SPILL Banten – Tidak semua orang yang ingin menjadi pemimpin benar-benar siap memimpin. Tidak semua orang yang mampu memenangkan dukungan juga mampu menjaga kepercayaan. Dan tidak semua orang yang pandai berbicara tentang perjuangan memiliki kebiasaan yang mencerminkan nilai-nilai perjuangan itu sendiri.
Dalam organisasi, kepemimpinan tidak cukup diukur dari siapa yang paling banyak mendapatkan dukungan, siapa yang paling lantang menyampaikan visi-misi, atau siapa yang paling pandai meyakinkan forum. Ada hal yang jauh lebih mendasar: karakter, integritas, kebiasaan, kemampuan merawat kebersamaan, dan kesediaan mempertanggungjawabkan amanah.
Bagi Korps HMI-Wati (KOHATI), pertanyaan tentang siapa yang layak memimpin harus dikembalikan pada tujuan dasarnya, yaitu “Terbinanya Muslimah yang Berkualitas Insan Cita.”
Tujuan tersebut bukan sekadar kalimat yang diucapkan ketika pembukaan kegiatan atau dicantumkan dalam dokumen organisasi. Tujuan itu harus menjadi ukuran dalam menilai calon pemimpin, menentukan arah kaderisasi, dan memastikan bahwa setiap amanah membawa manfaat bagi kader, masyarakat, dan bangsa.
Karena itu, KOHATI tidak hanya membutuhkan seseorang yang ingin menjadi ketua. KOHATI membutuhkan pemimpin yang kehadirannya membawa kedamaian, sikapnya menjaga marwah organisasi, keputusannya memperkuat kaderisasi, dan pengabdiannya melampaui kepentingan pribadi.
Pemimpin yang Baik Terlihat dari Kebiasaannya
Ada satu hal yang sering terlupakan ketika memilih pemimpin: karakter seseorang tidak hanya terlihat ketika ia sedang berbicara di hadapan banyak orang. Karakter justru sering tampak melalui kebiasaan-kebiasaan sederhana, terutama ketika ia tidak sedang membutuhkan dukungan siapa pun.
Bagaimana ia memperlakukan orang yang berbeda pilihan? Bagaimana ia merespons kritik? Apakah ia menepati janji ketika tidak ada yang mengawasi? Apakah ia tetap menghargai orang lain ketika pendapatnya tidak diterima?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut penting karena kepemimpinan tidak dibangun hanya melalui pidato, melainkan melalui perilaku yang dilakukan secara berulang.
Kandidat yang layak memimpin tidak harus menjadi manusia sempurna. Ia boleh memiliki kekurangan, pernah melakukan kesalahan, dan masih membutuhkan proses belajar. Namun, ia harus menunjukkan kemauan untuk memperbaiki diri, bertanggung jawab atas tindakannya, serta tidak menjadikan kekuasaan sebagai alasan untuk merasa selalu benar.
Pemimpin yang baik tidak sekadar meminta kader menghormatinya. Ia juga menunjukkan bahwa dirinya mampu menghormati kader lain.
Ia tidak hanya menuntut kedisiplinan, tetapi juga berusaha menjadi teladan. Ia tidak hanya meminta pengurus bekerja keras, tetapi bersedia ikut menyelesaikan persoalan. Dan ia tidak hanya menuntut loyalitas, tetapi memahami bahwa loyalitas kepada organisasi tidak sama dengan kewajiban untuk selalu menyetujui dirinya.
Sebab pemimpin yang layak bukan orang yang selalu ingin diikuti, melainkan orang yang mampu membuat organisasi bergerak bersama menuju tujuan yang benar.
Hadir Membawa Kedamaian, Bukan Memelihara Perpecahan
Salah satu ciri penting pemimpin KOHATI yang layak adalah kemampuannya menghadirkan kedamaian di tengah perbedaan.
Kedamaian yang dimaksud bukan berarti organisasi harus selalu tenang tanpa kritik, tanpa perdebatan, atau tanpa perbedaan pendapat. Organisasi yang hidup justru membutuhkan diskusi, koreksi, dan keberanian mempertanyakan keputusan yang dianggap kurang tepat.
