Beranda / Tokoh / KOHATI dan Amanah Insan Cita — Jangan Sampai Tipu Daya Menentukan Masa Depan Organisasi

KOHATI dan Amanah Insan Cita — Jangan Sampai Tipu Daya Menentukan Masa Depan Organisasi

KOHATI Tujuan - Torismayanti

SPILL Banten – Ada satu kalimat yang seharusnya tidak pernah hilang dari ingatan setiap kader KOHATI ketika berbicara tentang masa depan organisasi:

“Terbinanya Muslimah yang Berkualitas Insan Cita.”

Kalimat itu bukan sekadar susunan kata dalam pedoman organisasi.

Ia adalah tujuan.

Ia adalah arah.

Ia adalah alasan mengapa KOHATI ada.

Dan karena itu, ketika KOHATI berbicara tentang kepemimpinan, ada satu pertanyaan yang jauh lebih penting daripada sekadar siapa yang menang dalam sebuah forum:

Apakah orang yang kita pilih benar-benar mampu membawa KOHATI semakin dekat kepada tujuan tersebut?

Sebab jangan sampai kita begitu sibuk memilih siapa yang akan menjadi pemimpin, sampai lupa untuk apa KOHATI dibentuk.

Jangan sampai kita terpesona oleh popularitas.

Jangan sampai kita tertipu oleh kepiawaian berbicara.

Jangan sampai kedekatan kelompok dianggap sebagai integritas.

Dan jangan sampai kemenangan dalam forum dianggap otomatis sebagai bukti kelayakan memegang amanah.

Karena KOHATI tidak dibentuk hanya untuk melahirkan seorang ketua.

KOHATI dibentuk untuk melahirkan Muslimah berkualitas Insan Cita.

KOHATI Bukan Sekadar Tempat Berkumpul

Dalam Pedoman Dasar KOHATI, tujuan “Terbinanya Muslimah yang Berkualitas Insan Cita” ditempatkan dalam konteks perkaderan HMI.

KOHATI merupakan bagian integral dari perkaderan HMI dan secara khusus berspesialisasi pada pembinaan HMI-Wati agar menjadi muslimah berkualitas Insan Cita.

Artinya, keberadaan KOHATI tidak berhenti pada struktur organisasi.

Tidak berhenti pada rapat.

Tidak berhenti pada kegiatan.

Tidak berhenti pada pergantian pengurus.

Bahkan tidak berhenti pada siapa yang menjadi ketua.

Ada proses pembentukan manusia di dalamnya.

KOHATI dalam pedoman tersebut bahkan digambarkan sebagai semacam “laboratorium hidup” untuk menghasilkan HMI-Wati yang berkualitas dalam menghadapi masa depan.

Maka ukuran keberhasilan KOHATI seharusnya tidak hanya:

“Berapa banyak kegiatan yang dilakukan?”

Tetapi juga:

“Perempuan seperti apa yang lahir dari proses KOHATI?”

Apakah ia menjadi perempuan yang lebih berilmu?

Lebih berakhlak?

Lebih mandiri?

Lebih kritis?

Lebih profesional?

Lebih mampu membaca persoalan?

Lebih berani mengambil peran?

Lebih siap mengabdi?

Dan lebih bertanggung jawab kepada masyarakat?

Jika jawabannya semakin jauh dari itu, maka organisasi perlu berani melakukan evaluasi terhadap dirinya sendiri.

Insan Cita Tidak Boleh Berhenti Menjadi Slogan

Istilah Insan Cita memiliki konsekuensi.

Ia menuntut proses.

Ia menuntut pembinaan.

Ia menuntut kualitas.

Ia menuntut keteladanan.

Karena itu, seorang kader tidak cukup hanya mengenal istilah Insan Cita.

Ia harus berusaha mewujudkan nilai tersebut dalam kehidupan.

Begitu pula seorang pemimpin KOHATI.

Pemimpin tidak hanya bertugas mengatur administrasi organisasi.

Pemimpin memiliki tanggung jawab untuk menjaga agar proses kaderisasi tetap berjalan menuju tujuan.

Sebab jika seorang pemimpin membawa organisasi semakin jauh dari tujuan dasarnya, maka persoalannya bukan lagi sekadar persoalan gaya kepemimpinan.

Persoalannya adalah arah.

Dan organisasi tanpa arah dapat bergerak sangat cepat, tetapi tidak pernah sampai ke tempat yang seharusnya.

Tujuan KOHATI Harus Menjadi Alat Ukur Pemimpin

Karena itu, sebelum bertanya:

“Siapa kandidat yang paling populer?”

Kader seharusnya bertanya:

“Siapa yang paling memahami tujuan KOHATI?”

Sebelum bertanya:

“Siapa yang memiliki pendukung paling banyak?”

Tanyakan:

“Siapa yang mampu menjaga proses perkaderan?”

Sebelum bertanya:

“Siapa yang paling pandai berpidato?”

Tanyakan:

“Siapa yang mampu menerjemahkan nilai organisasi menjadi kerja nyata?”

Dan sebelum berkata:

“Dia orang kita.”

Tanyakan:

“Apakah dia benar-benar orang yang dapat dipercaya untuk membawa amanah kita?”

Pertanyaan-pertanyaan tersebut penting karena organisasi kader tidak boleh memilih pemimpin hanya berdasarkan kemampuan memenangkan kontestasi.

Pemimpin harus dinilai berdasarkan kesesuaiannya dengan tujuan yang hendak dicapai.

Jangan Termakan Tipu Daya

Di sinilah persoalan tipu daya menjadi penting.

Tipu daya dalam organisasi tidak selalu berbentuk kebohongan yang terang-terangan.

Kadang ia datang dalam bentuk sesuatu yang terlihat menarik.

Popularitas bisa menjadi tipu daya.

Retorika bisa menjadi tipu daya.

Jaringan bisa menjadi tipu daya.

Kedekatan kelompok bisa menjadi tipu daya.

Janji perubahan bisa menjadi tipu daya.

Bahkan kemenangan bisa menjadi tipu daya apabila kemenangan itu membuat kita lupa memeriksa kelayakan orang yang kita pilih.

Seseorang bisa sangat pandai berbicara tetapi belum tentu pandai membina.

Seseorang bisa sangat populer tetapi belum tentu memiliki integritas.

Buat kamu  Jika KOHATI Tidak Bergerak Sekarang, Apa yang Akan Tersisa?

Seseorang bisa memiliki jaringan luas tetapi belum tentu independen.

Seseorang bisa memiliki banyak pendukung tetapi belum tentu memahami tujuan organisasi.

Dan seseorang bisa memenangkan forum tetapi belum tentu memenangkan kepercayaan moral kader.

Karena itu, kader harus belajar membedakan antara kemampuan memenangkan pemilihan dan kemampuan menjalankan amanah.

Keduanya tidak selalu sama.

KOHATI Memiliki Identitas yang Tidak Bisa Dilepaskan

KOHATI tentu berada dalam ruang gerakan perempuan yang luas.

Di Indonesia terdapat banyak organisasi, komunitas, dan kelompok yang bergerak pada isu perempuan dengan latar belakang, nilai, metode, dan tujuan masing-masing.

Tidak perlu menjadikan perbedaan itu sebagai alasan untuk saling merendahkan.

Justru yang penting adalah memahami identitas masing-masing.

KOHATI memiliki karakter yang spesifik karena ia merupakan bagian dari HMI dan memiliki tujuan kaderisasi yang khas: membina Muslimah berkualitas Insan Cita.

Dengan identitas tersebut, KOHATI memiliki ruang gerak yang menghubungkan beberapa hal sekaligus:

keislaman, intelektualitas, keperempuanan, dan keindonesiaan.

Maka perjuangan KOHATI tidak seharusnya kehilangan akar hanya karena ingin terlihat sama dengan gerakan perempuan lainnya.

KOHATI boleh belajar dari siapa pun.

KOHATI boleh bekerja sama dengan siapa pun selama sesuai dengan prinsip dan ketentuan organisasi.

KOHATI boleh hadir dalam ruang publik yang luas.

Tetapi KOHATI harus tetap tahu:

Siapa dirinya.

Apa nilainya.

Apa tujuannya.

Dan untuk apa ia dibentuk.

Berbeda Bukan Berarti Merasa Lebih Tinggi

Perbedaan identitas tidak boleh diterjemahkan menjadi klaim bahwa KOHATI lebih tinggi daripada organisasi perempuan lainnya.

Bukan itu persoalannya.

Setiap organisasi memiliki sejarah, nilai, struktur, dan tujuan masing-masing.

Yang harus dijaga KOHATI adalah konsistensi terhadap identitasnya sendiri.

Kalau organisasi lain memiliki karakter perjuangannya sendiri, KOHATI juga memiliki jalannya sendiri.

KOHATI memiliki basis perkaderan HMI.

KOHATI memiliki tujuan Muslimah berkualitas Insan Cita.

KOHATI memiliki tanggung jawab terhadap persoalan keperempuanan.

KOHATI memiliki dimensi keislaman dan keindonesiaan.

Dan karena itulah kualitas pemimpinnya harus mampu menjaga seluruh dimensi tersebut secara seimbang.

Dari Keislaman, Intelektualitas, Keperempuanan hingga Keindonesiaan

Pemimpin KOHATI tidak cukup hanya memahami satu sisi.

Jika hanya kuat secara agama tetapi lemah secara intelektual, organisasi akan kesulitan membaca perubahan zaman.

Jika hanya kuat secara intelektual tetapi kehilangan nilai, gerakan dapat kehilangan arah.

Jika hanya berbicara tentang perempuan tetapi tidak memahami konteks masyarakat dan kebangsaan, gerakan akan mudah terjebak pada persoalan yang sempit.

Dan jika hanya pandai berbicara tentang Indonesia tetapi tidak mampu menjaga nilai yang menjadi identitas organisasi, maka KOHATI kehilangan karakter dasarnya.

Karena itu, kaderisasi harus melahirkan perempuan yang mampu menyatukan kualitas tersebut.

Perempuan yang beriman.

Berilmu.

Berpikir kritis.

Mandiri.

Profesional.

Peduli terhadap persoalan perempuan.

Peduli terhadap masyarakat.

Dan mampu mengambil peran dalam kehidupan bangsa.

Torismayanti dan Gagasan tentang Kader yang Berani Memimpin

Gagasan tersebut menemukan relevansinya dalam pengalaman Torismayanti, mantan Ketua Umum KOHATI Badko Jabodetabeka-Banten periode 2021–2023.

Jauh sebelum memimpin di tingkat Badko, ketika memimpin KOHATI Cabang Lebak pada 2018, Torismayanti membawa gagasan:

“KOHATI pelopor literasi, perempuan cerdas, generasi berkualitas.”

Gagasan itu memperlihatkan satu hal penting: kualitas kader tidak dapat dipisahkan dari pengetahuan.

Perempuan yang cerdas tidak hanya mampu berbicara.

Ia harus mampu membaca.

Membaca persoalan.

Membaca keadaan.

Membaca aturan.

Membaca perubahan zaman.

Dan membaca kebutuhan masyarakat.

Ketika kemudian Torismayanti memimpin KOHATI Badko Jabodetabeka-Banten periode 2021–2023, pengalaman kepemimpinan tersebut mempertemukannya dengan ruang kaderisasi dan organisasi yang lebih luas.

Dalam sejumlah kegiatan kaderisasi, ia juga tercatat menjadi pemateri Pedoman Dasar Kekohatian dan materi kepemimpinan.

Dari perjalanan tersebut muncul satu gagasan yang terus relevan:

“KOHATI harus melahirkan kader perempuan yang berani memimpin dan mengabdi.”

Kalimat itu sesungguhnya dapat dibaca lebih jauh.

Berani memimpin berarti berani bertanggung jawab.

Berani mengabdi berarti bersedia bekerja meskipun tidak selalu mendapatkan posisi.

Dan berani menjadi kader berarti berani terus belajar meskipun tidak selalu mendapatkan pujian.

Kalau Tujuannya Insan Cita, Maka Pemimpinnya Harus Menjaga Prosesnya

Di sinilah hubungan antara tujuan KOHATI dan pemilihan pemimpin menjadi sangat jelas.

Jika KOHATI bertujuan membina Muslimah berkualitas Insan Cita, maka pemimpinnya harus menjaga ekosistem yang memungkinkan kualitas tersebut tumbuh.

Pemimpin harus memberi ruang kader untuk berpikir.

Memberi ruang untuk berbeda pendapat.

Memberi ruang untuk bertanya.

Memberi ruang untuk belajar.

Memberi ruang untuk mengkritik.

Memberi ruang untuk berkembang.

Dan memberi ruang bagi kader untuk melakukan pengabdian di tengah masyarakat.

Organisasi kader tidak akan tumbuh sehat jika kader hanya diminta patuh.

Kader harus dibentuk agar mampu berpikir.

Kader harus dibentuk agar mampu mengambil keputusan.

Kader harus dibentuk agar mampu bertanggung jawab.

Karena tujuan akhirnya bukan menciptakan pengikut.

Tujuan akhirnya adalah melahirkan manusia berkualitas.

Enam Pertanyaan untuk Menguji Seorang Pemimpin

Karena itu, enam persoalan yang sering muncul dalam kepemimpinan organisasi dapat diuji kembali melalui tujuan KOHATI.

Pertama: Bagaimana ia memperlakukan konstitusi?

Jika konstitusi dihormati hanya ketika menguntungkan, maka ada masalah serius dalam cara memandang amanah.

Kedua: Bagaimana kualitas moralnya?

Tidak ada manusia yang sempurna.

Buat kamu  Otto Djaya: Dari Prajurit PETA hingga Melukis Wajah Revolusi Indonesia 1942

Tetapi seorang pemimpin harus menunjukkan usaha nyata untuk menjaga integritas dan memperbaiki kesalahan.

Ketiga: Bagaimana ia menghadapi kritik?

Pemimpin yang matang tidak harus menyukai semua kritik.

Tetapi ia harus mampu mendengarkan, menguji, dan meresponsnya dengan argumentasi.

Keempat: Seberapa independen ia?

Pemimpin boleh memiliki jaringan.

Tetapi keputusan organisasi tidak boleh kehilangan independensinya karena kepentingan pihak tertentu.

Kelima: Bagaimana ia memperlakukan konflik?

Konflik harus diselesaikan, bukan dipelihara demi mempertahankan pengaruh.

Keenam: Apa yang terjadi ketika jabatan tidak lagi ada?

Di sinilah pengabdian diuji.

Apakah seseorang tetap bekerja ketika tidak memegang posisi?

Jika jawabannya iya, maka ada sesuatu yang lebih besar daripada jabatan.

Ada pengabdian.

Jangan Memilih Pemimpin Hanya karena Ia Bisa Menang

Kemenangan dalam forum bukan dosa.

Kontestasi organisasi juga bukan sesuatu yang harus ditakuti.

Kompetisi dapat menjadi bagian dari proses demokrasi organisasi.

Yang harus dihindari adalah ketika kemenangan menjadi satu-satunya ukuran.

Sebab kalau ukuran keberhasilan hanya:

menang atau kalah,

maka kader akan lupa bertanya:

untuk apa kemenangan itu digunakan?

Kemenangan seharusnya menjadi awal dari tanggung jawab.

Bukan akhir dari perjuangan.

Ketika seseorang terpilih, ia tidak mendapatkan hak untuk menguasai organisasi.

Ia mendapatkan amanah untuk menjalankan organisasi.

Perbedaannya sangat besar.

Amanah Bukan Hak Istimewa

Jabatan sering kali terlihat seperti penghargaan.

Padahal dalam organisasi kader, jabatan seharusnya dibaca sebagai amanah.

Semakin besar jabatan, semakin besar pula tanggung jawab.

Semakin luas kewenangan, semakin besar pula kewajiban untuk mempertanggungjawabkannya.

Karena itu, seorang pemimpin KOHATI tidak boleh merasa lebih tinggi daripada kader yang dipimpinnya.

Ia justru harus menjadi orang yang paling siap menerima kritik ketika kebijakannya dipertanyakan.

Ia harus menjadi orang yang paling siap menjelaskan keputusan ketika kader meminta penjelasan.

Dan ia harus menjadi orang yang pertama kali mengingatkan dirinya sendiri bahwa jabatan itu sementara.

Tujuan organisasi jauh lebih panjang daripada satu periode kepengurusan.

Pertanggungjawaban Tidak Berhenti di Forum

Bagi kader Muslim, ada lapisan pertanggungjawaban yang lebih dalam.

Setiap keputusan tentang amanah harus dilakukan dengan kesadaran bahwa manusia bukan hanya mempertanggungjawabkan tindakannya kepada sesama.

Ada pertanggungjawaban kepada Allah SWT.

Karena itu, persoalan memilih pemimpin tidak seharusnya dipandang remeh.

Bukan berarti setiap pilihan politik organisasi dapat langsung diberi vonis hukum agama secara sederhana.

Tetapi setiap kader harus menyadari bahwa keputusan yang dibuat dengan sengaja memiliki konsekuensi moral.

Jika seseorang mengetahui fakta serius tentang seorang kandidat lalu sengaja menutup mata hanya karena kepentingan pribadi atau kelompok, maka setidaknya ada pertanyaan etis yang tidak boleh dihindari:

Apakah amanah telah dipilih dengan jujur?

Pertanyaan itu seharusnya cukup untuk membuat setiap kader berhenti sejenak sebelum menentukan pilihan.

Jangan Sampai Identitas KOHATI Hilang karena Kepentingan Sesaat

KOHATI akan selalu menghadapi perubahan zaman.

Persoalan perempuan berubah.

Teknologi berubah.

Dunia pendidikan berubah.

Dunia kerja berubah.

Ruang publik berubah.

Cara orang berkomunikasi berubah.

Bahkan cara kader membangun gerakan pun berubah.

Tetapi perubahan zaman tidak berarti organisasi harus kehilangan identitas.

Justru semakin cepat perubahan terjadi, semakin penting organisasi memiliki fondasi yang kuat.

Dan fondasi itu kembali kepada tujuan.

Terbinanya Muslimah yang Berkualitas Insan Cita.

Kalimat sederhana itu harus terus diterjemahkan menjadi kerja.

Menjadi kader yang berilmu.

Menjadi perempuan yang mandiri.

Menjadi pribadi yang berakhlak.

Menjadi profesional.

Menjadi pemimpin.

Menjadi pengabdi.

Dan menjadi manusia yang mampu memberikan manfaat kepada masyarakat.

Jangan Sampai Kita Salah Memahami Arti Keberhasilan

KOHATI tidak boleh mengukur keberhasilannya hanya dari seberapa sering namanya muncul.

Tidak cukup hanya dengan banyaknya kegiatan.

Tidak cukup dengan ramainya forum.

Tidak cukup dengan banyaknya pengurus.

Tidak cukup dengan banyaknya jaringan.

Dan tidak cukup dengan siapa yang berhasil menduduki jabatan tertinggi.

Keberhasilan yang lebih penting adalah:

berapa banyak perempuan berkualitas yang berhasil dilahirkan.

Berapa banyak kader yang tetap membawa nilai KOHATI setelah keluar dari kampus?

Berapa banyak kader yang menjadi profesional?

Berapa banyak yang masuk ke ruang publik?

Berapa banyak yang membela masyarakat?

Berapa banyak yang memahami hukum?

Berapa banyak yang mampu mengawal kebijakan?

Berapa banyak yang tetap mengabdi ketika tidak lagi memiliki jabatan?

Di situlah tujuan KOHATI menemukan bentuk nyatanya.

Pada Akhirnya, Kembali kepada Satu Pertanyaan

Jangan sampai kita termakan tipu daya.

Jangan sampai kita memilih seseorang hanya karena ia pandai memainkan suasana.

Jangan sampai kita menganggap popularitas sebagai kualitas.

Jangan sampai kita menganggap kemenangan sebagai bukti kelayakan.

Jangan sampai kita membela kandidat hanya karena ia berasal dari kelompok kita.

Dan jangan sampai kepentingan sesaat membuat kita lupa kepada tujuan jangka panjang organisasi.

Sebab KOHATI bukan sekadar organisasi yang membutuhkan ketua.

KOHATI adalah ruang kaderisasi yang memiliki cita-cita tentang manusia.

Ia ingin membina Muslimah.

Ia ingin meningkatkan kualitas.

Ia ingin melahirkan perempuan yang mampu berperan.

Ia ingin membawa nilai keislaman dan keindonesiaan dalam pengabdian.

Dan pada akhirnya, ia ingin melahirkan Muslimah yang Berkualitas Insan Cita.

Maka ketika memilih seorang pemimpin, pertanyaan paling mendasar bukan:

“Apakah dia bisa menang?”

Bukan pula:

“Apakah dia orang kita?”

Tetapi:

“Apakah dia mampu membawa KOHATI semakin dekat kepada tujuan yang telah dipercayakan kepada kita?”

Sebab pemimpin hanya memiliki satu periode.

Jabatan hanya memiliki batas waktu.

Forum akan selesai.

Kursi akan berganti.

Nama akan berganti.

Tetapi tujuan organisasi harus tetap hidup.

Dan jika tujuan itu benar-benar kita yakini, maka kita tidak boleh membiarkan tipu daya mengalahkan amanah.

KOHATI tidak dibentuk untuk melahirkan sekadar pemimpin.

KOHATI dibentuk untuk melahirkan Muslimah berkualitas Insan Cita.

Karena itu, siapa pun yang menerima amanah kepemimpinan harus mampu menjawab satu pertanyaan:

Apakah dirinya sedang mengejar jabatan, atau sedang menyiapkan dirinya untuk mengabdi kepada cita-cita KOHATI?

Jawaban atas pertanyaan itu bukan hanya terlihat dari apa yang ia katakan.

Jawabannya akan terlihat dari siapa dirinya ketika amanah benar-benar berada di tangannya.

Tag:
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted