagi dibutuhkan oleh persoalan yang seharusnya ia perjuangkan.
KOHATI Harus Menjadi Rumah Pertumbuhan
Kader perempuan datang ke KOHATI dengan latar berbeda.
Ada yang pemalu.
Ada yang berani.
Ada yang kuat dalam akademik.
Ada yang kuat dalam komunikasi.
Ada yang kuat dalam organisasi.
Ada yang memiliki pengalaman sosial.
Ada yang belum menemukan kepercayaan dirinya.
KOHATI harus menjadi tempat mereka tumbuh.
Bukan tempat mereka dibandingkan.
Bukan tempat mereka hanya diberi jabatan.
Tetapi tempat mereka belajar.
Mencoba.
Gagal.
Bangkit.
Dan akhirnya mampu berdiri sendiri.
Dari Kader Menjadi Pemimpin
Tujuan akhir kaderisasi bukan membuat kader selamanya menjadi kader.
Kader harus berkembang.
Menjadi pemimpin.
Menjadi profesional.
Menjadi akademisi.
Menjadi pengusaha.
Menjadi birokrat.
Menjadi aktivis.
Menjadi pendidik.
Menjadi pekerja sosial.
Menjadi tokoh masyarakat.
Dan di mana pun berada, membawa nilai pengabdian.
KOHATI harus bangga ketika kadernya meninggalkan struktur organisasi karena telah menemukan ruang pengabdian yang lebih luas.
Sebab keberhasilan kaderisasi bukan ketika kader terus berada di organisasi.
Keberhasilan kaderisasi adalah ketika kader mampu membawa nilai organisasi ke masyarakat.
Perempuan Indonesia Membutuhkan Lebih Banyak Pemimpin
Indonesia tidak kekurangan perempuan cerdas.
Yang perlu terus diperkuat adalah akses, keberanian, kapasitas, jaringan, dan ruang kepemimpinan.
Di sinilah KOHATI dapat memainkan peran.
Bukan dengan menjanjikan bahwa setiap kader pasti menjadi pejabat.
Tetapi dengan memastikan setiap kader memiliki kesempatan untuk belajar memimpin.
Memimpin dirinya sendiri.
Memimpin organisasi.
Memimpin komunitas.
Dan jika kesempatan datang, memimpin lembaga yang lebih besar.
Jangan Sampai Penyesalan Datang Terlambat
Bayangkan beberapa tahun dari sekarang.
Generasi baru KOHATI duduk membaca kembali perjalanan organisasi.
Mereka melihat berbagai persoalan yang terjadi di Indonesia.
Mereka membaca data tentang kekerasan terhadap perempuan.
Mereka melihat perubahan teknologi.
Mereka melihat dunia kerja yang berubah.
Mereka melihat persoalan pendidikan.
Kemudian muncul pertanyaan:
“Ketika semua itu terjadi, apa yang dilakukan KOHATI?”
Jawaban atas pertanyaan itu sedang ditulis sekarang.
Bukan nanti.
Sekarang.
Karena Sejarah Tidak Hanya Dicatat, Tetapi Diciptakan
KOHATI memiliki sejarah.
Tetapi sejarah tidak boleh hanya menjadi sesuatu yang diceritakan pada forum-forum kaderisasi.
Sejarah harus menjadi sumber keberanian.
Generasi pendiri KOHATI menghadapi zamannya sendiri.
Generasi setelahnya menghadapi tantangan yang berbeda.
Dan generasi sekarang memiliki tantangannya sendiri.
Maka pertanyaannya bukan:
“Bisakah kita menjadi seperti generasi terdahulu?”
Tetapi:
“Apa yang bisa kita lakukan pada zaman kita sendiri?”
Jangan Biarkan KOHATI Menjadi Museum
KOHATI tidak boleh hanya menjadi museum sejarah gerakan perempuan HMI.
Museum menyimpan sesuatu yang pernah hidup.
KOHATI harus tetap menjadi sesuatu yang hidup.
Karena itu, jangan sampai organisasi terlalu sibuk menceritakan apa yang pernah dilakukan sehingga lupa bertanya:
apa yang harus dilakukan sekarang?
Kalimat ini mungkin terdengar keras.
Tetapi justru diperlukan.
Sebab menghormati sejarah bukan berarti berhenti di masa lalu.
Menghormati sejarah berarti berani meneruskan keberaniannya dalam bentuk yang sesuai dengan zaman.
MUNAS KOHATI PB HMI XXVI: Saatnya Memilih Arah
MUNAS KOHATI PB HMI XXVI dapat menjadi salah satu momentum penting untuk itu.
Bukan karena siapa yang menang.
Bukan karena siapa yang kalah.
Tetapi karena apa yang diputuskan setelah semua kontestasi selesai.
Jika MUNAS KOHATI PB HMI XXVI menghasilkan pemimpin baru tetapi tidak menghasilkan keberanian baru, perubahan akan sulit terasa.
Jika MUNAS KOHATI PB HMI XXVI menghasilkan program tetapi tidak menghasilkan mekanisme pelaksanaan, program akan menjadi dokumen.
Jika MUNAS KOHATI PB HMI XXVI menghasilkan rekomendasi tetapi tidak ada pengawalan, rekomendasi akan menjadi arsip.
Karena itu, yang dibutuhkan adalah:
gagasan yang jelas.
target yang terukur.
kader yang disiapkan.
jaringan yang diperkuat.
dan keberanian untuk mengeksekusi.
Tujuh Langkah yang Bisa Dimulai
Jika KOHATI ingin bergerak ke babak baru, setidaknya ada tujuh ruang yang dapat diperkuat.
1. Reformasi Kaderisasi
Kaderisasi harus membaca kebutuhan generasi baru.
Tidak cukup hanya mengulang materi.
Harus ada kemampuan riset, komunikasi, teknologi, advokasi, kepemimpinan, dan profesionalitas.
2. Gerakan Digital
KOHATI perlu menjadi produsen pengetahuan di ruang digital.
Bukan hanya dokumentator kegiatan.
3. Pusat Kajian Perempuan
Kader perlu dibiasakan menghasilkan data dan kajian yang dapat digunakan untuk advokasi.
4. Sekolah Kepemimpinan Perempuan
Kader perlu dipersiapkan untuk masuk ke berbagai ruang kepemimpinan.
5. Penguatan Advokasi
Isu perempuan harus diterjemahkan menjadi kerja nyata.
6. Penguatan Ekonomi dan Profesionalitas
Kemandirian perempuan juga membutuhkan kemampuan ekonomi dan kesiapan menghadapi dunia kerja.
7. Jaringan Alumni
Alumni dapat menjadi jembatan antara kader dan dunia profesional, akademik, sosial, pemerintahan, maupun dunia usaha.
Bergerak Tidak Berarti Harus Sempurna
Ada alasan lain mengapa organisasi terkadang lambat bergerak:
takut salah.
Takut program tidak berhasil.
Takut dikritik.
Takut tidak sempurna.
Padahal gerakan tidak selalu dimulai dari kondisi sempurna.
Satu program dapat dievaluasi.
Satu kebijakan dapat diperbaiki.
Satu metode dapat diperbarui.
Satu kesalahan dapat menjadi pelajaran.
Yang jauh lebih sulit adalah memperbaiki sesuatu yang sejak awal tidak pernah dimulai.
Jika Bukan Sekarang, Kapan?
Pertanyaan ini mungkin terdengar klise.
Tetapi dalam konteks KOHATI, pertanyaan tersebut memiliki makna.
Indonesia sedang bergerak.
Teknologi sedang berubah.
Perempuan menghadapi persoalan baru.
Generasi muda sedang mencari bentuk baru dalam belajar, bekerja, dan berorganisasi.
Maka KOHATI juga harus menentukan langkah.
Tidak harus semuanya sekaligus.
Tetapi harus ada sesuatu yang dimulai.
Karena perubahan besar hampir selalu dimulai dari langkah kecil yang dilakukan secara konsisten.
Penyesalan Terbesar Bukan Ketika Gagal
Ada kemungkinan KOHATI mencoba sesuatu dan gagal.
Itu bukan aib.
Organisasi belajar dari kegagalan.
Ada kemungkinan sebuah program tidak berjalan.
Evaluasi dapat dilakukan.
Ada kemungkinan gagasan tidak diterima.
Forum dapat mengujinya.
Tetapi ada penyesalan yang jauh lebih berat:
ketika organisasi sebenarnya tahu harus bergerak, memiliki kesempatan untuk bergerak, tetapi memilih tidak bergerak.
Pada titik itu, yang hilang bukan hanya satu program.
Yang hilang adalah momentum.
Dan momentum tidak selalu kembali.
Yang Dipertaruhkan Bukan Sekadar Nama KOHATI
Jika sebuah organisasi perempuan memiliki sejarah panjang tetapi tidak mampu menjawab persoalan perempuan pada zamannya, maka yang dipertaruhkan bukan hanya relevansi.
Yang dipertaruhkan adalah warisan.
KOHATI memiliki sejarah.
Memiliki nama.
Memiliki kader.
Memiliki pengalaman.
Memiliki jaringan.
Semua itu merupakan modal.
Tetapi modal hanya berarti jika digunakan.
Karena itu, menjaga nama baik KOHATI bukan berarti menghindari kritik.
Justru sebaliknya.
Berani mengkritik diri sendiri adalah salah satu cara menjaga kehormatan organisasi.
Dari Torismayanti ke Generasi Berikutnya
Torismayanti pernah membawa gagasan literasi dan perempuan cerdas ketika berada di KOHATI Lebak.
Ia kemudian berada dalam ruang yang membahas persoalan kekerasan seksual di lingkungan pendidikan.
Ia juga tercatat berada dalam ruang kaderisasi KOHATI sebagai pemateri Pedoman Dasar Kekohatian.
Semua itu bukan berarti Torismayanti memiliki seluruh jawaban.
Tidak ada satu orang yang memilikinya.
Tetapi perjalanan tersebut menunjukkan bahwa gagasan tentang literasi, pendidikan, perempuan, dan kaderisasi dapat menjadi titik awal untuk membicarakan masa depan KOHATI.
Dan setelah itu, tanggung jawab berpindah kepada generasi berikutnya.
Pertanyaannya Sekarang Bukan Lagi “Siapa?”
Menjelang MUNAS KOHATI PB HMI XXVI, perdebatan tentang siapa yang akan memimpin tentu penting.
Tetapi jangan sampai pertanyaan “siapa” menutupi pertanyaan yang lebih besar:
untuk apa?
Untuk apa KOHATI memiliki kepemimpinan nasional?
Untuk apa ada struktur?
Untuk apa ada kaderisasi?
Untuk apa ada forum?
Untuk apa ada jaringan?
Jawabannya harus kembali kepada satu hal:
pengabdian dan perubahan.
Jika KOHATI Bergerak
Jika KOHATI bergerak, perubahan mungkin tidak langsung terlihat.
Tetapi akan ada kader yang tumbuh.
Akan ada perempuan yang mendapatkan pengetahuan.
Akan ada korban yang tahu ke mana mencari pertolongan.
Akan ada mahasiswa yang berani berbicara.
Akan ada perempuan yang berani masuk ruang publik.
Akan ada penelitian yang lahir.
Akan ada kebijakan yang dikawal.
Akan ada jaringan yang terbentuk.
Dan mungkin, bertahun-tahun kemudian, akan ada perempuan yang menjadi pemimpin karena pernah ditempa di KOHATI.
Itulah dampak yang tidak selalu terlihat dalam satu periode kepengurusan.
Jika KOHATI Tidak Bergerak
Sebaliknya, jika KOHATI tidak mampu memperbarui cara bergeraknya, risikonya bukan organisasi langsung hilang.
Risikonya lebih perlahan.
Kader bisa mencari ruang lain.
Isu perempuan dapat dibicarakan tanpa keterlibatan KOHATI.
Ruang digital dipenuhi suara lain.
Organisasi lain mengambil peran.
Dan KOHATI perlahan hanya menjadi salah satu nama di antara banyak organisasi.
Bukan karena tidak memiliki sejarah.
Tetapi karena tidak cukup cepat menerjemahkan sejarah menjadi gerakan baru.
Masa Depan Tidak Akan Menunggu KOHATI
Masa depan akan datang dengan atau tanpa kesiapan organisasi.
Teknologi akan berkembang.
Kecerdasan buatan akan terus digunakan.
Dunia kerja akan berubah.
Pendidikan akan berubah.
Generasi muda akan berubah.
Persoalan perempuan juga akan berubah.
Pertanyaannya hanya satu:
Apakah KOHATI akan ikut membentuk perubahan itu, atau hanya menyesuaikan diri setelah semuanya terjadi?
Ada perbedaan besar antara keduanya.
Yang pertama adalah kepemimpinan.
Yang kedua adalah reaksi.
KOHATI Harus Menjadi Pelopor, Bukan Pengikut
Kata “pelopor” sebenarnya bukan sesuatu yang asing bagi KOHATI.
Bahkan di Lebak, Torismayanti pernah membawa gagasan KOHATI sebagai pelopor literasi dan perempuan cerdas.
Kini tantangannya lebih besar.
Jika dulu literasi berarti mendorong budaya membaca dan pengetahuan, sekarang literasi harus mencakup kemampuan menghadapi informasi digital, teknologi, media, ekonomi, kebijakan, dan perubahan sosial.
Jika dulu perempuan cerdas berarti perempuan yang memiliki pengetahuan, sekarang perempuan juga harus memiliki keberanian untuk menggunakan pengetahuan tersebut dalam kehidupan nyata.
Pengetahuan tanpa keberanian akan berhenti menjadi pengetahuan.
Sebuah Pesan untuk Bandar Lampung
MUNAS KOHATI PB HMI XXVI di Bandar Lampung nantinya bukan hanya tempat berkumpulnya kader perempuan HMI dari berbagai daerah.
Ia adalah tempat bertemunya pengalaman.
Banten membawa pengalaman Banten.
Sumatra membawa pengalaman Sumatra.
Jawa membawa pengalaman Jawa.
Kalimantan membawa pengalaman Kalimantan.
Sulawesi membawa pengalaman Sulawesi.
Papua membawa pengalaman Papua.
Namun seluruh pengalaman tersebut tidak boleh berhenti sebagai cerita daerah.
Semuanya harus diolah menjadi jawaban nasional:
KOHATI seperti apa yang dibutuhkan perempuan Indonesia?
Program apa yang benar-benar dapat dijalankan?
Kebijakan apa yang dapat dikawal?
Pengetahuan apa yang dapat dibagikan?
Perubahan apa yang dapat diukur?
KOHATI wajib datang ke Bandar Lampung bukan hanya membawa pengalaman, tetapi juga membawa jawaban.
Bukan KOHATI yang hanya nyaman bagi pengurus.
Tetapi KOHATI yang berguna bagi masyarakat.
Jangan Takut Memulai Sejarah Baru
Generasi KOHATI hari ini tidak harus mengulang sejarah generasi sebelumnya.
Mereka memiliki kesempatan membuat sejarah sendiri.
Mungkin sejarah itu dimulai dari sebuah program kecil.
Sebuah kajian.
Sebuah pusat data.
Sebuah gerakan digital.
Sebuah sekolah kepemimpinan.
Sebuah jaringan advokasi.
Atau seorang kader yang berani berdiri dan berkata:
“Saya siap memulai.”
Penutup: Jika Bukan Sekarang, Apa yang Akan Tersisa?
Pada akhirnya, tulisan ini bukanlah vonis kepada KOHATI.
Ini adalah pertanyaan.
Bahkan mungkin sebuah kegelisahan.
Karena organisasi sebesar KOHATI terlalu penting untuk hanya dipuji.
Organisasi sebesar KOHATI juga terlalu penting untuk dibiarkan berjalan tanpa evaluasi.
Indonesia sedang berubah.
Perempuan Indonesia sedang menghadapi persoalan yang semakin kompleks.
Teknologi mengubah cara manusia hidup.
Dunia pendidikan berubah.
Dunia kerja berubah.
Ruang publik berubah.
Dan generasi muda berubah.
Di tengah semua itu, KOHATI memiliki dua pilihan.
Bergerak dan ikut membentuk perubahan.
Atau bergerak terlalu lambat dan suatu hari hanya menjadi penonton dari perubahan yang sebenarnya sejak awal bisa ikut dibentuk.
Penyesalan terbesar bukan ketika sebuah gerakan pernah gagal.
Penyesalan terbesar adalah ketika sebuah gerakan tahu bahwa ia harus bergerak, memiliki kesempatan untuk memulai, tetapi memilih menunggu.
Dan jika itu terjadi terlalu lama, yang dipertaruhkan bukan hanya relevansi organisasi.
Yang dipertaruhkan adalah nama, kehormatan, dan warisan perjuangan KOHATI.
Karena itu, MUNAS KOHATI PB HMI XXVI seharusnya tidak hanya bertanya:
“Siapa yang akan memimpin KOHATI?”
Tetapi:
“Sejarah baru apa yang akan kita mulai?”
Sebab generasi setelah kita kelak tidak hanya akan membaca apa yang pernah dilakukan KOHATI.
Mereka juga akan bertanya:
Ketika Indonesia sedang berubah, ketika perempuan Indonesia membutuhkan keberanian, ketika begitu banyak persoalan menunggu untuk diperjuangkan—di mana KOHATI berada?
Jawaban atas pertanyaan itu sedang ditulis hari ini.
Bukan besok.
Bukan setelah semuanya terlambat.
Sekarang.
KOHATI tidak membutuhkan sekadar babak baru kepengurusan.
KOHATI membutuhkan keberanian untuk memulai sejarah baru.
Dan mungkin, itulah pertanyaan paling penting yang harus dibawa dari Banten menuju Bandar Lampung:
Jika KOHATI tidak bergerak sekarang, apa yang akan tersisa?










