SPILL Banten – Semua orang pernah jatuh. Seorang anak jatuh ketika belajar berjalan. Seorang pelajar jatuh ketika gagal mencapai cita-citanya. Seorang pemimpin jatuh ketika keputusan yang diambil ternyata tidak sesuai harapan.
Begitu pula sebuah organisasi.
Ia bisa mengalami masa sulit.
Bisa kehilangan arah.
Bisa melakukan kesalahan.
Bisa mengalami konflik.
Bisa kehilangan momentum.
Bahkan bisa merasa bahwa apa yang dahulu dibangun dengan penuh semangat tidak lagi berjalan sebagaimana mestinya.
Tetapi jatuh bukan akhir.
Yang menentukan masa depan bukan seberapa keras sebuah organisasi pernah jatuh.
Yang menentukan adalah seberapa berani ia berdiri kembali.
Begitu pula KOHATI.
KOHATI tidak harus diposisikan sebagai organisasi yang selalu sempurna.
Justru organisasi yang memiliki sejarah panjang harus memiliki keberanian untuk mengakui bahwa perjalanan tidak selalu berjalan lurus.
Karena mengakui pernah jatuh bukan berarti merendahkan KOHATI.
Sebaliknya, pengakuan tersebut dapat menjadi awal dari sebuah kedewasaan:
berani melihat kekurangan, berani belajar, dan berani memperbaiki diri.
Jatuh Bukan Berarti Selesai
Tidak ada organisasi yang seluruh perjalanannya bebas dari masalah.
Organisasi dibangun oleh manusia.
Dan manusia memiliki keterbatasan.
Karena itu, kesalahan dalam mengambil keputusan, lemahnya koordinasi, persoalan kaderisasi, konflik kepentingan, kegagalan program, hingga perubahan zaman yang tidak segera direspons merupakan kemungkinan yang dapat dihadapi organisasi mana pun.
KOHATI pun tidak perlu takut mengakui bahwa perjalanan sebuah gerakan bisa mengalami pasang surut.
Sebab yang berbahaya bukan ketika organisasi pernah mengalami kemunduran.
Yang berbahaya adalah ketika kemunduran tersebut dianggap sebagai keadaan yang harus diterima selamanya.
KOHATI boleh pernah jatuh, tetapi KOHATI tidak boleh menjadikan kejatuhan sebagai tempat tinggal.
Kalimat ini penting karena sebuah organisasi tidak dibentuk untuk sekadar bertahan.
Organisasi kader dibentuk untuk melahirkan manusia yang mampu tumbuh.
Dan pertumbuhan terkadang justru dimulai dari kesalahan.
Jangan Takut Mengakui Pernah Jatuh
Ada kecenderungan dalam organisasi untuk selalu ingin terlihat baik.
Kegiatan harus terlihat berhasil.
Kepemimpinan harus terlihat kuat.
Kaderisasi harus terlihat berjalan.
Konflik harus terlihat tidak ada.
Padahal menutupi persoalan tidak membuat persoalan hilang.
Justru sebaliknya.
Masalah yang tidak diakui akan semakin sulit diperbaiki.
Karena itu, keberanian pertama yang diperlukan KOHATI adalah:
kejujuran terhadap dirinya sendiri.
Apa yang sudah berhasil?
Apa yang belum berhasil?
Apa yang pernah salah?
Apa yang harus dihentikan?
Apa yang harus dipertahankan?
Apa yang harus dimulai?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut bukan tanda kelemahan.
Itulah evaluasi.
Dari Evaluasi Menuju Kebangkitan
Jika EPISODE 04 membahas berbagai hambatan gerakan, maka EPISODE 06 harus mulai memberikan jawaban.
Kebodohan tidak cukup dikritik.
Ia harus dilawan dengan budaya belajar.
Kemalasan tidak cukup dikeluhkan.
Ia harus dilawan dengan kerja nyata.
Kebijakan yang jauh dari kebutuhan masyarakat tidak cukup diprotes.
Ia harus dihadapi dengan data, kajian, dan advokasi.
Pengabaian terhadap isu perempuan tidak cukup disesalkan.
Ia harus dijawab dengan konsistensi perjuangan.
Intervensi kepentingan tidak cukup dicurigai.
Ia harus dihadapi dengan independensi dan kedewasaan organisasi.
Jarak antargenerasi tidak cukup disalahkan.
Ia harus dijembatani dengan dialog dan transfer pengalaman.
Dengan demikian, evaluasi tidak berhenti sebagai kritik.
Evaluasi harus berubah menjadi tindakan.
KOHATI Tidak Perlu Kembali ke Masa Lalu
Bangkit bukan berarti kembali menjadi KOHATI seperti dahulu.
Zaman sudah berubah.
Persoalan perempuan berubah.
Mahasiswa berubah.
Teknologi berubah.
Cara masyarakat memperoleh informasi berubah.
Dunia kerja berubah.
Ruang publik berubah.
Maka KOHATI juga harus berubah.
Tetapi berubah tidak berarti kehilangan identitas.
Yang harus dipertahankan adalah nilai.
Yang dapat diperbarui adalah metode.
KOHATI dapat tetap membawa nilai keislaman, keindonesiaan, kaderisasi, kepemimpinan dan pengabdian, sembari menemukan cara baru untuk menerapkannya dalam persoalan zaman sekarang.
Pedoman KOHATI yang tersedia secara publik menempatkan KOHATI sebagai badan khusus HMI yang bertugas membina, mengembangkan dan meningkatkan potensi HMI-Wati dalam wacana serta dinamika gerakan keperempuanan. Tujuannya dirumuskan sebagai “terbinanya Muslimah berkualitas insan cita.”
Artinya, perubahan metode tidak boleh membuat tujuan pembinaan kehilangan arah.
Masa Lalu Adalah Pelajaran, Bukan Penjara
Sejarah penting.
Tetapi sejarah tidak boleh menjadi penjara.
Generasi hari ini tidak harus mengulangi semua cara generasi terdahulu.
Mereka harus memahami:
mengapa perjuangan itu dilakukan,
kemudian mencari:
bagaimana perjuangan tersebut harus dilakukan sekarang.
HMI sendiri lahir pada 5 Februari 1947 dalam situasi Indonesia yang sedang menghadapi persoalan besar. Sejarah HMI mencatat Lafran Pane sebagai pemrakarsa pendirian organisasi tersebut bersama sejumlah mahasiswa lainnya. Tujuan awal HMI antara lain mempertahankan Republik Indonesia, meningkatkan derajat rakyat Indonesia, serta menegakkan dan mengembangkan ajaran Islam.
Artinya, sejak awal organisasi tersebut lahir sebagai respons terhadap realitas zamannya.
Maka generasi hari ini juga harus berani melakukan hal yang sama.
Membaca zamannya.
Dan kemudian menjawabnya.
KOHATI Juga Pernah Memulai dari Sebuah Kebutuhan
KOHATI secara nasional didirikan pada 17 September 1966 dalam Kongres VIII HMI di Solo. Dalam pedoman KOHATI yang tersedia secara publik, organisasi ini ditempatkan sebagai badan khusus HMI yang berfungsi membina, mengembangkan dan meningkatkan potensi HMI-Wati dalam dinamika gerakan keperempuanan.
KOHATI lahir karena ada kebutuhan.
Dan prinsip ini penting untuk masa sekarang.
Jika dahulu kebutuhan zaman melahirkan KOHATI, maka persoalan zaman sekarang seharusnya kembali mendorong KOHATI untuk bertanya:
Apa kebutuhan perempuan Indonesia hari ini?
Jawaban atas pertanyaan tersebut seharusnya memengaruhi arah kaderisasi, gerakan, advokasi, dan pengabdian.
Perempuan Indonesia Masih Membutuhkan Gerakan
Bangkitnya KOHATI tidak boleh hanya menjadi urusan internal organisasi.
Ada masyarakat yang menunggu manfaatnya.
Data SPHPN 2024 menunjukkan bahwa satu dari empat perempuan usia 15–64 tahun di Indonesia pernah mengalami kekerasan fisik dan/atau seksual dalam hidupnya. Data tersebut juga menunjukkan bahwa kekerasan terhadap perempuan masih menjadi persoalan yang membutuhkan perhatian bersama.
Kementerian PPPA juga menegaskan bahwa hanya sebagian kecil korban yang tercatat dalam sistem pelayanan karena masih banyak perempuan dan anak korban kekerasan yang belum merasa aman untuk melapor.
Angka tersebut seharusnya membuat setiap gerakan yang membawa isu perempuan berhenti sejenak.
Bukan untuk merasa paling benar.
Tetapi untuk bertanya:
Apa yang bisa kita lakukan?
KOHATI tentu tidak mungkin menyelesaikan seluruh persoalan tersebut sendirian.
Tetapi KOHATI dapat mengambil bagian.
Melalui pendidikan.
Melalui kaderisasi.
Melalui literasi.
Melalui advokasi.
Melalui penguatan kepemimpinan perempuan.
Melalui kerja sama dengan masyarakat.
Dan melalui kader-kader yang memiliki kemampuan untuk hadir ketika masyarakat membutuhkan.
Bangkit untuk Masyarakat, Bukan Hanya untuk Organisasi
Ini harus menjadi pembeda antara kebangkitan organisasi dan kebangkitan gerakan.
KOHATI bisa saja memiliki struktur yang kuat.
Tetapi jika masyarakat tidak merasakan manfaatnya, maka kebangkitan tersebut belum lengkap.
KOHATI bisa saja memiliki banyak kegiatan.
Tetapi jika tidak ada perubahan yang dihasilkan, maka pertanyaan tentang dampak tetap harus diajukan.
KOHATI bisa saja memiliki banyak kader.
Tetapi jika kader tersebut tidak memiliki kemampuan untuk berkontribusi di masyarakat, maka pekerjaan kaderisasi belum selesai.
Karena itu:
KOHATI harus bangkit bukan hanya untuk menyelamatkan organisasinya, tetapi untuk memperbesar manfaat pengabdiannya.
Kader Adalah Titik Awal Kebangkitan
Tidak ada organisasi yang bangkit tanpa manusia yang bersedia bekerja.
Karena itu, investasi terbesar KOHATI bukanlah atribut.
Bukan pula struktur.
Bukan gedung.
Bukan sekadar media sosial.
Investasi terbesar KOHATI adalah kader.
Kader yang mau belajar.
Kader yang berani berpikir.
Kader yang mampu berdiskusi.
Kader yang mampu memimpin.
Kader yang mampu bekerja.
Kader yang mampu membaca persoalan masyarakat.
Dan kader yang memiliki keberanian untuk mengabdi.
Jika kadernya tumbuh, organisasi akan memiliki kesempatan untuk tumbuh.
Kaderisasi Tidak Boleh Hanya Melahirkan Pengurus
Salah satu pertanyaan penting setelah sebuah organisasi melakukan evaluasi adalah:
Apa sebenarnya hasil kaderisasi?
Apakah hanya menghasilkan pengurus baru?
Ataukah menghasilkan manusia yang lebih matang?
Kaderisasi harus mampu membuat seorang perempuan semakin percaya diri.
Semakin berpengetahuan.
Semakin mandiri.
Semakin mampu memimpin.
Semakin mampu memahami masyarakat.
Dan semakin mampu mempertanggungjawabkan keputusan.
Sebab jabatan akan berakhir.
Tetapi kapasitas yang terbentuk melalui kaderisasi dapat dibawa sepanjang hidup.
Generasi Baru Harus Diberi Ruang untuk Berlari
Estafet tidak akan berjalan jika pelari berikutnya hanya diminta berdiri.
Generasi muda harus diberi ruang.
Ruang untuk mencoba.
Ruang untuk salah.
Ruang untuk mengusulkan gagasan.
Ruang untuk berbeda.
Ruang untuk memimpin.
Dan ruang untuk memperbaiki.
Generasi senior memiliki pengalaman yang berharga.
Generasi muda memiliki energi dan perspektif baru.
Keduanya tidak seharusnya dipertentangkan.
Senior bukan masa lalu yang harus disingkirkan. Junior bukan masa depan yang harus ditakuti. Keduanya adalah bagian dari satu perjalanan.
Bangkit Tidak Berarti Melupakan Kesalahan
Ada kecenderungan bahwa ketika organisasi ingin bangkit, semua pembicaraan tentang masa lalu ingin segera ditutup.
Padahal kesalahan harus diingat dalam bentuk pelajaran.
Bukan untuk terus menyalahkan.
Tetapi agar tidak diulang.
Jika pernah terjadi konflik, pelajari penyebabnya.
Jika pernah terjadi kegagalan kaderisasi, perbaiki sistemnya.
Jika pernah terjadi hubungan yang renggang, bangun kembali komunikasi.
Jika pernah terjadi ketergantungan kepada pihak luar, perkuat kemandirian.
Jika pernah terjadi kehilangan arah, kembali kepada tujuan.
Bangkit bukan berarti melupakan masa lalu.
Bangkit berarti menjadikan masa lalu sebagai guru.
Jangan Sibuk Mencari Siapa yang Menjatuhkan
Sebuah organisasi yang sedang berusaha bangkit harus berhati-hati.
Jangan sampai seluruh energinya habis untuk mencari siapa yang salah.
Ketua sebelumnya.
Pengurus sebelumnya.
Senior.
Junior.
Cabang.
Pihak luar.
Atau kelompok tertentu.
Pertanyaan yang lebih produktif adalah:
Apa yang harus kita perbaiki sekarang?
Sebab mencari kesalahan mungkin memberikan kepuasan sesaat.
Tetapi memperbaiki keadaan membutuhkan keberanian.
Dan masa depan tidak dibangun dari siapa yang paling pandai menyalahkan.
Masa depan dibangun oleh mereka yang mau bekerja.
KOHATI Harus Berani Memulai Lagi
Tidak ada rasa malu dalam memulai kembali.
Jika sebuah program pernah gagal, coba lagi dengan metode berbeda.
Jika sebuah jaringan pernah terputus, bangun kembali.
Jika budaya membaca pernah melemah, mulai dari satu buku.
Jika diskusi pernah kehilangan kualitas, mulai lagi dengan kajian yang serius.
Jika kader pernah kehilangan kepercayaan diri, berikan ruang untuk tumbuh.
Jika masyarakat belum merasakan manfaat, turun kembali ke masyarakat.
Memulai kembali bukan berarti kembali ke titik nol.
Kita memulai dengan membawa pengalaman.
Membawa kesalahan.
Membawa pelajaran.
Dan membawa pengetahuan tentang apa yang tidak boleh diulangi.
Dunia Tidak Akan Menunggu KOHATI Sempurna
Salah satu alasan orang tidak bergerak adalah menunggu semuanya sempurna.
Menunggu kader sempurna.
Menunggu program sempurna.
Menunggu struktur sempurna.
Menunggu sumber daya cukup.
Padahal persoalan masyarakat tidak menunggu.
Perempuan yang membutuhkan informasi tidak menunggu.
Mahasiswa yang membutuhkan ruang berkembang tidak menunggu.
Masyarakat yang membutuhkan advokasi tidak menunggu.
Karena itu, KOHATI harus belajar bergerak sambil terus memperbaiki diri.
Tidak sempurna bukan alasan untuk tidak memulai.
Bangkit Harus Terukur
Kata “bangkit” mudah diucapkan.
Tetapi bagaimana kita tahu KOHATI benar-benar bangkit?
Jawabannya harus terlihat.
KOHATI dapat dikatakan semakin bangkit ketika:
kaderisasinya semakin berkualitas;
kader perempuannya semakin berani memimpin;
kajian keperempuanan semakin kuat;
advokasi semakin nyata;
program semakin memiliki dampak;
independensi organisasi semakin terjaga;
hubungan antargenerasi semakin sehat;
dan yang paling penting:
masyarakat semakin merasakan manfaat keberadaan kader-kadernya.
Bangkit bukan sekadar perasaan.
Bangkit harus menghasilkan perubahan.
Dari Kebangkitan Organisasi Menuju Kebangkitan Perempuan
Tujuan akhirnya lebih besar daripada KOHATI.
Jika KOHATI berhasil membina perempuan yang berkualitas, maka dampaknya dapat masuk ke berbagai ruang.
Kampus.
Sekolah.
Dunia kerja.
Pemerintahan.
Dunia usaha.
Masyarakat.
Keluarga.
Media.
Dan ruang publik lainnya.
BPS melalui publikasi Perempuan dan Laki-Laki di Indonesia 2025 menunjukkan bahwa kondisi perempuan dan laki-laki perlu dibaca melalui berbagai dimensi, termasuk pendidikan, kesehatan, ketenagakerjaan, teknologi informasi dan komunikasi, serta kondisi sosial ekonomi.
Artinya, tantangan perempuan tidak tunggal.
Maka kader perempuan juga harus memiliki kemampuan yang luas.
Bangkit di Tengah Perubahan Zaman
Teknologi terus berubah.
Kecerdasan buatan berkembang.
Cara bekerja berubah.
Cara belajar berubah.
Cara masyarakat berkomunikasi berubah.
Ruang perjuangan pun berubah.
KOHATI tidak harus mengikuti setiap tren.
Tetapi KOHATI harus memahami perubahan.
Karena jika organisasi tidak memahami perubahan, ia akan kesulitan memahami generasi yang hidup di dalam perubahan tersebut.
Maka kebangkitan KOHATI juga harus berarti:
kebangkitan intelektual.
kebangkitan keberanian.
kebangkitan kreativitas.
kebangkitan kemampuan beradaptasi.
Munas XXVI Harus Menjadi Momentum Berdiri Kembali
Di sinilah Munas XXVI memiliki arti strategis.
Munas jangan hanya dipahami sebagai tempat pergantian kepemimpinan.
Ia dapat menjadi ruang untuk mengatakan:
kita sudah belajar dari perjalanan sebelumnya.
Kemudian:
kita siap memperbaiki diri.
Dan akhirnya:
kita siap bergerak kembali.
Munas harus menghasilkan arah.
Arah kaderisasi.
Arah gerakan.
Arah advokasi.
Arah kepemimpinan.
Arah pengabdian.
Dan arah hubungan KOHATI dengan masyarakat.
Karena setelah Munas selesai, persoalan Indonesia tidak ikut selesai.
Justru pekerjaan baru dimulai.
Jangan Bawa Luka untuk Selamanya
Setiap organisasi memiliki luka.
Ada konflik yang pernah terjadi.
Ada kekecewaan.
Ada perbedaan.
Ada keputusan yang mungkin tidak disepakati semua orang.
Tetapi luka tidak boleh menjadi alasan untuk menghentikan perjalanan.
Kalau setiap generasi membawa seluruh konflik masa lalu ke masa depan, maka tidak akan ada ruang untuk membangun sesuatu yang baru.
Maka KOHATI membutuhkan kemampuan untuk:
mengingat tanpa terjebak,
memaafkan tanpa melupakan pelajaran,
dan
bergerak tanpa terus membawa beban konflik lama.
Rekonsiliasi Adalah Bagian dari Kebangkitan
Bangkit juga membutuhkan rekonsiliasi.
Tidak semua perbedaan harus berakhir menjadi permusuhan.
Tidak semua kekalahan harus berakhir menjadi dendam.
Tidak semua kritik harus dianggap sebagai serangan.
Organisasi yang dewasa harus mampu memisahkan:
perbedaan gagasan
dengan
permusuhan pribadi.
Jika KOHATI ingin bergerak lebih jauh, energi kader harus digunakan untuk membangun.
Bukan terus menerus menghabiskan tenaga untuk mempertahankan konflik.
Estafet Tidak Boleh Berhenti Karena Satu Generasi
EPISODE 05 berbicara tentang estafet.
EPISODE 06 harus menjawab apa yang terjadi ketika pelari sebelumnya mengalami jatuh.
Jawabannya:
ambil kembali tongkatnya.
Berdiri.
Tarik napas.
Lihat ke depan.
Kemudian berlari kembali.
Karena dalam estafet, satu pelari yang jatuh tidak otomatis berarti seluruh perlombaan berakhir.
Yang penting adalah:
tongkat perjuangan tidak hilang.
Begitu pula KOHATI.
Selama masih ada kader yang mau belajar, masih ada perempuan yang membutuhkan keberpihakan, masih ada masyarakat yang membutuhkan pengabdian, dan masih ada generasi yang bersedia meneruskan perjuangan, maka cerita KOHATI belum selesai.
KOHATI Harus Bangkit untuk Masa Depan
Masa depan KOHATI tidak boleh hanya berbicara tentang siapa yang menjadi pemimpin berikutnya.
Masa depan harus berbicara tentang:
kader seperti apa yang ingin dilahirkan;
isu apa yang ingin diperjuangkan;
masyarakat seperti apa yang ingin dilayani;
dan
warisan apa yang ingin diberikan kepada generasi setelahnya.
Jika pertanyaan itu terjawab, maka kebangkitan KOHATI memiliki arah.
Jika tidak, kebangkitan hanya akan menjadi slogan.
Masa Depan Perempuan Indonesia Membutuhkan Gerakan yang Hidup
Gerakan perempuan tidak boleh hidup hanya ketika sebuah kasus menjadi viral.
Ia harus hadir dalam pendidikan.
Dalam pencegahan kekerasan.
Dalam pemberdayaan.
Dalam kepemimpinan.
Dalam ekonomi.
Dalam kebijakan.
Dalam literasi.
Dalam ruang digital.
Dan dalam kehidupan sehari-hari.
Data SPHPN 2024 juga menunjukkan bahwa meskipun prevalensi kekerasan terhadap perempuan mengalami penurunan dibanding survei sebelumnya, persoalan tersebut masih dialami oleh proporsi perempuan yang besar. Studi tersebut sekaligus menegaskan pentingnya data sebagai dasar pengembangan program dan kebijakan.
Ini berarti perjuangan tidak boleh berhenti hanya karena satu indikator membaik.
Perbaikan harus dijaga.
Bangkit Bukan Sekadar untuk KOHATI
Pada akhirnya, KOHATI harus keluar dari pertanyaan:
“Apa yang membuat organisasi kita kuat?”
menuju pertanyaan:
“Apa yang membuat keberadaan kita berguna?”
Kekuatan organisasi tidak hanya terletak pada jumlah kader.
Tidak hanya pada struktur.
Tidak hanya pada pengaruh.
Tetapi pada kemampuan mengubah kapasitas kader menjadi manfaat bagi masyarakat.
Jika seorang kader KOHATI menjadi pendidik yang menguatkan perempuan, itu bagian dari perjuangan.
Jika menjadi advokat yang mendampingi masyarakat, itu bagian dari perjuangan.
Jika menjadi akademisi yang menghasilkan penelitian, itu bagian dari perjuangan.
Jika menjadi pemimpin yang membuat kebijakan lebih baik, itu bagian dari perjuangan.
Jika menjadi profesional yang membuka kesempatan bagi perempuan lain, itu juga bagian dari perjuangan.
Karena perjuangan tidak selalu memakai nama KOHATI di depan.
Tetapi nilai perjuangannya tetap hidup dalam diri kader.
Dari Jatuh Menuju Bangkit
Mungkin KOHATI memang pernah mengalami masa ketika langkahnya tidak sekuat yang diharapkan.
Mungkin ada program yang tidak berjalan.
Mungkin ada gagasan yang belum selesai.
Mungkin ada konflik yang meninggalkan luka.
Mungkin ada generasi yang merasa tidak mendapatkan ruang.
Mungkin ada persoalan yang belum mampu dijawab.
Tetapi semua itu bukan alasan untuk mengatakan:
“KOHATI selesai.”
Justru semua itu dapat menjadi alasan untuk berkata:
“Kita harus belajar.”
Karena belajar berarti mengakui bahwa kita belum sempurna.
Dan dari pengakuan itulah kebangkitan dimulai.
Penutup: Jatuh Bukan untuk Berhenti
KOHATI tidak perlu malu karena pernah jatuh.
Setiap perjalanan panjang pasti memiliki titik ketika langkah terasa berat.
Yang perlu dipastikan adalah:
jangan berhenti di sana.
Jangan menjadikan kegagalan sebagai identitas.
Jangan menjadikan konflik sebagai warisan.
Jangan menjadikan kesalahan sebagai alasan untuk menyerah.
Dan jangan menjadikan masa lalu sebagai penjara.
KOHATI harus berani mengatakan:
Kami belajar.
Kami mengevaluasi.
Kami memperbaiki.
Kami bangkit.
Dan setelah bangkit, tugas berikutnya adalah bergerak.
Bukan bergerak tanpa arah.
Tetapi bergerak dengan tujuan.
Dengan kader yang lebih berkualitas.
Dengan kepemimpinan yang lebih matang.
Dengan gerakan perempuan yang lebih nyata.
Dengan keberpihakan kepada masyarakat.
Dan dengan keberanian menghadapi persoalan zaman.
Sebab KOHATI tidak lahir dalam ruang kosong.
Ia lahir dari kebutuhan terhadap pembinaan dan pengembangan potensi HMI-Wati dalam dinamika gerakan keperempuanan.
HMI sendiri lahir dari keberanian generasi muda pada zamannya untuk menjawab persoalan bangsa. Lafran Pane dan para pendiri HMI tidak menunggu keadaan menjadi sempurna untuk memulai. Mereka memulai karena merasa ada sesuatu yang harus dilakukan.
Kini generasi KOHATI memiliki persoalannya sendiri.
Indonesia berubah.
Perempuan menghadapi tantangan yang terus berkembang.
Masyarakat membutuhkan kader yang bukan hanya pandai berbicara, tetapi mampu bekerja.
Dan karena itu, KOHATI tidak boleh berhenti pada nostalgia tentang apa yang pernah dilakukan generasi sebelumnya.
KOHATI harus menciptakan alasan baru bagi generasi berikutnya untuk bangga meneruskan perjuangan.
Mungkin hari ini KOHATI sedang berdiri di depan cermin.
Melihat perjalanan yang sudah dilalui.
Melihat luka.
Melihat kesalahan.
Melihat keberhasilan.
Melihat generasi yang datang dan pergi.
Lalu cermin itu mengajukan satu pertanyaan:
“Setelah semua yang terjadi, apakah kamu masih mau berdiri?”
Jawabannya harus:
Ya.
Karena jatuh bukan akhir.
Gagal bukan akhir.
Kritik bukan akhir.
Perbedaan bukan akhir.
Bahkan keterpurukan pun bukan akhir.
Selama masih ada kemauan untuk belajar, masih ada keberanian untuk memperbaiki, dan masih ada kader yang bersedia meneruskan estafet, maka perjalanan belum selesai.
KOHATI jatuh bukan untuk berhenti.
KOHATI jatuh untuk belajar.
KOHATI belajar untuk memperbaiki.
Dan KOHATI memperbaiki diri untuk bangkit.
Kemudian setelah bangkit, satu hal harus dilakukan:
bergerak kembali.
Bukan demi mempertahankan nama.
Bukan demi mengejar jabatan.
Bukan demi memenangkan satu periode.
Tetapi demi memastikan bahwa keberadaan KOHATI benar-benar memberi arti bagi kader, bagi perempuan, dan bagi masyarakat Indonesia.
Karena perjuangan yang besar tidak diukur dari seberapa sering seseorang jatuh.
Perjuangan diukur dari keberanian untuk selalu berdiri kembali.
Dan sekarang, setelah estafet diterima, setelah kesalahan dipelajari, setelah luka mulai disembuhkan:
Sudah waktunya KOHATI berdiri.
Sudah waktunya KOHATI bergerak.
Sudah waktunya KOHATI bangkit.