Namun, perbedaan harus dikelola secara dewasa. Kritik tidak semestinya langsung dianggap sebagai serangan pribadi. Perbedaan pilihan tidak seharusnya berubah menjadi permusuhan berkepanjangan. Dan persoalan organisasi tidak boleh terus dipelihara hanya karena ada pihak yang merasa diuntungkan oleh konflik.
Pemimpin yang matang mampu membedakan persoalan substansial dari persoalan pribadi. Ia bersedia mendengar kedua pihak, memeriksa fakta, mengacu pada aturan, dan mencari penyelesaian yang adil.
Ketika terjadi perselisihan, ia tidak terburu-buru menyebarkan tuduhan. Ketika ada kader yang berbeda pandangan, ia tidak langsung menutup ruang komunikasi. Ketika keputusan harus dievaluasi, ia tidak menjadikan harga dirinya lebih penting daripada kepentingan organisasi.
Kedamaian seperti inilah yang dibutuhkan KOHATI: bukan kedamaian yang dibangun melalui pembungkaman, melainkan kedamaian yang tumbuh dari rasa saling menghormati, keadilan, dan penyelesaian masalah secara bertanggung jawab.
Pemimpin tidak harus selalu menyenangkan semua orang. Ada kalanya ia perlu mengambil keputusan tegas, menegakkan aturan, dan menyampaikan hal yang tidak populer. Namun, ketegasan itu harus dijalankan dengan argumentasi, proporsionalitas, dan penghormatan terhadap martabat manusia.
Pemimpin yang menghadirkan kedamaian bukan berarti tidak pernah berhadapan dengan konflik. Ia adalah orang yang tidak membiarkan konflik kehilangan arah dan merusak tujuan bersama.
Marwah KOHATI Dijaga dengan Integritas, Bukan Sekadar Simbol
Marwah organisasi sering dibicarakan, tetapi tidak selalu diterjemahkan menjadi perilaku yang nyata.
Padahal, marwah KOHATI tidak hanya tercermin dari nama besar organisasi, atribut yang dikenakan, forum yang diselenggarakan, atau banyaknya kegiatan yang dipublikasikan. Marwah juga tercermin dari cara pemimpinnya memperlakukan kader, menggunakan kewenangan, mengelola perbedaan, dan mempertanggungjawabkan keputusan.
Pemimpin yang menjaga marwah tidak menjadikan organisasi sebagai alat untuk membangun pengaruh pribadi. Ia tidak memperlakukan jabatan sebagai hak istimewa yang membebaskannya dari aturan. Ia juga tidak menggunakan nama organisasi untuk membenarkan kepentingan yang bertentangan dengan tujuan bersama.
Sebaliknya, ia memahami bahwa semakin besar amanah yang diberikan, semakin besar pula tanggung jawab yang harus dipikul.
Menjaga marwah berarti menghormati konstitusi dan mekanisme organisasi, menjalankan keputusan secara bertanggung jawab, menjaga komunikasi yang bermartabat, serta memastikan bahwa kritik dan evaluasi tidak diperlakukan secara sewenang-wenang.
Marwah juga berkaitan dengan keberanian mengakui kekurangan. Pemimpin yang menutupi setiap kesalahan demi mempertahankan citra justru dapat merusak kepercayaan. Sebaliknya, pemimpin yang bersedia menjelaskan persoalan, menerima evaluasi, dan memperbaiki kekeliruan memberikan contoh bahwa kehormatan organisasi tidak dibangun melalui kepura-puraan.
KOHATI tidak membutuhkan pemimpin yang hanya terlihat berwibawa di depan forum. KOHATI membutuhkan pemimpin yang dapat dipercaya ketika mengambil keputusan, ketika menghadapi persoalan, dan ketika tidak ada sorotan publik.
Sebab kehormatan organisasi tidak lahir dari seberapa sering seseorang menyebut nama KOHATI, tetapi dari seberapa bertanggung jawab ia menjaga nilai-nilai yang diperjuangkan KOHATI.
Tujuan Insan Cita Harus Terlihat dalam Cara Memimpin
Jika tujuan KOHATI adalah membina muslimah yang berkualitas Insan Cita, maka kualitas kepemimpinan harus diukur dari kontribusinya terhadap proses pembinaan tersebut.
