Beranda / Wilayah / Gipang dan Kue Satu Mekar Pertiwi, Ketika Kue Tradisional Banten Bertahan di Tengah Tren Modern

Gipang dan Kue Satu Mekar Pertiwi, Ketika Kue Tradisional Banten Bertahan di Tengah Tren Modern

Gipang Mekar Pertiwi

SPILL Banten — Di tengah semakin beragamnya pilihan kue modern, makanan tradisional masih memiliki ruang tersendiri di hati masyarakat. Salah satunya adalah gipang dan kue satu, dua panganan yang lekat dengan tradisi kuliner Banten dan masih diproduksi oleh pelaku UMKM lokal.

Salah satu usaha yang mempertahankan produk tersebut adalah UMKM Mekar Pertiwi. Pemerintah Provinsi Banten melalui program Muterin Banten menyoroti usaha ini sebagai pelaku UMKM yang memproduksi kue gipang dan kue satu tradisional khas Banten. Produk tersebut disebut tetap memiliki pasar meskipun harus bersaing dengan beragam kue kering modern.

Kisah Mekar Pertiwi menjadi menarik bukan hanya karena produk yang dijual, tetapi karena pilihannya untuk tetap mempertahankan panganan tradisional ketika selera pasar terus berubah.

Gipang, Camilan Tradisional yang Tetap Dicari

Gipang merupakan salah satu jajanan tradisional yang dikenal di Banten.

Karakteristiknya sederhana tetapi khas. Bahan utama yang diolah menghasilkan tekstur renyah, kemudian dipadukan dengan bahan pemanis yang membuat potongan gipang dapat menyatu sekaligus memberikan rasa manis.

Bagi sebagian masyarakat Banten, gipang bukan sekadar camilan. Panganan ini juga menjadi bagian dari pengalaman kuliner daerah yang kerap dibawa sebagai oleh-oleh.

Di tangan pelaku UMKM seperti Mekar Pertiwi, produk tradisional tersebut kemudian dipertahankan sebagai bagian dari aktivitas ekonomi keluarga.

Pemerintah Provinsi Banten secara khusus menempatkan Mekar Pertiwi dalam liputan mengenai bisnis kue kering tradisional Banten. Dalam publikasi tersebut disebutkan bahwa gipang dan kue satu produksi Mekar Pertiwi tetap memiliki daya tarik meski berada di tengah ramainya bisnis kue kering modern.

Buat kamu  Sate Bandeng Banten: Kuliner Tanpa Duri yang Lahir dari Cerita Kesultanan

Kue Satu Ikut Dipertahankan

Selain gipang, Mekar Pertiwi juga memproduksi kue satu.

Kue satu merupakan jenis kue tradisional yang memiliki karakter berbeda dari gipang. Teksturnya cenderung lebih rapuh dan mudah hancur ketika digigit.

Kehadiran dua produk tersebut dalam satu usaha memperlihatkan bagaimana UMKM dapat mengembangkan lebih dari satu produk tradisional sekaligus menjaga keberadaan panganan yang mulai bersaing dengan produk-produk modern.

Dalam konteks bisnis, pilihan mempertahankan produk tradisional juga berarti mempertahankan pasar yang memiliki kedekatan dengan cita rasa lama.

Tradisional, tetapi Tidak Harus Tertinggal

Tantangan terbesar produk tradisional bukan selalu soal rasa.

Ada persoalan lain yang ikut menentukan keberlangsungan sebuah UMKM: bagaimana membuat konsumen tetap tertarik ketika pilihan produk semakin banyak.

Kue modern menawarkan berbagai bentuk, rasa, kemasan, dan strategi pemasaran. Sementara itu, produk tradisional sering kali mengandalkan kekuatan yang berbeda—rasa yang sudah dikenal, resep yang diwariskan, serta hubungan emosional dengan makanan yang pernah hadir dalam kehidupan masyarakat.

Mekar Pertiwi berada di ruang tersebut.

Usaha ini mempertahankan gipang dan kue satu sebagai produk utama, sementara pasar terus bergerak mengikuti perkembangan zaman.

Pemerintah Provinsi Banten bahkan mengangkat kisah usaha tersebut dalam program Muterin Banten dengan pertanyaan yang menjadi inti tantangan UMKM tradisional: bagaimana bisnis kue tradisional dapat terus eksis di tengah ramainya bisnis kue kering modern.

Momentum Ramadan dan Lebaran

Ada periode tertentu ketika permintaan terhadap kue kering mengalami peningkatan.

Pemerintah Provinsi Banten mencatat bahwa bisnis kue kering menjadi salah satu peluang yang menarik selama Ramadan hingga menjelang Lebaran, ketika kebutuhan masyarakat terhadap makanan ringan untuk disajikan saat berkumpul ikut meningkat.

Kondisi tersebut menjadi peluang bagi produk tradisional seperti gipang dan kue satu.

Buat kamu  Ketan Bintul Banten, Kuliner Legendaris yang Selalu Dicari Saat Ramadan

Artinya, tradisi kuliner tidak selalu harus berhadapan dengan produk modern sebagai sesuatu yang saling meniadakan. Produk tradisional justru dapat memanfaatkan momentum tertentu ketika konsumen kembali mencari makanan yang familiar dan cocok disajikan untuk keluarga maupun tamu.

Menjaga Resep, Menjaga Cerita

Setiap produk tradisional memiliki tantangan yang sama: bagaimana memastikan produk tersebut tetap dikenal oleh generasi berikutnya.

Ketika sebuah UMKM tetap memproduksi gipang dan kue satu, yang dipertahankan bukan hanya barang dagangan.

Ada pengetahuan mengenai bahan, proses pengolahan, rasa, hingga cara membuat produk tersebut tetap diterima konsumen.

Di sinilah UMKM tradisional memiliki peran yang lebih luas.

Mereka menjadi bagian dari ekosistem kuliner lokal yang menjaga agar panganan daerah tidak berhenti sebagai cerita masa lalu.

Mekar Pertiwi menjadi salah satu contoh yang mendapat perhatian Pemerintah Provinsi Banten karena masih memproduksi dua panganan tradisional tersebut.

Dari Camilan Tradisional Menjadi Identitas Lokal

Gipang dan kue satu mungkin terlihat sederhana.

Namun, bagi Banten, keberadaan panganan seperti ini merupakan bagian dari kekayaan kuliner yang membentuk identitas daerah.

Ketika produk tersebut diproduksi oleh UMKM lokal, nilai ekonominya pun ikut berkembang. Ada bahan baku yang dibeli, proses produksi yang dijalankan, tenaga yang terlibat, hingga konsumen yang membeli dan membawa produk tersebut ke daerah lain.

Dengan begitu, satu bungkus gipang tidak hanya berbicara tentang camilan.

Ia juga membawa cerita mengenai bagaimana pelaku UMKM mempertahankan produk lokal di tengah perubahan selera pasar.

Dan mungkin di situlah kekuatan makanan tradisional Banten: tidak perlu menjadi modern untuk tetap relevan, tetapi harus mampu menemukan cara agar generasi baru tetap mengenalnya.

Tag:
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted