Beranda / Tokoh / Menapak Jejak Syekh Asnawi Caringin: Makam dan Masjid yang Tak Pernah Sepi dari Peziarah

Menapak Jejak Syekh Asnawi Caringin: Makam dan Masjid yang Tak Pernah Sepi dari Peziarah

Syekh Asnawi Caringin - Jejak Banten

SPILL Banten — Jika ingin mengenal sosok Syekh Asnawi Caringin, masyarakat tidak harus selalu membuka buku sejarah.

Datanglah ke Caringin, Kecamatan Labuan, Kabupaten Pandeglang.

Di kawasan pesisir Banten itu, nama Syekh Asnawi masih terasa hidup. Masyarakat datang berziarah ke makamnya, beribadah di masjid yang memiliki hubungan erat dengan perjalanan dakwahnya, sekaligus mengenang sosok ulama yang pernah menjadi rujukan masyarakat Banten pada zamannya.

Makam Syekh Asnawi bahkan menjadi salah satu destinasi wisata religi yang memiliki angka kunjungan tinggi di Kabupaten Pandeglang. Data yang dikutip dalam kajian pariwisata menunjukkan kunjungan ke Makam Keramat Syekh Asnawi Caringin mencapai 140.051 orang pada 2014 dan 163.366 orang pada 2015.

Hingga sekarang, tradisi ziarah tersebut masih berlangsung.

Pemerintah Provinsi Banten pada 2026 bahkan mulai melakukan revitalisasi kawasan ziarah Syekh Asnawi Caringin untuk meningkatkan kenyamanan peziarah sekaligus menjaga nilai sejarah dan religius kawasan tersebut.

Bagi masyarakat, perjalanan ke Caringin bukan hanya perjalanan menuju sebuah makam.

Ini adalah tapak tilas perjalanan seorang ulama Banten.

1. Makam Syekh Asnawi Caringin, Tujuan Utama Para Peziarah

Tempat pertama sekaligus yang paling utama adalah kompleks makam Syekh Asnawi Caringin.

Makam ini berada di Desa Caringin, Kecamatan Labuan, Kabupaten Pandeglang, tidak jauh dari kawasan Masjid Agung As-Salafie Caringin. Letaknya yang berada di kawasan pesisir membuat kompleks ini memiliki suasana yang khas: perjalanan religi bertemu dengan lanskap pesisir Banten.

Bagi masyarakat yang datang, kegiatan utama di lokasi tentu saja adalah berziarah dan mendoakan Syekh Asnawi.

Jumlah pengunjung yang datang dari luar daerah menunjukkan bahwa pengaruh nama Syekh Asnawi tidak hanya terbatas di Caringin.

Kajian mengenai wisata religi Makam Syekh Asnawi menyebut peziarah datang dari berbagai daerah dan aktivitas tersebut juga memberikan dampak terhadap ekonomi masyarakat sekitar. Bahkan, berdasarkan wawancara dengan pengelola yang dikutip penelitian tersebut, pada hari-hari biasa jumlah pengunjung dapat mencapai puluhan hingga ratusan orang per hari, sedangkan pada momentum tertentu jumlahnya meningkat tajam.

Inilah yang membuat kawasan makam menjadi salah satu titik penting dalam perjalanan wisata religi Banten.

2. Masjid Agung As-Salafie Caringin

Beranjak dari makam, terdapat bangunan yang tidak kalah penting dalam sejarah Syekh Asnawi:

Masjid Agung As-Salafie Caringin.

Masjid ini bukan sekadar tempat ibadah masyarakat sekitar.

Ia merupakan bangunan bersejarah yang telah ditetapkan sebagai cagar budaya tingkat nasional melalui SK Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Nomor PM.02/PW.007/MKP/2010. Data resmi Cagar Budaya mencatat keberadaannya di Desa Caringin, Kabupaten Pandeglang.

Masjid tersebut memiliki perjalanan sejarah yang panjang.

Data cagar budaya pemerintah mencatat bahwa bangunan masjid sebelumnya hancur akibat letusan Gunung Krakatau pada 1883, kemudian dibangun kembali oleh KH Mohammad Asnawi di lokasi semula. Sumber yang sama menyebut masjid ini selain digunakan untuk ibadah dan pendalaman Al-Qur’an, juga pernah menjadi markas pertahanan para pejuang Banten melawan pemerintah kolonial Belanda.

Karena itu, masjid ini memiliki makna berlapis.

Ia adalah tempat ibadah.

Ia adalah pusat pendidikan agama.

Dan dalam catatan sejarah, ia juga berkaitan dengan perjuangan masyarakat Banten.

3. Masjid yang Menjadi Pusat Kehidupan Masyarakat

Kekuatan sebuah situs sejarah tidak hanya ditentukan oleh usia bangunannya.

Buat kamu  Warisan Para Pahlawan Banten: Integritas Religius dan Nasionalisme yang Terus Hidup Setelah Kemerdekaan 1945

Salah satu ukuran lainnya adalah apakah bangunan tersebut masih memiliki fungsi bagi masyarakat.

Masjid Agung As-Salafie Caringin memenuhi hal tersebut.

ANTARA mencatat bahwa pada Ramadan 2024, masjid ini masih digunakan masyarakat untuk berbagai kegiatan keagamaan, seperti buka bersama, salat berjamaah dan pengajian Al-Qur’an. Kapasitasnya untuk salat Jumat disebut dapat menampung sekitar 500 jamaah, termasuk jamaah dari luar daerah.

Dengan demikian, masyarakat yang datang ke Caringin tidak hanya menemukan bangunan tua.

Mereka menemukan masjid yang masih hidup.

Suara pengajian masih terdengar.

Salat berjamaah masih berlangsung.

Dan generasi baru masih menggunakan ruang yang memiliki hubungan dengan perjalanan sejarah masyarakat Caringin.

4. Jejak Pendidikan: Masyariqul Anwar

Perjalanan Syekh Asnawi juga tidak dapat dipisahkan dari pendidikan.

Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Banten mencatat bahwa Syekh Asnawi mendirikan Madrasah Masyarikul Anwar Caringin pada 12 Mei 1930. Lembaga tersebut menjadi bagian dari kiprahnya dalam membina masyarakat melalui dakwah dan pendidikan.

Jejak pendidikan ini penting karena memperlihatkan bahwa perjuangan seorang ulama tidak berhenti di mimbar.

Ada upaya mencetak generasi.

Ada proses pewarisan ilmu.

Ada hubungan antara guru dan murid.

Dan dari sanalah pengaruh seorang ulama dapat melampaui satu generasi.

Kajian akademik mengenai Masjid Caringin juga mencatat keberadaan lembaga pesantren dan madrasah di lingkungan sekitar masjid, termasuk Pondok Pesantren Masyariqul Anwar yang diasuh oleh keturunan pendiri masjid. Kondisi tersebut membuat kawasan masjid tetap menjadi ruang aktivitas santri dan guru hingga sekarang.

5. Caringin, Kawasan yang Menyimpan Ingatan Perjuangan

Ada alasan mengapa perjalanan ke makam Syekh Asnawi terasa berbeda dibanding sekadar mengunjungi makam tokoh agama.

Caringin memiliki sejarah panjang sebagai kawasan yang berkaitan dengan perjalanan sosial, keagamaan dan perjuangan masyarakat Banten.

Syekh Asnawi hidup pada masa ketika kolonialisme Belanda masih kuat.

Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Banten mencatat bahwa ia aktif membina masyarakat Caringin melalui dakwah. Sumber tersebut juga menggambarkan bagaimana ia menjadi tempat masyarakat datang untuk belajar, meminta nasihat dan doa.

Sementara penelitian mengenai Masjid Caringin menyebut kawasan tersebut menjadi salah satu pusat penyebaran Islam sekaligus basis perjuangan rakyat Banten dalam konteks pergerakan sosial-politik melawan kolonialisme.