Pemimpin yang layak tidak hanya memikirkan bagaimana program kerjanya terlihat berhasil. Ia juga memikirkan apakah kader memperoleh kesempatan untuk berkembang, apakah kegiatan memperkuat pengetahuan, dan apakah organisasi membentuk perempuan yang lebih mandiri, berintegritas, serta mampu menjawab persoalan masyarakat.
Kaderisasi tidak boleh berhenti pada rutinitas administratif. Kegiatan yang banyak belum tentu menghasilkan pembinaan yang mendalam. Forum yang ramai belum tentu melahirkan tradisi berpikir kritis. Dan laporan yang tampak baik belum tentu menggambarkan kualitas kader yang semakin berkembang.
Karena itu, pemimpin KOHATI harus mampu menjawab pertanyaan mendasar: apa perubahan yang ingin diwujudkan melalui setiap program? Keterampilan apa yang perlu dikembangkan? Bagaimana kader mendapatkan ruang belajar? Bagaimana keberhasilan program dievaluasi? Dan bagaimana proses tersebut tetap berjalan setelah masa kepengurusan berakhir?
Pemimpin yang memiliki orientasi kaderisasi tidak takut melihat kader lain tumbuh dan mengambil tanggung jawab. Ia tidak merasa terancam ketika ada kader yang lebih kritis atau memiliki keahlian tertentu. Justru, ia membantu membuka kesempatan agar kemampuan kader menjadi kekuatan bersama.
Ia memahami bahwa keberhasilan kepemimpinan bukan hanya ketika dirinya berhasil menjalankan jabatan, tetapi juga ketika organisasi memiliki semakin banyak kader yang siap melanjutkan perjuangan.
Pemimpin yang sungguh-sungguh menghidupkan Insan Cita tidak berusaha membuat organisasi bergantung selamanya kepada dirinya. Ia membangun sistem, menumbuhkan kader, dan menyiapkan keberlanjutan.
Mengapa Kepemimpinan Perempuan Penting bagi Masa Depan Bangsa?
Pembahasan mengenai pemimpin KOHATI tidak seharusnya berhenti pada urusan internal organisasi. Kualitas pembinaan perempuan juga berkaitan dengan kesempatan mereka mengambil peran dalam kehidupan masyarakat dan pengambilan keputusan.
Data BPS dalam publikasi Statistik Pemuda Indonesia 2024 menunjukkan bahwa jumlah pemuda Indonesia mencapai sekitar 64,22 juta jiwa, atau sekitar 20 persen dari jumlah penduduk. Potensi generasi muda sebesar itu membutuhkan ruang pengembangan, pendidikan, partisipasi, dan kepemimpinan yang bertanggung jawab.
Sumber: Badan Pusat Statistik, Statistik Pemuda Indonesia 2024.
https://www.bps.go.id/assets/publication/2024/12/31/b2dbaac4542352cea8794590/statistik-pemuda-indonesia-2024.html
Di sisi lain, keterwakilan perempuan dalam pengambilan keputusan masih menjadi pekerjaan yang perlu diperhatikan. Kajian Parliamentary Review dari Badan Keahlian DPR RI mencatat bahwa perempuan memperoleh 21,9 persen kursi DPR RI pada Pemilu 2024, angka tertinggi dibandingkan pemilu-pemilu sebelumnya, tetapi masih berada di bawah target keterwakilan 30 persen yang kerap dijadikan acuan dalam kebijakan pencalonan perempuan.
Angka tersebut tidak berarti perempuan tidak mampu memimpin. Data keterwakilan menjelaskan komposisi kursi, bukan kualitas atau kemampuan individu. Namun, data itu memperlihatkan bahwa kesempatan dan partisipasi perempuan dalam pengambilan keputusan tetap penting untuk diperjuangkan.
Sumber: Badan Keahlian DPR RI, Parliamentary Review, kajian keterwakilan perempuan dalam pemilu.
https://berkas.dpr.go.id/pusaka/files/parliamentary_review/Parliamentary%20Review-VI-2-J-2024.pdf
Pada tingkat global, UNESCO melalui laporan Fostering Women’s Leadership juga menyoroti bahwa perempuan masih kurang terwakili dalam pengambilan keputusan, termasuk di bidang teknologi dan inovasi. Laporan tersebut menggarisbawahi pentingnya partisipasi dan kepemimpinan perempuan untuk memperkuat kemampuan masyarakat menghadapi berbagai tantangan.
Sumber: UNESCO, Fostering Women’s Leadership (2024).
https://www.unesco.org/en/articles/fostering-womens-leadership
Data-data tersebut tidak secara langsung mengukur kualitas kandidat KOHATI. Namun, data itu memberi konteks mengapa organisasi kader perempuan perlu serius membangun kepemimpinan yang berintegritas, berpengetahuan, dan memiliki kemampuan mengabdi.
KOHATI tidak dapat sendirian menyelesaikan persoalan keterwakilan perempuan di Indonesia. Namun, KOHATI dapat berkontribusi melalui pembinaan kader yang memiliki kapasitas untuk mengambil peran di kampus, masyarakat, ruang publik, dan berbagai bidang pengabdian.
Di sinilah pentingnya memilih pemimpin yang memahami bahwa jabatan bukan tujuan akhir. Jabatan adalah kesempatan untuk memperkuat proses pembinaan dan menyiapkan kader agar mampu memberikan manfaat yang lebih luas.
Pemimpin yang Layak Tidak Takut pada Kritik dan Evaluasi
Salah satu ujian paling nyata bagi seorang pemimpin adalah bagaimana ia menghadapi kritik.
Ketika mendapat pujian, hampir semua orang dapat terlihat tenang. Ketika dukungan sedang kuat, banyak orang mampu menunjukkan keyakinan. Namun, ketika keputusan dipertanyakan, program tidak berjalan sesuai rencana, atau muncul perbedaan pandangan, karakter kepemimpinan mulai terlihat lebih jelas.
Pemimpin yang layak tidak langsung menganggap kritik sebagai bentuk ketidakloyalan. Ia berusaha memahami apakah kritik tersebut memiliki dasar yang perlu ditindaklanjuti. Jika kritik tidak tepat, ia dapat menjawabnya dengan argumentasi. Jika kritik benar, ia memiliki keberanian untuk memperbaiki keputusan.
Sikap seperti ini bukan tanda kelemahan. Justru, kesediaan untuk dievaluasi merupakan bagian dari tanggung jawab.
KOHATI membutuhkan pemimpin yang mampu membangun budaya organisasi yang sehat: kader dapat berbicara tanpa takut dipermalukan, pengurus dapat menyampaikan masalah tanpa langsung dicurigai, dan keputusan dapat dievaluasi tanpa harus berubah menjadi konflik pribadi.
Namun, keterbukaan juga harus disertai tanggung jawab. Kritik perlu disampaikan dengan dasar yang jelas, informasi harus diperiksa, dan perbedaan pendapat sebaiknya diarahkan pada perbaikan. Kebebasan berbicara bukan alasan untuk menyebarkan fitnah atau merendahkan orang lain.
Dengan demikian, pemimpin yang layak bukan orang yang membiarkan semua tindakan tanpa batas. Ia adalah orang yang mampu menjaga keseimbangan antara keterbukaan, aturan, keadilan, dan tanggung jawab.
Kebiasaan Kecil yang Menunjukkan Kualitas Pemimpin
Sebelum memilih kandidat, kader perlu memperhatikan bukan hanya apa yang dijanjikan, melainkan juga apa yang selama ini dilakukan.
Apakah kandidat terbiasa hadir ketika dibutuhkan, atau hanya muncul ketika ada kepentingan? Apakah ia menepati komitmen yang pernah disampaikan? Apakah ia menghargai orang yang tidak memiliki pengaruh besar? Apakah ia mampu menyelesaikan tanggung jawab tanpa terus-menerus menyalahkan keadaan?
Apakah ia membagikan pengetahuan dan membuka ruang bagi kader lain untuk belajar? Apakah ia menggunakan forum untuk mencari solusi atau sekadar menunjukkan siapa yang paling berkuasa? Apakah ia mampu menjaga rahasia organisasi dan informasi pribadi secara bertanggung jawab?
Pertanyaan-pertanyaan itu membantu pemilih menilai karakter berdasarkan kebiasaan yang dapat diamati, bukan sekadar kesan sesaat.
Kandidat yang baik juga tidak harus selalu menjadi orang yang paling menonjol. Ada orang yang tidak banyak berbicara, tetapi konsisten bekerja. Ada yang tidak selalu berada di pusat perhatian, tetapi mampu menjaga kepercayaan. Ada pula yang memiliki kemampuan besar, tetapi tetap bersedia mendengar dan belajar dari orang lain.
Karena itu, penilaian kandidat harus dilakukan secara adil. Jangan hanya menilai berdasarkan kedekatan, popularitas, atau kemampuan berpidato. Perhatikan rekam jejak, integritas, pemahaman terhadap tujuan organisasi, gagasan program, dan kesediaannya bertanggung jawab.
Kita tidak sedang mencari manusia tanpa kekurangan. Kita sedang mencari seseorang yang cukup matang untuk memahami amanah, cukup rendah hati untuk belajar, dan cukup berani untuk mempertanggungjawabkan keputusan.
Torismayanti dan Pentingnya Kader Perempuan yang Berani Memimpin serta Mengabdi
Dalam perjalanan KOHATI di Banten, gagasan tentang kader perempuan yang berani memimpin dan mengabdi menjadi salah satu pesan yang relevan untuk terus diperkuat.
Torismayanti, mantan Ketua Umum KOHATI Badko Jabodetabeka-Banten periode 2021–2023, pernah mengangkat tema “KOHATI pelopor literasi, perempuan cerdas, generasi berkualitas” ketika memimpin KOHATI Lebak pada 2018.
Gagasan tersebut mengingatkan bahwa kualitas kader perempuan perlu dibangun melalui pengetahuan, kebiasaan belajar, dan kemampuan merespons persoalan di sekitarnya. Keberanian memimpin tidak cukup berdiri sendiri. Keberanian itu perlu disertai integritas, kecakapan, dan tanggung jawab.
Dalam konteks kepemimpinan KOHATI, kader yang berani memimpin dan mengabdi harus mampu menempatkan kepentingan organisasi di atas ambisi pribadi. Ia harus bersedia bekerja bersama, membuka ruang belajar, menghormati perbedaan, dan memastikan bahwa amanah digunakan untuk memperkuat kaderisasi.
Gagasan ini juga mengajak kita melihat kepemimpinan sebagai proses yang lebih panjang daripada satu masa jabatan. Pemimpin yang baik bukan hanya meninggalkan laporan kegiatan, tetapi juga meninggalkan budaya organisasi yang lebih sehat, kader yang lebih siap, dan kesempatan yang lebih luas bagi generasi berikutnya.
KOHATI perlu melahirkan perempuan yang bukan hanya berani berdiri di depan, tetapi juga bersedia mendengarkan ketika berada di tengah, membantu ketika dibutuhkan, dan bertanggung jawab ketika menghadapi persoalan.
Sebab pengabdian tidak selalu berlangsung di panggung. Sering kali, pengabdian justru terlihat dalam kesediaan melakukan pekerjaan yang tidak populer, menyelesaikan masalah yang rumit, dan menjaga kepercayaan ketika tidak ada pujian yang menanti.
Jangan Hanya Memilih Orangnya, Periksa Juga Kesiapannya
Pada akhirnya, memilih pemimpin KOHATI harus menjadi proses yang serius dan bertanggung jawab.
Kader perlu menilai apakah kandidat memahami tujuan Insan Cita, memiliki rekam jejak yang dapat dipertanggungjawabkan, mampu merawat kebersamaan, dan memiliki gagasan yang realistis untuk memperkuat organisasi. Visi-misi harus diperiksa kesesuaiannya dengan kebutuhan kader, kemampuan menjalankan program, serta mekanisme evaluasi yang jelas.
Pemilih juga perlu memastikan bahwa dukungannya tidak dibangun melalui tekanan, manipulasi informasi, atau janji yang tidak masuk akal. Perbedaan pilihan harus tetap berada dalam koridor persaudaraan dan aturan organisasi.
Tidak ada kandidat yang bisa menjamin semua persoalan akan selesai. Karena itu, yang perlu dicari bukan janji kesempurnaan, melainkan bukti kesiapan: kemampuan belajar, integritas, komitmen, kematangan menghadapi perbedaan, dan kesediaan mempertanggungjawabkan amanah.
Pemimpin yang baik tidak harus memiliki semua jawaban. Ia harus tahu kapan perlu mendengar, kapan perlu mengambil keputusan, kapan perlu meminta bantuan, dan kapan harus mengakui bahwa sebuah kebijakan perlu diperbaiki.
Kualitas tersebut penting karena KOHATI tidak hidup untuk satu orang, satu kelompok, atau satu periode kepengurusan. KOHATI hidup untuk tujuan pembinaan yang harus terus dijaga dan dikembangkan dari generasi ke generasi.
Penutup: Pemimpin yang Kehadirannya Menjadi Kebaikan
KOHATI membutuhkan pemimpin yang ketika hadir membuat kader merasa dihargai, ketika berbicara membawa kejelasan, ketika menghadapi perbedaan mampu menjaga kedewasaan, dan ketika mengambil keputusan bersedia bertanggung jawab.
Pemimpin yang layak bukan orang yang tidak pernah salah, melainkan orang yang tidak menjadikan kesalahan sebagai sesuatu yang harus disembunyikan. Ia menjaga marwah organisasi bukan dengan menutup kritik, tetapi dengan memperkuat integritas. Ia menghadirkan kedamaian bukan dengan membungkam perbedaan, melainkan dengan mengelola perbedaan secara adil.
Ia memahami bahwa tujuan Insan Cita harus diwujudkan melalui pembinaan yang nyata. Ia tidak menjadikan kader sebagai alat untuk mempertahankan kekuasaan, tetapi membuka kesempatan agar mereka tumbuh menjadi perempuan yang berpengetahuan, mandiri, berintegritas, dan mampu mengabdi.
Pada akhirnya, ukuran pemimpin KOHATI bukan hanya seberapa banyak orang yang memilihnya, melainkan seberapa bertanggung jawab ia menjalankan amanah setelah terpilih.
Jangan hanya memilih orang yang ingin memimpin KOHATI. Pilihlah sosok yang ketika hadir membuat kader merasa dihargai, ketika mengambil keputusan membuat organisasi semakin bermartabat, dan ketika menerima amanah menjadikannya jalan pengabdian bagi masyarakat dan bangsa.
Sebab pemimpin yang baik tidak sekadar meninggalkan jabatan. Ia meninggalkan keteladanan, memperkuat kaderisasi, merawat persaudaraan, dan memastikan bahwa perjuangan KOHATI tetap bergerak menuju tujuan Insan Cita.
Sumber rujukan
- Badan Pusat Statistik (BPS) — Statistik Pemuda Indonesia 2024. Data jumlah pemuda dan konteks pembangunan kepemudaan.
https://www.bps.go.id/assets/publication/2024/12/31/b2dbaac4542352cea8794590/statistik-pemuda-indonesia-2024.html - Badan Keahlian DPR RI — Parliamentary Review, kajian keterwakilan perempuan dalam pemilu. Data keterwakilan perempuan di DPR RI pada Pemilu 2024.
https://berkas.dpr.go.id/pusaka/files/parliamentary_review/Parliamentary%20Review-VI-2-J-2024.pdf - UNESCO — Fostering Women’s Leadership (2024). Kajian tentang keterwakilan perempuan dalam pengambilan keputusan, pekerjaan, dan inovasi.
https://www.unesco.org/en/articles/fostering-womens-leadership - Pedoman Dasar KOHATI — Rumusan tujuan organisasi, “Terbinanya Muslimah yang Berkualitas Insan Cita.” Salinan pedoman tersedia melalui sejumlah arsip publik organisasi; untuk penggunaan resmi, sesuaikan rujukan dengan dokumen PDK yang berlaku di organisasi.
Catatan redaksi: Data nasional dalam tulisan ini digunakan untuk memberikan konteks tentang pembangunan pemuda dan keterwakilan perempuan. Data tersebut bukan ukuran langsung untuk menentukan kelayakan kandidat KOHATI. Penilaian kandidat tetap perlu didasarkan pada aturan organisasi, rekam jejak yang dapat diverifikasi, integritas, kapasitas, dan tanggung jawab.