Dengan begitu, ketika masyarakat berziarah ke Caringin, sebenarnya mereka sedang memasuki sebuah ruang sejarah yang lebih luas.

Bukan hanya tentang satu tokoh.

Tetapi tentang masyarakat yang pernah hidup di tengah perubahan besar.

6. Setelah Krakatau, Caringin Dibangun Kembali

Salah satu bab penting dalam sejarah kawasan ini adalah letusan Krakatau 1883.

Bencana tersebut membawa dampak besar bagi kawasan pesisir Banten.

Penelitian tentang Masjid Caringin mencatat bahwa Desa Caringin sempat ditinggalkan penduduk karena terdampak parah oleh bencana tersebut. Sekitar satu dekade kemudian, masyarakat kembali dan membangun kembali kehidupan mereka bersama Syekh Asnawi. Masjid Caringin kemudian tercatat keberadaannya dalam peta Caringin tahun 1894.

ANTARA juga mencatat cerita sejarah setempat bahwa setelah tsunami besar akibat letusan Krakatau, masyarakat Caringin diarahkan Syekh Asnawi untuk mengungsi ke Desa Muruy, Kecamatan Menes.

Peristiwa ini memperlihatkan sisi lain Syekh Asnawi.

Bukan hanya sebagai guru agama.

Tetapi juga sebagai figur masyarakat yang hadir ketika komunitasnya menghadapi bencana.

7. Mengapa Makam Syekh Asnawi Terus Didatangi?

Ada banyak alasan masyarakat datang.

Sebagian datang untuk berziarah dan mendoakan.

Sebagian ingin mengenang perjuangan ulama Banten.

Sebagian datang karena sejak kecil mengenal nama Syekh Asnawi dari keluarga atau lingkungan pesantren.

Dan bagi sebagian lainnya, perjalanan ke Caringin merupakan bagian dari tradisi wisata religi.

NU Banten menyebut kawasan makam Kiai Asnawi atau Kiai Agung Caringin sebagai salah satu tujuan wisata religi yang banyak didatangi peziarah, termasuk dari luar Banten. Letaknya yang berdekatan dengan pesisir Pantai Caringin juga menjadi salah satu daya tarik kawasan.

Buat kamu  Mengagungkan Asma Allah: Doa, Takbir, dan Spiritualitas Para Pejuang Banten Melawan Penjajahan

Tradisi tersebut kini mendapatkan perhatian lebih besar dari pemerintah daerah.

Pada 9 Agustus 2026, Pemerintah Provinsi Banten melakukan peletakan batu pertama revitalisasi kawasan ziarah Syekh Asnawi Caringin. Pemerintah menyatakan penataan tersebut bukan semata pembangunan fisik, tetapi juga ditujukan untuk menjaga nilai sejarah dan religius serta memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar.

Salah satu tujuan lainnya adalah membuat kawasan tersebut berkembang sebagai destinasi religi, sejarah dan budaya.

8. Perjalanan Ziarah yang Sekaligus Menggerakkan Ekonomi Warga

Ramainya peziarah juga membawa dampak bagi masyarakat sekitar.

Warung, pedagang makanan, penjual oleh-oleh, jasa parkir dan berbagai aktivitas ekonomi tumbuh mengikuti kebutuhan pengunjung.

Penelitian mengenai pengembangan wisata religi Makam Syekh Asnawi Caringin secara khusus membahas hubungan antara keberadaan destinasi ziarah dengan perekonomian masyarakat sekitar.

Karena itu, revitalisasi kawasan tidak hanya berkaitan dengan kenyamanan peziarah.

Ada kepentingan ekonomi masyarakat yang juga perlu diperhatikan.

Pemerintah Provinsi Banten pada 2026 menyatakan bahwa penataan kawasan diharapkan memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar. Konsep tersebut mencakup penataan fasilitas pendukung dan kawasan perdagangan agar aktivitas ekonomi masyarakat dapat berkembang secara lebih tertata.

Di sini, warisan sejarah bertemu dengan kehidupan hari ini.

Makam menjadi ruang ziarah, masjid menjadi ruang ibadah, sejarah menjadi ruang pembelajaran, dan kawasan sekitar menjadi ruang ekonomi masyarakat.

9. Tapak Tilas yang Masih Hidup

Ada situs sejarah yang hanya menyisakan reruntuhan.

Ada pula situs yang masih digunakan masyarakat.

Caringin termasuk yang kedua.

Makam Syekh Asnawi masih didatangi.

Masjid Agung As-Salafie masih digunakan.

Pesantren masih menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.

Dan kawasan tersebut masih menjadi tujuan peziarah dari berbagai daerah.

Inilah yang membuat tapak tilas Syekh Asnawi memiliki arti tersendiri.

Kita tidak hanya melihat peninggalan.

Kita melihat warisan yang masih berfungsi.

Menjaga Makam, Merawat Sejarah

Perjalanan ke Caringin pada akhirnya bukan hanya tentang sampai ke sebuah makam.

Ada sejarah yang perlu dipahami.

Ada bangunan cagar budaya yang perlu dirawat.

Ada tradisi masyarakat yang perlu dihormati.

Dan ada nilai perjuangan seorang ulama yang perlu diteruskan tanpa harus mengubah sejarah menjadi cerita yang berlebihan.

Pemerintah Provinsi Banten kini menempatkan revitalisasi kawasan ziarah Syekh Asnawi sebagai bagian dari upaya menjaga nilai sejarah dan religius sekaligus memberikan manfaat bagi masyarakat.

Bagi generasi muda Banten, tempat seperti Caringin dapat menjadi ruang belajar yang nyata.

Mereka dapat melihat bagaimana seorang ulama membangun pendidikan.

Bagaimana masyarakat menjaga masjid.

Bagaimana tradisi ziarah bertahan.

Dan bagaimana sebuah kawasan dapat menjadi saksi perjalanan agama, masyarakat dan perjuangan.

Syekh Asnawi memang telah lama wafat.

Tetapi jejaknya belum selesai.

Ia masih terlihat dalam langkah para peziarah yang datang ke makamnya.

Masih terdengar dalam kegiatan keagamaan di masjid.

Masih diteruskan melalui pendidikan.

Dan masih hidup dalam ingatan masyarakat Caringin.

Mungkin itulah makna sebenarnya dari sebuah tapak tilas.

Bukan hanya berjalan menuju tempat bersejarah, tetapi memahami nilai yang membuat tempat itu tetap berarti bagi generasi setelahnya.

Catatan Redaksi

Dalam penulisan ini, Makam Syekh Asnawi Caringin ditempatkan sebagai destinasi utama karena sumber pemerintah daerah dan kajian pariwisata secara jelas mencatat tingginya kunjungan peziarah ke lokasi tersebut.

Masjid Agung As-Salafie/ Masjid Caringin juga menjadi bagian penting dari tapak tilas karena memiliki status Cagar Budaya Nasional. Data resmi Cagar Budaya mencatat bangunan tersebut sebagai Masjid Caringin dan menyebut pembangunan kembali oleh KH Mohammad Asnawi setelah bangunan sebelumnya hancur akibat letusan Krakatau 1883.

Sementara itu, Masyariqul Anwar ditempatkan sebagai jejak pendidikan Syekh Asnawi karena sumber Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Banten mencatat pendirian Madrasah Masyarikul Anwar Caringin pada 12 Mei 1930.

Artikel ini tidak memasukkan cerita-cerita mengenai karamah atau kejadian supranatural sebagai fakta. Cerita yang berkembang di masyarakat dapat menjadi bagian dari sejarah lisan dan budaya ziarah, tetapi perlu dibedakan dari informasi sejarah yang memiliki dukungan dokumenter.

Tag:
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted